M. Reza Sulaiman | Azilla Intan
Ilustrasi halte dalam cerita (Pexels/Sinitta Leunen)
Azilla Intan

"Besok jam setengah enam sore, kita bertemu di halte bus tempat pertama kali kita bertemu ya, Ga."

Suara Haikal masih menggema di kepala Helga, seorang gadis cantik berusia 25 tahun yang setiap sore pukul 17.30 selalu berdiri dan menunggu seseorang di halte bus sebelum persimpangan jalan dekat rumahnya. Orang-orang yang biasa berlalu-lalang di halte itu bahkan mengetahui kebiasaan yang dilakukan Helga sejak tiga tahun lalu.

Biasanya, sepulang kerja, Helga akan berdiri menunggu seseorang tepat pada pukul 17.30 dan pulang pukul 21.00. Kebiasaan itu terus dilakukannya tanpa pernah mengeluh atau merasa kesal. Helga hanya menatap ke depan sambil sesekali pandangannya menerawang jauh. Terkadang, gadis itu melirik ponselnya dan menatap benda itu lama sembari menunduk.

Seperti halnya sore ini, seorang nenek yang berusia sekitar 70-an sudah sering melihat keberadaan Helga di halte. Biasanya, sang nenek akan berlalu tanpa bertegur sapa kepada gadis itu, tetapi kini ia memutuskan untuk mendatangi Helga.

Nenek itu menepuk pelan bahu Helga yang sedang duduk di halte. "Boleh saya duduk di sini?"

Perkataan nenek itu membuat Helga refleks menoleh dan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia langsung menggeser tempat duduknya agar nenek itu dapat duduk dengan leluasa karena sore hari ini keadaan halte bus cukup ramai.

"Kenapa kamu sering duduk diam di sini, Nak?"

Helga mengerjapkan matanya pelan. Selama tiga tahun terbiasa menunggu di sini, baru kali ini ada orang lain yang mengajaknya berbicara mengenai kebiasaannya. Sembari menipiskan bibir, Helga bersuara, "Saya... sedang menunggu seseorang, Nek," ucapnya sopan.

Sang nenek kini memusatkan perhatiannya pada Helga, bahkan posisi duduknya yang tadi menghadap jalanan kini sepenuhnya beralih berhadapan dengan Helga. "Siapa, Nak?"

Helga terdiam sebentar. Mengingat kembali kenangan akan lelaki itu membuat salah satu sudut di hati Helga sedikit berdenyut. "Dia... adalah orang yang berharga bagi saya. Orang yang pertama kali mendukung dan menyemangati saya di titik terendah hidup saya. Terakhir, dia meminta saya untuk bertemu di halte ini tepat pukul setengah enam sore, tapi sampai sekarang, orang itu tidak muncul. Saya sudah berulang kali menghubunginya bahkan mendatangi rumahnya, tapi seakan ditelan bumi, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaannya sampai sekarang."

Entah kenapa, setelah selesai menceritakan hal yang selama ini dipendam kepada orang lain, Helga merasa lega.

"Kalau dia tiba-tiba menghilang, kenapa kamu masih setia menunggunya?"

Kali ini Helga terdiam. Gadis itu menunduk melihat kedua tangannya yang terkepal menahan dinginnya udara petang kala itu. "Entahlah. Saya juga tidak tahu mengapa melakukan hal bodoh ini. Hanya saja, setiap kali saya ingin mengakhirinya, salah satu sudut hati kecil saya enggan untuk melakukannya. Jadi, saya memutuskan untuk menunggu di sini hingga merasa lelah dan puas tanpa penyesalan."

Terjadi keheningan di antara mereka. Lalu, nenek di samping Helga menghela napas pelan. "Kata hatimu memang benar, Nak."

Helga mengerutkan dahinya bingung. "Ya?"

Tanpa menjelaskan lebih lanjut, nenek itu mengulurkan salah satu tangannya menutupi kedua mata Helga. Kejadian itu begitu cepat terjadi sehingga Helga tidak sempat mengatakan apa pun. Setelah menyingkirkan tangannya, nenek itu tersenyum sembari menepuk pelan bahu Helga. "Kalau kamu sudah bertemu dengannya, kamu bisa memutuskan pilihan selanjutnya, kan?"

Meskipun tidak sepenuhnya mengerti, Helga akhirnya mengangguk. "Mungkin begitu."

Sang nenek masih tersenyum di tempatnya. Tak lama kemudian, ia bangkit dan berdiri di hadapan Helga. "Kalau begitu, sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya. Nantikanlah pertemuan dengannya yang telah kamu nantikan selama tiga tahun ini."

"Ya? Apa mak—" Belum sempat melanjutkan ucapannya, nenek itu langsung berjalan menjauhi Helga, berbaur dengan orang-orang yang berlalu-lalang di halte itu.

Helga sempat celingukan mencari keberadaan sang nenek, tetapi seakan tersapu oleh debu, nenek itu menghilang dalam sekejap mata. Helga memutuskan untuk kembali duduk di halte dan menunggu. Di saat ia tengah memandangi lalu-lalang orang, tiba-tiba matanya terpaku ke satu objek.

Tubuhnya ikut merasa kaku dan suaranya tidak kunjung keluar. Saat ini, Helga sedang memandang tidak percaya kepada seseorang yang berada di antara lalu-lalang orang itu. Seorang laki-laki mengenakan celana hitam, kaus putih, dan jaket kulit berwarna hitam dengan wajah yang sangat familier bagi Helga.

Orang itu adalah Haikal. Orang yang selama ini Helga nantikan selama tiga tahun lamanya.

Ketika pandangan mereka beradu satu sama lain, Haikal tersenyum dengan pandangan sayu khasnya dan melambai pelan pada Helga. Lelaki itu berjalan pelan menghampirinya. Ketika jarak mereka sudah dekat, Helga dengan pandangan berkaca-kaca berucap, "Kamu akhirnya datang," lirihnya.

Haikal hanya terdiam. Tanpa bersuara, lelaki itu menganggukkan kepalanya dengan pandangan yang tidak lepas menatap Helga. "Sudah lama tidak bertemu, Helga."

Ah, suara itu. Helga tidak tahu sudah berapa lama ia merindukan suara itu.

"Kamu... kenapa baru datang sekarang?" Meskipun sudah menyusun kata-kata yang tepat, tetapi ketika dipraktikkan langsung, suara Helga jadi tercekat.

Haikal terdiam dengan pandangan sendu menatap Helga. Salah satu tangannya terulur mengusap pelan rambut Helga yang saat ini sudah menangis di hadapannya.

"Maafkan aku, Helga. Hari itu, aku sudah di jalan untuk menemuimu. Tapi, ada kecelakaan besar. Kecelakaan beruntun yang menewaskan hampir puluhan orang. Salah satu korbannya adalah aku. Sebelum menyadari kematianku, aku tetap pergi menemuimu. Kamu sudah datang hari itu, tapi entah kenapa kamu tidak bisa melihatku. Dan aku tidak bisa menggapaimu. Sama sepertimu, aku menunggu di sini selama tiga tahun sampai saat ini, saat kamu bisa melihatku. Aku... sangat senang karena akhirnya kita bisa bertemu lagi."

Air mata semakin bercucuran di pipi Helga. Ia pernah membayangkan skenario terburuk bahwa Haikal mungkin telah tiada. Tapi, ketika skenario terburuk itu terbukti, rasanya tetap menyakitkan.

"Kalau kamu sudah bertemu dengannya, kamu bisa memutuskan pilihan selanjutnya, kan?" Tiba-tiba, perkataan nenek misterius tadi kembali terngiang di kepalanya. Setelah memahami arti perkataan sang nenek, Helga sudah tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Gadis itu memejamkan matanya sejenak sembari menghela napas pelan. "Haikal, mungkin ada alasan mengapa kita berdua sama-sama menunggu di tempat ini meskipun apa yang kita tunggu tidak pasti," ucap Helga berusaha untuk tetap tegar sembari menatap mata kecokelatan lelaki itu.

"Baik aku maupun kamu, kita semua belum menepati janji kita sampai janji itu terpenuhi, yakni saling bertemu di sini. Karena kita sudah memenuhi janji untuk bertemu di sini, kamu boleh pergi dengan tenang. Tapi, sebelum itu, bisa kamu peluk aku?" lanjut Helga sembari merentangkan tangannya.

Tanpa mengucapkan apa pun, Haikal langsung memeluk Helga dengan lembut. Helga memejamkan matanya di balik bahu Haikal. Pelukan sore itu terasa erat dan hangat. Ketika pelukan itu terlepas, Helga menatap sendu Haikal yang juga menatapnya dengan pandangan yang sama. "Selamat tinggal, Haikal."

"Selamat tinggal, Helga. Hiduplah dengan bahagia."

Setelah itu, tubuh Haikal yang tadinya tampak nyata bagi Helga perlahan mulai transparan dan menghilang seluruhnya. Kini, pertemuan antara Helga dan Haikal membuat gadis itu belajar satu hal: tidak semua yang pergi ingin dilupakan, dan tidak semua yang ditunggu layak dipertahankan.

"Sekarang, semuanya telah benar-benar berakhir."

Setelah itu, ia berbalik pergi meninggalkan halte, dan tidak pernah lagi menunggu di sana setiap pukul 17.30 sore.