M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi lelaki di hutan (Unsplash/Annie Spratt)
Tika Maya Sari

Kabut tipis melingkupi pepohonan sengon putih menjulang, dan membatasi penglihatan. Ketika cahaya matahari menembus kisi-kisi udara, terciptalah kabut keemasan yang cantik, menyerupai sepuhan cahaya hangat. Ada aroma tanah basah, dan hawa sejuk penuh ketenangan. Berpadu dengan kicau burung-burung entah jenis apa, tetapi yang jelas ada burung derkuku dengan cuitan khasnya: derkuku.

Aku sendiri duduk termenung di tepi jalan tanah, tepatnya duduk di atas pokok kayu tumbang, seraya menyesap kopi hitam. Lantas aku terkekeh seorang diri. “Dimana lagi aku berada sekarang?”

“Ayo ikut aku.” Aku menoleh ke asal suara, dan kudapati seorang lelaki sedang duduk di atas sadel sepeda lama. Fasadnya mirip dengan sepeda zaman kolonial. Kalau dalam dialek bahasaku, sepeda itu disebut: sepeda unta. “Kita keliling-keliling naik sepeda.”

“Kita?” tanyaku memastikan. “Aku nggak bawa sepeda.”

Lelaki itu lantas mengedikkan bahu ke arah belakang. Seolah memberitahuku bahwa dia bakal memboncengku naik sepeda itu. “Kubonceng?”

Entah keberanian dari mana, aku menyetujuinya. Jadilah kini aku duduk di boncengan sepeda unta, dan lelaki ini mengayuh pedal dengan bersemangat.

“Ini dimana?” tanyaku memastikan. “Bukan dunia ghaib kan?”

Terdengar kekehan renyah lelaki itu. “Mungkin dunia maya?”

Kupukul pundaknya yang disambut dengan tawa kencang. Entahlah, rasanya dia sangat familiar, dan senantiasa muncul dengan busana hitam. Kali ini dirinya tampil dengan kaos hitam, celana training panjang hitam, sepatu olahraga hitam, dan bahkan jam tangan hitam yang kontras dengan kulit cerahnya. Aku jadi curiga dia tipe cowok mamba.

Anehnya, aku tidak pernah mampu melihat wajahnya dengan jelas. Selalu saja ada bayangan dedaunan yang menutupi. Namun, masih bisa kudapati garis rahangnya yang kokoh, dan garis bibir yang manis sewaktu lelaki ini tersenyum atau tertawa.

“Kamu siapa sebetulnya? Apakah kamu ini Zhang Linghe?” tanyaku lagi. Sebab, dia tidak pernah memberitahuku namanya.

“Zhang Linghe tidak bisa berbahasa Indonesia,” ucapnya sembrono.

“Oh, atau apakah kamu ini Cha Eunwoo?”

“Aku tidak bisa bicara bahasa Korea,”

“Kalau begitu, Keonho Cortis?”

Lelaki ini terdiam sejenak. Kemudian memberikan jawaban gila yang membuatku mencubit pinggangnya. “Mungkin iya.”

Mluku Tradisional dan Petualangan Nekat di Pohon Jambu

Lelaki ini melajukan sepeda unta melewati jalanan yang belum diaspal, alias jalan tanah. Kami menyusuri jalanan naik turun dan berliku mirip lanskap pegunungan yang mengingatkanku pada jalanan di daerah Kasembon, Malang.

Selepas kami melintasi area hutan homogen yang dipenuhi pohon sengon putih, sampailah kami di area sawah dan ladang. Di mana aktivitas membajak sawah sedang berlangsung. Kudapati beberapa lelaki tampak menyapu peluh di dahi, dan membetulkan caping anyaman bambu mereka, di sela aktivitas mluku (membajak sawah dengan cara tradisional, dan melibatkan hewan ternak seperti sapi atau kerbau.)

Sawah dipenuhi oleh lumpur, dan petani yang terjun membajak sawah. Sementara itu, di belakang mereka ada sekumpulan burung-burung blekok yang mengikuti.

“Berkediplah. Ekspresimu macam orang yang tidak pernah melihat sapi saja.”

Kulirik sinis lelaki yang kini melajukan sepeda dengan pelan, tidak sekencang tadi. “Mengganggu proses healing-ku saja.”

“Kau suka healing ke alam?”

“Iya,” kataku ketus. “Lebih tenang, sejuk, dan dingin. Kalau bepergian ke mal yang ada malah makin pusing melihat banyak manusia.”

“Lagakmu macam orang kaya saja. Ingat, kau juga entitas manusia.”

Aku tertawa, dia ikutan tertawa. Kami lantas terus menyusuri jalanan, dan sampailah kami ke pemukiman penduduk. Desain rumah-rumah di sini mirip rumah gaya lama, dan bukan desain minimalis ala modern. Kebanyakan masih berdinding anyaman bambu, beratap jerami, dan modelnya seperti rumah panggung. Jarak antara satu rumah dengan yang lain cukup jauh, dan nyaris masing-masing rumah memiliki pagar hidup berupa tanaman beluntas, hingga tanaman singkong. Dari atap bagian belakang salah satu rumah, ada asap tipis yang menguar. Menjadi penanda bahwa mereka memasak menggunakan tungku kayu bakar.

“Nih, buatmu.”

Aku menerima buah-buah berry liar yang dia ulurkan. Mengingat kami juga melintasi semak tanaman berry liar di sisi jalan yang lain. “Wah, ini pencurian.”

Lelaki ini tertawa kembali, sebelum menghentikan laju sepedanya. “Ayo mencuri jambu.”

Kuikuti arah pandangnya, dan kudapati ada satu pohon jambu biji setinggi tiga meteran yang berbuah ranum. “Kamu jangan gila lho, ya. Masa kita mau nyolong—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, lelaki ini sudah berlari meninggalkanku dan sepeda, dan dia segera memanjat pohon jambu. Dengan sigap, dia memetik buah yang masak. Dalam beberapa menit saja, lelaki ini sudah mendapatkan banyak buah jambu biji dan langsung mengajakku kabur dari sini.

Anjay, aku baru saja melakukan tindak kriminal mencuri jambu biji!

Sentilan Mahoni dan Kabut Kesadaran yang Lenyap

Setelahnya, dia mengajakku berkeliling-keliling daerah ini. Beberapa kali, lelaki ini juga mencuri buah-buahan lainnya, dan kami segera lari tunggang langgang. Barulah di tepi jalan yang agak jauh dan terletak di bawah bukit, kami menikmati semua buah-buahan ini.

“Wah, jambu bijinya manis sekali!” komentarku. “Mana besar-besar lagi buahnya.”

“Sewaktu aku hendak memunguti buah mahoni tadi, kau malah melarangku.”

Aku tersenyum kecut. “Mahoni itu pahit. Mana bisa dimakan?!”

Lelaki ini berdecak malas. “Hanya karena pahit, bukan berarti tidak bisa dimakan. Mahoni itu bisa dijadikan obat.”

“Iya, tapi aku tidak mau makan mahoni. Rasanya pahit, macam empedu.”

“Memangnya kau pernah makan empedu?”

Aku memberikan lirikan sinis yang dia balas dengan cengengesan. Namun lagi-lagi, wajahnya tertutup bayangan dedaunan. Postur tubuhnya tampak tinggi tegap, dan rambut pendeknya betul-betul mengingatkanku pada aktor Zhang Linghe atau malah Cha Eunwoo. Namun aku tahu, dia bukanlah keduanya.

“Dengan teknologi yang ada di duniamu, kau bisa mencari tahu bahwa buah mahoni tidaklah pahit dengan sia-sia.” Lelaki itu lantas bersiul bersama burung-burung. “Dan pahit obat itu menyembuhkan, sedangkan manis gula buatan itu mengerikan.”

Kulempar dia dengan satu buah jambu gelas. “Memangnya di duniamu ada gula buatan?”

Sesuai dugaan, lelaki itu terbahak. “Begitupun saat kau menemukan kepahitan hidup, jangan langsung menjauh. Siapa tahu, kepahitan itulah mengobati jiwamu.”

Kurasakan embusan angin di sekeliling kami, diikuti dengan kabut yang turun lebih awal. Suasananya mulai pekat karena kabut menebal, dan eksistensi lelaki ini mulai tertutup. Namun, sepasang mata segarisnya yang bukan mata manusia, masih terlihat jelas, sebelum segalanya lenyap.

Lenyap. Gelap. Kecuali sinar matahari yang menyoroti kisi-kisi jendela berdebu. Menciptakan satu garis lurus dengan debu-debu menari, dan kesadaran penuh bahwa ini masih siang hari.