Kau berdiri, sepasang matamu memandang sekeliling, dan seketika kenangan-kenangan masa silam berbondong-bondong datang kepadamu. Kenangan masa kecil hingga orang tuamu yang telah tiada datang silih berganti berebut tempat di kepalamu. Berdesak-desakan. Aku selalu yakin, mulutmu akan mengumbar lagi cerita sepulang dari tempat ini—tempat yang telah menjadi saksi perjalanan hidupmu beserta keenam saudaramu yang lain sebelum segalanya berakhir.
Aku sudah khatam dengan ceritamu perihal tanah ini; tanah yang telah menjadi masjid yang megah berdiri, tanah kakak perempuanmu satu-satunya. Bahkan, aku tahu bagaimana prosesnya hingga segalanya tidak tersisa. Kau berjalan menuju gerbang halaman. Berdiri membelakangi jalan. Kau terus mengamati tanpa henti. Tiga hari yang lalu, masjid ini baru saja diresmikan. Kau tidak bisa hadir dalam peresmian itu karena urusan pekerjaan.
“Rasa-rasanya dulu tidak sesempit ini. Apa ini cuma perasaanku saja? Apa masjidnya yang terlalu besar?” tanyamu, dan seperti baru tersadar, tatapanmu mengisyaratkan rasa tidak percaya.
“Sejak kapan tanah bisa menyempit, kecuali dijual?”
***
Sudah kukatakan, aku telah khatam dengan ceritamu. Tanah yang telah berdiri masjid ini sebelumnya adalah tanah milik kakak perempuanmu, tanah warisan bagiannya, tanah seluas seribu meter. Katanya, tanah itu diwakafkan supaya hatinya tenang, lebih berguna untuk orang lain, dan tidak berakhir seperti yang sudah-sudah.
Kakak perempuanmu selalu membayangkan masa lalu yang kelam. Orang tuamu dulu begitu kaya, tanahnya di mana-mana. Namun, karena ulah kakak-kakakmu—kecuali kakakmu nomor enam dan kakak perempuanmu—tanah-tanah itu ludes tanpa sisa.
Masih segar dalam ingatan, selepas kenduri seratus hari ibumu, selepas kau bermusyawarah dengan kakak-kakakmu, kau ucapkan kalimat yang seakan-akan menjadi penghalang kakak perempuanmu dalam mengambil keputusan.
“Apa tidak sebaiknya dikaji ulang? Ingat, Mbak Harmini punya tiga anak. Investasi masa depan, Mbak.”
“Aku paham arah pembicaraannya. Aku sudah memikirkan semuanya. Keputusan yang kuambil tidak semata-mata dariku. Aku telah menyampaikannya pada Wati, Nur, dan Nas. Jangan dikira aku sendiri dalam memutuskan hal ini. Mereka mendukung penuh. Jadi, kamu tidak perlu khawatir jika mereka tidak mendapat kenang-kenangan dari neneknya,” ucap kakakmu tanpa keraguan.
“Tapi, Mbak?”
“Lagi pula, apa yang menjadi keputusan Mbak adalah investasi masa depan, bahkan ini tidak main-main. Investasi di akhirat nanti!”
Pada akhirnya, kau tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menyalahkanmu karena telah mencampuri urusan kakak perempuanmu. Dua minggu setelah kenduri seratus hari ibumu, kakak perempuanmu kembali ke sini; sebuah kampung kecil di pinggir pesisir tempat kau dan kakak-kakakmu dibesarkan oleh keluargamu. Ia datang untuk mengurus tanahnya yang akan diwakafkan untuk masyarakat melalui sebuah organisasi agama yang sudah punya nama besar di negeri ini.
“Aku merasa kehilangan, tetapi juga merasa begitu lega. Sepertinya ini keputusan yang tepat. Aku baru bisa mengerti sekarang mengapa Mbak Harmini mewakafkan tanahnya.”
Tentu saja kau harus mengerti. Jika kakak perempuanmu tidak segera mewakafkan, tentu akan mengundang kasak-kusuk di kalangan keluargamu. Kakak-kakakmu begitu haus akan harta. Mereka tidak cukup puas telah menghabiskan apa yang menjadi milik orang tuamu untuk memenuhi nafsu duniawi yang tiada habisnya. Aku pun meyakini hal itu; kakak-kakakmu yang tidak tahu diri itu akan berusaha mencari cara agar tanah yang menjadi jatah kakak perempuanmu jatuh ke tangan mereka—meski kemungkinan terjadinya sangat kecil—tanpa peduli bahwa orang tuamu telah menegaskan jika tanah itu bukan jatah mereka.
Tanda-tandanya sudah kentara sebulan sebelum kenduri seratus hari ibumu. Kakak pertamamu tiba-tiba datang ke Jawa. Padahal, menjelang kematian ibumu, ia tidak menyempatkan diri pulang. Dalam hati, aku merutuk!
Ia menginap di rumah peninggalan ibumu yang berdiri di atas tanah bagian kakak perempuanmu. Katanya, ia pulang untuk menyusul istrinya yang kembali ke Jawa. Sebelum itu, dari ceritanya—ia sempat juga datang ke rumahku sebelum menginap di rumah peninggalan ibumu—ia cekcok dengan istrinya karena suatu hal. Ia ingin meminta maaf dan mengajaknya pulang ke tanah Borneo. Ia juga sempat bercerita jika dalam perjalanannya ke sini, uangnya sebanyak dua juta rupiah hilang dicopet.
“Halah, itu hanya akal-akalannya saja. Alasan mau menjemput istrinya cuma dalih belaka. Paling-paling ia mengincar sesuatu ke sini, dan kau bisa menerkanya sendiri. Entah kebetulan atau tidak, mengapa kedatangannya hampir berbarengan dengan kabar bahwa Mbak Harmini hendak mewakafkan tanah?”
Memang. Kakak perempuanmu telah menebar kabar akan mewakafkan tanah warisannya kepada kakak pertamamu. Ia menyampaikan hal itu padamu lewat WhatsApp. Sempat muncul dugaan dalam benak bahwa kakak pertamamu akan berusaha menghalang-halangi langkah yang akan diambil kakak perempuanmu.
Dugaanku salah. Selama berada di rumahku, ia malah tidak membahas hal itu. Namun, kemudian timbul kecurigaan—akibat cerita-cerita darimu membuatku sulit untuk tidak menaruh prasangka kepada saudara-saudaramu—ia datang ke Jawa dengan harapan yang telah ditanam; ia menginginkan segala barang yang mendiami rumah peninggalan ibumu menjadi miliknya. Ibumu pernah berucap bahwa barang-barang yang mengisi rumahnya kelak menjadi milik kakak perempuanmu.
Kelakuan saudaramu membuatku merasa jijik. Seperti tikus-tikus yang tidak pernah kenyang, tanpa henti terus berupaya mencari lumbung padi. Aku sering kali dipaksa berandai-andai berada di posisimu dan selalu muncul perasaan miris. Jika sudah begitu, aku menjadi kasihan padamu.
Dari ceritamu pula, aku tahu kalau sebenarnya kau juga punya warisan lain—selain sebidang tanah di samping masjid—berupa tanah yang katamu seluas dua ratus meter. Tanah itu raib pada suatu sore, setelah tiba-tiba dua orang berpakaian hitam datang ke rumah orang tuamu dan menyatakan bahwa tanah yang terletak di... harus segera diurus sertifikatnya untuk berganti pemilik. Orang tuamu kaget. Kala itu, orang tuamu belum mengatakan bahwa tanah itu sejatinya bagianmu. Kau juga pada saat itu sedang bekerja di luar kota. Semua itu terjadi akibat ulah kakakmu nomor tiga yang meminjam uang di bank dan menggunakan sertifikat tanah itu sebagai jaminannya tanpa sepengetahuan orang tuamu. Serupa yang sudah-sudah, uang itu hanya digunakan untuk memuaskan nafsu duniawi.
Kau berulang kali menyampaikan padaku bahwa musibah-musibah yang menimpa keluargamu di masa lalu berasal dari orang tuamu sendiri.
“Ayah dan Ibu tidak pernah mempunyai ketegasan dalam mendidik anaknya! Apalagi terhadap anak laki-laki. Mereka terlalu dimanjakan, sedangkan aku dan Mbak Harmini, apa-apa selalu dinomorduakan,” ujarmu berapi-api.
“Jarang sekali Ayah dan Ibu menegur dengan keras anak-anaknya apabila berbuat salah. Mereka seakan tidak punya keberanian. Akibatnya, mereka ingin selalu menjadi pemenang, segala keinginannya harus tercapai, dan cenderung tidak bisa menerima keadaan pada saat terjepit. Sifat itu melahirkan keburukan-keburukan yang lain, serakah misalnya,” katamu.
Kau sudah bercerita dengan rinci satu per satu bagaimana kakakmu kepadaku. Yang paling membuatku terkesan sekaligus getir adalah cerita soal kakakmu nomor dua saat merawat ibumu yang sakit pada suatu waktu.
Suasana sedang mati lampu. Untuk sampai ke kamar mandi harus keluar rumah melewati gerombolan pohon pisang—kamar mandi memang terpisah dari rumah. Kakakmu nomor dua malas repot-repot menuntun ibumu yang bersuhu tinggi. Ia justru menyarankan ibumu untuk buang air kecil di depan rumah, di bawah pohon pisang, dengan kata-kata yang kurang ajar. Sangat, sangat kurang ajar.
“Ndekem di bawah pohon pisang sana!”
Kau yang sedang salat langsung menghentikan ibadahmu dan memarahi kakakmu habis-habisan. Kakakmu nomor dua meladeni luapan kemarahanmu. Kau cekcok!
“Itu semua terjadi akibat orang tua yang tidak tegas.” Kau menutup kisah dengan kata-kata itu.
Cerita-cerita tentang kakak-kakakmu seperti film yang kerap diputar kembali di waktu tertentu secara terjadwal. Meski sebenarnya aku tidak setuju jika orang tua adalah yang paling bertanggung jawab atas perilaku kakak-kakakmu, setidaknya hal itu bisa kujadikan pelajaran dalam mendidik anak-anak kita. Ketegasan begitu diperlukan!
***
Aku jelas membenarkan langkah yang diambil kakak perempuanmu. Tanah itu tidak akan habis tanpa makna seperti yang sudah-sudah. Tanah itu, meskipun tidak ada di genggaman, tidak akan meninggalkan penyesalan di kemudian hari. Aku sungguh salut dengan kakak perempuanmu. Sangat salut.
Maka, kisah-kisah masa lalu yang membuat keluargamu—terkhusus ayah dan ibumu—pedih tidak akan pernah terulang. Tidak akan pernah!
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
5 Upcoming Drama Korea Februari 2026, Ada Drakor Baru Ryeo Un
-
Meski Level Berbeda Jauh, Ternyata Piala AFF Berani Diadu dengan Piala Dunia dalam Hal Ini!
-
4 Sunscreen dengan PDRN untuk Perlindungan UV Sekaligus Perawatan Kulit
-
John Herdman Fokus Pemain Liga Lokal, Winger Persib Berpeluang Masuk Timnas?
-
Poco dan Redmi Kuasai Pasar, Ini 7 HP Rp34 Jutaan Paling Worth It