Setiap Ramadan, nama Arman selalu lebih dulu sampai ke masjid daripada azan Magrib. Spanduk besar terbentang di halaman dengan tulisan "Buka Puasa Bersama atas Donasi Bapak H. Arman Pratama." Wajahnya tersenyum dari baliho. Di media sosial, panitia mengunggah foto dirinya menyerahkan santunan. Ratusan komentar berdatangan.
"Masya Allah, dermawan sekali, Pak Haji. Semoga makin sukses dan berkah. Inspirasi umat!"
Notifikasi itu seperti tetesan madu yang jatuh perlahan ke dalam dadanya. Arman tidak pernah mengakui, bahkan pada dirinya sendiri, bahwa ia menunggu itu semua. Ia menyebutnya dakwah. Ia menyebutnya motivasi publik. Ia menyebutnya transparansi.
Namun jauh di dalam, ia tahu, ia menyukai namanya disebut. Tahun ini, entah mengapa, Ramadan terasa berbeda. Mungkin karena usianya genap lima puluh tahun. Mungkin karena suatu malam ia terbangun dengan dada sesak, membayangkan liang lahat yang sunyi, atau mungkin karena khotbah Jumat terakhir sebelum Ramadan itu terlalu menancap.
"Keikhlasan adalah amal yang tetap hidup meski tidak ada satu pun manusia yang tahu," kata khatib pada Jumat itu.
Kalimat itu mengganggunya sepanjang hari. Bagaimana mungkin amal hidup tanpa saksi? Ia yang selama ini selalu berdiri di depan kamera, tiba-tiba merasa seperti sedang ditelanjangi. Malam itu, setelah tarawih pertama, Arman membuat keputusan yang bahkan ia sendiri tidak pahami sepenuhnya. Ramadan kali ini, ia akan bersedekah tanpa nama, tanpa spanduk, tanpa publikasi, dan tanpa unggahan.
Ia ingin tahu seperti apa rasanya. Ia memanggil asistennya. "Transfer dana ini ke rekening panti asuhan itu," katanya pelan. "Tetapi jangan sebut nama saya."
"Asal dana atas nama siapa, Pak?"
"Anonim."
Asistennya terdiam. "Biasanya pihak penerima meminta data untuk laporan, Pak."
"Tidak perlu. Jika harus ada nama, pakai sebutan 'Hamba Allah' saja."
Kata itu terdengar ganjil di lidahnya: Hamba Allah. Bukan lagi nama lengkapnya, H. Arman Pratama, Komisaris Utama. Bukan tokoh masyarakat, hanya seorang hamba.
Hari pertama berlalu. Tidak ada pesan terima kasih pribadi. Tidak ada telepon dari pengurus masjid. Tidak ada undangan khusus untuk duduk di saf depan. Arman duduk di baris tengah malam itu. Ia tidak tahu ke mana harus menatap. Tangannya refleks membuka ponsel. Sepi. Biasanya, setelah Magrib, sudah ada unggahan foto pembagian takjil dengan namanya tercantum jelas. Biasanya, sudah ada ratusan tanda suka. Malam itu, hanya ada pesan promosi dan notifikasi berita. Dadanya terasa kosong.
"Aneh," gumamnya. Bukankah ini yang ia inginkan?
Hari ketiga, kegelisahan itu tumbuh seperti rumput liar. Ia mengirim bantuan untuk keluarga duafa di kampung seberang. Ia menitipkan uang tunai melalui seseorang, tanpa identitas. Biasanya, ia akan datang langsung, berfoto bersama keluarga penerima, dan memberi sambutan singkat tentang pentingnya berbagi. Kini, ia hanya duduk di mobil, jauh dari lokasi, memastikan uang itu benar-benar sampai. Ia melihat dari kejauhan seorang ibu memeluk amplop cokelat dengan mata berkaca-kaca. Tak ada yang tahu ia ada di situ. Tak ada yang menoleh padanya dan entah mengapa, itu menyakitkan. Ia menyadari sesuatu yang lebih menakutkan daripada kehilangan uang: ia takut kehilangan pengakuan.
Pada hari ketujuh, ia tidak tahan. Ia membuka akun media sosialnya, menatap unggahan lama dirinya tersenyum sambil menyerahkan santunan. Ribuan suka dan ratusan komentar pujian. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia rindu perasaan itu, rindu divalidasi, dan rindu dianggap penting.
"Apakah aku benar-benar bersedekah karena Allah atau karena aku takut tidak dianggap berarti?" bisiknya pada bayangan sendiri di layar gelap.
Pertanyaan itu seperti cermin yang tidak bisa ia pecahkan. Ia teringat masa kecilnya. Ayahnya seorang guru sederhana yang jarang dipuji. Ibunya pedagang kecil di pasar. Mereka hidup biasa saja. Arman tumbuh dengan tekad: ia akan dikenal dan ia akan dihormati. Ketika ia berhasil dan namanya disebut-sebut, ia merasa luka lamanya terobati. Sedekah menjadi panggung paling elegan untuk itu. Namun kini, tanpa tepuk tangan, ia seperti kehilangan identitas.
Suatu sore, ia kembali duduk di dalam mobil, memperhatikan seorang anak kecil yang menerima paket sembako dari panitia masjid. Ia tahu isi paket itu berasal dari transfer anonimnya. Anak itu memeluk ibunya dan berkata, "Alhamdulillah, Bu. Allah baik ya."
Allah baik. Bukan pujian "Pak Arman baik." Tidak ada namanya dalam doa anak itu. Hanya nama Allah.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa dadanya bergetar oleh sesuatu yang berbeda dari pujian. Ia merasa kecil, dan anehnya, rasa kecil itu tidak menyakitkan. Itu menenangkan. Malam itu, di sepertiga terakhir Ramadan, ia sujud lebih lama dari biasanya. Tidak ada kamera, tidak ada saksi. Hanya lantai dingin dan napasnya yang tersengal.
"Ya Allah," bisiknya, "selama ini mungkin aku lebih takut tidak dikenal manusia daripada tidak diterima oleh-Mu."
Air matanya jatuh tanpa suara. Ia menyadari kecanduannya. Validasi itu seperti gula; memberi energi sesaat, lalu menuntut lebih banyak. Ia tidak pernah merasa cukup. Ia selalu ingin namanya disebut sedikit lebih keras, fotonya terpampang sedikit lebih besar. Keikhlasan, ternyata, bukan rasa manis. Ia pahit di awal, ia sunyi, dan ia membuatmu merasa tidak terlihat.
Namun di balik sunyi itu, ada kebebasan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Kebebasan dari penilaian manusia, angka, dan komentar hingga ria karena diri sendiri yang selalu ingin dipuji. Ramadan hampir berakhir. Tidak satu pun orang tahu bahwa sebagian besar kegiatan sosial tahun ini didanai olehnya. Tidak ada spanduk dengan namanya. Tidak ada pidato kehormatan.
Di malam takbiran, ia berjalan melewati masjid yang gemerlap. Namanya tidak disebut dalam sambutan dan untuk pertama kalinya, itu tidak melukai. Ia tersenyum kecil. Mungkin beginilah rasanya menjadi hamba, bukan tokoh. Ia sadar, ikhlas memang sunyi. Sunyi seperti malam yang tidak butuh tepuk tangan untuk tetap indah. Sunyi seperti doa yang tidak terdengar manusia tetapi sampai ke langit.
Arman menatap kubah masjid yang berkilau. Dahulu ia ingin namanya setinggi itu. Kini, ia hanya ingin namanya tercatat di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun, di suatu tempat yang tidak memerlukan kamera. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mematikannya. Tidak ada yang perlu ia cek lagi.
Di tengah takbir yang menggema, ia merasa tenang untuk pertama kalinya dalam hidup. Ia bersedekah dan tidak merasa kehilangan apa pun. Justru ia merasa ditemukan. Di dalam sunyi itu, ia mengerti bahwa yang paling menakutkan bukanlah ketika manusia tidak mengenal kita, melainkan ketika Allah tidak menerima kita. Ramadan tahun itu tidak membuat namanya semakin besar. Ia justru mengecilkan egonya, dan di situlah ia akhirnya belajar bahwa ikhlas memang tidak berisik, tetapi justru karena itulah ia menyelamatkan.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Nostalgia Ramadan: Keabadian Lagu 'Cinta Rasul' Sulis dan Haddad Alwi
-
4 Rekomendasi HP dengan Baterai Jumbo dan RAM Besar, Aman Dibawa Mudik Lebaran 2026
-
Congrats IVE! BANG BANG Jadi Lagu K-pop Pertama di 2026 Raih Perfect All-Kill
-
Putaran Tanpa Arah Menjelang Magrib: Pelajaran Kecil dari Jalanan yang Saya Dapat Saat Ngabuburit
-
Review Buku Puasa Para Nabi: Mengurai Hikmah Bulan Ramadan