M. Reza Sulaiman | Miranda Nurislami Badarudin
Ilustrasi Tak Seperti Kamu (ChatGPT)
Miranda Nurislami Badarudin

Sebuah undangan kubiarkan begitu saja tergeletak di atas meja kerjaku, padahal ada aku di sana sedang menatapnya dengan malas dan rasa enggan yang besar. To Lamira, begitulah surat bernuansa elegan yang di depannya terdapat desain bunga dan perpaduan warna biru tua dan emas mencantumkan nama sang penerima yang berhak atas benda itu.

Sekali lagi aku menghela napas berat seperti sedang diberikan tambahan pekerjaan yang mengharuskan diriku untuk lembur. Namun, kupikir hal ini lebih berat dari sekadar perasaan panik kala dikejar deadline. Bagaimana tidak? Jika surat yang berada di atas mejaku kini adalah surat undangan pernikahan dari mantan yang paling kuhindari. Dia adalah mantan pertamaku, kita berpacaran saat aku dan dirinya masih duduk di bangku SMA, dan parahnya dia yang memintaku tetapi dia juga yang berakhir menghindariku seakan dirinya tidak bersalah.

Betapa aneh, bukan?

Masih teringat dengan sangat jelas alasan yang dirinya gunakan saat itu, hingga membuatku kehilangan rasa percaya diri. “Kamu terlalu introvert, Mir. Kita tidak cocok!” ucapnya dikala dirinya kudapati sedang jalan bersama teman-teman-nya di sebuah kafe.

Apakah aku seaneh itu di matanya?

Setelah kejadian itu aku berusaha mempelajari sikapku selama dengannya, dan kurasa tak ada yang salah. Aku malah berpikir, harusnya sebelum ia menyatakan rasa, ia perlu mencari tahu kelak apakah orang yang ia tuju akan mampu memenuhi ekspektasinya? Mengapa harus ada ungkapan "jalani saja" di awal cerita sedangkan bayangan seperti apa alurnya pun tak tergambar, bukankah itu hanya buang-buang waktu? Dan aku berakhir menyesalinya.

Terlebih lagi, aku hanya introvert dan bukannya antisosial, kupikir itu adalah dua hal yang berbeda. Aku bahkan bersedia bila dirinya ajak ke tempat-tempat yang akan menjadi pilihan bagi mereka yang sangat menyukai keramaian dan berbincang-bincang walaupun kutahu setelahnya energiku akan terkuras habis karenanya.

Kemudian, tahun demi tahun berlalu, semenjak gagalnya kisah yang terjalin selama dua tahun lebih itu, aku makin dibuat tak percaya diri akan tipe kepribadianku ini dikala tuntutan keluarga yang makin menjadi-jadi. Rasanya sangat berat menjalani hidup jika ekspektasi keluarga terlalu menggantung tinggi di angkasa lalu aku kesulitan menggapainya.

Oh iya, nanti setelah kamu lulus, kamu kerja di perusahaan Om Darma ya, jadi sekretaris, Ayah sudah bicara sama Om Darma. Biar kamu terbiasa berhadapan dengan orang-orang,” ucap Ayah tegas di sela-sela sarapan paginya kala itu. Aku yang sedang duduk diam menikmati sarapan pagiku tak jauh dari beliau menjadi tak berselera. Padahal aku sudah menjelaskan berkali-kali tentang hal yang ingin kucapai, namun tak ditanggapi dengan serius, seakan-akan mimpi itu tidak berguna.

Aku ingin fokus menjadi penulis, Yah.

Banyak anggapan tak mengenakkan yang berasal dari mulut-mulut yang tak mengerti apa arti dari perbedaan karakter. Segala bentuk ucapan perbandingan antara aku dengan para saudaraku yang memiliki kepribadian bertolak belakang denganku bagai lauk-pauk pelengkap hari-hariku yang katanya serba mellow dan lambat.

Belum lagi jika harus dihadapkan dengan situasi kumpul keluarga besar yang ujung-ujungnya menjadi seperti ajang pamer pencapaian. Ketika aku berusaha mengungkapkan pendapat tentang bagaimana aku melihat dunia dan menjalaninya, pasti akan ada anggapan bahwa menjadi introvert adalah suatu kesalahan. Apalagi dalam kasus mencari jodoh.

Alih-alih timbul ucapan kalau aku akan menjadi perawan tua dan akan menjadi sasaran empuk bagi para sepuh untuk melancarkan sesi perjodohan karena diyakini tak pandai mencari pasangan akibat tak pandai bergaul.

Ingin sekali aku mengatakan hal yang selama ini kupendam di dalam kepalaku, kalau aku bukannya tak pandai bergaul, hanya saja aku punya kriteria khusus dalam menilai seseorang baik dari segi pergaulan atau permasalahan jodoh yang tentunya sudah kupertimbangkan secara matang. Ini bukanlah permasalahan terlalu memilih, namun aku hanya tak ingin salah memilih dan berakhir bernasib malang. Bukankah pengalamanku sebelumnya sudah menjelaskan bahwa perbedaan karakter ataupun sifat selalu berdampak pada mulus tidaknya jalinan suatu hubungan?

Tetapi apakah keluargaku bisa mengerti tentang hal itu?! Bahwa anak gadis yang sekarang sudah berumur dua puluh lima tahun ini punya kepribadian yang berbeda dengan mereka semua? Apakah mereka peduli dengan perbedaan itu? Atau malah memaksaku untuk menjadi seperti mereka?

Menyandang gelar sebagai orang yang aneh tentunya membuatku sedih, namun aku tak bisa berbuat banyak selain memendamnya hingga kadang aku berpikir bahwa kelak gejolak batin ini akan meledak seperti bom waktu.

Hingga tiba saatnya ketika aku dapat membuktikan kepada orang-orang bahwa menjadi introvert bukanlah kesalahan, hanya saja caraku dalam menjalani hidup yang tidak biasa jika dilihat dari sisi kacamata keluargaku yang berlainan karakter denganku.

Saat itu, aku berhasil meniti karier di bidang yang kuminati dan menjadi ahli di sana, membangun lingkup pertemanan yang isinya orang-orang berkualitas tanpa banyak drama, berbeda jauh dengan mereka yang sering kali merengek akibat salah dalam memercayai seseorang. Aku tetap berada pada jalur prinsipku bahwa tidak ada yang salah dengan menjadi seorang introvert, walaupun untuk mencapai tekad yang kokoh, aku harus berkali-kali merasakan bahwa diri ini seakan tidak berguna.

Sekali lagi, sekarang aku tak masalah jika masih ada orang-orang yang mengatakan kaum introvert sebagai mereka-mereka yang aneh, yang lebih suka menganalisis sekelilingnya secara diam-diam, yang lebih suka berbicara seperlunya, dan monoton. Karena aku percaya bahwa kehadiran introvert akan menjadi sangat berguna untuk menyeimbangkan sisi kekurangan dari mereka yang ekstrovert.

Bukankah kita seharusnya tidak mengambil peran yang semestinya dikerjakan oleh seorang ekstrovert? Dan begitu pun sebaliknya.

Kembali kepada undangan pernikahan yang tak pernah kuharapkan kedatangannya. Kusisihkan kertas itu di pojok meja kerjaku dan sengaja kututupi dengan tumpukan berkas lama yang nantinya berujung akan kuarsipkan, berharap kelak aku lupa bahwa pernah menerimanya dan akhirnya dapat sedikit terhindar dari perasaan bersalah bila ditagih dengan pertanyaan mengapa tak datang? Karena untuk mengatakan alasan yang sesungguhnya saja akan kuakui itu terasa berat. Mengapa?

Hal itu karena sisi dalam dari diriku yang memendam sifat "tidak enakan" selalu saja menjerumuskanku ke dalam situasi serba salah yang tentunya cenderung merugikanku. Ingin berkata tidak tetapi mulutku tak bisa berucap lantang.

Maafkan aku.

“Eh Fadhil mau nikah loh, kamu mau datang?” tanya Fhia tiba-tiba yang adalah salah satu rekan kerjaku dan sahabatku sejak SMA. Kugigit bibir bawahku, tanpa memberi jawaban.

“Udahlah tidak usah datang, Mir, Fhi. Lagi pula si Fadil aneh sekali, masa mengundang mantan pacar yang pernah ia telantarkan untuk datang ke acara nikahannya. Biar apa? Pembuktian diri?” ucap Citra, gadis tomboi yang sudah menjadi sahabatku selama bekerja di tempat ini dengan ekspresinya tidak suka.

“Benar banget, Cit. Lebih baik kita bertiga jalan-jalan saja untuk refreshing,” timpal Fhia. Aku tersenyum, merasa bersyukur karena dipertemukan dengan mereka yang mengerti keadaanku tanpa perlu aku bercerita panjang lebar.