Bimo Aria Fundrika | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Nadira dan Arkan (Gemini AI)
Ukhro Wiyah

Langit senja meredup perlahan di atas Masjid Raya Al-Falah, masjid terbesar di tengah kota yang dikelilingi gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan. Kubahnya memantulkan cahaya jingga terakhir sebelum matahari tenggelam. Lampu-lampu taman menyala satu per satu, menerangi jalur pejalan kaki yang dipenuhi orang-orang berbaju rapi dan mukena warna-warni.

Di tangga marmer yang lebar, sepatu-sepatu kerja berjajar di samping sandal jepit dan sneakers usang. Nadira berdiri di depan pintu masuk, memegang tas kerja kulit hitam yang biasanya ia letakkan di ruang rapat. Blazer abu-abunya terasa asing di antara lautan gamis dan koko putih. Ia sempat ragu sebelum melepas sepatu haknya dan melangkah masuk.

Udara di dalam masjid sejuk, beraroma karpet bersih dan kayu mimbar yang dipoles. Suara mikrofon mengalun lembut, seorang ustaz tengah menyampaikan kajian menjelang berbuka.

“… dan kadang, kehilangan adalah cara Allah mengosongkan tangan kita, agar kita siap menerima yang baru.”

Kalimat itu membuat Nadira berhenti di dekat tiang besar. Ia duduk perlahan, menyandarkan punggungnya. Matanya menatap lantai, bukan ke arah ustaz. Di layar ponselnya, notifikasi email dari kantor masih menyala. Subjeknya pendek dan tegas: Restrukturisasi Pegawai – Mulai Februari 2026. Hela napasnya semakin berat mengingat namanya tercantum di deretan pegawai yang kontraknya telah selesai. Ia menekan layar hingga gelap.

Beberapa saf di depan, seorang pemuda duduk bersila dengan mushaf kecil di tangannya. Namanya Arkan. Kemeja putihnya sederhana, lengan digulung hingga siku. Bekas luka tipis terlihat di pergelangan tangannya, jejak masa lalu yang tak banyak orang tahu. Ia mendengarkan kajian dengan kepala sedikit menunduk. Sesekali bibirnya bergerak mengulang ayat yang dibacakan.

Dua tahun lalu, ia lebih akrab dengan suara musik keras dan lampu klub malam daripada lantunan ayat. Dua tahun lalu, ibunya menutup pintu rumah sambil menangis ketika ia pulang dalam keadaan mabuk. Kini, setiap Ramadan, ia berusaha duduk di masjid kota itu, menambal hari-hari yang pernah ia rusak.

Saat kajian usai dan azan Magrib berkumandang, orang-orang bergegas membuka kurma dan air mineral yang dibagikan panitia. Suara gelas plastik beradu dan bisikan doa bercampur menjadi satu.

Sementara itu, di beranda masjid, Nadira membuka tasnya, menyadari ia tidak membawa apa pun untuk berbuka. Ia hanya datang dengan kelelahan dan pertanyaan. Sebuah botol air mineral terulur di hadapannya.

“Silakan,” kata suara lelaki.

Nadira mendongak. Pemuda itu tersenyum tipis, tidak memaksa.

“Terima kasih,” jawabnya pelan.

Mereka berbuka dalam diam. Air dingin mengalir di tenggorokan Nadira, mengendapkan sesuatu yang sejak pagi terasa mengganjal.

Setelah salat Magrib, sebagian jamaah pulang, sebagian lagi tetap duduk menunggu Isya dan tarawih. Masjid menjadi lebih lengang, suara kipas angin terdengar jelas. Nadira kembali ke tempatnya sesaat sebelum salat Magrib tadi. Ia memandang ke arah kubah dari balik jendela kaca besar.

“Kajian pertama kali di sini?” tanya pemuda itu, kini duduk tak jauh darinya.

Nadira tersenyum tipis. “Terlihat sekali, ya?”

“Sedikit,” jawabnya ringan.

“Aku biasanya terlalu sibuk untuk datang ke tempat seperti ini.”

Pemuda itu mengangguk pelan. “Ramadan memang sering memaksa kita berhenti.”

Nadira tertawa kecil, hambar. Ia memutar botol air kosong di tangannya. “Hari ini aku kehilangan pekerjaan.”

Kata-kata itu keluar lebih cepat dari yang ia rencanakan. Ia jarang membicarakan hal pribadi kepada orang asing. Namun di masjid itu, dengan gema ayat yang masih terngiang, dinding pertahanannya terasa rapuh.

Nadira melanjutkan. “Aku pikir aku mengendalikan hidupku. Ternyata aku cuma lari dari kekosongan.”

Lampu-lampu gantung memantulkan bayangan lembut di wajahnya. Tidak ada nada dramatis, hanya pengakuan sederhana.

Nadira menarik napas panjang. “Aku selalu punya rencana dan target. Promosi jabatan. Investasi. Tapi sekarang … semua terasa kosong.”

Kata itu menggantung di udara di antara mereka.

Pemuda itu tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap ke depan. “Aku juga pernah kehilangan banyak hal,” katanya pelan. “Kepercayaan orang tua. Teman baik. Bahkan waktu.”

“Lalu …  suatu hari aku belajar bahwa kosong tidak selalu buruk.”

Nadira mengernyit. Rupanya lelaki bermata teduh itu belum selesai berbicara.

“Sebab kalau gelas sudah penuh, tidak ada ruang untuk apa pun lagi. Dan terkadang, kita perlu gelas kosong baru untuk bisa belajar lebih banyak hal dalam hidup.” Lanjutnya lagi.

Suara anak kecil berlari melintas di serambi. Beberapa jamaah mulai mengambil wudu untuk Isya.

“Aku Arkan,” katanya.

“Nadira.”

Tak ada jabat tangan, sebab keduanya sama-sama paham batas yang tak boleh dilanggar. Hanya tatapan singkat dan seulas senyum tipis.

***

Tarawih malam itu terasa lebih panjang bagi Nadira. Bacaan imam mengalun lambat, menyebut tentang kesabaran dan janji setelah kesulitan. Di rakaat ketujuh, Nadira merasakan air mata mengalir tanpa ia sadari. Ia tidak menyeka.

Di saf pria, Arkan berdiri tegak. Dalam sujudnya, ia menyebut nama ibunya pelan, seperti setiap malam Ramadan. Usai salat, mereka kembali bertemu di pelataran masjid. Angin malam membawa aroma jajanan dari pedagang kaki lima di seberang jalan.

“Terima kasih untuk airnya,” kata Nadira.

“Terima kasih sudah bercerita,” balas Arkan.

Mereka duduk di tangga, memandang lalu lintas kota yang tak pernah benar-benar tidur. “Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan besok,” ujar Nadira.

Arkan tersenyum kecil. “Besok masih Ramadan.”

Nadira tertawa pelan. “Itu bukan jawaban.”

“Itu pengingat.”

Hening sebentar. “Aku dulu tidak pernah berpikir bisa duduk di sini tanpa merasa bersalah,” lanjut Arkan. “Sekarang aku masih memperbaiki diri. Sedikit-sedikit.”

Nadira menatap lampu-lampu kota yang berpendar. “Aku selalu merasa harus jadi kuat.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku lelah dengan semuanya.” Kata itu jatuh jujur.

Arkan mengangguk. “Mungkin Ramadan ini bukan hanya tentang menahan lapar. Tapi tentang mengizinkan diri kita lemah di tempat yang tepat.”

Angin malam meniup hijab Nadira, membuatnya sedikit berkibar. Untuk pertama kalinya sejak membaca email pagi tadi, dadanya terasa lebih lapang.

Malam semakin larut. Jamaah mulai berkurang. Petugas kebersihan menyapu pelataran.

“Apa kamu akan datang lagi besok?” tanya Arkan.

Nadira menatap kubah masjid yang kini diterangi lampu putih. “Mungkin. Sepertinya, sekadar duduk di sini jauh lebih baik daripada berdiam diri tanpa melakukan apapun. Dan kamu?”

Arkan tersenyum. “Aku sedang belajar tidak lari.”

Mereka berdiri bersamaan. Tidak ada janji besar, tidak ada rencana rumit. Hanya langkah pelan menuruni tangga masjid. Di perempatan jalan, mereka berpisah arah.

“Semoga besok hatimu lebih ringan dan lapang,” kata Arkan.

“Terima kasih,” jawab Nadira.

Langkahnya terasa berbeda malam itu. Email di ponselnya masih ada. Langkah gamangnya masih tersisa. Namun di antara suara azan Isya dan percakapan singkat di tangga masjid, ada sesuatu yang berubah.

Ramadan mempertemukan mereka bukan untuk menambal masa lalu secara ajaib, melainkan untuk saling mengingatkan bahwa luka tidak harus disembunyikan sendirian. Di bawah langit kota yang penuh cahaya buatan, dua orang berjalan menjauh dengan hati yang sedikit lebih terang dari sebelumnya.