M. Reza Sulaiman | Risen Dhawuh Abdullah
Ilustrasi perempuan berselimut air hujan. (Nano Banana/Gemini AI)
Risen Dhawuh Abdullah

Bres! Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Saat aku mendapat tempat berteduh di emperan kios kosong, aku sudah basah kuyup. Suasana di luar sana nyaris tidak dapat diketahui karena hujan yang turun begitu derasnya mengaburkan pandangan. Hanya tampak lampu-lampu redup yang tak kuasa menentang garis-garis air yang arahnya ke bawah. Tas kuliahku menjadi agak basah.

Hari ini aku lupa membawa jas hujan—aku menyalahkan diri sendiri, kenapa selesai kuliah aku malah nongkrong dan tidak langsung pulang. Jadi, mau tidak mau aku harus menunggu hingga langit tuntas mengeluarkan semua isinya.

Meski hujan sangat lebat, ternyata ada juga yang nekat menembus jejarum air. Sementara itu, malam ikut deras menetes berbarengan dengan hujan. Jalanan menjadi basah, dan aku melihat aliran air di pinggir jalan mengalir begitu derasnya. Kusaksikan dari tempatku duduk, aliran air itu berjalan dari kanan ke kiri. Sial juga, malam-malam begini hujan, rutukku dalam hati. Aku semakin mengutuk keadaan manakala tubuhku kian kedinginan. Untuk menghangatkan tubuh, aku mencoba menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku. Namun, agaknya usahaku laksana menegakkan benang basah atau menyalakan api di tengah hujan. Aku tetap kedinginan. Bibir ini mungkin saja sudah biru. Hujan masih deras dan aku semakin menggigil.

Kupeluk tasku, pandanganku masih saja ke depan. Kalau ada orang, aku bisa mengobrol untuk mengurangi dingin. Tidak sendirian beku begini.

Saat hujan sedikit agak reda, aku dikagetkan dengan sosok di seberang—sosok yang tidak asing lagi bagiku. Entah sejak kapan ia berdiri di sana, di depan rumah makan yang sudah tutup. Sejenak kulirik jam tanganku. Angka sembilan telah ditusuk oleh jarum pendek. Mataku kemudian kembali ke depan. Ia masih berdiri di sana.

“Bukankah ia seniorku ketika SMA dulu? Bukankah ia yang diam-diam aku sukai, meski ia tidak mengenaliku dan aku hanya tahu namanya saja?” celetukku spontan. Ya, aku tidak salah lagi. Dia. Dia perempuan yang pernah aku sukai ketika aku masih mengenakan seragam putih-abu-abu. Namun, kenapa ia berdiri di sana?

Ia pun sekarang duduk di kursi panjang yang ada di depan rumah makan itu. Walaupun aku tidak bisa melihat jelas ekspresi wajahnya, setidaknya aku bisa menebak bahwa ia sedang menanti seseorang. Dadaku mendadak tidak karuan rasanya. Kenangan demi kenangan di bangku SMA menguak di permukaan pikiran. Aku masih ingat benar ketika aku baru saja diterima di SMA yang kuidam-idamkan dan menjalani masa orientasi siswa yang dekat dengan pemborosan itu. Saat itulah aku bertemu dengannya dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Wajahnya yang kuning langsat bersinar membuat diriku terpanggil untuk mencari tahu siapa namanya. Dan alangkah senangnya hati ini manakala pada saat ujian tengah semester pertama, aku satu ruangan dengannya. Ujianku menjadi tidak tenang, berujung dengan nilaiku yang jelek.

Aku tersenyum sendiri mengingat semua itu. Kini aku benar-benar dipertemukan kembali setelah lama aku tidak melihat wajahnya. Ia masih di depan rumah makan itu.

Betapa bodohnya aku, saking asyiknya memperhatikan perempuan yang berdiri di seberang, aku sampai tidak sadar kalau hujan sudah reda. Ia masih duduk di sana. Aku menyayangkan bila harus pulang. Kuputuskan untuk tetap di sini hingga seorang lelaki berjaket hitam dan berkacamata hitam menghampirinya. Aku memfokuskan penglihatan. Tangan perempuan itu berulang kali bergerak, seperti orang yang sedang menerangkan sesuatu di hadapan orang lain. Pada suatu kesempatan, tangan lelaki itu menepuk-nepuk pundak perempuan itu, lalu tangan itu beralih ke dagu. Apakah mereka sepasang kekasih? Setelah itu, lelaki berjaket hitam dengan kacamata hitam itu pergi. Entah mendapat inisiatif dari mana, aku menghidupkan mesin sepeda motorku dan menyeberang, menghampiri perempuan itu.

“Mbak Nirmala?” Untuk pertama kalinya aku mengucapkan nama itu. Yang kupanggil menoleh kepadaku. Aku turun dari sepeda motor dan mendekatinya.

“Mbak Nirmala?” panggilku sekali lagi. “Ini Mbak Nirmala, kan?” tanyaku memastikan.

“Iya, siapa ya?” Ia tampak bingung. Aku mengajaknya duduk. Kuperhatikan, bibirnya tidak sealami dulu. Sekarang terlihat sedikit lebih menyala.

“Aku adik kelasmu di SMA, Mbak. Mbak tidak ingat? Mbak dulu anggota OSIS yang memarahi peserta didik baru yang tidak lengkap atributnya, kan? Ya, termasuk aku ini….” kataku. Pada akhir perkataanku, sengaja kuperlihatkan ekspresi senyum supaya kebingungan yang melandanya hilang. Namun, rasa bingung itu masih saja menggantung di kepalanya.

“Aku kok tidak ingat ya? Siapa namamu?”

“Aku Handoko.”

“Handoko?” Ia tampak berpikir. “Aku tidak ingatlah.”

“Ya sudah, yang jelas Mbak Nirmala sekarang sudah tahu siapa aku. Aku Handoko, adik kelasmu di SMA.”

Perempuan yang kupanggil Mbak Nirmala itu masih memperlihatkan ekspresi bingung.

“Kenapa Mbak di sini?” tanyaku dengan penuh penasaran. Mataku berpusat ke mata kelincinya.

Ia tidak menjawab, malah mengalihkan tatapannya. Aku pun demikian. Hening sesaat menguasai. Aku memberanikan diri untuk kembali bertanya, tetapi ia masih diam tidak menjawab, layaknya mengajak bicara sebuah patung.

“Kamu sendiri kenapa ke sini?” tanyanya. Di telingaku, entah kenapa, pertanyaannya terdengar aneh.

“Karena aku melihat Mbak di sini,” jawabku dengan enteng. “Pertanyaanku belum dijawab, Mbak.”

Hujan turun kembali. Suara sesenggukan tangis tertangkap telingaku. Kepala perempuan yang pernah membuatku menjadi pengagum rahasianya itu lalu terkulai di dadaku. Ia menyiram dadaku dengan air matanya. Aku pun tidak tahu harus bagaimana. Yang kubisa hanya bertanya padanya, kenapa menangis? Ia masih menangis.

Saat tangisnya reda, ia baru merespons pertanyaanku.

“Pasti kamu kaget bila mendengar ini.” Ia mengusap pipinya yang sembab.

“Kenapa, Mbak?”

Ia menarik napas dalam-dalam. Ada kesan tidak berkenan di balik tempurung kepalanya untuk menjawab pertanyaanku.

“Jadi kenapa, Mbak?”

“Aku ini pelacur…” jawabnya polos.

“Pelacur?” Aku mengerutkan kening. Pengakuannya betul-betul membuat nyawaku serasa melayang. Begitu berani ia mengatakan yang sejujurnya.

“Kamu tidak sadar? Wilayah di sekitar sini tempat apa?”

Aku baru ingat. Memang wilayah sekitar sini merupakan surga bagi lelaki mata keranjang. Namun, apa yang membuatnya bergelut dengan dunia hitam? Tiba-tiba aku tidak punya nyali untuk bertanya. Mulutku terkunci, ia sendiri diam. Hujan pun belum berhenti. Tubuhku kaku, membatu persis sebuah tugu. Ia sendiri santai, tubuhnya sama sekali tidak bergetar seakan dingin adalah hal yang biasa baginya. Hingga ia berujar…

“Aku begini ini karena orang tuaku bangkrut. Ayah suka main perempuan. Mamaku gila, setiap hari ia membawa pisau seperti ingin bunuh diri. Aku cari pekerjaan ke sana dan ke sini tak kunjung dapat. Hidup ini keras. Kamu pasti bisa menebak sendiri, untuk apa kiranya aku menjadi kupu-kupu malam.”

Sekejap aku langsung kehabisan kata-kata. Sekejap otakku tanpa diperintah berjalan ke belakang, memutar kembali peristiwa-peristiwa tentang kelakuanku yang mengikuti sepeda motornya saat pulang sekolah atau mengekornya saat ia ke kantin tanpa diketahui olehnya. Aku geli, dan mau tidak mau aku tersenyum. Saat aku melempar kembali pandang ke arahnya, ia sudah tidak ada di tempat. Aku melangkah ke trotoar. Dari sini, tertangkap olehku seorang perempuan sedang berjalan menjauhiku dengan tubuh berselimut air hujan.