Bimo Aria Fundrika | Sendi Sudrajat
Setiap payung melindungi dari jenis “hujan” kehidupan yang tak terlihat
Sendi Sudrajat

Di sudut pasar lama ada toko payung tanpa papan harga. Anehnya, toko itu selalu kering meski hujan deras. Payung-payungnya tidak biasa: ada yang berwarna transparan berkilau, ada yang permukaannya seperti langit malam, ada yang terasa hangat saat disentuh.

Lukman masuk saat hidupnya terasa “hujan”—bukan cuaca, tapi rentetan masalah: pekerjaan goyah, hubungan retak, tidur buruk.

Penjaga toko berkata, “Kami tidak menjual payung untuk air. Kami menjual payung untuk hujan yang tidak kelihatan.”

Setiap payung diberi label jenis hujan: Hujan Penyesalan, Hujan Omongan Orang, Hujan Keraguan, Hujan Kenangan, Hujan Kemarahan Orang Lain. Cara kerjanya aneh—bukan dipakai di luar, tapi dibuka saat situasi emosional terjadi.

Lukman mencoba Payung Omongan Orang. Saat dibuka, suara kritik di sekitarnya terdengar lebih pelan, seolah volume diturunkan. Ia tetap mendengar isinya, tapi tanpa sengatan berlebihan. Payung Keraguan membuat pikirannya terasa lebih jernih saat harus memilih.

Namun setiap payung punya batas pakai. Jika terlalu sering digunakan, efeknya menurun dan pengguna menjadi kebal berlebihan—tidak lagi peka terhadap masukan penting. Seorang pelanggan lama digambarkan memakai payung kritik terus-menerus hingga tak bisa menerima saran apa pun.

Harga payung bukan uang, tapi kebiasaan. Untuk membawa satu, pembeli harus meninggalkan satu kebiasaan buruk di “laci tukar.” Lukman menukar kebiasaan menunda. Sejak itu ia merasa dorongan menunda melemah—seperti benar-benar tertinggal di toko.

Masalah datang ketika ia mencoba memakai banyak payung sekaligus. Efeknya saling bentrok: terlalu kebal, terlalu tenang, terlalu tidak peduli. Hidup terasa datar. Penjaga toko menegur—payung hanya untuk badai, bukan dipakai setiap saat.

Payung paling mahal adalah Payung Kejujuran Diri. Saat dibuka, seseorang tidak bisa lagi berbohong pada dirinya sendiri. Banyak yang mengembalikannya karena terlalu berat. Lukman mencobanya sebentar—dan langsung sadar beberapa pilihan hidupnya hanya demi terlihat berhasil.

Suatu hari toko itu tutup. Kios berubah jadi lapak kosong. Namun payung yang sudah dibeli tetap berfungsi, meski perlahan memudar seiring pemiliknya tumbuh lebih kuat tanpa alat bantu.

Lukman kini jarang membuka payung-payungnya. Ia menyimpannya sebagai pengingat: hujan hidup tidak selalu harus dihindari—kadang perlu dirasakan agar tahu seberapa kuat diri sendiri.