Novel metropop berjudul Disonansi ini langsung mengingatkan saya pada teori cognitive dissonance dari Leon Festinger tentang ketidakseimbangan batin.
Dari judulnya saja, rasa penasaran saya sudah terusik: apa hubungan “disonasi” dengan genre metropop?
Awalnya, saya kurang tertarik karena sampulnya berwarna kuning kusam dengan ilustrasi jejak kaki yang tidak begitu menarik. Namun setelah membacanya, saya justru sadar bahwa sampul tersebut sama sekali tidak mencerminkan isi cerita. Novel ini ternyata jauh lebih dalam dibandingkan kesan pertamanya.
Sinopsis
Disonansi mengisahkan kehidupan para pekerja kantoran di Jakarta, kota metropolitan dengan gemerlap dunia malam dan kesibukan di siang hari. Sebagai novel metropop, tentu ada unsur cinta, namun cinta dalam cerita ini disajikan dengan kedalaman dan kerumitan emosi.
Tokoh utama, Rinjani, menjalani rutinitas layaknya pekerja kantoran pada umumnya. Namun setahun terakhir, sejak kematian suaminya, Andre, Rinjani berubah menjadi sosok yang berbeda.
Fokusnya pada pekerjaan terganggu, ia sering melakukan kesalahan, bahkan sempat muntah di ruang direksi. Orang-orang di sekitarnya terus mendorong Rinjani untuk kembali tersenyum, seolah kehilangan hanyalah fase yang harus segera dilewati. Padahal, Rinjani justru terus meromantisasi kenangan bersama mendiang suaminya, bahkan hingga ke dalam mimpi. Ia pun harus berpura-pura baik-baik saja setiap hari.
Tekanan dari ibu mertua untuk memiliki anak kembali menghantuinya. Ia teringat mimpinya menimang bayi setelah empat tahun pernikahannya dengan Andre.
Suatu hari, Rinjani mulai menerima surat-surat misterius dari seseorang yang mengaku mengenal Andre lebih dari siapa pun. Pengirim surat itu bahkan mengklaim merasa lebih kehilangan Andre dibandingkan Rinjani sendiri. Surat-surat tersebut datang rutin setiap minggu tanpa identitas.
Awalnya Rinjani berniat menindaklanjutinya, tetapi kesibukan pekerjaan membuatnya melupakan hal itu.
Bersama rekan-rekan kantornya, Abbas dan Tata, Rinjani diperkenalkan kembali pada olahraga lari—hobi yang dulu sangat disukai Andre. Ia mulai menyalurkan kesedihannya melalui aktivitas ini, rutin berlatih sepulang kerja hingga larut malam, bahkan mengikuti Marathon Bromo 42 km.
Dari kegiatan tersebut, Rinjani bertemu Okto, seorang penulis novel fantasi sekaligus sesama peserta marathon yang juga menyimpan masa lalu kelam.
Surat-surat misterius yang sempat terlupakan kembali muncul, kali ini disertai paket berisi barang-barang peninggalan Andre. Fakta-fakta baru yang terungkap membuat Rinjani curiga dan berprasangka bahwa Andre menyimpan rahasia besar, bahkan mungkin berselingkuh.
Dengan bantuan Okto, Rinjani akhirnya berhasil melacak pengirim surat tersebut. Ia adalah Ian, seorang pria yang pernah diselamatkan Andre dari jerat narkoba dan kini terinfeksi HIV.
Dalam pertemuan itu, terungkap alasan besar mengapa Andre tidak pernah mau memeriksakan diri ke dokter: ia takut menghadapi masa depan yang tidak sanggup ia bayangkan.
Pertemuan tersebut membawa Rinjani pada proses berdamai dengan Tuhan atas kepergian Andre. Ia pun merenungkan apakah dirinya akan sanggup bertahan jika mengetahui rahasia itu ketika Andre masih hidup. Tuhan seakan menyimpan Andre dalam kenangan yang indah, alih-alih membiarkan perpisahan yang lebih menyakitkan.
Setelah berhasil menyelesaikan Marathon Bromo, Rinjani mendapat kejutan dari Okto. Pada titik itulah ia akhirnya mampu berdamai dengan masa lalu dan melanjutkan hidup sebagaimana mestinya.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Kelebihan novel ini terletak pada penggunaan bahasa yang mengalir dan mudah dipahami, serta penggambaran tokoh yang sangat mendalam.
Tokoh Andre, misalnya, digambarkan sebagai sosok yang hampir sempurna—tampan, mapan, beriman, dan ideal dalam berbagai aspek. Karakternya begitu menyentuh hingga membuat saya jatuh hati, meskipun Andre telah diceritakan sebagai tokoh yang telah meninggal.
Sementara itu, kekurangan novel ini terletak pada beberapa bagian yang menyisipkan teori-teori berat, seperti manajemen, akuntansi, psikologi, dan politik, sehingga pada titik tertentu terasa cukup sulit diikuti.
Identitas Buku
Judul: Disonansi
Penulis: Edithya Permata Sari
Tahun Terbit: 2015
Kota Terbit: Jakarta
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1779-3
Baca Juga
-
The Devils Daughter: Horor Ringan dengan Plot Twist yang Membingungkan
-
Membedah Pemikiran Politik Santri dan Abangan dalam Buku Abdul Munir Mulkhan
-
Dammahum: Potret Religi dan Politik dalam 14 Cerita yang Terhubung
-
Mengungkap Misteri Pulau Kirrin Bersama Lima Sekawan: Mengapa Mereka Minggat?
-
Romantisasi Duka dalam 'Ikhlas Penuh Luka' Karya Boy Candra
Artikel Terkait
Ulasan
-
Menyelami Wewangian dalam Buku Aroma Karsa Lewat Kacamata Kimia
-
Review Film Shelter: Misi Berbahaya Jason Statham Selamatkan Remaja Putri
-
Buku Nol: Setiap Orang Punya Timeline yang Berbeda
-
Mengenal Ismail Bin Mail: Figuran yang Berjiwa Enterpreneur dan Leadership
-
Kitchen Karya Banana Yoshimoto: Menemukan Harapan di Tengah Kehampaan
Terkini
-
Dunia Dalam Berita
-
4 Cleanser Kombucha Kaya Probiotic, Cegah Iritasi Kulit Kering dan Sensitif
-
Usung Konsep Time Leap, Anime Haibara's Teenage New Game+ Siap Tayang April 2026
-
Lifestyle Digital: Kala Batas Kehidupan Pribadi dan Publik Memudar
-
Bikin Dilema, NCT JNJM Umbar Pesona Tanpa Batas di Lagu Debut 'Both Sides'