Gema takbir mulai bersahut-sahutan, namun Arya masih terpaku di depan lemari tuanya yang terbuka lebar. Di sana, hanya ada beberapa potong kaus oblong dan kemeja kerja yang warnanya sudah mulai kusam. Dompetnya tipis, jauh lebih tipis dari tahun-tahun sebelumnya.
Seluruh uang THR yang baru saja ia terima ludes dalam sekejap untuk melunasi tagihan rumah sakit adiknya, sisa biaya pengobatan pascaoperasi yang tidak sepenuhnya ditanggung BPJS. Bagi Arya, kesehatan adiknya adalah prioritas utama, namun di pagi Idul fitri , ia merasakan sedikit sesak di dada karena tak mampu membeli sepotong pun baju baru. Sedih.
Tiba-tiba, tangannya menyentuh bungkusan. Sepotong kemeja batik tulis dengan motif yang tampak sangat rumit namun warnanya sudah jauh dari kata cemerlang. Kainnya terasa sangat lembut, meski di beberapa lipatan warnanya sudah memudar menjadi cokelat pucat yang kusam.
Arya ragu sejenak. "Ini baju kuno, punya kakek. Kelihatannya sudah lusuh sekali, tapi ini punyaku yang paling bagus," gumamnya dalam hati.
Namun, karena tidak ada pilihan lain, ia menyetrika baju itu dengan penuh hati-hati agar tidak merusak serat kainnya yang sudah rapuh dimakan usia. Semua memori tentang almarhum kakeknya langsung menyeruak. Tersenyum.
Pagi harinya, saat Arya berjalan menuju lapangan untuk salat Id, ia merasa sedikit rendah diri. Di sekelilingnya, orang-orang mengenakan baju koko putih mengilap atau kemeja bermerek dengan warna-warna cerah yang mencolok.
Arya mencoba tetap menunduk, merapatkan kerah batik kusamnya yang terasa sedikit kebesaran di bahu. Namun, ia menyadari sesuatu yang aneh. Kain itu terasa sangat dingin dan nyaman di kulitnya, seolah-olah memberikan pelukan yang menenangkan di tengah terik matahari pagi. Lagi-lagi teringat almarhum kakeknya.
Setelah salat berakhir, Arya memutuskan untuk bersilaturahmi ke rumah salah satu tokoh masyarakat di kampungnya, seorang pengusaha sukses bernama Pak Darmawan yang dikenal sebagai pecinta seni. Bersemangat.
Saat memasuki ruang tamu yang luas, Arya segera menuju ke sudut ruangan, berharap kehadirannya tidak terlalu mencolok. Namun, baru saja ia hendak mengambil secangkir teh, Pak Darmawan yang sedang berbincang dengan tamu-tamu penting mendadak berhenti bicara.
Matanya terpaku tajam pada kemeja yang dikenakan Arya. Pak Darmawan berjalan mendekat dengan langkah cepat, mengabaikan tamu-tamunya yang lain. Semua orang bingung dengan kejadian itu. Wajah Pak Darmawan makin mendekat ke arah Arya. Serius.
"Anak muda, boleh saya lihat lebih dekat baju yang kamu pakai?" tanya Pak Darmawan dengan nada suara yang bergetar karena antusias.
Arya terkejut dan sedikit gugup, ia mengira ada bagian bajunya yang sobek atau noda yang tertinggal. "Maaf Pak, ini baju lama kakek saya. Sudah lusuh, saya tidak sempat beli yang baru," jawab Arya jujur sambil sedikit menunduk.
Pak Darmawan justru mendekatkan wajahnya ke lengan kemeja Arya, mengamati detail pola yang ada di sana. "Lama? Lusuh? Nak, apa kamu tahu motif apa ini?" tanya Pak Darmawan sambil menyentuh lembut kain tersebut. "Ini adalah motif Semen Rama dengan teknik cecek yang sangat halus, yang hanya dibuat oleh pengrajin keraton tertentu di era sebelum kemerdekaan. Lihatlah kerumitan burung garuda dan ornamen gunung ini. Warna cokelat kusam ini bukan karena bajunya kotor, tapi karena penggunaan pewarna alami dari kulit kayu soga yang asli, yang justru semakin dalam nilainya seiring bertambahnya usia kain."
Tamu-tamu lain mulai mengerumuni Arya. Mereka yang tadi mengenakan baju baru mahal kini justru berdecak kagum melihat batik yang awalnya mereka anggap sebagai sampah lemari. Pak Darmawan menjelaskan bahwa batik tulis dengan kualitas seperti itu sudah sangat jarang ditemukan, apalagi dalam kondisi serat yang masih terjaga integritasnya.
"Bagi orang awam, ini mungkin tampak kusam. Tapi bagi mereka yang paham, ini adalah mahakarya yang tidak bisa dibeli di toko mana pun," tambah Pak Darmawan.
Percakapan singkat itu berlanjut menjadi diskusi panjang. Pak Darmawan ternyata sedang mencari seorang asisten untuk divisi kurasi seni di yayasan miliknya yang bergerak di bidang pelestarian budaya. Ia melihat cara Arya merawat baju tersebut dan kejujuran pemuda itu mengenai kondisi ekonominya sebagai cerminan karakter yang ia cari.
"Orang yang menghargai warisan masa lalu di tengah kesulitan masa kini, pastilah orang yang memiliki integritas," ujar Pak Darmawan.
Sebelum Arya berpamitan, Pak Darmawan memberikan kartu namanya dan meminta Arya datang ke kantornya setelah libur Lebaran untuk pembicaraan lebih lanjut mengenai posisi pekerjaan tersebut.
Arya pulang dengan langkah yang jauh lebih ringan. Ia memandang bayangannya di cermin rumah kayu kecilnya. Baju batik itu tetap tampak lusuh bagi mata yang hanya mencari kemewahan lahiriah, namun bagi Arya, baju itu kini berkilau dengan harapan baru.
Ia baru saja menyadari bahwa berkah Lebaran tidak selalu datang dalam bungkus plastik belanjaan mal yang wangi toko, melainkan bisa terselip di dalam lipatan kain tua. Baju kakeknya bukan sekadar pakaian, tapi adalah jembatan yang menghubungkan masa lalunya yang penuh nilai dengan masa depannya yang mulai terang.
Sore itu, Arya mencuci baju itu dengan lerak secara perlahan, berjanji dalam hati untuk selalu menjaga warisan yang telah menyelamatkan martabat dan masa depannya di hari yang fitri ini. Terharu.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Lelaki Tak Berkepala yang Berjongkok di Rel Kereta Tanpa Palang Pintu
-
Windah Basudara hingga Logan Paul, Kenapa Kartu Pokemon Mahal dan Digemari?
-
Harga Sebuah Percaya: Mengapa Cinta Tak Cukup Hanya Dititipkan dalam Doa?
-
Mengapa Momen Lebaran Sering Menjadi Ajang Membandingkan Pencapaian?
-
Tanpa Thom Haye di FIFA Series, Timnas Indonesia Unjuk Transformasi Baru?