M. Reza Sulaiman | Sulthon Fikri
Bengkel Sederhana (Foto oleh Q/pexels)
Sulthon Fikri

Bengkel kecil itu berdiri di sudut jalan desa, tepat di bawah pohon flamboyan tua yang akarnya menjalar ke sela-sela aspal. Cat dindingnya sudah memudar, papan namanya miring, dan suara derit pintu besi menjadi musik pembuka setiap pagi. Namun, bagi Arga, bengkel itu bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah hidupnya diuji, diperbaiki, dan dirakit ulang—berkali-kali.

Arga sudah akrab dengan bau oli sejak kecil. Ayahnya, Pak Darma, adalah montir sederhana yang dikenal jujur dan teliti. Di bengkel itulah Arga belajar bahwa mesin, seperti manusia, bisa rusak kapan saja. Namun, jika dirawat dengan sabar dan tidak menyerah, mesin yang paling rewel pun bisa kembali berjalan.

Namun, semua berubah sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu.

Semenjak kepergian Pak Darma, bengkel itu terasa sunyi. Bukan karena tidak ada pelanggan, melainkan karena Arga kehilangan sosok yang selalu menjadi penopang semangatnya. Ia melanjutkan usaha bengkel itu seorang diri, meski usianya baru menginjak dua puluh tiga tahun. Banyak orang meragukan kemampuannya. Beberapa pelanggan lama bahkan memilih pindah ke bengkel lain yang lebih besar dan modern.

“Anak muda sekarang mana bisa pegang mesin tua,” begitu kata mereka.

Arga mendengarnya, tetapi ia memilih untuk diam.

Setiap pagi, ia membuka bengkel dengan rutinitas yang sama, seperti menyapu lantai, menata kunci-kunci, lalu menyalakan radio tua peninggalan ayahnya. Musik dangdut pelan menemani tangannya yang sibuk membongkar mesin. Meski lelah, Arga selalu berusaha tersenyum kepada setiap pelanggan.

Suatu siang, sebuah motor tua berhenti di depan bengkel. Asap putih mengepul dari knalpotnya, dan suaranya batuk-batuk seperti orang kehabisan napas. Pengendaranya adalah seorang pria paruh baya dengan wajah letih.

“Mas, masih bisa dibenerin?” tanyanya ragu.

Arga mengangguk. “Kita coba dulu, Pak. Mesin jarang ada yang benar-benar mati.”

Pria itu tersenyum tipis. Kata-kata Arga terdengar sederhana, tetapi entah kenapa terasa menenangkan.

Saat Arga membongkar mesin, ia menemukan banyak bagian yang aus: baut longgar, selang getas, dan oli yang sudah menghitam pekat. Ia bekerja pelan dan teliti, seolah-olah sedang berbicara dengan mesin itu.

“Tenang,” gumamnya. “Kita perbaiki pelan-pelan.”

Dua jam kemudian, motor itu kembali hidup. Suaranya halus, seperti baru bangun dari tidur panjang. Pria itu tersenyum lebar dan menepuk bahu Arga.

“Terima kasih, Mas. Bengkel ini masih punya harapan.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menghantam hati Arga. Masih punya harapan. Ia mengulangnya dalam hati berkali-kali.

Namun, hidup tidak selalu berjalan semulus mesin yang baru diservis.

Beberapa bulan kemudian, bengkel Arga sepi. Jalan desa sedang diperbaiki sehingga akses menuju bengkelnya terhambat. Tabungannya menipis, tagihan menumpuk, dan ia mulai meragukan pilihannya untuk bertahan sebagai montir.

Suatu malam, Arga duduk sendirian di bengkel. Lampu neon berkedip, hujan turun deras, dan radio tua itu mati mendadak. Kesunyian menekan dadanya.

“Pak,” gumamnya lirih, seolah ayahnya masih ada. “Apa aku salah melanjutkan bengkel ini?”

Ia menatap mesin motor yang belum selesai diperbaiki. Tiba-tiba ia teringat kata-kata ayahnya dahulu.

“Mesin itu jujur, Ga. Kalau rusak, ya rusak. Tapi manusia sering rusak diam-diam. Bedanya, mesin mau diperbaiki. Manusia sering menyerah duluan.”

Arga menarik napas panjang. Ia sadar, yang mulai rusak bukanlah bengkel atau mesinnya—melainkan semangatnya sendiri.

Keesokan harinya, Arga membuat keputusan kecil namun penting. Ia mulai membersihkan bengkel lebih rapi, mengecat ulang papan nama dengan tangannya sendiri, dan memasang tulisan sederhana:

“MESIN BOLEH RUSAK, SEMANGAT JANGAN.”

Tulisan itu bukan sekadar slogan. Itu adalah pengingat untuk dirinya sendiri.

Perlahan, pelanggan kembali berdatangan. Bukan karena bengkel itu yang paling besar, melainkan karena Arga bekerja dengan hati. Ia tidak hanya memperbaiki mesin, tetapi juga mendengarkan cerita pelanggan—tentang motor yang menemani kerja, tentang perjalanan hidup, dan tentang perjuangan.

Suatu sore, seorang anak SMA datang dengan motor butut. Wajahnya cemas.

“Mas, motor ini satu-satunya buat ke sekolah. Kalau nggak bisa dibenerin…”

Arga tersenyum. “Tenang. Kita usahakan.”

Kondisi motor itu memang parah. Namun, Arga bekerja sampai malam. Tangannya kotor, bajunya basah oleh keringat, tetapi matanya penuh tekad. Saat motor itu akhirnya menyala, anak itu hampir menangis.

“Terima kasih, Mas. Aku nggak akan nyerah sekolah.”

Kata-kata itu menusuk hati Arga dengan cara yang indah. Ia sadar, pekerjaannya lebih dari sekadar mencari uang. Ia sedang menjaga harapan orang lain—dan harapannya sendiri.

Tahun demi tahun berlalu.

Bengkel kecil itu mungkin tidak pernah berubah menjadi besar, tetapi namanya dikenal. Orang-orang datang bukan hanya untuk memperbaiki motor, melainkan untuk belajar tentang kesabaran, ketekunan, dan kejujuran.

Suatu hari, Arga berdiri di depan bengkel sembari menatap langit senja. Mesin-mesin berderet rapi, radio tua kembali berbunyi, dan angin membawa aroma oli yang akrab. Ia tersenyum. Mesin memang bisa rusak kapan saja. Baut bisa longgar, rantai bisa putus, dan suara mesin bisa melemah. Namun, selama ada kemauan untuk memperbaiki, semuanya bisa kembali berjalan.

Begitu juga hidup.

Arga menatap papan nama bengkel yang kini sudah dicat ulang lebih rapi. Tulisan itu masih sama, namun maknanya semakin dalam: Mesin boleh rusak, semangat jangan.

Selama semangat itu tetap menyala, hidup—seperti mesin—akan selalu menemukan jalannya untuk terus melaju.