Bimo Aria Fundrika | Ryan Farizzal
Poster film Shelter (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Shelter (2026) adalah sebuah karya aksi thriller yang disutradarai oleh Michael Morris, dengan Jason Statham sebagai pemeran utama.

Dirilis secara global pada awal 2026, film ini menandai kembalinya Statham dalam peran yang memadukan elemen survival, drama emosional, dan aksi brutal.

Di Indonesia, Shelter mulai tayang di bioskop pada 28 Januari 2026, lebih awal dibandingkan beberapa wilayah lain. Penayangan ini tersedia di jaringan seperti Cinema XXI, CGV, Cinepolis, dan Platinum Cineplex, dengan jadwal yang bisa dicek melalui aplikasi seperti TIX ID atau situs resmi bioskop.

Sebagai film yang dirilis tepat di tengah musim hujan, Shelter menawarkan pengalaman sinematik yang intens, cocok untuk kamu yang mencari adrenalin di layar lebar.

Kehidupan Terpencil di Mercusuar

Salah satu adegan di film Shelter (IMDb)

Cerita Shelter berpusat pada Mason, seorang pria penyendiri yang hidup di sebuah mercusuar terpencil di pulau pesisir Skotlandia. Hidupnya yang tenang terganggu ketika ia menyelamatkan seorang gadis kecil dari laut yang ganas. Gadis itu, yang ternyata memiliki hubungan dengan masa lalu gelap Mason, menjadi pemicu serangkaian peristiwa berbahaya.

Musuh-musuh lama muncul, mengubah tempat perlindungan Mason menjadi medan pertempuran. Tanpa spoiler, plot ini menggabungkan tema penebusan diri, ikatan keluarga tak terduga, dan pertarungan hidup mati. Skrip yang ditulis oleh penulis berbakat seperti Scott Kosar berhasil membangun ketegangan secara bertahap, mulai dari suasana misterius hingga klimaks aksi yang meledak-ledak.

Review Film Shelter

Salah satu adegan di film Shelter (IMDb)

Dari segi akting, Jason Statham sekali lagi membuktikan mengapa ia layak disebut raja film aksi. Perannya sebagai Mason bukan sekadar pamer otot; ada lapisan emosional yang terasa kuat.

Statham, yang kerap kita lihat dalam waralaba seperti The Transporter atau The Expendables, kali ini menunjukkan sisi yang lebih rentan. Ekspresinya saat berinteraksi dengan seorang gadis kecil—diperankan oleh aktris muda berbakat yang namanya belum banyak dikenal—terasa autentik dan membuat penonton ikut merasakan konflik batin yang ia alami.

“Ini bukan hanya film aksi, tetapi tentang dua jiwa tersesat yang saling menemukan,” ujar Statham dalam sebuah wawancara promosi.

Para pemeran pendukung, termasuk aktor yang memerankan antagonis, turut menambah kedalaman cerita. Mereka berhasil menciptakan ancaman yang terasa nyata, sehingga setiap adegan kejar-kejaran tampil menegangkan.

Sutradara Michael Morris, yang sebelumnya dikenal lewat proyek-proyek independen, mampu mengolah Shelter menjadi sebuah paket yang utuh. Pengambilan gambar di lokasi asli Skotlandia menghadirkan nuansa dingin dan terisolasi yang kuat.

Sinematografi—yang digarap oleh tim seperti Greig Fraser—menangkap keindahan alam yang kontras dengan kekerasan manusia. Efek visual, terutama dalam adegan badai dan pertarungan, menggunakan CGI secara minimalis namun efektif, sehingga terhindar dari kesan berlebihan ala film blockbuster Hollywood. Musik latar garapan komposer seperti Henry Jackman turut menambah intensitas, memadukan elemen orkestra dan elektronik untuk membangun ketegangan.

Kelebihan utama Shelter terletak pada keseimbangan antara aksi dan cerita. Tidak seperti film aksi kebanyakan yang hanya menumpuk ledakan, film ini menawarkan pengembangan karakter yang cukup kuat. Dengan durasi 107 menit, alurnya terasa pas tanpa adegan yang berlarut-larut. Tema perlindungan dan penebusan terasa relevan bagi penonton dewasa, terutama di era pascapandemi ketika isu isolasi menjadi dekat dengan pengalaman banyak orang.

Di Indonesia, film ini cocok ditonton oleh pasangan atau penikmat thriller, meski kemungkinan memiliki klasifikasi usia dewasa karena adegan kekerasan grafis. Trailer resmi yang dirilis pada Desember 2025 pun sudah mencuri perhatian lewat tagline Her Safety. His Mission, menjanjikan aksi khas Statham yang konsisten.

Meski demikian, Shelter bukan tanpa kekurangan. Sejumlah plot twist terasa cukup mudah ditebak bagi penggemar genre aksi. Karakter gadis kecil sesekali tampak lebih sebagai alat penggerak cerita ketimbang tokoh yang sepenuhnya mandiri, meskipun aktingnya meyakinkan.

Dialog yang relatif minim juga bisa membuat penonton yang menyukai narasi mendalam merasa kurang terpuaskan. Selain itu, elemen bertahan hidup di alam liar sebenarnya masih bisa dieksplorasi lebih jauh, tetapi terbatas oleh fokus cerita pada konflik antarmanusia.

Dibandingkan film sejenis seperti The Revenant atau Taken, Shelter terasa lebih ringan, meski kurang inovatif pada bagian akhir.

Secara keseluruhan, Shelter adalah film yang layak ditonton di bioskop, terutama bagi penggemar Jason Statham. Rating pribadi saya: 8/10. Film ini berhasil memadukan aksi brutal dengan sentuhan emosional, meninggalkan kesan adrenalin tinggi sekaligus renungan tentang keluarga.

Dengan jadwal tayang perdana di Indonesia pada 28 Januari 2026, ini menjadi kesempatan tepat untuk menikmatinya di layar lebar sebelum spoiler beredar luas. Shelter mengingatkan bahwa tempat paling aman pun bisa berubah menjadi medan perang, dan penebusan kerap datang dari arah yang tak terduga.