M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Suasana di Hutan Lestari (Gemini AI)
Ukhro Wiyah

Pagi itu, matahari baru saja naik dari balik perbukitan hijau di Hutan Lestari. Cahaya keemasan menembus sela-sela daun besar dan jatuh berkilauan di atas rumput yang masih basah oleh embun. Udara terasa segar, dan suara burung-burung bersahut-sahutan mengisi langit pagi.

Di dekat sungai yang airnya jernih mengalir tenang, berdirilah seekor gajah muda bernama Bima. Tubuhnya besar dan kokoh. Telinganya lebar seperti kipas, dan belalainya panjang menjuntai hampir menyentuh tanah. Namun, pagi itu Bima tidak tampak gagah. Ia menatap bayangannya di permukaan sungai dengan mata yang sayu.

"Aku terlalu besar," gumamnya pelan. Ia mengangkat kakinya yang lebar, lalu menjatuhkannya kembali ke tanah hingga terdengar suara "dug". Beberapa burung kecil yang sedang minum langsung terbang kaget.

Bima menghela napas panjang. Air sungai beriak oleh embusan napasnya sendiri.

Tak jauh dari sana, seekor monyet lincah bernama Raka melompat dari dahan ke dahan. Dengan gesit ia memetik buah mangga yang matang, lalu menggigitnya sambil bergelantungan terbalik.

"Bima! Kenapa kamu murung sekali pagi-pagi begini?" tanya Raka sambil berayun mendekat.

Bima tidak langsung menjawab. Ia menendang kerikil kecil hingga terlempar ke sungai.

"Lihat kamu," lanjut Raka ceria. "Kamu tinggi, kuat, dan besar. Kalau aku ingin mengambil daun paling atas, aku harus memanjat bersusah payah."

Bima menunduk. "Tetapi aku tidak bisa memanjat seperti kamu," katanya lirih. "Aku juga tidak bisa berlari secepat Kancil Sinta atau terbang seperti Elang Arjuna. Aku hanya... besar."

Raka terdiam sesaat. Ia menatap Bima, lalu menggaruk kepalanya. "Besar itu tidak selalu buruk, kan?"

Bima tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya ke arah pepohonan.

Siang hari datang dengan sinar matahari yang lebih terik. Hutan Lestari berubah ramai. Kupu-kupu beterbangan di antara bunga-bunga liar. Angin bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan hingga terdengar seperti bisikan.

Di tengah lapangan rumput, beberapa hewan berkumpul. Kancil Sinta berlari kecil mengelilingi lingkaran, diikuti kelinci mungil bernama Lala. Mereka sedang bermain kejar-kejaran.

"Ayo tangkap aku, Lala!" seru Sinta sambil tertawa.

Lala melompat cepat, tetapi tubuh kecilnya tidak mampu menyamai kelincahan Sinta.

Bima berdiri tidak jauh dari sana. Ia memperhatikan mereka bermain. Sesekali ia mencoba melangkah mendekat, tetapi ketika kakinya menginjak tanah, suara beratnya membuat tanah sedikit bergetar.

"Eh, hati-hati! Rumputnya jadi rusak!" teriak Lala tanpa sengaja ketika Bima melangkah terlalu dekat.

Bima berhenti. Ia melihat bekas jejak kakinya yang besar di tanah lunak. Rumput-rumput kecil tertekan rata.

"Maaf," katanya pelan, lalu mundur perlahan.

Ia berjalan menjauh menuju pohon besar di tepi hutan. Di bawah bayangan pohon itu, ia duduk pelan, membuat tanah sedikit ambles. Angin sore menyapu wajahnya, tetapi tidak mampu mengusir rasa sesak di dadanya.

"Aku selalu merusak," gumamnya. "Aku terlalu berat. Terlalu besar. Tidak ada yang bisa kulakukan dengan baik."

Menjelang sore, langit mulai berubah jingga. Cahaya matahari menembus di antara batang-batang pohon tinggi, menciptakan bayangan panjang di tanah. Bima masih duduk sendirian ketika suara berat namun lembut terdengar dari belakangnya.

"Kenapa kamu menyendiri, Bima?"

Itu adalah Pak Surya, gajah tua yang paling bijaksana di Hutan Lestari. Kulitnya lebih keriput dan langkahnya lebih lambat, tetapi sorot matanya hangat.

Bima menunduk. "Aku tidak berguna, Pak Surya."

Pak Surya tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping Bima, memandang hutan yang mulai redup oleh cahaya senja.

"Apa yang membuatmu berkata begitu?" tanyanya pelan.

Bima menarik napas panjang. "Aku tidak bisa memanjat, tidak bisa berlari cepat, dan setiap kali aku berjalan, tanah jadi rusak. Aku hanya merepotkan."

Pak Surya tersenyum tipis. "Apakah kamu tahu, dulu ketika musim kemarau panjang melanda hutan ini, siapa yang membantu menggali tanah untuk menemukan air?"

Bima menggeleng pelan.

"Kita," jawab Pak Surya. "Dengan kaki besar kita, kita menggali hingga air keluar dan semua hewan bisa minum."

Bima terdiam.

"Dan ketika pohon tumbang menghalangi jalan, siapa yang memindahkannya?"

Bima mulai mengingat. Ia pernah melihat Pak Surya mendorong batang pohon besar hingga bergeser.

"Tetapi itu Pak Surya... bukan aku," bisik Bima.

Pak Surya menatapnya lekat-lekat. "Kekuatan itu ada dalam dirimu juga."

Bima menunduk lagi, belum sepenuhnya percaya.

Malam datang dengan langit gelap bertabur bintang. Suara jangkrik memenuhi udara. Angin malam terasa lebih dingin. Bima berjalan pelan menuju tempat berkumpul kawanan gajah, namun pikirannya masih penuh keraguan.

Keesokan paginya, sesuatu yang berbeda terjadi. Langit yang biasanya biru cerah kini tertutup awan kelabu tebal. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Daun-daun beterbangan, dan suara dahan patah terdengar dari berbagai arah.

"Hujan besar akan datang!" teriak Raka dari atas pohon.

Tak lama kemudian, hujan turun deras. Air mengalir di sela-sela tanah, membentuk arus kecil yang semakin lama semakin deras. Sungai yang biasanya tenang mulai meluap. Di tengah kepanikan itu, terdengar teriakan kecil.

"Tolong! Tolong!" Itu suara Lala.

Bima menoleh cepat. Di tepi sungai, tanah yang licin runtuh. Lala terperosok ke dalam arus kecil yang kini menjadi deras. Tubuh mungilnya terbawa air.

Sinta berlari di tepi sungai, tetapi tidak bisa berbuat banyak. Raka mencoba turun dari pohon, namun arus terlalu kuat.

Bima berdiri terpaku sesaat. Jantungnya berdegup keras.

"Bima!" teriak Sinta. "Lala terbawa arus!"

Tanpa berpikir panjang, Bima berjalan secepat yang ia bisa. Tanah bergetar di bawah langkahnya. Ia masuk ke dalam sungai, air memercik tinggi membasahi tubuh besarnya. Arus menghantam kakinya, tetapi ia tetap berdiri kokoh.

Dengan belalainya yang panjang, ia menjulur ke arah Lala yang hampir tenggelam. "Ayo, Lala! Pegang belalaiku!" seru Bima.

Lala, dengan mata penuh ketakutan, meraih belalai itu. Bima menariknya perlahan, memastikan ia tidak terlepas. Air terus menghantam tubuhnya, tetapi Bima tidak mundur. Dengan satu tarikan kuat, Lala berhasil terangkat dari air dan diletakkan di tepi sungai yang aman. Lala terbatuk kecil, tubuhnya gemetar.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bima, suaranya lembut meski napasnya terengah.

Lala mengangguk pelan. "Terima kasih, Bima."

Hujan masih turun, tetapi kini semua mata tertuju pada gajah besar yang berdiri di tengah sungai itu.

Setelah hujan reda, langit perlahan cerah kembali. Matahari muncul di balik awan, memantulkan cahaya keemasan di genangan air. Hutan Lestari berkilau seperti baru saja dimandikan cahaya. Di bawah pohon besar, semua hewan berkumpul.

"Kalau bukan karena Bima, Lala pasti terbawa arus lebih jauh," kata Raka.

Sinta mendekat dan tersenyum. "Kakimu memang besar, Bima. Tetapi tadi justru itu yang membuatmu bisa berdiri kuat di sungai."

Bima menunduk, tetapi kali ini bukan karena sedih. Ia memandangi kakinya yang masih basah oleh lumpur.

Pak Surya melangkah maju. "Kamu lihat sendiri, Bima. Tidak semua kekuatan terlihat saat kita membandingkan diri dengan orang lain. Namun, saat dibutuhkan, kekuatan itu akan menemukan waktunya."

Bima mengangkat wajahnya perlahan. Angin sore menyapu telinganya. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa terlalu besar. Justru ia merasa tepat.

Lala menghampirinya dan memeluk kakinya. "Aku senang kamu besar, Bima," katanya polos. Tawa kecil terdengar di antara mereka.

Bima tersenyum lebar. Ia menatap hutan di sekelilingnya. Pohon-pohon tinggi, sungai yang kini kembali tenang, langit yang biru bersih. Ia mengangkat belalainya tinggi-tinggi dan meniupkan suara panjang ke udara, suara yang bergema hangat di seluruh Hutan Lestari.

Kini, setiap kali ia melangkah dan tanah sedikit bergetar, Bima tidak lagi merasa bersalah. Ia tahu, di dalam tubuh besarnya, ada kekuatan yang bisa melindungi, membantu, dan menjaga. Dan di tengah hutan yang luas itu, seekor gajah bernama Bima akhirnya menyadari bahwa dirinya tidak pernah benar-benar tidak berguna.