Purworejo 2075 adalah sebuah kanvas mati. Di sana, biru langit telah lama diculik, dan senja jingga hanya menjadi dongeng pengantar tidur yang usang. Di atas kepala mereka, Awan Kontainer berarak rendah—sebuah tirai kelabu yang memisahkan doa-doa manusia dengan bintang yang tak lagi sudi berkedip.
Aruna Natasya, pustakawan Perpusda Purworejo. Pagi ini kembali menyambut langit kelabu, bersiap bekerja sekaligus menghadiri pemakaman pustakawan seniornya, Ibu Stevani, yang meninggal pada usia 53 tahun. Pemakaman bukan hal asing bagi Aruna, seminggu sekali selalu ada kabar duka.
Tidak seperti biasanya kali ini sesuatu menggelitik pikiran Aruna. Kenapa semua orang mati pada usia 50 an. Kini Aruna riset random daftar orang mati di Indonesia dan mencocokkannya dengan usia pemimpin dunia.
Gen Z mati pada tahun 2050. Gen Alpha mati pada tahun 2070. Rentang usia: 50–55 tahun. Tapi para pemimpin dunia—menteri, presiden Indonesia, Amerika, UEA, Inggris, bahkan Paus Vatikan—masih hidup. Gen Z tua. Semua terhenti di angka lima puluh. Tapi lihat para pemimpin dunia itu, mereka hidup abadi seperti fosil di usia delapan puluh
Pikiran Aruna berkecamuk, memikirkan berbagai teori konspirasi yang ia ciptakan sendiri, membuatnya melamun satu jam tanpa menyentuh berkas-berkas kerjanya satu pun.
Awan kontainer pasti mengandung sesuatu. Sesuatu yang membuat manusia mati rapi pada usia lima puluh. Logis secara medis.
“Runaa…” suaranya nyaris berbisik, “hey… kamu kenapa?”
Aruna tidak langsung menjawab. Matanya menatap layar komputernya yang kosong, tetapi jemarinya mencengkeram pulpen sampai ruasnya memutih.
“Kamu masih mikirin Bu Stevani?” Sheva mencoba tertawa, tapi suaranya terdengar kaku. “Bukannya kita harusnya lega? Setidaknya nggak ada lagi penggerutu di kantor.”
Aruna mengangkat kepala perlahan. Wajahnya pucat.
“Ini bukan soal Bu Stevani. Sheva, Ini soal pola yang aku temukan” suara Aruna berat, serak.
Sheva menelan ludah. Tenggorokannya bergerak. Ia merapat ke meja Aruna, menurunkan suara lebih dalam.
“Pola apa?”
Aruna membuka buku kerjanya. Coretan angka-angka memenuhi halaman. Acak-acakan namun bisa terbaca.
“Seminggu sekali pasti ada pemakaman. Tapi ini bukan pandemi.” Aruna menunjuk satu baris. “Lihat. Usia. Tanggal. Rentangnya sama.”
Sheva mendekat, tapi ia tidak menyentuh buku itu, seolah kertasnya bisa menulari kesialan. Ia membaca cepat, lalu mengerutkan dahi. Dan memotretnya.
“ini hanya kebetulan. Runa.”
“Kebetulan yang rapi itu bukan kebetulan tapi jadwal.” Aruna menatap Sheva tanpa berkedip.
Sheva menarik kursi, duduk, lalu langsung berdiri lagi. Gelisah. Ia mengusap tengkuknya yang basah oleh keringat.
“Kamu jangan ngomong aneh-aneh di sini.” Sheva melirik kamera lagi. “Serius.”
Aruna mengikuti arah tatapan Sheva. Kamera itu kecil, tapi terasa seperti mata raksasa.
“Bu Stevani mati karena asma akut.” Sheva berkata cepat. “Dokter bilang begitu. Semua bisa dijelaskan secara medis.”
“Kenapa semua orang di generasi tertentu mati di usia yang sama. Gen Z mati pada 2050. Gen Alpha mati pada 2070.” Aruna menunjuk lagi coretan itu. “Rentang usia lima puluh sampai lima puluh lima.”
Sheva tidak menjawab. Matanya bergerak liar ke pintu, ke jendela, ke langit kelabu di luar. Sheva menggeleng pelan, seolah menyangkal kenyataan.
“Terus?” suaranya mengecil. “Terus kamu mau apa?”
Aruna menatapnya tajam.
“Kenapa pemimpin dunia masih hidup?” katanya. “Kenapa presiden dan orang orang penting di berbagai belahan dunia adalah Gen Z tua? Mereka tujuh puluh enam. Delapan puluh. Orang biasa mati tapi mereka panjang umur”
Sheva menahan napas. Aruna melanjutkan, Pendingin ruangan semakin menambah dinginnya suasana. Sheva menutup mapnya keras, bunyinya memantul di ruangan. Beberapa pegawai menoleh. Sheva buru-buru menunduk.
“Kamu gila.” Sheva berbisik, tapi bibirnya gemetar. “Aruna, kamu dengar sendiri kata-katamu?”
Aruna tertawa kecil, tapi tawa itu tidak memiliki kegembiraan.
“Yang gila bukan aku.” Aruna mengusap wajahnya. “Yang gila itu dunia ini.”
Sheva menatap Aruna lama, lalu pelan-pelan meraih tangan Aruna dan menggenggamnya. Tangannya dingin.
“Runa…” suaranya pecah. “Jangan bikin aku ikut tenggelam. Aku takut yang kita hadapi adalah sistem besar dengan sumberdaya terbatas Runa. Sementara kita…”
“Jangan ngomong ini lagi di kantor.” Sheva berkata tanpa menatap Aruna. “Jangan.”
Aruna membalas lirih, nyaris tak terdengar.
“Awan kontainer itu bukan langit. Itu penutup.”
Sheva berhenti sejenak, seperti ingin berbalik. Tapi ia tidak jadi. Ia hanya berjalan pergi.
Tuhan. Sudah lama Aruna mempertanyakan Tuhan. Aruna percaya Tuhan. Namun, seperti lazimnya masyarakat 2075, tidak ada lagi yang beragama. Demi menuntaskan keingintahuannya, Aruna meninggalkan pekerjaannya. Toh sekarang tidak ada lagi senior penggerutu. Aruna berjalan menuju ruang koleksi referensi tahun 2025, tahun kelahirannya. Buku-buku lengkap, dan tentu saja berdebu. Di zaman secanggih ini semua bisa diakses secara digital. Tidak ada lagi orang yang mencari referensi di ruang koleksi. Aruna mencari kitab suci agama samawi dan membawanya pulang.
***
Aruna hidup sendiri di sebuah apartemen kelas menengah, dilengkapi perpustakaan kecil yang aestetik. Ia tinggal jauh dari keramaian. Malam ini pikirannya masih kacau, disertai rasa takut seolah-olah pemerintah, atau entah yang disebut elit global pengendali dunia, bisa mendengar detak jantungnya. Ia membuka kitab agama samawi. Ia tak paham sepenuhnya, maka asisten AI membacakan tafsir dengan nada datar, seobjektif mesin.
Hingga sampai pada sebuah surat berjudul cahaya. Jantungnya berdetak semakin kencang. Bulir-bulir peluh membasahi dahinya. Dengan tangan gemetar, ia melempar asisten AI—sebutir kelereng canggih di atas meja—seolah benda itu bisa menjadi mata.
Ayat demi ayat pun dibacanya. Cahaya di atas cahaya… Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki…
Detak jantungnya mereda. Aruna sadar ia tinggal sendiri. Sekarang pukul satu malam. Tidak mungkin, kan, tiba-tiba ada seseorang mengunjunginya.Satu kesimpulan lagi di buku diary-nya:
Manusia dijauhkan dari cahaya. Diciptakan hidup dalam gelap supaya kehilangan fitrahnya. Manusia adalah makhluk cahaya. Semua disesatkan menuju entah apa. Dengan para pemimpin yang begitu panjang umur. Sebab tanpa cahaya, manusia akan mati, baik hatinya maupun jasadnya.
Pukul tiga dini hari. Bunyi bel di pintu menambah degup jantung Aruna. Dengan gemetar, Aruna melangkah melihat kamera: siapakah gerangan yang berkunjung di rumahnya? Ternyata Dr. Yolenta Sama, S.Psi., M.Si., dosen psikologinya. Aruna bangkit. Lututnya lemas. Dan membuka pintu.
Bu Yolenta berdiri di luar.
Tegak dan rapi. Tidak tampak seperti orang yang baru bangun. Aruna membuka pintu setengah.
“Ibu…?”
Bu Yolenta tersenyum tipis.
“Aruna.”
“Ada apa bu ini masih Jam tiga pagi…” Aruna mencoba tertawa, tapi suaranya pecah.
Bu Yolenta tidak menjawab. Ia langsung melangkah masuk.dan menutup pintu perlahan. Klik. Kunci otomatis berbunyi. Ruangan terasa lebih sempit.
Bu Yolenta menatap meja dengan Kitab suci masih terbuka.
Aruna cepat menutupnya, tangannya gemetar sampai halaman-halaman terlipat.
“Itu cuma… buku refrensi. Kenapa Bu.” Aruna menelan ludah.
Bu Yolenta mendekat.
“Kamu bohong.” katanya lembut.
Bu Yolenta mengeluarkan alat tipis dari tasnya. Ia tempelkan ke meja. Bip. Layar menyala. Nama Aruna muncul. Identitas lengkap. Grafik emosi. Detak jantung. Tingkat kecemasan. Aruna mundur dua langkah. Punggungnya menempel dinding.
“itu tindakan ilegal Bu. Ibu juga tidak menjelaskan alasan kedatangan ibu yang tidak wajar ini.”
“Ini tidak ilegal untuk kami.” Aruna terdiam. Kata “kami” membuat tengkuknya dingin.
Bu Yolenta menatap Aruna tajam.
“Kamu tidak tidur. Kamu panik. Kamu membaca teks terlarang.”
Aruna menggeleng cepat.
“Saya cuma penasaran.”
“Penasaran adalah gejala penyakit pikiran,” Bu Yolenta berkata datar sembari mengusap punggung Aruna pelan. Lalu Aruna merasakan sesuatu menyentuh kulitnya seperti gigitan nyamuk.
“Apa itu…”
Kalimat Aruna putus. Matanya kabur. Ia mencoba melangkah mundur, tapi lantai seperti bergerak.
Bu Yolenta menahan tubuh Aruna dengan satu tangan, seperti sudah memperkirakan semuanya.
***
Splash. Silau. Ruangan 4 x5 putih semua, dengan lampu besar yang sangat panas tanpa pendingin ruangan. Aruna bangun dengan keyakinan: inilah ruang penyiksaan yang akan dihadapinya karena menentang hukum dalam pikiran
Tujuh hari Aruna lelah hidup dengan warna putih dan lampu yang begitu terang, begitu menyiksanya. Makanan yang dihidangkan pun semua putih. Di tengah keputusasaannya memandang putih, Aruna gigit bibirnya sekeras mungkin sampai ia rasa mengeluarkan darah merah. Sedikit warna mungkin bisa memperbaiki perasaannya.
Cuihh
Aruna meludah, mengharapkan setitik warna merah sebagai bukti bahwa ia masih manusia. Namun yang jatuh ke lantai putih itu hanyalah cairan pucat yang hambar. Cahaya buatan itu rupanya telah mencuri merah dari nadinya, menyisakan kekosongan yang asin
“Kehendakilah aku menjadi orang yang mendapat petunjuk dari cahaya-Mu, Tuhan.” Kali ini Aruna menangis dengan kesadaran penuh. Dia seperti tikus laboratorium, diciptakan untuk mengetes sejauh mana kekuatan manusia ditimpa cahaya.
Pintu otomasis terbuka. Dr. Yolenta masuk. Denting sepatunya memekakkan telinga.
“Tempat apa ini. Ibu menculik saya…” suara Aruna pecah.
“Ini tempat penyembuhan Aruna.” jawab Bu Yolenta.
“Bagaimana, Aruna? Bukankah tinggal bersama cahaya menyakitkan bahkan darahmu menjadi putih juga.”
“ini bukan cahaya Tuhan. Ini cahaya penyiksaan untuk memadamkan jiwa. Cahaya Tuhan memiliki ukuran dan porsi yang adil. Tindakan ibu tidak akan menyembuhkanku. Aku menolak semuanya. Dan aku memilih untuk menjadi gila.”
“Wah, wah, wah. Mahasiswiku cerdas dan kritis sekali. Kami tidak akan membiarkan seorang pun warga kami gila, Aruna sayang. Kamu boleh gila, tapi kami akan memaksamu untuk kembali sadar. Ingat itu!”
Hari-hari berikutnya selama lima belas hari Aruna menjalani berbagai terapi untuk penyembuhannya tanpa unsur penyiksaan fisik. Logikanya dibolak-balik. Terkadang Aruna sendiri bingung, benarkah dia memang tersesat? Atau pemikirannya yang berbahaya menjadikannya berakhir di tempat seperti ini?
***
Hari ke-22 Aruna diisolasi dalam ruangan yang sangat panas, dengan matahari buatan bola pijar raksasa yang sangat terang. Dengan dinding otomatis menampilkan senja, sesekali berubah menjadi bintang gemintang yang dirindukan Aruna. Suhu ruangan sangat panas dan cahaya matahari buatan menyakitkan mata. Dalam 13 hari Aruna mempertanyakan kembali logikanya. Fisik nya sudah tidak mampu menahan siksaan. Kulitnya memar dan melepuh. Rambutnya kembali hitam, tapi kini kusut masai, dan kulitnya keriput seolah dua puluh tahun lebih tua. Giginya pun rontok satu per satu.
Tepat pada hari ke-40, pintu otomatis itu terbuka. Panas membara keluar menerpa Yolenta dan Sheva yang menunggu di luar. Aruna melangkah keluar, sosoknya kini tampak dua puluh tahun lebih tua, rapuh namun matanya menyala.
"Terima kasih," bisik Aruna dengan suara parau yang hancur. "Terima kasih telah mengeluarkanku dari cahaya yang menyesatkan. Kini aku tahu, cahaya sejati tidak akan pernah menyiksa hambanya."
Aruna berjalan pergi, meninggalkan koridor steril itu. Ia kembali ke dunianya yang kelabu, namun kali ini ia membawa matahari yang terbakar di dalam dadanya—sebuah rahasia yang takkan sanggup dipadamkan oleh sistem mana pun.
Selesai
Baca Juga
-
Menjinakkan Hantu di Kepala: Cara Berdamai dengan Kemarin dan Nanti
-
Simpul Maut Hiroshima: Satir Ilmuwan Bom Atom dalam Buaian Kucing
-
Predator Berjubah Dokter: Mengurai Benang Kusut Nafsu dalam Mimpi Ayahku
-
Lebih dari Sekadar Romantisasi Kematian: Review Novel Berpayung Tuhan
-
Makin Bijak di Bulan Ramadan: Bedah Kitab Luqman al Hakim yang Namanya Diabadikan di Al Quran
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Perempuan Berpendidikan sebagai Calon Ibu: Upaya Terdidik Sebelum Mendidik
-
4 Inspirasi OOTD Bukber ala Dinda Hauw: Tampil Modest, Elegan, dan Classy!
-
Sajak Rindu: Belajar Memaafkan Masa Lalu dari Perspektif Remaja Bugis
-
Menjinakkan Hantu di Kepala: Cara Berdamai dengan Kemarin dan Nanti
-
5 Pilihan Tinted Sunscreen Niacinamide Agar Kulit Makin Bersinar saat Lebaran