Hari ini, aku ikut Bapak naik pesawat Cessna Caravan. Bapak bilang bahwa hari ini, tim Bapak akan "menghentikan awan hujan". Bersama BNPB dan TNI, kami terbang dan menyebarkan garam serta bubuk kimia khusus. Kalsium oksida namanya, kalau tidak salah.
Terbang keliling Jakarta, menakar bubuknya, menyebarkannya ke luar, mendengarkan cara kerjanya, lalu mendarat. Terkesan sederhana, ya? Tidak juga bagi pikiranku.
***
Kelompok Awan Kumulonimbus Radikal, disingkat KAK RADI, punya satu agenda hari ini.
"Sudah sepantasnya air turun ke bawah! Ayo, viralkan ke teman-teman sesama bulir air!"
KAK RADI bergerak dalam gugus awan besar, mendung, berisi bulir-bulir air yang siap turun ke bawah. Alarm BNPB berbunyi, "Ada awan mendung siap masuk Jakarta!" Dari situ, pesawat-pesawat TNI dan BNPB mulai menyala, siap terbang. Di dalam, ratusan kilogram bubuk siap tempur sedang berkumpul.
Ada dua divisi bubuk di dalam tiap pesawat: Natrium klorida dengan nama sandi "Garam Dapur" dan kalsium oksida dengan nama sandi "Kapur Tohor". Kedua divisi ini punya misi berbeda.
Divisi Garam Dapur, sesuai namanya, sering dipakai untuk makanan. "Saudaraku. Kita, Garam Dapur, dahulu melayani manusia dalam makanan. Hari ini, misi kita lebih penting: mencegah banjir!" Sersan Dapu berpidato berapi-api, "Ingat, misi kita adalah menyerap hujan. Paham?"
"SIAP, PAK!" jawab prajuritnya serempak.
Divisi Garam Dapur ini adalah pasukan dengan modifikasi khusus. Tubuh mereka lebih kecil dan halus dari garam dapur biasa yang bekerja di rumah. Ya, ukuran mereka 50 mikron, digiling sehalus mungkin oleh BMKG.
Lalu, ada pula Divisi Kapur Tohor. "Pasukanku," panggil Sersan Tohor, "Kalian kemarin sudah bekerja mengurus tingkat asam tanah dan air. Jadi, kalian tentu tahu tugas kalian, bukan?"
"YA, PAK!" jawab anggota-anggota Divisi Kapur Tohor.
"Sekarang, kita akan berperang melawan awan-awan yang akan mengancam tanah Jakarta. Mereka harus kita hentikan bersama, jangan sampai membuat Jakarta banjir. Paham?"
"SIAP!" Setelah mengiyakan komando Sersan Tohor, anggota Divisi Kapur Tohor mempersiapkan rompi pemanas dan pelontar granat anti-awan. Di selongsong peluru pelontarnya tertulis "EKSOTERMIS".
"APA MISI KALIAN?!"
"BUBARKAN AWAN HUJAN DENGAN PANAS!"
Sersan Tohor mengangguk bangga dengan semangat prajuritnya.
Cessna Caravan milik BNPB terbang meninggalkan Lanud Halim Perdanakusuma. Orang-orang BNPB dan TNI yang ada di dalam pesawat mempersiapkan bubuk-bubuk khusus itu dengan meletakkannya di dekat pintu pesawat.
"Lapor, kita telah mencapai ketinggian sembilan ribu kaki!" ucap salah satu pilot pesawat.
"Oke, siapkan garam dapurnya!" kata salah satu anggota BNPB. Para prajurit TNI mulai meletakkan Divisi Garam Dapur di depan pintu pesawat. Sersan Dapu dapat melihat langit di luar pesawat.
"Saudaraku sekalian, saya bisa melihat kumpulan pasukan KAK RADI di awan sana. Pratu Natrium, bantu saya amati mereka."
"Pak," Pratu Natrium memakai teropong, mengamati pergerakan sekelompok bulir air anggota KAK RADI, "Mereka sedang berpisah, bergerak cepat menuju Jakarta. Saya juga melihat beberapa bulir air sedang bersiap menyatukan diri."
"Baiklah. Semuanya, dengarkan saya baik-baik. KAK RADI berencana menyatukan diri begitu sampai di tanah Jakarta untuk memulai misi terjun payung. Kita nanti akan diturunkan dari pesawat. Siap-siap menyerap mereka sehingga kita bisa paksa mereka turun di Laut Jawa!"
"SIAP!" Seisi Divisi Garam Dapur menyiapkan tongkat dan memakai rompi dengan tulisan "HIGROSKOPIS" di kedua peralatannya.
"Ayo, turun!"
Bulir-bulir garam halus turun dari pesawat. "Ada musuh! Serap mereka!" teriak salah satu prajurit Divisi Garam Dapur, yang lainnya ikut menjawab teriakannya.
"Pak Kumulonimbus, ada sekelompok bulir halus ingin bergabung dengan kita! Hore!" teriak Hidro, salah satu bulir air KAK RADI, girang.
Pasukan Sersan Dapu mendarat di awan kumulonimbus. Sialnya, Pak Kumulonimbus tidak menyadari bahwa pasukan miliknya sedang "dipaksa turun" oleh Sersan Dapu.
"SERAAP!" Divisi Garam Dapur menyalakan tongkat dan rompi mereka. Bulir-bulir air yang sedang berkegiatan santai tiba-tiba tertarik kencang.
"TOLONG!" Ada yang baru saja bangun tidur, tiba-tiba terhempas kencang.
"Aduh!" Ada pula yang bertabrakan dengan bulir air lainnya.
Hampir semua bulir air di ketinggian sembilan ribu kaki tersedot Divisi Garam Dapur. Mereka yang menjadi anggota Pak Kumulonimbus hanya bisa melambai minta tolong sebelum akhirnya terpaksa jatuh ke Laut Jawa karena beban tubuh mereka semakin berat.
Harusnya mendarat di aspal Jakarta, malah jatuh di Laut Jawa. Serangan mereka terhenti dan bulir-bulir air Laut Jawa hanya bisa heran dengan banyaknya kaum mereka yang jatuh di laut.
Tapi, tunggu dulu. Serangan KAK RADI hanya terhenti, bukan gagal. Pak Kumulonimbus masih punya pasukan lain di "bawah", alias di ketinggian lima ribu kaki. "Untung punya pasukan cadangan di lantai bawah. Garam-garam gila itu sudah terlalu berat untuk berurusan dengan tentaraku di bawah!" Pak Kumulonimbus lanjut menertawakan kondisi saat ini, yakin benar pendaratannya di Jakarta akan berhasil.
Tenang saja, warga Jakarta. BNPB dan TNI tidak kehabisan akal dan amunisi. Mereka masih punya Divisi Kapur Tohor yang siap bertarung di ketinggian rendah, lima hingga enam ribu kaki.
"Pak, masih ada awan di ketinggian 5.000 kaki! Sebentar lagi, mereka akan mencapai Jakarta Utara!" lapor pilot pesawat penyemainya.
"Sebarkan kapur tohornya! Kita bubarkan awan-awan itu, pastikan mereka tidak masuk ke dalam tanah Jakarta!" Entah bagaimana caranya, Sersan Tohor dan prajurit TNI itu bisa mengatakan kalimat yang sama. "Siapkan pelontar kalian, pasukanku!"
Pelontar granat "EKSOTERMIS" teracung keluar dari setiap tangan Divisi Kapur Tohor. "Siap-siap melompat! Tembak mereka semua!"
"KITA EKSOTERMIS, KITA BUBARKAN AWAN DENGAN PANAS!"
Sementara itu, Pak Kumulonimbus hanya bisa menganga begitu pesawat penyemai milik BNPB itu terbang rendah dan menyebarkan butiran aneh lain bagai hujan bubuk.
Salah satu granat "EKSOTERMIS" itu mendarat di kakinya. "AWAS! GRANAT!"
DUAR! Seketika, bulir-bulir air radikal yang masih berkumpul di awan lima ribu kaki menghilang menjadi uap. Bulir-bulir air lain panik, mereka akan dimusnahkan.
"Menghilanglah!" teriak salah satu prajurit Divisi Kapur Tohor. Rompinya memanas, lalu memancarkan ledakan panas hingga bulir-bulir air yang ada menghilang, berubah menjadi kalsium hidroksida.
Dengan begitu, awan hari ini berangsur-angsur lebih stabil. Syukurlah pompa-pompa air di Jakarta sekarang bisa bekerja sedikit lebih santai. Walau hujan masih muncul di beberapa sisi dan beberapa tempat masih banjir, setidaknya hujan sekarang sudah terkendali.
Namun, BNPB, TNI, BMKG, dan dua divisi bubuk kimia itu masih terus berperang hingga cuaca di Jakarta bisa stabil. Operasi Modifikasi Cuaca tetap berjalan hingga hujan ekstrem berhenti.
Baca Juga
-
Analisis Pola Depresi dalam Film Rumah untuk Alie: Luka Akibat KDRT
-
Bencana Medis dari Piring Makan Yudis
-
Perbandingan Banjir Jakarta Dulu dan Sekarang: Cerita Warga Kelapa Gading Timur
-
Penerbangan Terakhir: Antara Lelaki Judol dan Wanita Korban Manipulasi
-
Tiga Ancaman Potensial Indonesia di Masa Depan dalam Hitam 2045
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Apakah Tretinoin Bisa untuk Anti Aging? 5 Rekomendasi Skincare Hempas Penuaan Dini
-
Anatomi Hoaks: Cara Mengenali Berita Palsu Hanya dari Judul dan Format
-
Pesona Kebun Anggur di Bawah Kaki Gunung Sinabung, Bisa PP dari Medan!
-
Anak Muda Wajib Tahu! 5 Tips Investasi Emas Jaminan Masa Depan Berkelas
-
Usai Cetak Sejarah, Hector Souto Kritik Standar Lapangan Futsal Indonesia