Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Ilustrasi Cerpen Puasa Pertama Fahri (Gemini AI)
Angelia Cipta RN

Ramadan, bulan penuh berkah dan semua kebaikan dilipat gandakan. Pagi itu cuaca cerah sekali dan matahari terasa lebih panas dari biasanya. Langit biru yang jelas ditambah angin yang bertiup perlahan membuat udara menjadi gerah dan amat gerah.

Fahri, siswa kelas dua yang kini tengah duduk di bangku kelasnya sambil menatap botol minum teman di sebelahnya. Tenggorokannya kering, bibirnya lengket, dan kepalanya terasa berat. Hari ini adalah puasa pertamanya sampai penuh, dan hari itu baru saja memasuki jam keempat mata pelajaran, sekitar jam 10.00.

“Sedikit lagi, ayo tahan Fahri jangan tergoda.” gumam Fahri dalam hati. Ia mencoba mengingat pesan ibunya saat sahur, “Puasa itu latihan hati, bukan lomba siapa paling kuat.” Namun latihan itu terasa sangat berat hari ini.

Saat pulang sekolah, langkah Fahri terasa melayang tanpa daya. Ia berjalan lebih lambat dari biasanya, sesekali menelan ludah yang terasa pahit. Ketika sampai di rumah, suasana sunyi. Ibunya sedang membantu tetangga yang sakit, sementara adiknya tidur siang.

Fahri meletakkan tasnya perlahan di atas meja. Ia masuk menuju kamar, lalu berhenti di depan dapur. Di atas meja, ada teko air dengan gelas bening yang memantulkan cahaya. Tenggorokan Fahri seperti berteriak.

“Cuma seteguk saja,” bisiknya pelan.

Ia menoleh ke kanan dan kiri, rumah sunyi dan sepi. Tidak ada siapa-siapa. Tangannya gemetar saat meraih gelas kaca. Fahri menahan napas, lalu meminum air itu cepat-cepat. Air dingin mengalir, menyegarkan, menenangkan tapi hanya sesaat melegakan tenggorokannya yang sedari pagi kering.

Begitu gelas diletakkan kembali, dada Fahri terasa sesak.

“Astaghfirullah, Ya Allah.” Napasnya tercekat, matanya pun ikut terbelalak.

Ia berdiri terpaku. Air yang barusan terasa nikmat kini berubah menjadi beban berat di hatinya. Fahri merasa seolah ada sesuatu yang runtuh di dalam dirinya. Ia duduk di kursi dapur, menunduk dan menatap lantai.

Seharian itu, Fahri tak lagi merasa haus. Tapi perasaannya jauh lebih berat dari rasa haus mana pun. Saat adzan Ashar berkumandang, ia tak beranjak dari tempatnya. Saat ibunya pulang dan bertanya kabarnya, Fahri hanya mengangguk kecil karena merasa menyesal.

Menjelang Maghrib, Fahri duduk di sudut ruang tamu. Tangannya menggenggam ujung sajadah. Ketika adzan berkumandang, semua orang bersiap berbuka. Fahri ikut duduk, tapi ia tak menyentuh apa pun. Kurma di depannya terasa asing.

“Ibu, Fahri nggak lapar,” katanya lirih.

Ibunya menatapnya lembut, lalu mengangguk tanpa bertanya. Namun Fahri tahu, ada sesuatu yang harus ia katakan.

Malam itu, setelah shalat Isya, Fahri ikut ke masjid untuk tarawih. Ia berdiri di shaf kedua, tepat di belakang ayahnya. Bacaan imam terdengar pelan dan menenangkan. Namun di dada Fahri, ada ombak yang terus berdebur.

Saat rakaat ketiga, air mata Fahri jatuh tanpa suara. Ia menunduk lebih dalam. Dadanya naik turun. Ia merasa kecil dan sangat kecil.

Usai tarawih, Fahri menarik ujung lengan ibunya. Matanya merah, suaranya bergetar.

“Ibu, Fahri mau ngomong.”

Mereka duduk di serambi masjid yang sepi. Lampu kuning menggantung, memantulkan bayangan lembut di lantai.

“Ibu, tadi siang Fahri minum air di dapur,” katanya akhirnya. Suaranya pecah. “Fahri minum diam-diam, hari ini panas dan Fahri haus banget. Kira-kira Allah marah tidak ya, bu dengan Fahri?”

Ibunya terdiam sejenak. Fahri menunggu takut dimarahi, takut kecewa, takut ibunya sedih. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Ibunya menarik Fahri ke dalam pelukan hangat dan erat. Seperti pelukan yang sudah menunggunya sejak lama.

“Terima kasih sudah jujur pada Ibu,” kata ibunya lembut. “Ibu bangga sama Fahri.”

Fahri terisak. “Tapi puasa Fahri hari ini batal, Bu.”

Ibunya mengangguk. “Iya, puasanya batal. Tapi hati Fahri tidak. Yang membuat puasa itu indah bukan karena kita tidak pernah salah, tapi karena kita berani mengakui kesalahan dan mau memperbaiki diri agar bisa lebih baik lagi.”

Fahri mengangkat wajahnya. “Jadi, Fahri masih anak baik? Allah masih mau memaafkan Fahri?”

Ibunya tersenyum. “Sangat baik. Fahri anak yang jujur dan berani bertanggung jawab. Allah juga maha pemaaf, asal kamu tidak mengulanginya lagi.”

Malam itu, Fahri tidur lebih nyenyak dari biasanya. Hatinya ringan. Seperti ada batu besar yang akhirnya bisa dilepaskan.

Keesokan harinya, Fahri kembali berpuasa. Kali ini lebih berat. Tapi juga lebih bermakna. Setiap kali haus, ia teringat pelukan ibunya. Setiap kali lelah, ia teringat bahwa Allah Maha Pengampun.

Saat bedug dipukul keras dan adzan Maghrib berkumandang, Fahri menatap kurma di tangannya. Ia tersenyum kecil.

“Akhirnya, terima kasih, Ya Allah sudah menguatkan Fahri hari ini.” katanya.

Fahri belajar bahwa menjadi baik bukan berarti tidak pernah jatuh. Menjadi baik adalah berani bangkit, berkata jujur, dan mencoba lagi dengan hati yang lebih kuat juga ikhlas.

Dan Ramadhan itu, Fahri tidak hanya belajar menahan haus, tapi ia juga belajar menjadi manusia yang lebih jujur dan kuat memerangi hawa nafsu.