Pagi itu, ruang praktik Teknik Sepeda Motor di SMK Negeri Bina Karya masih diselimuti bau oli dan besi dingin. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi yang kacanya telah buram oleh debu dan asap bertahun-tahun.
Di sudut ruangan, deretan mesin motor terjejer rapi, sebagian dalam keadaan terbuka, memperlihatkan roda gigi dan komponen dalam yang tampak kaku namun penuh cerita. Ruang praktik itu selalu terasa hidup, bahkan ketika belum ada satu pun mesin yang dinyalakan.
Pak Surya berdiri di tengah ruangan dengan tangan terlipat di belakang punggung. Seragam kerjanya tampak kusam, namun bersih dan terawat. Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi, sementara wajahnya menyimpan garis-garis kelelahan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. Di saku dadanya tergantung pulpen dan penggaris besi kecil—benda-benda sederhana yang telah menemaninya selama lebih dari dua puluh tahun mengajar.
Hari itu berbeda.
Pak Surya tahu betul, meski tidak satu pun muridnya menyadari, bahwa hari itu adalah pelajaran terakhirnya di ruang praktik ini.
Ia menatap mesin-mesin di hadapannya dengan pandangan lama, seakan berpamitan dalam diam. Mesin-mesin itu bukan sekadar alat praktik. Bagi Pak Surya, masing-masing adalah saksi perjalanan hidupnya sebagai guru—tentang murid yang datang dan pergi, tentang mimpi yang tumbuh dan patah, tentang harapan yang kadang berhasil, kadang gagal.
Bel tanda masuk berbunyi.
Pintu ruang praktik terbuka. Murid-murid kelas XII TSM masuk satu per satu, dengan seragam abu-abu dan sepatu yang penuh noda oli. Suara tawa ringan, obrolan singkat, dan gesekan sepatu di lantai semen memenuhi ruangan.
“Pagi, Pak!” sapa mereka hampir bersamaan.
“Pagi,” jawab Pak Surya, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Di antara para murid, duduk seorang siswa bernama Dimas. Ia berada di bangku belakang, menunduk sambil memutar-mutar baut kecil di jarinya. Dimas dikenal sebagai siswa pendiam, namun memiliki kemampuan praktik yang sangat baik. Tangannya cekatan, nalurinya tajam, tetapi nilai teorinya sering pas-pasan.
Pak Surya tahu alasannya.
Ayah Dimas meninggal dua tahun lalu akibat kecelakaan kerja. Sejak saat itu, Dimas membantu ibunya dengan bekerja sambilan di bengkel kecil dekat rumah. Hampir setiap malam, tangannya bergelut dengan mesin, bukan dengan buku pelajaran. Pak Surya sering melihat mata lelah itu, mata seorang anak yang terlalu cepat dewasa.
“Baik,” kata Pak Surya sambil menepuk tangan pelan. “Hari ini kita praktik bongkar pasang mesin, tapi dengan cara yang sedikit berbeda.”
Beberapa murid saling berpandangan.
“Biasanya kalian fokus membongkar dan memasang. Hari ini, saya ingin kalian memahami rasa dari mesin ini. Dengarkan baik-baik,” tambah Pak Surya.
Pak Surya melangkah ke salah satu motor tua berwarna hitam. Ia menyentuh tangki motor itu perlahan, seolah sedang menyapa seorang sahabat lama.
“Mesin itu seperti manusia,” ujarnya. “Kalau satu bagian bermasalah, seluruh sistem ikut terganggu. Tapi sering kali, kita hanya memperbaiki yang kelihatan rusak. Padahal, sumber masalahnya ada jauh di dalam.”
Kata-kata itu membuat suasana sedikit hening.
Praktik dimulai. Suara kunci pas, obeng, dan baut kembali memenuhi ruang praktik. Beberapa mesin dinyalakan, lalu dimatikan. Bau oli semakin kuat, bercampur dengan keringat dan konsentrasi.
Pak Surya berkeliling, memperhatikan setiap muridnya. Ia berhenti di dekat Dimas yang sedang membongkar mesin dengan sangat hati-hati.
“Kamu terlihat capek, Dim,” kata Pak Surya pelan.
Dimas tersenyum kecil. “Sedikit, Pak.”
“Jangan biasakan memaksa diri,” ujar Pak Surya. “Mesin saja kalau dipaksa terus bisa rusak. Manusia lebih rapuh.”
Dimas hanya mengangguk.
Waktu berjalan cepat. Ketika jam hampir berakhir, Pak Surya memanggil seluruh murid untuk berkumpul.
“Kumpul sebentar,” katanya.
Murid-murid mendekat, wajah mereka masih dipenuhi minyak dan peluh.
“Saya ingin kalian mengingat satu hal,” ujar Pak Surya dengan suara mantap. “Setelah lulus nanti, mungkin kalian tidak akan selalu mendapat perlakuan adil. Dunia bengkel tidak sebersih buku pelajaran.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Tapi mekanik yang baik bukan hanya soal pintar memperbaiki mesin. Ia harus jujur, bertanggung jawab, dan tahu batas kemampuannya.”
Bel tanda akhir pelajaran berbunyi.
“Silakan bersih-bersih,” kata Pak Surya.
Namun suasana terasa berbeda. Beberapa murid menatap Pak Surya dengan heran.
“Pak,” salah satu murid bertanya ragu, “kenapa hari ini rasanya beda?”
Pak Surya tersenyum tipis. “Kadang, kalian baru sadar setelah semuanya selesai.”
Sore itu, Pak Surya kembali sendirian ke ruang praktik. Ia duduk di bangku kayu tua, menatap ruangan yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Esok hari, ia akan resmi mengajukan pensiun dini.
Keesokan harinya, kabar itu menyebar cepat.
Pak Surya akan pensiun.
Di jam praktik terakhir, Pak Surya berdiri di depan murid-muridnya.
“Hari ini,” katanya pelan, “adalah pelajaran terakhir kita di ruang praktik.”
Ia mengambil sebuah mesin rusak dan meletakkannya di meja.
“Dari mesin rusak, kita belajar paling banyak. Sama seperti hidup.”
Dimas mengangkat tangan. “Pak… kalau kami gagal nanti, apa Bapak kecewa?”
Pak Surya tersenyum hangat.
“Saya hanya akan kecewa kalau kalian berhenti mencoba.”
Pelajaran itu ditutup dengan doa. Murid-murid menyalami Pak Surya satu per satu. Dimas adalah yang terakhir.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya lirih. “Bapak sudah mengajarkan lebih dari sekadar mesin.”
Pak Surya menepuk pundaknya. “Jaga dirimu, Dim. Dunia butuh mekanik yang jujur.”
Bertahun-tahun kemudian, di sebuah bengkel kecil, tergantung foto lama seorang guru berdiri di ruang praktik.
Di bawahnya tertulis:
“Pelajaran Terakhir di Ruang Praktik — Pak Surya, Guru yang Mengajarkan Arti Hidup.”
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Kulit Kepala Gatal? Ini 5 Sampo Ampuh untuk Dermatitis Seboroik
-
Garap Reboot, Kristen Stewart Ingin Kembali ke Twillight Jadi Sutradara
-
John Herdman Cari Asisten Pelatih Timnas, Nama Nova Arinto Justru Tak Masuk
-
Panik! Mobil Mogok di Hutan Kecil yang Terkenal Wingit
-
Resmi Berakhir, Para Pemeran Utama Taxi Driver 3 Sampaikan Salam Perpisahan