Begitulah Daruz di pagi hari. Kaki basah karena melangkah di rerumputan yang ditempeli oleh embun pagi. Menembus gelap hutan, menyibak semak-semak liar.
Semua itu dilakukan hanya untuk mencari kayu bakar untuk memasak. Daruz tinggal di sebuah rumah, jauh dari kebisingan kota, bersama ayah dan ibunya yang telah renta.
Pendidikan yang hanya sampai pertengahan sekolah menengah atas, tidak membuatnya dikucilkan. Justru di desanya, dalam perkumpulan pemuda, lelaki yang berpenampilan apa adanya itu menjadi salah satu orang penting.
Ia sering berurusan dengan kepala desa setempat, bahkan hingga camat jika ada acara penting yang diadakan di desanya. Jika ada orang yang belum atau baru saja kenal dengannya, pasti akan tidak percaya akan hal itu.
Pada sebuah hari yang biasa, artinya matahari masih terbit dari timur dan suara kokok ayam masih kukuruyuk, serta dan-dan yang lain, yang mana jika disebutkan satu per satu akan menjadi bertele-tele sekali, sehingga cerita ini tidak pantas lagi disebut cerita pendek, Daruz pergi ke hutan.
Ibunya mengisi waktu sekaligus menanti Daruz pulang dengan sibuk memetik sayuran di belakang rumah. Ayahnya telah pergi ke sawah, menggarap sawah seorang juragan, akan pulang jam sembilan, untuk menenangkan perut yang keroncongan, yang kemudian kembali lagi ke sawah hingga matahari di titik tertinggi, yang membuat mulut mengeluh tak henti-henti.
Tidak ada rasa takut di benak Daruz saat memasuki hutan, mungkin karena kebiasaan. Daruz memunguti kayu kering yang entah jatuh semalam atau berhari-hari sebelumnya, dengan perasaan sabar, sambil sesekali kakinya bergerak. Biasanya, Daruz akan lebih dulu mengumpulkan di suatu tempat, hingga kira-kira terkumpul banyak. Setelah banyak, ia akan mengikat dengan tali yang dibawanya dari rumah. Lalu membawanya pulang dengan pancaran wajah seperti orang yang larut dalam kemenangan.
Di perjalanan pulang, ia bertemu seorang lelaki, yang tidak lain ialah temannya. Jaka Tarub, pemuda yang dari segi kadar ketampanan, tergolong lelaki yang tampan. Ia menjadi idola gadis-gadis desa.
“Kok tumben kelayapan di hutan?” tanya Daruz. Kedua tangannya memegang seikat kayu bakar yang ada di atas kepala.
“Iya ini mau ke telaga,” ujar Jaka Tarub. “Tadi dari rumah aku melihat ada tujuh bidadari turun dari langit. Selendang mereka beraneka warna. Kuperkirakan mereka turun di tengah hutan. Karena di sana terdapat telaga. Menurut cerita, jika bidadari turun ke bumi, mereka hendak mandi.”
“Serius kau?”
“Iya, serius. Aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri. Makanya aku ingin memastikan saja. Ayo ikut. Kayu bakarmu taruh di sini saja. Nanti diambil lagi.”
Karena selama hidup belum pernah menyaksikan secara langsung bidadari dan didorong rasa penasaran dengan cerita Jaka Tarub, maka Daruz mengiyakan ajakannya.
“Tapi jangan aneh-aneh, jika memang benar para bidadari itu benar-benar sedang mandi. Kita cukup mengamati dari jauh,” ucap Daruz setelah meletakkan kayu bakarnya. Lalu ia meninggalkannya, akan kembali selesai menyaksikan bidadari bersama Jaka Tarub.
Jaka Tarub tidak menghiraukan kata-kata Daruz. Ia terus melangkah dan melangkah. Hingga kemudian tiba di dekat telaga. Ternyata benar, di telaga ada tujuh bidadari sedang mandi. Mereka tentu tidak telanjang bulat—sengaja di cerita ini para bidadari tidak digambarkan telanjang bulat, sebab dikhawatirkan akan menganggu pikiran. Mereka mengenakan jarik yang dibalutkan ke tubuh mereka.
Dari balik semak-semak, Daruz dan Jaka Tarub mengamati. Pandangan Jaka Tarub tertuju ke suatu arah, tepatnya di atas sebuah batu besar. Di mana di situ terdapat beberapa stel pakaian nan apik, ala-ala bidadari. Lalu mata Jaka Tarub kembali terfokus kepada tujuh bidadari yang sedang mandi.
“Eh, kedip kau! Lihat yang cantik-cantik langsung ijo matanya!” kata Daruz menggoyang-goyangkan tubuh Jaka Tarub.
“Ini lebih dari sekadar cantik, Ruz. Bidadari-bidadari itu jauh lebih cantik dibanding gadis-gadis di desa kita. Di pikiranku jadi timbul sebuah ide.”
“Ide?”
“Aku tahu, bagaimana agar mereka bisa menjadi milikku, bahkan milikmu kalau kau mau.”
“Kau ini sudah gila? Baru saja kau melihat, langsung ingin memiliki.”
“Aku telah jatuh cinta.”
“Apa kau bilang? Jatuh cinta?” tanya Daruz dengan nada tidak habis pikir. “Apakah jatuh cinta secepat dan semudah itu?”
“Cinta itu terkadang memang tidak nalar.”
“Tidak nalar, ya tidak nalar. Tapi bukan berarti semudah ini juga. Kukira kau ini hanya nafsu saja dengan keindahan mereka.”
“Ahh, aku tidak peduli. Aku ingin memiliki mereka.”
“Bagaimana caranya? Apakah kau akan menculiknya? Jika benar, kau kejam. Bidadari juga memiliki hak untuk hidup bebas. Jangan kau paksa mereka untuk menjadi milikmu.”
“Aku tentu tidak akan menculiknya. Kau tunggu di sini saja. Jangan aneh-aneh. Jangan sampai keberadaan kita diketahui oleh mereka. Aku akan mengambil salah satu selendang mereka.”
“Untuk apa?”
Jaka Tarub lalu berjingkat, bergerak perlahan. Bak seekor singa yang mengintai rusa, menunggu saat yang tepat. Jaka Tarub tiba di dekat batu besar di balik semak-semak, ia terdiam sejenak. Sementara tujuh bidadari masih asyik mandi. Mereka tertawa dan bercanda. Saat momen yang ditunggu telah tepat, dengan sigap tangan kanan Jaka Tarub menerobos semak-semak dan mengambil salah satu selendang. Jaka Tarub tersenyum puas.
“Mau kau apakan selendang itu?” Jaka Tarub kaget mendengar pertanyaan yang muncul dengan begitu tiba-tiba. Daruz sudah berada di dekatnya.
“Aku akan menyembunyikannya. Agar salah satu dari mereka tidak bisa pulang. Walhasil, mau tidak mau harus tinggal di bumi.”
“Kau yakin hanya dengan menyembunyikan selendang, salah satu dari mereka tidak bisa pulang?”
“Tentu saja yakin, menurut cerita-cerita, bukankah mereka dapat terbang karena selendang? Jadi kalau tidak ada selendang? Kau pasti paham. Aku akan berpura-pura mencari kayu bakar di sini, dan sok bertanya penyebab salah satu bidadari itu gelisah. Aku akan menolongnya, dengan membawa pulang, dan kusuruh tinggal di rumahku. Lalu? Ya, lalu dan lalu lainnya. Kau pasti bisa mengira-ira apa yang akan terjadi. Apakah kau juga mau? Mereka begitu cantik, teman.”
Tiba-tiba saja Daruz merebut selendang yang ada di genggaman Jaka Tarub. Dengan wajah tidak suka, Daruz berujar, “aku tidak akan membiarkanmu mendapat kebahagiaan dengan cara licik seperti ini!”
“Ruz, aku ini temanmu. Seharusnya kau senang melihat temanmu akan bahagia.”
“Tetapi aku tidak suka dengan caramu! Aku akan mengembalikan selendang ini ke tempatnya dengan baik-baik.”
Dada Jaka Tarub memanas. Mereka terlibat perdebatan sengit. Pada awalnya hanya sekadar cekcok, hingga pada akhirnya saling baku hantam. Selendang itu tergeletak di tanah. Daruz mencoba melindungi selendang itu dari Jaka Tarub. Mereka masih terus baku hantam.
“Semakin jelas bahwa kau tidak jatuh cinta, melainkan hanya nafsu belaka. Jika kau benar-benar jatuh cinta, kau tidak mungkin menempuh dengan cara yang kotor.”
“Aku tidak peduli. Setan kau!”
Badan yang kalah besar, membuat Daruz kalah baku hantam. Ia tersungkur. Selendang milik salah satu bidadari itu tertindih tubuh Daruz yang babak belur. Ketika Jaka Tarub akan menyingkirkan tubuh Daruz, ke tujuh bidadari itu telah selesai mandi dan berjalan menuju daratan. Pandangan salah satu dari mereka tertuju pada Jaka Tarub. Lelaki itu menjadi ragu-ragu untuk mengambil dan akhirnya lebih memilih kabur. Ia berpikiran, dengan ia kabur, maka Daruz akan menjadi tersangka, dituduh oleh para bidadari mencuri selendang.
Padahal bidadari tidak sebodoh itu. Dan yang terjadi tidak serupa apa yang dibayangkan oleh Jaka Tarub. Bidadari itu tidak menghakimi Daruz ; ia telah mencoba mencuri salah satu selendang milik mereka. Daruz memaparkan apa yang terjadi. Ke tujuh bidadari itu menyembuhkan babak belur Daruz dengan mantra yang sama sekali tidak dimengerti oleh manusia. Singkat cerita, enam bidadari telah kembali ke kahyangan. Satu bidadari belum pulang, ia sengaja menemani Daruz yang kondisinya telah membaik, di tepi telaga. Bidadari yang bernama Nawangwulan itu merasa berutang budi.
“Apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu?” tanya Nawangwulan. Ia begitu berharap Daruz melontarkan kata-kata permintaan, sehingga rasa berutang budinya hilang.
“Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Memang itu sudah menjadi keharusanku, ketika mengetahui sesuatu yang tidak baik.”
“Kau baik sekali.”
Pertemuan itu, pertemuan yang tidak pernah diimpikan Daruz itu, ternyata mengundang pertemuan-pertemuan lain. Meski Daruz hanyalah pemuda desa, dengan kehidupan apa adanya, namun Nawangwulan tak pernah merasa canggung.
Dengan mantra-mantranya, Nawangwulan sering membuat Daruz bahagia, mulai dari menghidangkan makanan enak yang tidak pernah Daruz cicipi hingga mengajaknya terbang menikmati tempatnya tinggal dari atas.
Daruz memang merasa senang, namun rasa senang hanya sebatas senang. Berbeda dengan Nawangwulan. Rasa berutang budi telah melahirkan perasaan lain, perasaan semacam ada yang kurang jika tidak ada Daruz di sisinya.
Nawangwulan sadar, betapa alam dirinya dan Daruz berbeda. Namun ia tidak mungkin terus menerus berkutat dengan perasaan semacam itu. Ia pernah berusaha melupakan Daruz, hanya saja apa yang dilakukan justru semakin membuatnya teringat dengan lelaki itu.
Mungkin Nawangwulan hanya butuh waktu yang tepat untuk mengatakan itu. Jika harus dicari titik penyebabnya, Nawangwulan jatuh cinta kepada Daruz, tentulah pemantik itu adalah Daruz. Karena kebaikannya menyelamatkan Nawangwulan.
Tetapi apakah kebaikan Daruz patut disalahkan?
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Bebas Aktif atau Bebas Selektif? Menyoal Kursi Indonesia di Forum Trump
-
Wajib Militer, Lee Jung Ha Absen dari Peran Kim Bong Seok di Moving Season 2
-
Gerakan Antirokok: Tanda Peduli Kesehatan atau Gagalnya Pendidikan Publik?
-
Milenial vs Gen Z: Mengapa Generasi Milenial Dinilai Lebih Awet Muda?
-
Persib Bandung Rekrut Dion Markx, Rekomendasi Langsung dari Bojan Hodak?