"Kalau puisi itu benar-benar mati, apa yang tersisa dari kita, Sastra?"
Luna bertanya sambil menatap lampu jalan yang berkedip pelan di trotoar Jalan Malioboro. Asap rokok kreteknya melayang ke arahku seperti kalimat yang tidak selesai.
Aku diam sejenak. "Mungkin hanya bau tembakau yang abadi."
Dia tertawa kecil, suaranya tenggelam di deru motor yang lewat. "Kamu selalu begitu. Menjawab serius tetapi seolah bercanda."
Kami berjalan tanpa tujuan. Liburan panjang ini dimulai karena kampus ditutup tiba-tiba; ada wabah kata-kata, kata Rektor. Semua mata kuliah Sastra dibatalkan sampai entah kapan. Ironisnya, justru saat puisi dilarang dibaca di kelas, aku malah tidak bisa berhenti menulis.
Kami sampai di sebuah gang sempit bernama Gang Cokrodiningratan. Di ujung gang ada warung kopi kecil yang pintunya selalu setengah terbuka, seperti mulut orang yang hendak mengaku dosa tetapi urung. Namanya Warung Puisi Mati. Pemiliknya, Mbah Gito, dahulu penyair terkenal yang kini hanya menyeduh kopi dan diam.
Malam itu Mbah Gito menatap kami lama. "Kalian membawa puisi?"
Aku menggeleng. "Hanya membawa hati yang kosong."
"Bagus," katanya. "Kosong lebih jujur daripada penuh omong kosong."
Luna memesan kopi hitam tanpa gula. Aku memesan teh poci. Kami duduk di bangku kayu yang sudah miring. Di dinding terpampang kertas-kertas kuning berisi puisi orang-orang yang pernah singgah. Ada yang ditulis dengan tinta merah darah, ada pula yang ditulis dengan lipstik.
Luna tiba-tiba mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya. "Aku punya ide gila."
Aku menatapnya.
"Bagaimana kalau kita mencuri puisi orang lain, lalu kita bakar satu per satu di sini, dan dari abunya kita tulis puisi baru? Puisi yang lahir dari kematian puisi lain."
Aku tersenyum miring. "Kamu lebih penyair daripada aku."
Keesokan harinya kami mulai. Pertama, puisi Sapardi yang terkenal itu. Luna menyalakan korek. Api kecil menjilat kertas fotokopi. Abu beterbangan seperti kupu-kupu abu-abu. Dari abu itu aku menulis satu baris:
Duka adalah lampu jalan yang lupa dimatikan.
Luna menambahkan:
Tetapi kau tetap berjalan karena takut gelap lebih jujur.
Kelahiran Kembali dari Abu
Kami lanjut ke Chairil Anwar. Puisi "Aku" dibakar. Abu jatuh di meja. Kali ini Luna yang menulis lebih dahulu:
Kita bukan lagi binatang yang lapar, kita binatang yang sudah lupa rasa lapar.
Aku menimpali:
Dan itu lebih menakutkan.
Hari ketiga, puisi Mustofa W. Hasyim. Puisi tentang Tuhan. Api lebih besar kali ini. Mbah Gito hanya memandang tanpa bicara. Dari abu yang tersisa aku menulis:
Tuhan pergi liburan panjang, meninggalkan doa-doanya di kulkas.
Luna tertawa sampai menangis. "Ini puisi paling jahat yang pernah kubaca."
Kami terus membakar. Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, W.S. Rendra, sampai puisi-puisi anonim yang ditempel di tembok kampus. Setiap abu melahirkan baris baru. Puisi kami tidak lagi memiliki nama penulis, tidak lagi memiliki tahun, dan tidak lagi mengikuti aturan ejaan. Hanya rasa yang mentah.
Seminggu berlalu. Warung Puisi Mati mulai ramai. Orang-orang datang membawa puisi lama mereka; puisi SMA, puisi patah hati, atau puisi untuk ibu yang tidak pernah dibaca. Semuanya dibakar. Semuanya lahir kembali menjadi puisi tanpa identitas.
Suatu malam Luna berkata, "Aku takut."
"Takut apa?"
"Kalau puisi baru ini lebih hidup daripada kita."
Aku memandang abu yang masih hangat di meja. "Mungkin memang begitu. Kita hanya perantara."
Hari terakhir liburan panjang, kami membakar puisi terakhir: puisi yang kutulis untuk Luna setahun lalu, saat kami masih percaya cinta bisa diselamatkan dengan metafora. Api kali ini pelan sekali, seperti ragu. Abu jatuh lembut. Luna menatapku, matanya basah.
Kali ini aku tidak menulis apa-apa. Dia juga diam. Kami hanya duduk, mendengar suara abu yang mendarat di kayu. Mbah Gito akhirnya buka suara setelah seminggu lebih diam.
"Itu puisi terakhir kalian?"
Kami mengangguk.
"Bagus," katanya. "Sekarang kalian bebas."
Jejak Abu yang Tak Pernah Hilang
Kami berjalan keluar gang saat fajar. Langit masih abu-abu. Di trotoar Malioboro, seorang anak kecil menjual koran. Judul utamanya: "Puisi Dilarang Selamanya."
Luna memegang tanganku. "Kita pulang?"
Aku menggeleng. "Liburan ini belum selesai."
Dia tersenyum tipis. "Ke mana lagi?"
"Ke tempat yang tidak punya nama."
Kami berjalan. Di belakang kami, angin membawa sisa abu puisi-puisi lama. Abu itu tidak jatuh ke tanah. Ia mengambang, mengikuti langkah kami, seperti doa yang lupa pulang.
Kami menyusuri trotoar Malioboro yang mulai ramai pedagang kaki lima. Abu di belakang kami seperti bayangan yang tidak mau lepas, melayang rendah, menyentuh tumit sepatu. Luna berhenti di depan toko buku bekas yang pintunya terbuka lebar. Di rak depan, terdapat tumpukan buku puisi berdebu. Dia mengambil satu: antologi penyair muda yang tidak pernah kami kenal.
"Masih ada yang percaya puisi hidup," katanya pelan.
Aku mengangguk. "Mereka belum tahu rasanya membakarnya."
Kami masuk. Pemilik toko, seorang kakek berkacamata tebal, mengenali kami. "Kalian dari Warung Puisi Mati, ya?" Dia tersenyum tipis. "Berita cepat menyebar di kota ini. Orang bilang kalian membunuh puisi lama supaya puisi baru lahir."
Luna meletakkan buku itu kembali. "Kami hanya mencoba bertahan."
Kakek itu mengeluarkan kertas kosong dari laci. "Kalau begitu, tulis satu baris di sini. Tanpa nama. Tanpa api. Biar puisi ini lahir tanpa kematian."
Aku dan Luna saling pandang. Aku menulis terlebih dahulu:
Kita berjalan karena abu lebih ringan daripada kenangan.
Luna menambahkan:
Dan kenangan lebih berat daripada kita.
Kakek itu melipat kertas tersebut dan menyimpannya di antara buku-buku lain. "Ini akan dibaca orang yang lewat tanpa mereka tahu siapa penulisnya."
Lalu kami keluar. Langit sudah biru pucat. Abu di belakang kami mulai menipis, seolah-olah kelelahan mengikuti. Luna memeluk lenganku. "Mungkin kebebasan itu bukan berhenti menulis, tetapi berhenti takut puisi mati."
Aku diam. Tetapi kali ini diamku tidak kosong. Kami terus berjalan. Ke tempat yang tidak punya nama. Ke liburan yang tidak punya akhir. Abu terakhir jatuh pelan, menyatu dengan debu trotoar. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa puisi tidak lagi perlu dibakar untuk hidup.