Ulasan
Dear Math, We're Not Friends: Ketika Matematika Tak Lagi Menakutkan
Ada banyak anak yang merasa matematika adalah pelajaran yang menakutkan. Angka, rumus, perhitungan, hingga kekhawatiran membuat kesalahan bisa membuat mereka kehilangan kepercayaan diri sebelum benar-benar memahami apa yang sedang dipelajari.
Melalui buku bergambar Dear Math, We're Not Friends, Lina Chopra Haldar mengangkat perasaan tersebut dengan cara yang ringan, lucu, dan dekat dengan pengalaman anak-anak.
Tokoh utama dalam cerita ini adalah Nikhil, seorang anak laki-laki keturunan India-Amerika yang tidak menyukai matematika. Baginya, matematika bukan sesuatu yang menyenangkan.
Bahkan, memikirkannya saja bisa membuat perutnya terasa sakit. Ia takut melakukan kesalahan dan merasa tidak nyaman ketika harus berhadapan dengan angka.
Ketidaksukaannya terhadap matematika begitu besar hingga ia berharap pelajaran tersebut bisa menghilang dari kehidupannya.
Namun, gurunya memberikan sebuah tugas yang tidak biasa. Nikhil diminta menulis surat kepada matematika untuk mengungkapkan perasaannya.
Melalui surat-surat itu, ia bebas menyampaikan keluh kesah, kekesalan, dan berbagai hal yang membuatnya tidak menyukai pelajaran tersebut.
Dari sinilah perjalanan Nikhil dimulai. Seiring berjalannya tahun ajaran, pandangannya perlahan berubah ketika ia menyadari bahwa matematika ternyata tidak hanya berkaitan dengan soal-soal di buku pelajaran.
Salah satu keunikan buku ini terletak pada cara penulis menyampaikan cerita melalui kumpulan surat. Format tersebut membuat pengalaman Nikhil terasa personal, seolah-olah pembaca sedang mengintip isi pikirannya.
Anak-anak dapat memahami bahwa perasaan tidak suka, takut, atau frustrasi terhadap suatu pelajaran bukanlah sesuatu yang aneh.
Mereka juga diajak melihat bahwa perasaan tersebut bisa berubah ketika seseorang mendapatkan kesempatan untuk mengenal sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Selain konsep surat yang menarik, buku ini memperlihatkan matematika melalui berbagai kegiatan sehari-hari. Menggambar, menghitung, mengukur, dan berkreasi ternyata melibatkan kemampuan matematis.
Matematika juga memiliki peran dalam berbagai profesi, termasuk pekerjaan yang mungkin dicita-citakan Nikhil, seperti astronot maupun seniman.
Pendekatan ini membantu anak-anak memahami bahwa matematika bukan sekadar kumpulan angka yang harus diselesaikan di kelas, melainkan bagian dari kehidupan yang lebih luas.
Ilustrasi yang dinamis dan menyenangkan turut memperkuat daya tarik buku ini. Visual yang ekspresif membantu menggambarkan perasaan Nikhil, sehingga pembaca dapat mengikuti perubahan emosinya dengan mudah.
Perpaduan antara gambar, surat, dan cerita membuat pembahasan tentang matematika terasa lebih bersahabat. Buku ini juga berpotensi menjadi bahan bacaan yang menarik bagi anak-anak yang biasanya kurang antusias terhadap buku bertema pendidikan.
Dari segi gaya bahasa, Lina Chopra Haldar menggunakan pendekatan yang ringan, komunikatif, dan humoris. Ceritanya tidak terasa seperti ceramah tentang pentingnya matematika.
Sebaliknya, pembaca diajak mengikuti perjalanan seorang anak yang memiliki masalah nyata dengan pelajaran tersebut. Perubahan sikap Nikhil pun menjadi inti cerita yang disampaikan secara bertahap, sehingga pesannya terasa alami.
Pesan penting yang bisa diambil adalah bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia memahami sesuatu. Membuat kesalahan merupakan bagian dari proses belajar, bukan bukti bahwa seseorang tidak mampu.
Anak-anak perlu mendapatkan ruang untuk mencoba, bertanya, dan menemukan cara belajar yang sesuai dengan dirinya. Buku ini juga mengingatkan orang tua dan guru agar tidak hanya berfokus pada jawaban benar, tetapi turut memperhatikan perasaan anak ketika menghadapi kesulitan.
Meski demikian, buku ini lebih menekankan perubahan perspektif daripada memberikan panduan praktis untuk menyelesaikan kesulitan matematika.
Anak-anak yang membutuhkan penjelasan konsep atau latihan soal tetap memerlukan pendampingan tambahan. Namun, sebagai buku bergambar yang membantu membangun hubungan lebih positif dengan matematika, pendekatan ini terasa relevan dan bermanfaat.
Pada akhirnya, Dear Math, We're Not Friends bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang belajar menyukai matematika.
Buku ini merupakan pengingat bahwa sesuatu yang awalnya terasa menakutkan bisa menjadi lebih menyenangkan ketika kita menemukan makna dan kegunaannya.
Melalui perjalanan Nikhil, pembaca diajak memahami bahwa belajar tidak harus selalu dimulai dengan rasa suka. Terkadang, cukup dengan memberikan kesempatan untuk mencoba, rasa ingin tahu dapat tumbuh dan mengubah cara kita memandang sesuatu.