Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
ilustrasi pasangan (Pexels/cottonbro studio)
e. kusuma .n

Kau pernah menjadi segalanya. Cahayaku, penyemangatku, duniaku, pemilik hatiku. Meski aku hanya kisah sementara untukmu. 

***

Siang itu, ada yang berbeda. Sebuah pesan masuk ke ponselku saat jeda ronde perjuanganku memperebutkan podium. Itu darimu. Isinya? Seharusnya biasa saja karena hanya kalimat afirmasi sederhana, tapi entah kenapa terasa spesial.

"Semangat ya, Tia buat turnamen hari ini. Empat poin seenggaknya bisa kamu ambil," tulismu singkat seolah memberiku semangat raih empat kemenangan di turnamen catur daerah yang ku coba taklukkan.

Sederhana, tapi bikin senyumku merekah dan dadaku seolah penuh dengan semangat yang menggebu hanya karena pesan singkat di aplikasi WhatsApp siang itu.

"Iya, diusahakan. Sejauh ini aku belum dapat satu poin pun dan sudah kalah sekali, hehe..," balasku sambil meringis dalam hati mengingat beratnya ronde awal yang terlewat.

"Nggak apa-apa, aku yakin kamu bisa. Ingat-ingat saja sesi latihan kita kemarin. Pahami tujuan lawanmu melangkah, jangan buru-buru merespons biar nggak terbawa kendali lawan," katanya.

Ku biarkan pesannya terbaca tanpa sempat ku balas lagi. Bukan enggan membalas, tapi babak kedua sudah menanti untuk ku menangkan.

Ku simpan kembali ponselku ke dalam tas. Ku biarkan sejenak pikiranku diam sediam-diamnya, meresapi pesan dari Rama tadi. Ya, namanya Rama. Lelaki muda yang bukan hanya jadi teman tapi juga pelatih pribadiku selama menekuni catur setahun belakangan.

Rama selalu dingin di hadapan papan catur. Tapi hangat saat berbicara dan menyampaikan materi juga cerita-cerita masa lalunya yang selalu memenangi turnamen apa pun yang dia datangi. Ya, dia mantan atlet catur nasional. Sayang, dia memilih melepas peluang jadi the next Magnus Carlsen-nya Indonesia demi banyak alasan yang sulit ku mengerti.

***

"Rama, aku MENANG!!! Harusnya kamu di sini melihatku mendapat piala ini. Aku juga dapat tambahan piala Best Women, lho," pamerku pada Rama lewat pesan WA yang ku kirim tepat setelah turun panggung.

Ku kira akan ada balasan cepat darinya, seperti biasanya. Apalagi aku bisa menang meski dengan selisih poin setengah. Kebanggaan dan kebahagiaan yang ingin aku bagi pertama kali dengan Rama itu nyatanya nggak bersambut sesuai harapan.

Rama tak membalas, lama sekali aku menunggu. Rasanya ingin lari saja menghampiri dia di mana pun berada. Tapi, kenyataan perlahan menamparku saat ingat dia bukan siapa-siapa. Lebih tepatnya, tak bisa ku jadikan siapa-siapa.

***

Momentum indahku berlalu begitu saja, tanpa ada balasan dari Rama sampai sekarang. Sudah seminggu, Rama seperti menghilang tanpa kabar. Padahal hari ini jadwal latihan kami, momen yang selalu ku tunggu, di tempat biasa yang kami sebut 'Sarang Bidak'.

Di sudut meja cafe, dekat jendela dengan pemandangan jalan yang tenang, aku menanti Rama meski tanpa janji temu. Dia selalu begitu, tepati janji berlatih tanpa harus diberi kode atau aba-aba. Dia bilang itu komitmennya padaku yang sudah memberinya pekerjaan sampingan sebagai pelatih.

Jam 11 siang, bahkan cafe langganan kami belum benar-benar buka. Aku sudah duduk manis di sudut kesayangan kami, sambil melihat lalu-lalang kesibukan pemilik cafe dan karyawannya bersiap menerima pelanggan.

Berulang kali ku pastikan ponselku, takut andai ada pesan darinya terlewat. Nihil. Ku hela napas kecewaku, ku jatuhkan tubuhku di meja dingin itu, tanpa ada semangat menata papan caturku.

'Ah, aku tidur saja. Biarlah kalau Rama tak datang,' batinku.

Baru saja hampir terlelap, tiba-tiba ku rasakan usapan lembut di kepala. Kaget, jantungku berdegup kencang. Bukan karena sentuhan menenangkan itu, tapi suara lembut yang sangat ku kenal.

"Hai, juaraku yang cantik. Kok malah nggak semangat gitu, sih," sapa Rama tanpa aba-aba sambil pamer senyumnya, yang sialnya siang itu terlihat sangat manis.

"Kemana aja? Aku kangen, eh ah maksudku aku udah nunggu lama. Ini udah sejam lebih dari jadwal latihan kita, kan?" ucapku gugup tanpa sadar langsung to the point keluarkan isi hati.

Rama hanya tersenyum lalu duduk di hadapanku yang masih berdiri karena kaget.

"Duduk dulu, cantikku. Aku baru datang, lho. Kok udah disergap sama ekspresi rindu begitu," kekehnya seolah meledekku yang ku jamin saat ini sudah merona.

"Hmm.. Kamu kemana aja Mas Rama yang ganteng, pelatihku sayang. Anak didiknya juara kok dianggurin aja, seminggu pula, cih..," balasku sambil duduk menghadap wajah tampan itu.

Rama melempar senyum kembali, sambil meminta maaf. Ku kira hari ini akan seperti biasanya, aku bisa menghabiskan waktu manis bersama Rama. Tanpa pernah menduga kalau hari ini jadi momen terakhir kebersamaan kami yang ku kira selamanya.

"Tia, latihan hari ini yang terakhir, ya," ucap Rama tiba-tiba dan sukses bikin tercekat.

"Loh, kenapa? Kamu udah nggak mau bimbing latihanku lagi? Aku bakal maju ke tingkat nasional, lho. Aku butuh kamu." rengekku.

"Aku harus kembali, dia memintaku pulang," jawab Rama singkat tapi sukses patahkan hatiku.

***

Siang itu Rama pergi meninggalkanku bersama perasaan yang campur aduk. Tak tahu harus marah, kecewa, atau terluka lebih dulu. Padahal selama ini dia begitu manis, ku pikir hatinya bisa berpaling dari perempuan itu dan memelukku selamanya.

Hatiku remuk, duniaku kacau seketika. Harusnya aku siap dengan kemungkinan ini, tapi nyatanya tidak. Kepergiannya benar-benar hancurkan hidupku tanpa aba-aba.

Apa lagi yang tersisa sekarang? Hanya papan catur 64 petak dengan bidak-bidaknya yang sunyi. Di setiap langkah bidak-bidakku, ada ucapan Rama yang selalu terngiang.

Apa lagi yang harus remuk? Sudah patah semua, sudah habis aku bersama luka yang ku biarkan menganga. Catur dan Rama, tak lagi sama.