“Amir, kamu yakin ini berita asli? Kelihatannya terlalu sempurna,” kata Rina sambil menyeruput kopi di kafe pinggir jalan kota yang ramai.
Amir mengangguk, matanya tertuju pada layar ponselnya.
“Ini dari sumber terpercaya. Lihat, ‘Gempa bumi melanda pusat kota malam ini.’ Tapi aneh, ya? Baru saja dibaca, rasanya angin mulai kencang.”
Mereka duduk di teras kafe di Mal Delta Plaza Surabaya, tempat hiruk-pikuk kendaraan dan pedagang kaki lima menyatu dengan aroma kopi tubruk.
Amir, seorang jurnalis lepas berusia 35 tahun, selalu haus akan berita. Namun akhir-akhir ini, berita bukan lagi sekadar informasi. Baginya, berita adalah dunia itu sendiri.
Malam sebelumnya, Amir menemukan aplikasi aneh bernama Echo News. Bukan aplikasi biasa; ia muncul tiba-tiba di ponselnya tanpa pernah diunduh.
Saat dibuka, berita-berita mengalir seperti sungai digital: tajuk utama tentang politik, cuaca, hingga gosip selebritas. Yang membuatnya gelisah adalah tingkat keakuratannya yang luar biasa.
“Hujan deras akan membanjiri Jalan Basuki Rahmat besok pagi,” baca Amir kemarin. Dan pagi ini, banjir benar-benar datang, membuat lalu lintas macet total.
“Rina, coba lihat ini,” kata Amir sambil menyodorkan ponselnya.
Rina, teman lamanya yang bekerja sebagai desainer grafis, mengerutkan kening. “‘Pemimpin kota baru terpilih dalam pemilu mendadak.’ Siapa yang mengadakan pemilu hari ini? Ini pasti hoaks.”
Namun sore itu, berita di televisi nasional mengonfirmasi: pemilu dadakan digelar, dan wali kota baru dilantik. Amir merasa jantungnya berdegup kencang. Apakah aplikasi ini memprediksi, atau justru menciptakan kenyataan?
Malam harinya, Amir pulang ke rumah sederhananya di kawasan Wonokromo. Kota Surabaya terasa lebih hidup, dengan lampu-lampu yang memantul di genangan air hujan. Ia kembali membuka aplikasi itu.
Tajuk baru muncul: “Pencuri misterius merampok bank sentral, kabur dengan miliaran rupiah.”
Amir tertawa kecil. “Ini terlalu dramatis,” gumamnya.
Namun saat ia terlelap, sirene polisi membangunkannya. Dari jendela, ia melihat kerumunan di depan bank terdekat. Televisi menyiarkan kabar pencurian besar-besaran. Amir merinding. Apakah ia bagian dari semua ini?
Keesokan paginya, Amir memutuskan untuk menguji kebenaran itu. Ia menulis tajuk palsu di aplikasi—ada fitur aneh bernama Submit Your News.
“Amir menemukan harta karun di taman kota.”
Ia menekan tombol kirim, lalu pergi ke Taman Apsari, taman ikonik di tengah kota yang dipenuhi penjual nasi goreng dan warung kopi pinggir jalan.
Saat menggali tanah di bawah pohon beringin—entah mengapa ia melakukannya—tangannya menyentuh sebuah kotak logam. Di dalamnya terdapat emas batangan dan dokumen-dokumen lama.
“Ini gila,” bisiknya.
Tak lama kemudian, media sosial dipenuhi kabar: “Warga temukan harta karun di Taman Apsari!”
Amir panik. Aplikasi ini bukan sekadar penyampai berita; ia adalah pintu menuju realitas paralel, tempat kata-kata bisa menjelma kenyataan. Ia teringat legenda urban di kalangan jurnalis tentang “Dunia Dalam Berita”: mitos bahwa dunia hanyalah skrip yang ditulis entitas tak terlihat.
Ia segera menghubungi Rina. “Kita harus menghancurkannya. Aplikasi ini mengubah segalanya.”
Rina datang ke rumahnya membawa laptop. “Coba kita retas. Mungkin ini AI yang lepas kendali.”
Saat mereka menyusuri kode aplikasi, layar menampilkan pesan: “Selamat datang, Pencipta. Dunia ini milikmu.”
Amir tersentak. Ia sadar, aplikasi itu adalah sebuah simulasi. Kota Surabaya, teman-temannya, bahkan dirinya sendiri, hanyalah data dalam server raksasa. Berita adalah kode yang menjalankan simulasi tersebut. Setiap tajuk yang ia baca atau tulis merevisi realitas.
“Kalau begitu, kita bisa mengubah apa saja,” kata Rina, matanya berbinar.
Amir ragu. “Tapi apa arti kebenaran jika semuanya bisa diedit?”
Mereka menulis tajuk baru: “Surabaya menjadi kota tanpa kemacetan, semua orang bahagia.”
Sekejap kemudian, dari jendela, mereka melihat jalanan kosong, orang-orang tersenyum, dan langit cerah.
Namun kegembiraan itu singkat. Tajuk lain muncul otomatis: “Virus digital menyerang simulasi, menghapus data.”
Amir sadar, ada “pemain” lain di luar sana—mungkin pencipta aslinya.
Kota mulai bergetar. Gedung-gedung menghilang seperti piksel rusak. Rina menggenggam tangan Amir. “Tulis sesuatu! Selamatkan kita!”
Dengan tangan gemetar, Amir mengetik: “Amir dan Rina lolos ke dunia nyata.”
Layar berkedip. Tiba-tiba, mereka berada di ruangan putih tak berujung. Di hadapan mereka, layar raksasa menampilkan tulisan: Surabaya Simulation: Terminated.
Seorang pria tua muncul dari kegelapan. “Kalian adalah bug dalam sistem. Akulah pencipta Dunia Dalam Berita, untuk menguji umat manusia.”
Amir berdiri tegak. “Kami bukan data. Kami punya perasaan.”
Pria itu tertawa pelan. “Justru itulah ujiannya. Kalian lulus.”
Dunia berputar. Amir terbangun kembali di kafe yang sama, dengan Rina duduk di depannya.
“Amir, kamu yakin ini berita asli?”
Amir tersenyum. “Mungkin tidak. Tapi sekarang, kitalah yang menulis ceritanya.”
Kota Surabaya tetap ramai. Namun bagi Amir, setiap berita kini adalah petualangan baru. Dunia dalam berita bukan lagi penjara, melainkan kanvas yang tak terbatas.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Tuntutan Metropolitan dalam Duka yang Belum Usai: Ulasan Disonansi
-
4 Cleanser Kombucha Kaya Probiotic, Cegah Iritasi Kulit Kering dan Sensitif
-
Usung Konsep Time Leap, Anime Haibara's Teenage New Game+ Siap Tayang April 2026
-
Lifestyle Digital: Kala Batas Kehidupan Pribadi dan Publik Memudar
-
Bikin Dilema, NCT JNJM Umbar Pesona Tanpa Batas di Lagu Debut 'Both Sides'