Hayuning Ratri Hapsari | Imas Hanifah N
Ilustrasi pemandangan laut, langit, dan matahari sedang terbenam. (Pixabay/solenedesjardins)
Imas Hanifah N

Segara seolah lenyap tanpa jejak. Sudah dua hari lamanya, semua orang mencari keberadaan Segara, tapi buntu. Orang tuanya, rekan kerjanya, bahkan kekasihnya, tidak tahu ada di mana ia sekarang. Sebagai sahabat dekat Segara, tentu aku juga dimintai keterangan, tapi sungguh aku tidak punya informasi apa pun, selain kata-kata terakhir yang ia kirimkan sebelum menghilang: “Aku ingin pergi dulu, ke tempat yang tenang.”

Karena kami sama-sama sedang sibuk mengerjakan skripsi, aku pikir itu semacam kode, Segara ingin berlibur. Ia mungkin ingin sejenak terlepas dari tekanan studi dan kesibukannya bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah. Aku pun membalasnya dengan menawarkan sejumlah rekomendasi liburan akhir pekan yang bisa ia lakukan. Sayangnya, tidak ada balasan. Nomor WhatsApp-nya centang satu dan abu-abu, yang mana berarti sedang tidak aktif atau sengaja tidak diaktifkan. Tidak ada perasaan curiga pada saat itu, karena kupikir, mungkin Segara sedang kehabisan kuota. Namun, hingga detik ini, centang satu abu tersebut tak kunjung berubah menjadi centang dua biru. 

Berjalan menyusuri tempat yang diduga terakhir kali Segara terlihat, aku memandang sekitar. Ini taman kota, tempat yang penuh dengan nostalgia. Kalau diingat-ingat, aku dan Segara, saat masih kecil, sering bermain di sini. Segara adalah bocah lelaki yang nakal, sering mengejekku yang lebih pendek darinya, tapi tetap membelaku ketika anak lain mengataiku dengan sebutan Kunti Bogel. Mungkin, Segara merasa tidak boleh ada yang mengejekku kecuali dirinya sendiri. Lucunya, aku tidak pernah sakit hati jika kata-kata ejekan itu datang dari Segara. 

Aku melihat kursi, dan duduk. Samar-samar, tepat pada saat itulah, aku mendengar seperti ada suara yang berbisik lirih. Mengecek sekeliling, tidak ada siapa pun, hingga akhirnya aku terperanjat mengetahui suara itu berasal dari lampu jalan yang persis ada di samping kursi yang kutempati. Lampu jalan tersebut terlihat masih sangat baru, terawat, bersih dan sangat kokoh. Mungkin memang baru diganti atau bahkan baru dipasang.

“Apa kau bicara kepadaku?”

Dengan ceria, lampu jalan menjawab, “Ya! Aku bicara kepadamu.”

“Oh, apa yang ingin kau sampaikan?”

“Aku merasa kau sedang mencari seseorang. Betul?” tanyanya semakin bersemangat. 

“Ya, betul. Aku sedang mencari sahabatku.”

“Bagus. Bagus. Apakah dia laki-laki? Tingginya 170 cm, berkulit putih, memakai jaket hijau tua, dan berjerawat?”

Aku langsung mengangguk.

“Dia berjalan lurus, dan kau bisa tanyakan ke mana ia melangkah selanjutnya kepada teman-temanku. Aku yakin mereka melihatnya juga. Mereka akan membantumu. Aku percaya kau bisa menemukan sahabatmu segera.”

Mendengar lampu jalan ini begitu optimis, aku tentu sangat senang. Tampaknya, pencarian ini tidak akan memakan waktu lama, aku merasa teryakinkan. 

Berjalan lurus, keluarlah aku dari taman. Melihat sekeliling, belum ada tanda-tanda lampu jalan yang lain. Tata kota ini sedikit amburadul memang, tapi ya, sudahlah. Mau bagaimana lagi. 

Cukup lama berjalan, sekarang aku berada dalam kebimbangan. Berjalan lurus terus, aku tidak kunjung menemukan lampu jalan lainnya, hingga aku pun memilih berteduh dari terik matahari sore yang masih cukup menyengat. Sebuah toko es krim dan kenangan masa remaja. Bukan hanya dengan Segara, tapi dengan teman-temanku yang lain. Masa remaja kami diisi dengan mengejar prestasi, walaupun ada pula yang ogah-ogahan belajar, tapi tetap masuk peringkat sepuluh besar. 

Kalau dipikir-pikir lagi, kadang-kadang kami merasa seperti dikejar kereta api. Ada saat-saat ketika kami merasa lelah dan payah, tapi tetap tidak mau berhenti belajar. Sekarang, aku menyaksikan beberapa anak muda lewat di depan toko es krim ini, dan mulai berandai-andai, sekiranya dulu aku dan Segara, juga yang lain bisa sedikit lebih santai, mungkin segalanya akan terasa lebih menyenangkan. Mungkin, ya. 

Merasa sudah cukup untuk sesi istirahat, sebelum malam tiba, aku harus melanjutkan pencarian Segara ini. Tepat ketika aku melihat ke arah kiri, kulihat lampu jalan yang lain. Oh, mungkin ia teman lampu jalan yang tadi itu? Aku sudah berjalan lurus sejak tadi, dan hanya itu lampu jalan yang bisa kulihat di sekitar sini. 

Lampu jalan yang sekarang hendak kutanyai ini tampak agak berbeda dengan yang sebelumnya. Ia berdiri di dekat sebuah pohon besar yang rimbun sekali, sampai-sampai, aku pikir jika di malam hari, bisa saja cahaya lampu jalan ini tidak secara sempurna mampu mengenyahkan kegelapan sekitar. Karena tertutupi rimbunnya si pohon. 

“Halo, maaf. Bolehkah aku bertanya?” Aku agak tidak enak, karena sepertinya lampu jalan ini tengah fokus sekali, entah sedang memikirkan apa.

“Oh, ya. Boleh, tentu saja. Maaf, aku memang sedang memikirkan sesuatu . Jadi, tadi aku tidak dengar. Apa yang mau kamu tanyakan?”

“Sekitar dua hari lalu, apakah kamu melihat seorang laki-laki yang … oh, tunggu aku punya fotonya.”

Si lampu jalan tampak berusaha keras mengingat. “Ah, sepertinya sih, aku pernah melihat dia. Tapi, aku agak lupa. Hanya, aku memang merasa melihatnya . Tapi kan ya, banyak yang lewat di sini, jadi, aku tidak ingat semuanya. Cuma memang ….”

Aku menunggu. 

“Cuma memang, sepertinya, ya, oke. Dia lewat situ. Arah ke situ, belok kanan dari toko buku di sana. Ya, ya, mungkin, ya. Iya. Iya, benar. Kurasa aku benar. Aku ingat sekarang. Dia ke sana! Coba tanyakan kepada temanku yang lain. Aku yakin, aku pasti benar.”

Aku tersenyum dan berterima kasih, berusaha menyembunyikan rasa tidak yakin atas penjelasan panjang yang agak terbata-bata itu. Namun, aku bersyukur, setidaknya aku mendapatkan petunjuk. Kali ini, aku melangkah, melanjutkan perjalanan, sembari berdoa semoga apa yang dikatakan lampu jalan di dekat pohon adalah tepat. 

Kini, selain toko buku, tidak ada yang menarik. Tidak ada kenangan yang bisa kuingat lagi, atau setidaknya mengiringi langkahku mencapai lampu jalan ketiga yang akan kutanyai sekarang. Lampu jalan yang ketiga itu berada tidak terlalu jauh. Aku langsung menghampirinya. 

Namun, alih-alih sambutan hangat yang kudapat, lampu jalan yang ketiga malah menatapku dengan sinis dan bicara kasar. “Apa yang kau mau, hah? Jangan dekat-dekat!”

Tentu, aku kaget bukan main. Bagaimana mungkin bisa sekasar itu? Sementara dua lampu jalan sebelumnya bersikap biasa saja. Padahal, aku datang dengan senyum ramah dan tidak berniat mengusik. 

“Ma-maaf, aku hanya ingin bertanya tentang sesuatu. Soal sahabatku yang hilang.”

“Tidak tahu! Tidak usah tanya. Aku tidak peduli!”

Ia semakin marah. Aku jadi bingung, melihat ke sekeliling, tidak ada lampu jalan lain, alias ini yang paling dekat dengan yang sebelumnya. 

“Maaf, tapi, aku hanya ingin bertanya. Sebentar saja. Sahabatku hilang. Dan … kalau boleh, aku minta bantuanmu.”

Aku bisa mendengar lampu jalan ketiga ini berdecih, seakan-akan memang tidak Sudi memberi bantuan, tapi mungkin juga merasa tak enak untuk terus menolak. 

“Oke, jadi, sahabatku ini, namanya Segara, dia pakai jaket hijau, lumayan tinggi, wajahnya punya beberapa jerawat. Ya, kurang lebih seperti itu. Apakah kamu pernah melihatnya? Oh ya, dua temanmu sebelum ini memberitahuku kalau mereka melihat sahabatku ke arah sini. Makanya aku tanya juga ke kamu. Maaf, ya.”

Lampu jalan ketiga sedikit melunak, tapi tetap menjawab dengan nada yang sinis, “Ya, aku lihat sahabatmu itu. Dari sini, kau jalan saja lurus. Ada beberapa toko mungkin yang akan kau lewati dan setelah itu, ada temanku yang lain juga di sana. Itu saja yang aku tahu. Jangan tanya lagi padaku. Menyebalkan.”

Satu kata terakhir darinya membuat langsung mundur dan setengah berlari, pergi dari sana. Agak menakutkan. Entah mengapa aku membayangkan lampu jalan ketiga mengejarku dari belakang dan memukulku dengan tiangnya yang keras itu. Bisa-bisa aku gegar otak dan mati di tempat. 

Tapi, syukurlah masih ada petunjuk yang aku dapatkan. Kali ini, kembali berjalan lurus, agak jauh, karena tak juga kutemukan lampu jalan lainnya. Aku melewati beberapa toko, dan akhirnya mampir sebentar ke tukang nasi goreng pinggir jalan. Hari sudah hampir petang.

Setelah memesan nasi goreng yang aromanya sangat menggoda, aku duduk menunggu pesanan. Tukang nasi goreng dengan cekatan memasak untuk beberapa orang. Ada dua orang yang sedang menunggu. Aku tidak punya keinginan untuk berbasa-basi, walaupun sebenarnya kebiasaanku tidak begitu. Segara tahu betul kalau aku sering menyapa orang lain, sekalipun baru berkenalan. Hanya kali ini, setelah tadi bertemu dengan lampu jalan ketiga, aku merasa energiku agak terkuras. 

Jadi, selama di tempat nasi goreng, aku lebih banyak fokus untuk makan saja. Setelahnya, langsung bayar dan melanjutkan upaya pencarian Segara. 

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya aku menemukan lampu jalan keempat. Aku berharap ia berbeda dari lampu jalan yang ketiga dan ternyata memang benar. Sangat berbeda. Jauh berbeda, tapi sayangnya bukan berarti lebih baik. 

Lampu jalan keempat sangat mengkhawatirkan. Tiangnya terlihat hampir roboh, yang aku tebak jika ada orang iseng menggoyangkannya beberapa kali, pasti akan langsung terjerembab ke tanah dan terpotong jadi dua bagian. Saking tidak teganya, aku bingung harus dengan cara apa bertanya, karena suara yang sedikit keras mungkin bisa saja akan mengagetkannya. 

“Maaf, bolehkah aku tanya sesuatu?”

Lampu jalan keempat yang lunglai, melihatku, ia tidak tersenyum, tapi tidak pula marah. Ia hanya berkata, “Aku yang minta maaf. Aku yang salah. Maaf, ya.”

“Oh, tidak-tidak. Bukan begitu. Aku hanya … ingin bertanya soal sahabatku. Kalau kau tahu soal dia, tolong katakan. Dia … tinggi, pakai jaket hijau, dan ….”

“Berjerawat,” ucap lampu jalan keempat dengan lesu. 

“Iya, betul. Betul sekali. Apakah kau pernah melihatnya.”

“Ada banyak orang yang seperti itu. Ada dua atau tiga orang, ya. Aku melihat mereka lewat.”

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. “Ada dua atau tiga orang?”

“Iya. Maaf ya, kalau aku salah. Aku hanya ingat itu. Dia mungkin ke sana. Ah, ke mana, ya? Aku lupa. Mungkin ke arah pantai sana, atau ke restoran? Ya, bisa jadi ke restoran. Aku lupa. Maaf, ya. Aku tidak ingat. Coba tanya ke yang lain.”

Lampu jalan keempat terlihat mulai menangis. Aku jadi bingung. Aku minta maaf lagi dan berterima kasih, lalu buru-buru pergi. Semoga saja lampu jalan keempat perlahan-lahan akan membaik. Aku meninggalkannya, karena memang aku tidak punya banyak waktu lagi hari ini. Ini sudah cukup malam. 

Syukurnya, aku menemukan lampu jalan kelima setelah berjalan sebentar. Memang, aku bisa melihat dari kejauhan ada restoran besar. Namun, di sisi lainnya, terlihat ada papan informasi mengenai keberadaan wisata pantai. Aku tidak tahu harus ke mana, makanya aku tanya lampu jalan kelima. 

Namun, lampu jalan kelima rupanya tidak hidup. Lampunya tidak bercahaya. Saat aku bertanya, ia tidak menjawab. Benar-benar, lampu jalan kelima lebih parah dari yang keempat. Ah, seharusnya petugas setempat segera menggantinya dengan yang baru. Atau kalau tidak, memperbaikinya, supanya bisa kembali hidup lagi. 

Di tengah kebimbangan itu, akhirnya aku putuskan untuk pergi melihat ke bagian depan restoran terlebih dahulu. Agak aneh memang jika Segara datang kemari. Aku ragu ia akan menghabiskan uang hasil kerja paruh waktunya untuk membeli makanan yang super mahal. 

Aku mundur, sedikit mendapat tatapan sinis dari petugas keamanan, tapi aku tak peduli. Akhirnya, aku melangkah ke bagian depan wisata pantai. Aku harus membeli tiket dulu, untungnya tidak terlalu mahal. Aku juga merasa, mungkin pantainya tidak terlalu terkenal, karena saat masuk, tak terlalu banyak orang. 

Malam semakin larut, pantai yang buka 24 jam, dan ya, Segara. Aku menemukannya. Duduk, di tepi pantai, membiarkan kakinya disapu ombak-ombak nakal. Aku ingin berlari, tapi kakiku menolak. Jadilah hanya melangkah pelan, lalu duduk perlahan di sampingnya. Segara menatapku, tersenyum. Kami duduk saja, menyaksikan ombak dan cakrawala gelap yang seolah tanpa ujung. Diam-diam, ingatanku mencatat satu kata yang harus disandingkan dengan Segara: pantai. 

Kami di sana sampai pagi. (*)