Sekar Anindyah Lamase | Hafsah H.
Ilustrasi Labirin Waktu (Gemini AI)
Hafsah H.

Dinding ruang besuk itu dingin dan lembap, sewarna dengan hatiku yang sedang kalut. Aku duduk di depan jeruji besi, menanti sosok yang seharusnya tidak berada di sana.

Tak lama, pintu besi berderit. Rio muncul dengan kawalan ketat dua orang polisi. Tangannya terborgol, tapi langkah kakinya tetap ringan. Yang membuatku geram, ia masih sempat melemparkan senyum ceria ke arahku, seolah-olah statusnya sebagai tersangka pembunuhan Pak Ahmad dan perusakan laboratorium nasional hanyalah sebuah lelucon.

"Kau ini gila, ya?" desisku saat ia duduk di depannya. "Dengan otakmu dan kemampuan yang kau punya, kau bisa saja dengan mudah kabur dari tempat ini, Rio. Tapi mengapa sampai sekarang kau masih betah mendekam di balik tempat kotor ini?"

Rio menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras, matanya berkilat jenaka. "Tenanglah, Peter. Aku di sini bukan karena menyerah. Aku masih menyelidiki sesuatu untuk keperluan penelitianku," jawabnya santai, seolah penjara adalah perpustakaan pribadinya.

Aku hanya bisa menghela napas panjang. Rio adalah seorang jenius sains yang melampaui zaman. Namun, dia bukan sekadar ilmuwan. Dia memiliki kemampuan magis yang sulit dinalar akal sehat, termasuk rahasia tentang perjalanan waktu.

Kunjungan itu berakhir singkat karena jam besuk habis. Namun, keajaiban terjadi sesaat setelah aku kembali ke laboratorium kami yang setengah hancur. Saat aku sedang meratapi sisa-sisa tabung reaksi yang pecah, sebuah tepukan di bahu membuatku melonjak.

"Rio?!" aku berteriak. Ia sudah berdiri di sampingku, tanpa borgol, tanpa seragam tahanan. Ia telah kabur dari penjara hanya dalam hitungan menit.

"Jangan banyak tanya dulu," potongnya cepat sebelum aku sempat mengomel. "Peter, ambilkan aku etanol dan aldehida. Cepat! Kita akan membuat ramuan 'lubang waktu'."

Tanganku gemetar saat mencampur bahan-bahan kimia itu di bawah instruksinya. "Kenapa kita harus melakukan ini?" tanyaku.

"Kita hanya bisa berjalan mundur ke masa lalu," terang Rio sambil mengaduk larutan yang mulai bergejolak.

"Kenapa tidak ke masa depan agar kita tahu cara menangkap pelakunya?"

Rio menatapku tajam. "Karena masa depan masih bisa berubah, tapi masa lalu menyimpan kebenaran yang terkubur. Aku bukanlah tersangka kasus peledakan itu. Aku ingin pelaku yang sebenarnya tertangkap dan namaku dibersihkan.

"Ramuan itu berubah menjadi merah intens, memancarkan cahaya yang menyedot kesadaran kami. Dalam sekejap, pemandangan laboratorium yang hancur berganti menjadi laboratorium yang utuh dan sibuk. Ini adalah hari itu—hari di mana proyek antikanker kami mencapai puncaknya.

Aku melihat diriku sendiri di masa lalu sedang sibuk di depan mikroskop. Di sudut lain, Rio sedang memegang tabung reaksi. Aku ingat momen ini.

Rio sempat memintaku mengambilkan tambahan aldehida di lemari bahan yang terletak di ujung koridor. Saat aku pergi itulah, ledakan besar terjadi, merenggut nyawa Pak Ahmad, kepala laboratorium kami yang bijaksana.

"Sembunyi, Peter!" bisik Rio (dari masa depan) sambil menarikku ke balik lemari besar.

Kami mengamati dari jarak jauh. Tak lama kemudian, sosok yang tidak asing masuk dengan mengendap-endap. Itu Niko, teman kuliah kami yang selama ini pendiam.

Di tangannya, ia membawa botol berisi alkali dengan tingkat kebasaan tinggi. Aku tahu zat itu, jika bereaksi dengan air dalam kondisi tertentu di meja eksperimen kami, ledakan termal tak terelakkan akan terjadi.

Sebelum Niko sempat menuangkan zat tersebut, Rio muncul dari balik bayangan dan memergokinya. "Niko, kau sedang apa?" tanya Rio dingin.

Niko tersentak, botol di tangannya hampir jatuh. Di saat yang sama, Rio (masa depan) mengarahkan ponselnya, merekam setiap gerik dan ekspresi ketakutan Niko.

"Aku... aku ingin mengacaukan proyek kalian!" teriak Niko tiba-tiba dengan nada suara yang penuh kebencian. "Kalian selalu menjadi 'mahasiswa emas' di mata dosen! Kalian punya segalanya, sementara aku? Aku diabaikan seperti sampah!"

Suaranya bergetar hebat. "Bukan hanya itu, Rio. Najma... gadis yang sangat kucintai, dia lebih memilihmu. Kau mengambil segalanya dariku!"

Konflik memuncak dalam hitungan detik. Niko yang sudah kehilangan akal sehat menyerang Rio dengan botol asam kuat. Terjadilah pertarungan kimiawi yang mengerikan di depan mataku. Niko melemparkan larutan besi (Fe) yang korosif, tapi Rio dengan sigap menggunakan energi dari seng (Zn) yang memancarkan cahaya biru terang untuk menangkis serangan itu.

Nahas, cairan asam yang dilempar Niko meleset. Cairan itu mengenai wajah dan dada Pak Ahmad yang kebetulan baru saja melangkah masuk ke ruangan untuk memeriksa kemajuan kami.

Pak Ahmad jatuh pingsan, dan dalam kekacauan itu, percikan api menyambar gas yang bocor. Ledakan pun terjadi. Inilah bukti otentik yang kami butuhkan: Rio hanyalah korban fitnah, dan kematian Pak Ahmad adalah kecerobohan Niko yang fatal.

Dengan rekaman di tangan, kami kembali ke masa depan menggunakan mesin traveler. Tanpa membuang waktu, aku segera menyerahkan bukti itu kepada dua polisi yang menangani kasus ini, Erik dan Bara. Aku merasa lega, mengira keadilan akan segera tegak.

Namun, Rio tidak sepertiku. Wajahnya tetap tegang. "Peter, ada yang tidak beres dengan tatapan mata polisi-polisi itu. Kita harus memastikan sesuatu."

Rio mengeluarkan sebuah batu zamrud hijau tua. Dengan gumaman cepat, kami terbang menuju "Dimensi Cahaya Bintang", sebuah ruang magis yang memungkinkan kami bergerak tak kasat mata di dunia nyata. Dengan bantuan debu stronsium yang ia tebarkan, kami menyusup ke ruang penyelidikan tertutup di kantor polisi.

Di sana, aku melihat Erik dan Bara sedang merokok sambil menghapus file dari sebuah komputer.

"Kita sudah sepakat dengan Niko kalau Rio adalah tersangka dalam kasus ini," ucap Bara dengan nada rendah yang licik. "Uang suap dari Niko sudah cukup untuk membiayai kita setahun ke depan. Hapus video itu."

Darahku mendidih. Ternyata korupsi telah merasuki hingga ke tulang-tulang hukum. Tapi Rio tetap tenang. Ia membekukan ruangan itu dengan debu biru magis, membuat waktu seolah berhenti bagi kedua polisi korup itu.

Dengan jarinya yang lincah, ia mengambil alih komputer mereka dan mengunggah video bukti kejahatan Niko langsung ke situs resmi kepolisian dan berbagai media sosial agar viral dalam sekejap.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan prosedur jika prosedurnya rusak, Peter. Kita harus menegakkan keadilan dengan cara kita sendiri," tegas Rio.

Rencana itu berhasil total. Video tersebut memicu kemarahan publik yang luar biasa. Niko akhirnya dikeluarkan dari universitas dan ditangkap di tempat persembunyiannya.

Erik dan Bara juga tidak bisa mengelak; mereka dipecat secara tidak hormat dan dijatuhi denda serta hukuman penjara. Keadilan telah tegak. Namun, saat aku ingin merayakannya dengan makan malam mewah, aku melihat Rio justru terduduk lesu di kursi laboratorium kami. Matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam.

***

"Aku ingin memastikan Niko baik-baik saja di penjara," ujar Rio tiba-tiba.

Aku terperanjat. "Apa? Kenapa? Bukankah ia telah mencoba melenyapkanmu? Dia membunuh Pak Ahmad secara tidak langsung dan hampir membuatmu membusuk di penjara!"

Rio menatapku dengan mata yang basah. "Apa yang dikatakan Niko tempo hari ada benarnya, Peter. Selama ini kita terlalu sibuk dengan kejeniusan kita sendiri. Kita bukanlah teman yang baik bagi dia.

Di saat dia butuh pengakuan atau bantuan pelajaran, kita seakan tidak mau tahu dan terkesan cuek. Kita egois dengan duniamu dan duniaku."

Aku terdiam. Kata-katanya menamparku. Kami memang sering menganggap remeh orang lain yang tidak selevel secara intelektual. Akhirnya, aku setuju untuk menemaninya.

Kami mendatangi Niko di penjara. Pertemuan pertama sangat buruk. Niko meneriaki kami dari balik kaca, "Apa maumu? Aku sudah muak melihat mukamu! Puas kau melihatku begini?"

Rio hanya menundukkan kepala. "Aku ingin minta maaf, Niko. Tulus. Andai waktu itu aku dan Peter tidak egois dan lebih memperhatikanmu sebagai teman, pasti semua ini tidak akan terjadi."

Aku juga ikut menggumamkan permintaan maaf. Awalnya Niko sangat keras kepala, tapi ketulusan Rio yang konsisten mulai melunakkan hatinya. Selama 17 hari berturut-turut, tanpa absen, kami menjenguk Niko. Rio bahkan melakukan hal yang luar biasa: ia meminjamkan buku catatan "sakti"-nya—berisi rumus-rumus rahasia yang ia temukan—agar Niko tetap bisa belajar dan mengembangkan potensinya meski di dalam sel.

Hubungan kami membaik secara drastis. Kami mulai berdiskusi tentang kimia organik dan fisika kuantum melalui telepon di ruang besuk. Niko mulai tersenyum kembali. Ia berjanji akan menjadi orang yang lebih baik saat keluar nanti.

Namun, pada hari ke-17, atmosfer penjara terasa berbeda. Aku dan Rio menunggu di ruang besuk selama lebih dari 30 menit. Niko tak kunjung muncul. Aku mulai tidak sabar dan hendak berdiri untuk bertanya kepada sipir dengan nada tinggi.

Namun, sebelum aku sempat berteriak, seorang sipir menghampiri kami. Langkah kakinya berat, wajahnya muram, dan ia tidak membawa Niko bersamanya.

"Kalian teman dari Niko?" tanya sipir itu dengan suara serak.

Kami mengangguk cepat. Perasaanku mulai tidak enak.

Sipir itu menghela napas panjang, menatap kami dengan tatapan iba yang menghancurkan hati. "Saya minta maaf. Niko ditemukan tidak bernyawa di selnya pagi tadi. Serangan jantung mendadak. Tim medis tidak sempat menyelamatkannya."

Duniaku serasa runtuh. Aku menoleh ke arah Rio. Buku catatan yang ia bawa untuk didiskusikan hari ini jatuh ke lantai yang kotor.

Keadilan mungkin telah tegak, namun kemenangan ini terasa seperti kekalahan yang paling menyakitkan dalam hidup kami. Kami berhasil memperbaiki hubungan, tapi semesta tidak memberi kami waktu untuk merayakannya.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS