Tak ada yang benar-benar siap ketika Raka Sasmita menghilang.
Ia bukan sekadar sastrawan terkenal. Namanya hidup di rak buku, di ruang diskusi kampus, di kutipan yang dibagikan orang-orang yang merasa hidupnya terselamatkan oleh satu paragraf.
Esainya tentang kesepian kota memenangkan penghargaan internasional. Puisinya dibacakan di acara kenegaraan. Novel terakhirnya, Rumah yang Tidak Pulang, dicetak ulang hingga belasan kali.
Lalu, suatu pagi di bulan Oktober, Raka lenyap.
Tidak ada tanda perlawanan. Tidak ada pesan perpisahan. Rumahnya di kawasan Waringin Tua masih rapi, kopi di meja kerja sudah dingin, laptop tertutup, dan halaman terakhir manuskrip barunya hanya berisi satu kalimat:
“Jika aku menghilang, carilah aku di antara kata-kata yang tak selesai.”
Polisi menyebutnya kasus orang dewasa hilang. Media menyebutnya misteri sastra terbesar abad ini. Para pembaca menyebutnya pengkhianatan atau pengorbanan, tergantung siapa yang ditanya.
Yang paling terpukul adalah Ratna Kusumadewi, editor sekaligus sahabatnya selama hampir dua puluh tahun. Dialah yang pertama kali membaca naskah Raka saat ia masih menjadi penulis miskin dengan mesin tik rusak. Dialah yang mengenali pola tulisan Raka lebih baik daripada siapa pun.
Dan Ratna tahu satu hal, Raka tidak mungkin menghilang tanpa meninggalkan petunjuk.
Ia kembali ke rumah Raka seminggu setelah hilangnya diumumkan secara resmi. Bau buku tua dan kertas lembap masih sama. Ratna membuka rak catatan harian, puluhan buku tulis tipis dengan sampul kusam. Tidak ada tanggal. Tidak ada judul. Hanya tulisan tangan Raka yang rapi dan penuh metafora.
Di buku keempat, Ratna menemukan sesuatu yang janggal. Paragrafnya tidak puitis. Tidak berputar-putar. Justru terlalu lugas.
“Kata-kata mulai terasa sempit. Semua yang ingin kukatakan sudah pernah ditulis olehku, oleh orang lain, oleh sejarah. Mungkin satu-satunya cara menulis yang jujur adalah menghilang dari dunia yang memaksa makna.”
Ratna merasakan dingin menjalar di tengkuknya.
Ia terus membaca. Di buku keenam, Raka menulis tentang “tempat sunyi tanpa pembaca”. Di buku kesepuluh, ia menyebut “ruang di mana nama tidak lagi dibutuhkan”. Sampai akhirnya di buku kelima belas, ada peta sederhana. Bukan peta geografis, melainkan peta emosi: kesepian, kebisingan, pengulangan, kelelahan, dan di ujungnya satu kata yang dilingkari tebal.
Hening.
Ratna mulai menyadari bahwa Raka tidak sedang melarikan diri. Ia sedang mencari sesuatu yang tidak bisa ia temukan di dunia nyata.
Petunjuk terakhir datang dari novel yang belum selesai. Ratna membuka file digital yang belum pernah ia baca tuntas. Bab terakhir berhenti di tengah dialog seorang sastrawan tua yang berkata:
“Ketika semua orang menuntutmu berbicara, diam menjadi bentuk keberanian terakhir.”
Ratna menutup laptop. Matanya basah.
Berbulan-bulan berlalu. Alih-alih memudar, popularitas Raka justru kian meningkat. Buku-bukunya dibedah ulang dengan sudut pandang baru, puisinya dianalisis menggunakan teori-teori mutakhir, seolah setiap bait menyimpan isyarat rahasia. Seminar, diskusi kampus, hingga forum sastra internasional bermunculan, memperdebatkan “hilangnya Raka Sasmita” sebagai sebuah karya performatif, sebuah tindakan artistik yang dianggap melampaui teks dan menjadikan hidupnya sendiri sebagai bagian dari sastra.
Ratna muak.
Suatu malam, ketika hujan turun tipis dan kota terasa lebih sunyi dari biasanya, ia menerima sebuah paket tanpa nama pengirim. Bungkusnya sederhana, nyaris asal, seolah sengaja tidak ingin menarik perhatian.
Di dalamnya hanya terdapat satu buku tipis, dijilid tangan dengan benang kasar, tanpa judul maupun keterangan apa pun. Begitu membukanya, Ratna seketika mengenali tulisan di halaman pertama. Huruf-huruf yang rapi namun penuh tekanan itu adalah milik seseorang yang telah lama ia kenal, tulisan yang tak mungkin keliru ia ingat.
“Aku tidak hilang. Aku berhenti menjadi tontonan.”
Isinya bukan puisi, bukan pula esai seperti yang selama ini dikenal pembaca. Halaman-halamannya justru dipenuhi deskripsi tentang hidup yang sengaja diperlambat dan disederhanakan: bangun pagi tanpa agenda apa pun, menjalani hari tanpa tenggat, berbicara dengan orang-orang yang tidak tahu siapa dirinya dan tidak peduli pada reputasinya.
Ia menulis tentang membaca tanpa niat mengutip, menikmati kata tanpa keinginan menafsirkannya secara berlebihan, serta menulis semata-mata untuk bernapas tanpa hasrat diterbitkan, tanpa ambisi diakui, tanpa keinginan meninggalkan jejak selain pada dirinya sendiri.
Di halaman terakhir, Raka menulis:
“Jika dunia bertanya ke mana aku pergi, katakan aku kembali ke bahasa yang paling jujur: hidup.”
Ratna tidak pernah melaporkan buku itu. Ia menyimpannya di laci paling bawah. Ia tahu, sebagian misteri memang harus dibiarkan hidup agar maknanya tidak mati.
Raka Sasmita tidak pernah ditemukan.
Namun, bagi Ratna, ia akhirnya mengerti. Ada sastrawan yang menulis untuk dikenang, dan ada yang menghilang agar tulisannya tidak kehilangan makna.
Pada akhirnya, keheningan menjadi karyanya yang paling jujur.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Tanah Tabu: Suara Perlawanan Perempuan dari Jantung Papua
-
Aku Demam di Bumi yang Sakit
-
Kyohei Takahashi Gabung Film Live Action Blue Lock sebagai Hyoma Chigiri
-
Masak Lebih Praktis Selama Ramadan, Mahsuri Bantu Siapkan Sahur dan Buka
-
Usai One Piece, Netflix Dilaporkan akan Garap Film Live Action Gundam