Malam itu hujan turun, tak terlalu besar untuk membuat orang berteduh, namun tak terlalu kecil juga untuk membuat orang berlari tanpa kebasahan.
Seorang pria dengan celemek coklat bertuliskan 'Soft Light Cafe' tampak gelisah. Musik yang ia putar dari pengeras suara, terkalahkan oleh riuh hujan yang menyentuh tanah. Sudah satu jam lamanya ia termenung, menatap lurus ke luar jendela.
Beberapa pengendara motor terlihat berhenti di kedai kopinya, namun mereka bergegas pergi setelah memakai jas hujan yang berada di jok motor mereka.
Sebagian lagi memilih menerobos hujan walau tanpa pelindung karena menganggap hujan ini akan sangat panjang. Sedangkan mereka yang berada di kendaraan roda empat tampak berlalu lalang tiada henti, sama sekali tak mempermasalahkan hujan malam ini.
Pria itu merasa lega saat melirik jam dinding, jam kerjanya akan habis tak lama lagi. Ia bersiap untuk membereskan kedai kopinya, namun ia urungkan tatkala melihat seorang wanita tengah berlari kecil sembari menutupi kepala dengan sebuah tas.
Wanita itu berhenti tepat di depan pintu masuk dan terdiam beberapa saat. Tak lama, ia mendorong pintu dan menghampiri pria yang berdiri di belakang counter.
"Mas, kopi susu panas satu ya," ucapnya.
Pria itu refleks tersenyum dan mengiyakan pesanan yang diterimanya. Ini akan menjadi pesanan terakhir di hari ini, pikirnya.
Saat tengah mengambil cangkir, wanita tadi kembali menghampiri sang barista.
"Nanti kalau sudah habis, saya pesan satu lagi ya, Mas."
Setengah terkejut, pria itu mengangguk pelan.
Lalu, ia mengantarkan kopi pada wanita yang duduk di bangku pojok samping jendela.
"Selamat menikmati," ujarnya sembari tersenyum.
Wanita itu hanya mengangguk pelan dan berterimakasih.
Hujan belum juga berhenti, ia termenung menatap keluar jendela sambil sesekali menyesap kopinya. Kemeja dan celana panjangnya terlihat basah sebagian. Ponsel yang diletakkan di atas meja nampak berkedip sedari tadi, namun tak dipedulikannya.
Barista itu nampak ragu ingin menghampirinya. Ia hanya ingin menyapa dan menjaga nama baik kedai kopi ini. Setelah beberapa saat bergulat dengan pikirannya, ia berjalan menghampiri wanita itu.
"Boleh saya temani, Kak?"
Wanita itu tampak terkejut. "Oh, boleh Mas, silakan."
Canggung. Hanya suara deras hujan yang terdengar di sekeliling mereka.
"Kakaknya baru pulang kerja, ya?" Tanya barista itu berusaha mencairkan suasana.
"Iya Mas," jawabnya singkat.
"Malam banget Kak, pulangnya."
Wanita itu tersenyum getir, "Namanya juga budak korporat, Mas, mau bagaimana lagi."
"Hmm, iya, kelihatan kakaknya pekerja keras." Sang barista nampaknya mencoba berempati. Kantung mata hitam yang dimiliki wanita ini menjelaskan segalanya.
"Saya kira kedainya sudah tutup tadi, karena tidak ada siapa-siapa."
Oh mungkin itu alasan wanita ini terdiam di pintu masuk tadi, pikirnya.
"Iya Kak, karena hujan jadi lumayan sepi," ungkap pria itu.
Keheningan lagi-lagi menyelimuti mereka. Deras air hujan kini telah berganti menjadi rintik yang lebih kecil. Orang-orang yang berteduh di depan kedai kopi perlahan membubarkan diri.
Setengah jam berlalu, hujan sudah benar-benar berhenti. Dua cangkir kopi di atas meja itu sudah habis tak bersisa.
"Terimakasih kopinya Mas, untung saja hujan, jadi saya bisa menunda untuk pulang," ujar wanita itu dengan tatapan yang mengarah ke bawah.
"Mereka sudah tidur, jadi saya bisa pulang sekarang. Nanti saya mampir setiap malam ya," sambungnya kemudian dengan senyum lebar.
Ia berlalu pergi, meninggalkan barista dengan penuh pertanyaan yang tak terjawab.
Pria itu terdiam sejenak, lalu merapikan meja dengan gerakan pelan.
Hujan telah berhenti, jalanan kembali seperti biasa. Namun malam ini tidak. Ia tersenyum kecil. Barangkali, untuk sebagian orang, kedai kopinya hanya perlu menjadi tempat singgah yang aman, tempat seseorang boleh lelah tanpa harus menjelaskan apa pun.
Dan jika dua cangkir kopi susu bisa membuat seseorang pulang dengan sedikit lebih ringan, ia tak keberatan pulang lebih lambat malam ini.
Dan sejak saat itu, setiap malam, ia selalu menunggu wanita yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Nadiem Ditarik Paksa: Mengapa Negara Begitu Takut Terdakwa Bicara?
-
Angka Fantastis, Bukti Minim: Layakkah Nadiem Divonis Korupsi?
-
Mitos Hidup Murah di Daerah: Gaji Lokal, tapi Harga Kebutuhan Nasional
-
Darurat Kebebasan! Ancaman Nyata Bagi Aktivis yang Berani Bersuara
-
Resmi Berlaku! Babak Baru Penegakan Hukum yang Menghantui Suara Kritis
Artikel Terkait
Terkini
-
Pandji Pragiwaksono dan Polemik Mens Rea: Mengapa Kita Sering Dibenturkan Sesama Warga?
-
Novel Promise: Ternyata Jujur adalah Nama Tengah Cinta
-
5 Zodiak yang Kelihatan Lugu Padahal Suhu, Jangan Pernah Remehkan Mereka!
-
Penuh Chemistry! 3 Rekomendasi Drama Korea Go Yoon Jung di Netflix yang Bikin Baper
-
Anime Coming-of-age The Ramparts of Ice Siap Tayang April di Netflix