Bimo Aria Fundrika | Chairun Nisa
Kematian magis Ki Darmo Gandhul
Chairun Nisa

Putra Mahkota Kerajaan Tungga, Raden Mas Brajanata, pulang dari pengembaraannya selama dua puluh tahun di Negeri Arab, China, dan Hindia guna menimba ilmu demi memajukan bangsanya.

Kepulangannya disambut dengan berbagai ritual sakral. Salah satunya adalah Tari Topeng Jenggala, tarian sakral yang dipentaskan di pendapa Jenggala.

Tarian ini hanya boleh dibawakan oleh mereka yang berjiwa bersih, terbebas dari sifat keduniawian. Jika tidak, roh leluhur diyakini akan menjatuhkan kutukan. Kali ini, tarian tersebut ditarikan oleh Ki Darmo Gandhul, punggawa besar kepercayaan Paduka Raja Aruna Paku.

Lima belas menit tarian berlangsung sakral, penuh penghayatan. Gamelan mengalun mengikat, sementara wewangian dupa menusuk hidung.
Brakk!

Ki Darmo Gandhul ambruk dari tariannya, terbujur kaku dengan tangan ngapurancang. Seisi pendapa panik. Mereka percaya roh leluhur telah murka dan penyakit akan diturunkan pada kerajaan.

Raden Brajanata, yang terbiasa berpikir logis di tengah rakyatnya yang menjunjung keyakinan mistis, berusaha menenangkan mereka dengan kata-kata sederhana agar tidak melukai perasaan rakyat yang tengah bersuka cita.

“Mohon tenang, rakyat Tungga yang saya cintai. Semua ini pasti bisa dijelaskan. Tabib kerajaan akan mengungkapnya. Tidak ada kutukan.”

Tabib-tabib terbaik berdatangan. Mereka mencoba melepaskan topeng yang seolah melekat pada wajah Ki Darmo Gandhul. Setelah menuangkan air liur kuda sembrani, topeng itu akhirnya terlepas. Wajah Ki Darmo pucat kebiruan, seperti kehilangan seluruh darahnya.

Raden Brajanata menjatuhkan bola-bola perak ke atas topeng. Seketika warnanya menghitam.

“Jangan ada yang menyentuh topeng ini. Ada racun di dalamnya,” ujar Raden Braja tegas.

“Raden Suroto, temui pembuat topeng ini. Atau siapa pun yang memintanya dibuat.”

“Sendika dawuh, Raden.”

Suroto—putra tunggal Ki Darmo Gandhul—tetap tegar dan membantu Raden Braja mengungkap misteri kematian ayahnya.

Pengrajin topeng ditemukan. Seorang pria sebaya yang bekerja di istana sejak usia sepuluh tahun: Ki Walang Gathel.

“Ampun, Raden,” Ki Walang gemetar sambil berlutut. “Hamba hanya membuat topeng seperti biasa.”

“Akui saja, Ki Walang. Atau kau mau memakainya?” ujar Raden Braja sembari mengangkat topeng itu.

“Ampun! Bahan topeng ini dikirim oleh Ibu Suri Sekar Kinanti. Hamba diminta membuatnya dengan sarung tangan khusus.”

“Ibu Suri Sekar Kinanti?” Raden Suroto terkejut. “Bukankah wanita tua itutelah lama diasingkan?”

“Jangan begitu, Suroto. Bagaimanapun dia adalah ibuku,” jawab Raden Braja. “Kita berangkat ke Puri Istana Utara sore ini.”

Puri Istana Utara berdiri tandus di balik bukit-bukit kering. Dua dayang muda menyambut mereka tanpa senjata.

“Selamat datang, Raden,” ucap Ibu Suri Sekar Kinanti sambil berlutut.

“Ibu, jangan begitu. Mari kita bicara di dalam.”

Tanpa berkelit, Ibu Suri mengakui perbuatannya. Kayu topeng itu memang pemberiannya, diambil dari pohon magnolia perak yang beracun dikombinasikan dengan rendaman bubuk arsenik selama tujuh purnama. Baginya arsenik atau debu putih sang raja adalah warisan dari masa kelam perang dan penghianatan.

“Karena itu, detik ini juga, Ibu siap menerima hukuman mati,” ucapnya. “Jika nyawaku adalah harga terakhir agar kebusukan masa lalu berhenti menetes ke masa depan, maka ambillah Raden.”

Namun Raden Braja meminta penjelasan. Dan kisah kelam pun terungkap.

Dan cerita pun mengalir, sederas arus Bengawan Solo. Ki Darmo Gandhul adalah luka terbesar dalam kehidupan Ibu Suri Sekar Kinanti.

Dahulu, ia pengawal terdekat ayahandanya—wajahnya lembut, tutur katanya menenangkan. Namun di balik kesetiaan itu, ia bersekutu dengan Kerajaan Tungga. Arsenik ia campurkan perlahan ke dalam obat-obatan sang raja.Pelan tapi pasti ayahandanya meninggal dan Kerajaan Rongga Jati kalah perang. Ki Darmo Gandhul diangkat menjadi pejabat besar di kerajaan pemenang. Sementara itu, Sekar Kinanti menjadi tawanan perang.

Mengetahui Sekar Kinanti akan dinikahi Raden Aruna Paku. Ki Darmo pun melancarkan kekejaman lainnya di ruang-ruang gelap istana, jauh dari mata manusia, kehormatannya direnggut. Bukan hanya tubuhnya yang dihancurkan, tetapi juga rahimnya harapan untuk menjadi seorang ibu dirampas dengan teknik  totokan keji yang membunuh masa depan.

Paduka Aruna Paku menyelamatkannya dan menjadikannya permaisuri. Namun tahun-tahun berlalu tanpa kelahiran seorang putra. Ki Darmo kembali menanam racun kali ini berupa tuduhan.

Ia disebut wanita terkutuk, pembawa celaka bagi negeri. Sekar Kinanti dimakzulkan sebelum genap berusia dua puluh tahun. Dibuang ke wilayah utara yang tandus, seolah hidupnya telah selesai. Bahkan pada hari-hari terakhir sebelum pengasingan, tangannya ditepis bak menyentuh najis saat hendak menggendong bayi Dewi Anggraeni—Raden Brajanata kecil.

Sejak saat itu yang tersisa hanyalah dendan untuk Ki Darmo Gandhul.

Raden Braja memeluk Ibu Suri. Raden Suroto terdiam, gemetar menahan amarah dan luka.

Raden Braja terdiam lama. Pandangannya bergantian antara wajah Ibu Suri Sekar Kinanti dan Raden Suroto. Di hadapannya berdiri dua luka yang berasal dari sumber yang sama.

“Dalam hukum kerajaan Tungga,” ucap Raden Braja akhirnya, suaranya tenang namun berat, “nyawa memang dibalas nyawa. Itulah titah leluhur yang menjaga keseimbangan, agar darah yang tumpah tidak dibiarkan menguap tanpa pertanggungjawaban.”

Ia melangkah mendekat, lalu berhenti.

“Namun hukum bukan hanya tentang pembalasan. Hukum adalah tentang keadilan—dan keadilan tidak selalu lahir dari pedang.”

Raden Braja menoleh pada Ibu Suri.

“Ibu telah mengakui perbuatan Ibu tanpa berkelit. Ibu tidak melarikan diri dari hukuman, tidak pula memohon pengampunan. Itu sendiri telah menunjukkan bahwa nurani Ibu belum mati.”

Kemudian ia menatap Raden Suroto dengan saksama.

“Ki Darmo Gandhul adalah ayahmu,” ucapnya pelan. “Darahnya mengalir dalam tubuhmu. Sebagai putra, sebagai pewaris luka, dan sebagai pihak yang paling berhak atas keadilan, keputusan ini tidak patut sepenuhnya berada di tanganku.”

Ia menghela napas panjang.

“Karena itu, aku serahkan sepenuhnya penentuan hukuman kepada Raden Suroto,” katanya tegas. “Apa pun keputusanmu—ampunan, hukuman, atau pembebasan—akan kuanggap sebagai putusan yang sah dan bermartabat di mata kerajaan.”

Pendapa senyap. Semua mata tertuju pada Raden Suroto.

“Ehhh… ampun, Raden. Hamba memaafkan Ibu Suri. Hamba pun meminta maaf atas kesalahan ayah hamba yang begitu zalim. Baik hamba maupun keturunan hamba, tidak akan ada lagi dendam di antara kita, Ibu.”

“Terima kasih semuanya. Akhirnya kerinduanku memeluk seorang putra—meski tidak lahir dari rahimku—terjawab hari ini. Salam untuk Adinda Anggraeni yang begitu luar biasa mendidik Raden.”

“Baik, Ibu. Ibuku pun tidak mendidikku seorang diri, melainkan menitipkanku jauh di negeri Arab, China, hingga Hindia. Jika tindakanku bijaksana, itu semata karena rida Ibu dan juga guru-guruku di luar sana.”

Ibu Suri Sekar Kinanti menolak kembali ke istana. Hingga akhir hayatnya, ia hidup sebagai petapa—tenang, dan dekat dengan Tuhannya. Sesekali, Raden Braja mengunjunginya sebagai putra, meski tak lahir dari rahimnya.