Bimo Aria Fundrika | Risen Dhawuh Abdullah
sumber gambar: pixabay.com
Risen Dhawuh Abdullah

Dalam kamar yang sederhana, Sularsih tersenyum begitu percakapan telepon berakhir. Perempuan lima puluh delapan tahun itu lantas meletakkan hpnya di meja kamar.

Kenes—anak semata wayangnya—mengabari, bahwa ia akan pulang. Kenes pulang menggunakan bus, dan jika tak ada hambatan, ia akan sampai di Jogja besok sekitar jam enam pagi.

Sudah dua tahun Kenes menikmati hari-harinya di ibu kota. Di sana ia bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang akuntan.

Setiap tiga bulan sekali, ia pulang menjenguk Sularsih. Pada awal saat Kenes mendapat tawaran bekerja di ibu kota, sejujurnya Sularsih sangat keberatan jika harus berpisah dengannya.

Sebab pada saat itu terbayang di benaknya, sosok Malin Kundang. Tetapi Sularsih dibuat lega, tiga bulan setelah perginya Kenes ke ibu kota, anak itu menjenguknya.

Sularsih tak pernah menyangka jika ia diberi anugerah oleh Tuhan yang begitu besar ; diberikan seorang anak yang cerdas, sehingga Kenes bisa mencicipi bangku kuliah tanpa mengeluarkan jutaan rupiah yang membuat sesak di dada.

Sularsih hanya seorang petani yang menggarap sawah milik orang-orang. Sedangkan suaminya yang sudah wafat tiga tahun lalu pernah bekerja sebagai pengrajin batu-bata di tempat seorang juragan terkaya di kampungnya.

Sekali lagi, Sularsih tak menyangka dengan semua ini. Padahal dulu sebelum Kenes lulus dari bangku sekolah menengah atas, sudah terlukis di pikirannya sebuah rencana.

Setelah Kenes lulus, ia akan menghadap pada Bu Mantri, memohon padanya agar Kenes diperbolehkan menjualkan baju-baju batik miliknya.

Ya, Bu Mantri adalah seorang pemilik usaha batik yang juga tinggal di kampungnya. Hubungan Bu Mantri dengan Sularsih sangat akrab. Bu Mantri sendiri juga tampak suka dengan pribadi Kenes.

Tetapi semua berubah ketika pengumuman seleksi perguruan tinggi jalur beasiswa—pengumuman itu tiga hari sebelum penyerahan kembali siswa-siswi kepada orang tua.

Pipi Kenes basah oleh air mata. Begitu juga dengan Sularsih. Keduanya saling peluk.

Padahal beberapa saat yang lalu, Bu Mantri ke rumah Sularsih, memberikan respon tentang permohonan Sularsih ; Kenes diperbolehkan menjualkan baju-baju batik miliknya.

“Tetapi bagaimana dengan Bu Mantri, ya?” Tiba-tiba kebahagiaan yang terpancar dari wajah Sularsih sedikit ternodai oleh kalimat itu, kalimat yang keluar dari mulutnya. “Bu Mantri sudah memperbolehkan. Kalau membatalkan ibu tidak enak. Kamu tahu sendiri kan, Bu Mantri itu sudah cukup banyak membantu kita.”

“Lha, ibu itu bagaimana? Ibu sudah menghadap Bu Mantri? Katanya setelah aku lulus?”

“Ya, ibu pikir nasibmu tidak akan seperti ini. Salah ibu juga tidak konsisten dengan kata-kata ibu sendiri. Yowes, nanti kita coba menghadap ke Bu Mantri. Ibu akan menjelaskan semua ini. Ya, semoga saja ia tidak kecewa,” kata Sularsih.

Bu Mantri bisa mengerti. Ia malah turut bahagia dan bangga atas prestasi yang diraih Kenes. Ia menyerahkan semuanya pada Sularsih dan Kenes.

“Kalau begitu, bagaimana jika Kenes tetap menjualkan baju-baju batik, namun waktunya tidak setiap saat. Artinya hanya sebagai sampingan, Bu. Saya ini soalnya jadi tidak enak dengan kebaikan Bu Mantri.”

“Ya, saya boleh-boleh saja. Tetapi bagaimana dengan Kenes?” ucap Bu Mantri, tatapannya beralih ke Kenes yang duduk di samping Sularsih.

“Saya tidak mau kalau ada unsur terpaksa. Harus plong, pokoknya.”

“Kenes mau kok, Bu. Kenes juga tak enak jika membatalkan tidak jadi membantu Bu Mantri.”

Bu Mantri tersenyum. Tiba-tiba saja Bu Mantri merasa ada benda keras menghantam dadanya.

Bu Mantri tidak habis pikir, Kenes selalu dapat membuatnya teringat dengan anak pertamanya yang diculik saat ia berumur tiga tahun dan ditemukan dalam keadaan tak bernyawa seminggu setelah ia diculik—padahal banyak remaja se-usia Kenes di desa ini, namun entah kenapa hanya Kenes yang mampu membuatnya teringat dengan anak pertamanya.

Anak pertamanya seorang perempuan dan jika masih hidup ia se-usia dengan Kenes.

Anak kedua Bu Mantri yang menjadi anak satu-satunya yang dimilikinya sejak anak pertamanya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, berusia dua tahun lebih muda dari Kenes.

Sebab pribadi Kenes yang menyenangkan, saat ia seorang diri di rumah, ia kerap berandai-andai bilamana Kenes menjadi istri anaknya. Namun ia sudah berjanji, tidak akan mengatur anaknya masalah jodoh di kelak kemudian hari. Biarkan ia menentukan sendiri, toh ia yang akan menjalani, kata Bu Mantri dalam hati.

Jam dinding di kamar Sularsih, jarum pendeknya menusuk angka delapan dan jarum panjang tertancap pada angka dua belas. Meski sudah malam, Sularsih tak merasa jika sudah malam.

Ia justru merasa di luar sana keadaan terang benderang sebagaimana hatinya yang sedang bersinar. Mungkin ia tidak akan bisa tidur malam ini. Sularsih keluar dari kamarnya, ia menuju kamar anaknya yang nyaris tak pernah dipakai untuk istirahat semenjak Kenes bekerja di ibukota—saat pulang untuk menjenguk ibunya, Kenes lebih memilih tidur di kamar ibunya.

***

Setelah mandi dan salat subuh, Sularsih tampak mondar-mandir mencari sesuatu. Kamar tidurnya-ruang tamu-dapur. Ia lupa menaruh dompetnya. Wajahnya tampak begitu gelisah. Suara kokok ayam semakin menambah kekisruhannya.

Ia mencoba mengingat di mana terakhir kali ia meletakkan benda yang teramat penting itu. Tetapi karena pikiran sudah kisruh, ia tak bisa ingat. Pencarian itu baru berhenti begitu separuh tubuh matahari muncul. Ternyata dompetnya ada di ventilasi kamar mandi. Jika tak ada acara dompet ilang, ia sudah sampai di pasar.

Di pasar, Sularsih rencananya akan membeli bahan-bahan untuk membuat masakan kesukaan Kenes. Karena sebelum pembicaraan diakhiri semalam, Kenes sempat berkata, ia rindu masakannya dan memintanya untuk membuat makanan kesukaannya. Maka ia begitu semangat.

Tetapi ketika kakinya menginjak ruang tamu hendak mengeluarkan sepeda motor bututnya, terdengar suara antar benda keras berbenturan. Suara itu mirip piring yang jatuh dari meja, atau gelas yang terkena ayunan kaki. Suara itu berasal dari dapur.

Sularsih segera ke sana. Dan benar, di lantai dapur ada pecahan gelas. Sudah pasti, itu ulah tikus. Sularsih tak pernah tega memberantas tikus dengan racun. Bagaimanapun buruknya seekor tikus, ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang berhak hidup.

Tikus-tikus yang bersliweran di dapur, tak pernah mencuri makanan atau bumbu-bumbu yang ada di dapur, sebab Sularsih menyimpannya dengan rapat di tempat yang aman.

“Kenes!” Tiba-tiba saja bibirnya mengucapkan nama anaknya. Ia baru sadar akan sesuatu.

Kenes belum juga menghubunginya. Tanpa memberesi pecahan gelas, Sularsih menuju tempat di mana jam dinding berada. Pukul tujuh.

Sularsih menghubungi Kenes. Sembari menunggu reaksi, ia meraih remot televisi dan memencet tombol on. Jantung Sularsih berdetak kencang, begitu melihat berita di televisi.

Sebuah bus tujuan Jogja dari Jakarta—Sularsih semakin panik begitu tahu nama bus itu sama seperti dengan nama bus yang ditumpangi anaknya—terjun bebas ke dalam jurang empat jam yang lalu.

Menurut berita itu, korban meninggal telah mencapai 15 orang. Luka-luka berat maupun ringan, 20 orang. Sopir sendiri tewas.

“Kenes? Kok tidak diangkat-angkat?” Detak jantung Sularsih semakin menjadi-jadi. Berkali-kali ia menghubungi Kenes. Namun tak ada tanggapan selain, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Panik, cemas, gelisah, air mata bercampur menjadi satu. Sularsih masih terus mencoba menghubungi, ia tak pedulikan televisi.

Rencana pergi ke pasar benar-benar buyar. Sularsih menangis menjadi-jadi. Hingga pukul sembilan, tak ada kabar dari Kenes. Teleponnya tak diangkat. Sularsih terus mengeluarkan air mata.

“Kenes... Kenes... Kenes... Benarkah kau sudah tiada?” Kata Sularsih dengan nada bicara tersendat-sendat. “Kenes....”

Pukul sepuluh. Belum juga ada kabar. Teleponnya masih tanpa respon. Sularsih putus asa. Sularsih semakin yakin anaknya sudah tidak ada.

Terbayang di benaknya, jasad anaknya tiba di rumah. Ia terduduk lemas di sofa, ia tak mempunyai keinginan sama sekali untuk pergi membeli tiket bus, untuk mengunjungi lokasi kecelakaan. Sularsih dengan besar hati menyerahkan semuanya pada Tuhan. Tatapannya kosong, hatinya hancur.

“Assalamu’alaikum.” Terdengar salam. Karena kesedihannya, Sularsih tak bisa berpikir suara itu milik siapa. Ia melangkah menuju pintu depan. Mungkin jasad anakku sudah tiba, pikirnya.

“Wa’alaikumsalam.” Sularsih membuka pintu. Sularsih langsung dipeluk begitu pintu terbuka. Untuk beberapa detik mereka menikmati pelukan itu.

“Kenes? Kamu selamat?”

“Selamat apa, Bu?”

“Ibu kira kamu sudah tiada.” Sularsih menangis dan melepas pelukannya.

“Bus yang kamu tumpangi kecelakaan. Kamu tidak bisa dihubungi. Ibu sudah putus asa.”

“Hah?!”

“Besok lagi kalau bepergian hp harus aktif.”

“Aku kehabisan baterai, Bu. Sebelum berangkat aku lupa ngisi baterai. Dan perlu ibu tahu, aku pulang tidak jadi naik bus. Aku ketinggalan Bus. Aku jadinya naik kereta. Beberapa hari yang lalu aku sempat pesan tiket kereta. Tetapi tiba-tiba saja aku ingin naik bus, sebab selama ini aku belum pernah Jakarta-Jogja naik bus. Eh, tapi kok malah ketinggalan... Ya sudah, aku naik kereta. Beruntung jadwal keberangkatan duluan busnya ketimbang kereta.”

“Oalah, Nduk...”

“Jadi ibu tidak usah menangis.”

“Kenes?”

Ibu dan anak itu kembali berpelukan.

Bantul, 2018-2026