M. Reza Sulaiman | Sulthon Fikri
Si Tukang Tambal Ban (Pexels/https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-duduk-11072562)
Sulthon Fikri

Pagi selalu datang dengan suara yang sama di Jalan Kenanga: derit pintu kios, batuk mesin sepeda motor tua, dan bunyi logam kecil beradu dengan aspal. Bunyi terakhir itu paling sering disalahpahami. Orang-orang mengira itu paku jatuh dari saku tukang bangunan atau sisa proyek yang tidak disapu bersih. Padahal, bagi sebagian warga, bunyi itu adalah tanda tak kasatmata dari seseorang yang tidak pernah benar-benar mereka lihat: si penebar paku.

Di ujung jalan, tepat di bawah pohon flamboyan yang bunganya rontok setiap musim panas, berdiri sebuah gubuk tambal ban. Atap sengnya berkarat, meja kerjanya miring, dan sebuah kompresor kecil berdengung setia seperti lebah tua. Pemiliknya bernama Maman. Ia bukan orang yang banyak bicara. Tangan kirinya penuh bekas luka kecil, sementara tangan kanannya selalu cekatan memutar obeng dan menekan tambalan karet. Wajahnya teduh, seolah menerima apa pun yang datang tanpa banyak tanya.

Setiap hari, ban bocor berdatangan kepadanya—motor, sepeda, bahkan gerobak dorong. Anehnya, sebagian besar kebocoran itu terjadi di sekitar Jalan Kenanga. Paku payung, paku kecil, serpihan kawat; semuanya pernah ia temukan menancap rapi di telapak ban. Orang-orang mulai berbisik. “Ada yang menebar paku,” kata mereka. “Pasti biar ban bocor dan ke tambal ban itu.”

Maman mendengar bisik-bisik itu seperti mendengar hujan jatuh di seng: jelas, berulang, namun tak pernah benar-benar menyentuh hatinya. Ia tahu fitnah lebih cepat menyebar daripada kebenaran. Ia juga tahu bahwa hidup sering kali lebih kusut dari dugaan orang-orang.

Suatu sore, ketika matahari turun pelan-pelan dan bayangan flamboyan memanjang, seorang pemuda datang dengan ban belakang motor kempes. Wajahnya merah oleh marah. “Pak,” katanya keras, “paku lagi. Di depan sana. Ini sudah ketiga kalinya minggu ini.”

Maman menunduk, memeriksa ban. Sebuah paku payung kecil berkilau. “Duduklah,” katanya singkat.

“Bapak tahu, kan, orang-orang bilang apa?” Pemuda itu tak duduk. Tangannya mengepal. “Katanya yang menebar paku itu tukang tambal ban.”

Maman menghela napas. “Kalau saya yang menebar,” katanya pelan, “saya tak akan pakai paku payung. Terlalu mudah terlihat.”

Pemuda itu terdiam. Kalimat itu bukan pembelaan, melainkan fakta sederhana. Ia akhirnya duduk, menatap tangan Maman yang bekerja dengan tenang. Kompresor berdengung. Bau karet hangus tipis memenuhi udara.

“Berapa, Pak?” tanya pemuda itu setelah selesai.

“Seikhlasnya,” jawab Maman.

Pemuda itu mengeluarkan uang lebih. Ia pergi tanpa berkata apa-apa.

Malamnya, Maman menutup kios lebih awal. Ia berjalan menyusuri Jalan Kenanga dengan senter kecil. Ini bukan kebiasaan baru. Sejak rumor itu beredar, ia sering berkeliling. Ia tahu satu hal: kebenaran tidak akan datang sendiri ke meja tambalannya. Ia harus menjemputnya.

Di dekat tikungan, sinar senter menangkap kilau kecil. Paku. Bukan satu, melainkan beberapa. Tersebar seperti bintang jatuh yang salah alamat. Maman berjongkok, memungut satu per satu, lalu memasukkannya ke kaleng bekas cat. Ia tahu, besok pagi paku-paku ini akan menjelma cerita baru jika dibiarkan.

Di kejauhan, langkah kaki terdengar. Seorang lelaki tua dengan jaket lusuh berhenti, terkejut melihat Maman. “Ngapain, Man?” tanyanya.

“Mungutin paku,” jawab Maman.

Lelaki tua itu tertawa getir. “Orang bilang kamu yang menebar.”

“Kalau saya menebar, kenapa saya memungut?” Maman menatapnya. Tak ada amarah di matanya, hanya lelah.

Lelaki tua itu menggaruk kepala. “Ya… namanya juga orang.”

Keesokan harinya, berita kecil menyebar: semalam ada yang melihat Maman memunguti paku. Sebagian orang merasa malu, sebagian lain tetap curiga. Kecurigaan punya daya tahan lebih lama dari rasa malu.

Hari berganti. Ban bocor tetap datang, meski tidak sesering sebelumnya. Maman terus bekerja. Ia tidak pernah menaikkan harga. Ia juga tidak pernah menolak. Pada suatu siang yang terik, seorang ibu datang mendorong sepeda dengan wajah cemas. Anaknya menunggu di bawah pohon, menahan tangis.

“Tak punya uang banyak,” kata si ibu lirih.

Maman tersenyum tipis. “Anaknya mau sekolah?”

Ibu itu mengangguk.

“Tambalan gratis,” kata Maman. “Tapi lain kali, cek jalan. Kadang paku lebih nakal dari kita.”

Anak itu tersenyum kecil. Ibu itu menunduk, matanya basah.

Namun, cerita tidak berhenti di situ. Suatu malam, paku kembali tersebar, lebih banyak dari sebelumnya. Seolah ada yang ingin memastikan rumor itu tetap hidup. Esok paginya, Jalan Kenanga seperti ladang ranjau kecil. Ban bocor berdatangan, keluhan menumpuk, dan suara sumbang kembali mengarah ke gubuk tambal ban.

Ketua RT akhirnya turun tangan. Rapat kecil digelar di balai. Maman duduk di sudut, mendengarkan. Orang-orang berbicara bergantian. Ada yang marah, ada yang ragu, ada yang pura-pura netral.

“Kita perlu bukti,” kata Ketua RT. “Kalau memang ada penebar paku, harus ditangkap.”

“Kalau tukang tambal ban itu?” seseorang menyela.

Semua mata mengarah ke Maman. Ia berdiri perlahan. “Saya setuju,” katanya. “Kita perlu bukti.”

Malam itu, beberapa warga berjaga. Lampu jalan redup. Angin membawa bau tanah dan daun kering. Sekitar pukul dua pagi, sebuah bayangan bergerak di dekat tikungan. Tangan bayangan itu berkilat, menjatuhkan sesuatu ke aspal.

“Hei!” teriak seseorang.

Bayangan itu lari, tetapi langkahnya berat. Tak jauh, ia tersandung. Warga mengejar. Ketika senter menyorot wajahnya, semua terdiam. Ia adalah Roni, pemilik bengkel besar di ujung jalan lain, yang beberapa bulan terakhir sepi pelanggan.

Roni tertunduk. “Saya terdesak,” katanya. “Orang-orang lebih suka ke sini. Murah. Ikhlas. Saya… salah.”

Paku-paku di kantongnya berbunyi ketika ia duduk di tanah. Bunyi logam yang selama ini menjadi hantu di Jalan Kenanga kini kehilangan misterinya.

Keesokan harinya, suasana berubah. Orang-orang datang ke gubuk Maman bukan hanya untuk menambal ban, melainkan juga untuk meminta maaf. Ada yang membawa kopi, ada yang membawa pisang goreng. Maman menerima semuanya dengan senyum yang sama.

“Kenapa Bapak tak bilang dari awal?” tanya seorang pemuda.

Maman menggeleng. “Kebenaran yang dipaksa sering kali jadi kebohongan baru,” katanya. “Lebih baik ia ditemukan.”

Sejak malam itu, paku menghilang. Jalan Kenanga menjadi lebih ramah. Bunyi logam kecil tidak lagi terdengar. Namun, sebuah julukan terlanjur melekat di ingatan orang-orang: si penebar paku. Ironisnya, julukan itu kini dipakai dengan makna berbeda.

“Kalau bukan Maman yang menebar paku kebenaran,” kata Ketua RT suatu sore, “entah sampai kapan kita saling curiga.”

Maman tertawa kecil. “Saya cuma menambal yang bocor,” katanya. “Ban, dan mungkin sedikit hati.”

Sore itu, di bawah flamboyan, gubuk tambal ban tetap berdiri. Kompresor berdengung. Matahari turun. Jalan Kenanga bernapas lega. Dan di kaleng bekas cat di sudut gubuk, paku-paku yang pernah dikumpulkan Maman disimpan—bukan sebagai bukti, melainkan pengingat bahwa kebaikan sering kali bekerja dalam diam, sementara keburukan ribut menuntut perhatian.

Malam datang. Bunyi logam tidak lagi jatuh di aspal. Yang tersisa hanyalah dengung setia dan tangan-tangan yang tidak pernah lelah menambal, percaya bahwa pada akhirnya, jalan mana pun akan memilih kejujuran sebagai arah pulang.