Lintang Siltya Utami | Sulthon Fikri
Ilustrasi pengendara yang motornya mogok. [Pexels/julie aagaard]
Sulthon Fikri

Sejak pagi itu, Tikno sudah tahu bahwa motornya sedang tidak baik-baik saja.

Suara mesin terdengar seperti orang tua yang terbatuk-batuk, tersendat di setiap tarikan gas. Stangnya bergetar halus, seperti tangan yang menahan dingin, dan dari bagian bawah mesin kadang keluar bunyi klek kecil yang membuat jantung Tikno ikut berdetak lebih cepat. Namun seperti biasa, ia pura-pura tidak mendengarnya.

Tikno menepikan motor di bawah pohon trembesi tua di pinggir jalan. Ia turun, menghela napas panjang, lalu menatap motornya seolah sedang menatap makhluk hidup yang keras kepala.

“Sedikit lagi, ya,” gumamnya. “Tolonglah.”

Angin pagi berembus pelan. Daun-daun kering berputar di aspal. Jalanan desa masih sepi, hanya suara burung dan derit papan kayu dari rumah-rumah tua. Tikno kembali menaiki motor dan melaju, berharap keajaiban kecil yang selalu ia harapkan sejak bertahun-tahun lalu.

Ia tidak mau ke bengkel.

Bukan karena pelit. Bukan karena sok jago. Tapi karena bengkel adalah tempat yang selalu membawa kembali kenangan yang ingin ia kubur dalam-dalam.

***

Trauma itu bermula dua belas tahun lalu.

Saat itu Tikno masih berusia dua puluh tiga tahun, baru saja lulus sekolah teknik dan bekerja serabutan sebagai pengantar barang. Motornya adalah satu-satunya harta berharga—motor tua warisan ayahnya, yang ia rawat dengan penuh kebanggaan.

Suatu siang, motornya mogok di tengah jalan. Dengan panik, Tikno mendorongnya ke bengkel terdekat di kota. Bengkel itu ramai, penuh suara palu, bau oli, dan tawa mekanik.

Seorang montir bertubuh besar dengan senyum ramah menyambutnya.

“Kenapa, Mas?”

“Mesinnya mati tiba-tiba,” jawab Tikno gugup.

Montir itu mengangguk dan mulai membongkar mesin. Tikno menunggu di bangku kayu, memperhatikan setiap gerakan, merasa sedikit cemas namun percaya. Hingga sore menjelang, montir itu datang membawa wajah serius.

“Ini rusak parah,” katanya. “Kalau dipaksakan jalan, bisa bahaya. Kami harus ganti beberapa komponen. Mahal.”

Tikno terdiam. Tabungannya saat itu pas-pasan. Ia bertanya detail kerusakan, tapi penjelasan montir terasa terlalu cepat, terlalu teknis. Tikno mengangguk, merasa bodoh, merasa kecil.

Akhirnya ia menyetujui perbaikan.

Namun saat motor diambil, ia sadar ada yang berbeda. Mesin terasa lebih berat. Suaranya kasar. Beberapa hari kemudian, motor itu mati total di tanjakan. Tikno terjatuh, lututnya luka, dan pesanan barangnya gagal sampai tepat waktu.

Ia kembali ke bengkel itu, tapi montir yang sama malah menyalahkannya.

“Masnya yang salah pakai,” katanya enteng. “Saya sudah bilang jangan dipaksa.”

Sejak hari itu, bengkel bukan lagi tempat perbaikan bagi Tikno. Bengkel adalah tempat pengkhianatan, tempat di mana ia merasa dibodohi, direndahkan, dan kehilangan sesuatu yang ia cintai.

Sejak hari itu, Tikno bersumpah: ia tidak akan pernah lagi masuk bengkel.

***

Bertahun-tahun kemudian, sumpah itu masih ia pegang erat.

Tikno belajar memperbaiki motornya sendiri. Ia membaca buku, menonton video, bertanya pada teman. Ia membawa kunci pas ke mana-mana. Di rumahnya yang sederhana, ada sudut kecil yang ia sebut “bengkel pribadi”—hanya lantai semen, beberapa perkakas, dan lampu bohlam kuning.

Setiap kali motor bermasalah, Tikno mengatasinya sendiri. Jika tidak bisa, ia akali. Jika masih bisa jalan, ia paksa.

Ia lebih memilih mogok di tengah jalan daripada masuk bengkel.

Namun usia tidak bisa ditipu. Baik usia manusia, maupun usia mesin.

Motor Tikno kini sering rewel. Kadang mati mendadak, kadang brebet seperti orang bicara dengan mulut penuh. Tikno mulai sering terlambat bekerja. Bosnya mulai mengeluh.

“Motor kamu itu harus ke bengkel, Tik,” kata Pak Rudi, atasannya, suatu hari. “Kalau kamu terus telat, saya susah bela kamu.”

Tikno hanya tersenyum kaku.

“Iya, Pak. Nanti saya urus.”

Padahal dalam hatinya, kata bengkel bergema seperti ancaman.

***

Hari itu hujan turun deras.

Tikno sedang mengantar pesanan ke desa sebelah ketika hujan mengguyur tanpa ampun. Jalan tanah berubah licin. Di tengah tanjakan, motornya tersendat, lalu mati.

Tikno mencoba menyalakan ulang. Sekali. Dua kali. Sepuluh kali.

Tidak ada respon.

Hujan makin deras. Jaket Tikno basah. Tangannya gemetar, entah karena dingin atau putus asa. Di kejauhan, petir menyambar, menerangi jalan sejenak.

Ia mendorong motor itu, terpeleset, hampir jatuh. Lututnya kembali tergores, mengingatkannya pada luka lama yang belum sembuh sepenuhnya—bukan di kulit, tapi di hati.

Di tengah hujan itu, Tikno tertawa kecil. Tawa pahit.

“Apa lagi yang kamu mau dariku?” katanya pada motor.

Tidak ada jawaban, tentu saja.

Saat itulah ia melihat papan kecil di pinggir jalan.

BENGKEL MOTOR – 200 M

Tulisan itu seperti tamparan.

Tikno berdiri mematung. Jantungnya berdetak kencang. Napasnya berat. Ingatannya kembali pada bengkel lama, pada montir bertubuh besar, pada rasa bodoh dan tertipu.

Kakinya melangkah mundur.

Namun hujan, motor mati, dan pesan yang belum terkirim membuat langkah itu terhenti.

Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, Tikno merasa benar-benar kalah.

Ia menunduk. Bahunya turun. Air hujan bercampur air mata yang tidak ia sadari jatuh.

“Baiklah,” bisiknya. “Sekali ini saja.”


Bengkel itu kecil. Tidak ramai. Hanya ada satu montir tua berkacamata, sedang duduk sambil menyeruput kopi.

Tikno masuk dengan ragu, mendorong motornya perlahan. Bau oli menyambutnya, membuat dadanya sesak.

Montir itu menoleh.

“Kenapa, Mas?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Tikno terdiam lama.

“Saya… motor saya mati,” akhirnya ia berkata, suaranya hampir tidak terdengar.

Montir itu bangkit, memeriksa motor tanpa banyak bicara. Gerakannya pelan, hati-hati. Tidak ada nada meremehkan, tidak ada tawa berlebihan.

“Boleh saya jelaskan satu-satu nanti?” kata montir itu. “Biar Mas paham.”

Tikno terkejut. Ia mengangguk.

Perlahan, ketegangan di dadanya sedikit mencair.

Montir itu menjelaskan kerusakan dengan bahasa sederhana. Menunjukkan bagian yang aus. Menyebutkan pilihan: diperbaiki sementara atau diganti.

“Mas yang putuskan,” katanya.

Untuk pertama kalinya, Tikno merasa dihargai.

Saat motor selesai, suaranya halus kembali. Tikno menatapnya lama, lalu menatap montir itu.

“Terima kasih,” katanya tulus.

Montir itu tersenyum kecil.

“Kadang mesin rusak bukan karena dipakai,” katanya. “Tapi karena terlalu lama dipaksa tanpa dirawat.”

Kata-kata itu menghantam Tikno lebih dalam dari yang montir itu sadari.

***

Di perjalanan pulang, hujan sudah reda.

Tikno mengendarai motornya dengan pelan, merasakan getaran yang kini terasa bersahabat. Dadanya terasa lebih ringan.

Ia sadar, yang rusak selama ini bukan hanya motornya. Tapi keberaniannya untuk percaya kembali.

Trauma memang tidak hilang begitu saja. Tapi hari itu, Tikno belajar bahwa putus asa bukan akhir—kadang itu adalah pintu menuju pemulihan.

Dan bengkel, akhirnya, bukan lagi musuh.