Hujan turun tipis ketika lelaki itu muntah di wastafel toko. Air keran menyala terus, menggerus sisa asam lambung yang menempel di porselen kusam. Bau besi dari pipa bercampur aroma lembap kardus tua yang menumpuk di sudut ruangan. Di cermin kecil yang retak di pojok, wajahnya tampak seperti milik orang yang sudah terlalu lama kurang tidur.
“Kalau belum siap, transaksi bisa dibatalkan.”
Suara pemilik toko datang dari balik tirai manik-manik. Lelaki itu meludah sekali lagi sebelum membilas mulutnya pelan-pelan. Tenggorokannya panas dan pahit seperti habis menelan baterai. Ia menarik napas panjang lalu kembali ke ruang depan tanpa menjawab.
Tokonya sempit dan terlalu biasa untuk tempat yang menjual hal-hal semacam itu. Hanya ada satu meja kasir, kipas angin berdebu, serta rak-rak kayu berisi stoples kaca tanpa label. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan seperti nyamuk yang terjebak di botol. Dari sela lantai keramik yang retak, terdengar suara air mengalir terus-menerus di bawah bangunan tua itu.
Pemilik toko duduk sambil mengupas jeruk. Usianya sulit ditebak; rambutnya putih, tetapi tangannya halus seperti tangan pegawai kantor yang tidak pernah mengangkat barang berat. Ia mendorong formulir lusuh ke atas meja dan menunjuk kolom kosong di tengahnya. “Ingatan mana yang ingin dijual?”
Lelaki itu diam cukup lama sampai suara kipas terdengar seperti dengung lebah di kepalanya sendiri. Ia mengusap telapak tangan ke celana jeans yang lembap oleh hujan. “Rumah sakit,” jawabnya akhirnya dengan suara serak. Pemilik toko mengangguk kecil, seolah jawaban itu sudah terlalu sering didengarnya.
“Spesifik.”
Lelaki itu menelan ludah sebelum menatap meja kasir yang penuh bekas rokok. “Malam terakhir istri saya.” Tangan pemilik toko berhenti mengupas jeruk selama beberapa detik, lalu kembali bergerak perlahan. Kulit jeruk jatuh satu per satu seperti potongan kuku berwarna oranye.
Di atas meja ada alat perekam sebesar radio tua dengan kabel yang dililit isolasi hitam. Permukaannya penuh goresan kuku dan noda sidik jari yang tidak pernah dibersihkan. “Pegang ini,” kata si pemilik toko sambil mendorong dua lempeng logam dingin ke arah lelaki itu. “Pejamkan mata. Jangan melawan ketika ingatannya mulai ditarik.”
Lampu neon berkedip sekali sebelum semuanya datang kembali dengan kasar. Bau cairan pembersih rumah sakit memenuhi kepalanya sampai ia hampir muntah lagi. Ia mendengar suara sepatu perawat mencicit di lantai dan bunyi monitor detak jantung yang terlalu lambat. Jari istrinya terasa dingin ketika digenggam, dingin yang aneh untuk tubuh orang yang masih hidup.
Ia ingat kotak nasi di samping ranjang yang belum disentuh sejak sore. Nasinya keras dan ayam gorengnya berminyak dingin. Istrinya tertidur karena obat, atau mungkin pura-pura tidur supaya tidak perlu melihat wajahnya yang ketakutan. Lalu tengah malam datang bersama suara batuk pendek dan bercak darah di selimut putih.
Ia ingat tidak langsung bergerak. Selama tiga detik penuh, ia hanya duduk memandangi perempuan yang tanda lahir di lehernya sudah ia hafal luar kepala selama satu dekade terakhir, kini tampak seperti orang asing yang sedang tenggelam. Tangannya gemetar di atas kotak nasi dingin sementara napas istrinya mulai patah-patah. Setelah itu barulah ia panik, berteriak, dan memanggil dokter yang datang terlalu lambat.
Ketika lelaki itu membuka mata, pipinya sudah basah oleh air mata yang tidak terasa jatuh. Pemilik toko mematikan alat perekam, lalu menuangkan cairan hitam dari stoples kecil ke dalam saluran pembuangan di bawah wastafel. Cairan itu mengalir pelan bersama air keran dan lenyap di balik pipa tua berkarat.
“Sudah selesai,” katanya pendek.
Lelaki itu memandangi wastafel itu tanpa mengerti kenapa tengkuknya mendadak dingin. Pemilik toko menyalakan keran lebih besar sampai suara air memenuhi ruangan sempit tersebut. “Di kota ini tidak ada limbah yang benar-benar hilang,” katanya sambil mengelap tangan dengan kain kusam. “Mereka cuma mengalir ke tempat lain yang lebih rapuh.”
Lelaki itu mencoba mengingat wajah istrinya di rumah sakit, tetapi detail-detailnya mulai kabur seperti foto yang terlalu lama kena matahari. Ia tahu istrinya mati, tetapi rasa sesak yang biasanya datang bersama ingatan itu hilang begitu saja. Dadanya terasa ringan sekaligus kosong.
“Efek samping biasa,” kata si pemilik toko. “Kadang kehilangan luka terasa seperti kehilangan organ.”
Udara malam terasa dingin setelah hujan ketika lelaki itu berjalan menuju halte. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, kepalanya benar-benar sunyi. Ia naik ke bus setengah kosong dan duduk dekat jendela yang basah oleh embun. Tiga kursi di belakangnya, seorang anak perempuan berseragam sekolah duduk bersama ibunya sambil memeluk tas kecil warna biru.
Bus baru berjalan beberapa menit ketika suara tangis kecil mulai terdengar. Awalnya pelan, lalu berubah menjadi sesenggukan yang membuat seluruh penumpang menoleh. Anak perempuan itu membungkuk sambil mencengkeram dadanya sendiri seperti menahan sesuatu yang tajam dari dalam. “Napas... napas...” katanya terbata sambil menangis.
Ibunya panik dan mencoba memeluknya, tetapi anak itu terus menatap lurus ke kursi kosong di depannya. Air matanya jatuh deras sementara tubuh kecilnya gemetar hebat. “Jangan mati...” bisiknya lirih sambil mencengkeram rok ibunya. “Ayamnya dingin... nasinya keras... jangan mati...”
Lelaki itu membeku. Seluruh darahnya seperti ditarik turun ke telapak kaki. Itu bukan sekadar kalimat acak; itu adalah malam yang selama berbulan-bulan membusuk di kepalanya sendiri. Anak kecil itu tidak hanya menerima kesedihannya, tetapi sedang dipaksa menyaksikan kematian seorang perempuan asing di kamar rumah sakit yang bahkan tidak pernah ia lihat.
Anak perempuan itu perlahan menoleh ke arahnya. Tatapan mereka bertemu beberapa detik yang terasa terlalu lama. Dan di detik itu, lelaki tersebut melihat sesuatu yang familier: ketakutan yang selama ini hidup di dalam dirinya kini pindah ke mata bulat anak kecil itu. Ia mendadak merasa seperti pengecut yang baru saja melempar bangkai busuk ke pangkuan seorang anak agar rumahnya sendiri bersih.
Bus kembali melaju perlahan di bawah hujan. Orang-orang masih sibuk menenangkan anak perempuan itu ketika lelaki tersebut menatap pantulan wajahnya di kaca jendela. Matanya bersih dari air mata dan dadanya terasa lapang, seringan kapas. Namun, demi keheningan egois itu, ia tahu ia baru saja menyerahkan seorang anak kepada monster yang sama yang hampir menghancurkannya. Di belakangnya, tangis anak perempuan tadi terus mengoyak malam, menangisi kematian seorang perempuan yang tidak pernah ia kenal.
Baca Juga
-
Dibalik Wajah Sempurna: Mengupas Ain, Horor Psikologis Tentang Bahaya Menjadi Pusat Perhatian
-
Misteri Inkubator Tujuh: Sisi Gelap Ruang Perinatologi
-
Kenapa Istirahat Laki-laki Dianggap Kebutuhan, Tapi Bagi Perempuan Itu Kemewahan?
-
Dari Chat 5 Menit Menjadi FBI Kasur Lipat: Saat Cinta Menjadi Obsesi
-
Pertemanan Tanaman Plastik: Tampak Hidup di Story, Mati di Kehidupan Nyata
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
BABYMONSTER Siap Comeback Bawa Single Baru Bulan Juni, Sugar Honey Ice Tea
-
Tembus 1 Juta Penonton, Inilah Alasan Colony Jadi Film Korea Paling Viral
-
Sapu Bersih AMAs 2026: BTS Buktikan Dominasi Global Lewat Album Arirang!
-
Sinopsis The Marked Woman, Film Thriller Netflix Dibintangi Ana Rujas
-
Pesta Babi dan Luka di Tanah Papua