"Lari lebih cepat! Mereka sudah menemukan kita!"
Adi menarik tangan Lisa, menyeretnya keluar dari gang sempit di antara gedung-gedung. Di belakang mereka, tiga sosok berbaju hitam berlari cepat dengan mata bersinar merah seperti mesin. Detik berikutnya, laser biru menghantam tembok dengan cepat, meledakkan bata menjadi debu.
"Siapa mereka?!" jerit Lisa sambil terus berlari.
"Pemburu Waktu! Mereka dikirim untuk membunuh kita karena kita tidak seharusnya ada di sini!"
Semuanya dimulai tiga jam lalu ketika Adi secara tidak sengaja mengaktifkan jam tangan antik warisan kakeknya. Ternyata, benda itu adalah portal waktu pribadi. Dalam satu kedipan mata, ia dan Lisa tersedot dari tahun 2026 ke tahun 2087, ke masa depan yang hancur.
Jakarta yang mereka kenal sudah tidak ada. Gedung-gedung tinggi runtuh, langit berwarna jingga beracun, dan yang lebih mengerikan, robot pengawas ada di setiap sudut. Robot-robot itu secara otomatis mendeteksi kehadiran mereka sebagai anomali temporal.
"Belok kiri!" Lisa menunjuk ke bekas stasiun kereta yang bobrok. Mereka melompat masuk, bersembunyi di balik gerbong tua yang berkarat.
Adi menatap jam tangan di tangannya. Layar kecil di permukaannya menampilkan koordinat waktu yang berkedip-kedip. "Baterainya hampir habis. Kita hanya punya satu kesempatan untuk melompat kembali."
"Lalu, kenapa kita tidak melakukannya sekarang?!"
"Karena jika kita melompat sekarang, kita akan muncul di tengah gedung! Aku perlu menghitung ulang koordinat spasial. Butuh waktu lima menit."
Suara langkah kaki berat menggema. Para Pemburu mendekat. Lisa mengintip dari celah gerbong. Tiga robot humanoid itu bergerak sistematis, memindai setiap sudut dengan sensor merah di mata mereka.
"Adi, lima menit terlalu lama. Bisakah dipercepat?" bisik Lisa pada Adi yang sibuk menghitung koordinat.
Tiba-tiba, seorang perempuan muncul dari bayang-bayang, melompat dari atap gerbong dengan lincah. Ia mengenakan jaket kulit compang-camping dengan senjata plasma di kedua tangannya. Tanpa peringatan, ia menembak, mengenai salah satu Pemburu tepat di kepala. Robot itu meledak, lalu hancur berkeping-keping.
"Ikut aku. Cepat!" perintah perempuan itu.
Mereka tidak punya pilihan selain menurut. Mereka berlari mengikuti penyelamat misterius melalui lorong-lorong bawah tanah yang gelap. Dua Pemburu sisanya terus mengejar dengan laser yang membakar dinding di sekitar mereka.
"Siapa kau?!" tanya Adi sambil berlari.
"Namaku Alexa. Aku juga pengembara waktu. Kalian berdua tahu tidak apa yang telah kalian lakukan? Kalian baru saja membuat masalah besar!" Alexa menembak sekali lagi, kali ini tepat mengenai pipa besar di langit-langit. Uap panas menyembur deras, membentuk tirai tebal yang menghalangi para Pemburu.
Mereka tiba di sebuah bunker tua. Alexa segera mengunci pintu besi tebal di belakang mereka dengan sebuah kunci khusus.
"Dengarkan aku," kata Alexa serius, "kalian tidak bisa kembali ke tahun 2026."
"Apa?!" Lisa dan Adi berteriak bersamaan.
"Jika kalian kembali dengan jam tangan itu, kalian akan membawa virus temporal. Teknologi masa depan di jam itu akan memicu perang kecerdasan buatan sepuluh tahun lebih cepat. Dunia akan hancur pada 2035, bukan 2097 seperti timeline aslinya. Miliaran orang akan mati karena ulah kalian."
Adi menatap jam tangan di tangannya dengan gemetar. "Lalu, apa yang harus kami lakukan?"
"Hancurkan jam itu. Tetap di sini. Atau..." Alexa mengeluarkan sebuah vial berisi cairan biru bercahaya, "minum ini dan lupakan semua yang terjadi. Kalian akan terbangun di 2026, tiga jam lalu, seolah semua ini hanya mimpi. Jam tangan itu tidak akan pernah aktif."
"Tetapi, kenangan kami..." Lisa terdiam.
Benturan keras mengguncang pintu. Para Pemburu telah menemukan mereka. Permukaan pintu besi memerah, lalu perlahan mencair dihantam laser mereka.
"Putuskan. Sekarang!" desak Alexa.
Adi menatap Lisa. Di balik ketakutan yang jelas terlihat di matanya, ada tekad yang tak tergoyahkan. Mereka berdua tahu apa yang harus dilakukan.
"Bersama?" tanya Adi.
Lisa mengangguk.
Mereka meraih vial itu bersama-sama, membuka tutupnya, dan meminumnya. Seketika dunia berputar, warna-warna melebur tanpa bentuk, lalu semua suara runtuh menjadi keheningan.
Adi terbangun di kamarnya pada sore hari, tepat ketika jam dinding menunjukkan pukul empat. Cahaya matahari jatuh miring lewat jendela. Ponselnya bergetar di samping bantal, menampilkan satu pesan dari Lisa: "Jadi menonton film tidak?"
Ia meraih ponsel hendak membalas, tetapi matanya tertuju pada jam tangan antik warisan kakeknya di meja. Sesuatu dalam dirinya berbisik untuk tidak menyentuhnya. Perasaan aneh muncul, seperti déjà vu yang kuat. Ia tidak tahu mengapa perasaan itu muncul. Meski aneh, ia memutuskan untuk tetap mengikuti firasatnya.
Tanpa berpikir panjang, Adi mengambil jam tangan itu dan melemparkannya ke tong sampah.
Ada hal yang memang lebih baik untuk tidak diketahui. Selain itu, beberapa takdir memang harus diubah, meski harganya adalah kehilangan ingatan, kehilangan pilihan, dan melupakan petualangan terbesar yang pernah mengubah hidupmu.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Sudah Tahu Belum? 7 Tradisi dan Pantangan Imlek Pembawa Keberuntungan
-
Digital Detox dan Ilusi Putus Koneksi di Dunia Kerja Modern
-
Sinopsis Love Story in the 1970s, Drama China Terbaru Arthur Chen di WeTV
-
Krystal Gabung dengan Seo In Guk di Drama An Office Worker Who Sees Fate
-
Buku Jelek itu Ada dan Justru Penting untuk Ada!