Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Senja dan Cinta yang Berdarah (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Mungkin penggalan kalimat terkenal milik Seno Gumira Ajidarma inilah yang paling tepat menggambarkan isi buku Senja dan Cinta yang Berdarah.

Buku setebal lebih dari 800 halaman ini bukan sekadar kumpulan cerita pendek biasa. Melainkan semacam arsip sosial, politik, dan emosional Indonesia yang ditulis selama puluhan tahun.

Diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, buku ini menghimpun 84 cerpen Seno yang pernah dimuat di Harian Kompas sepanjang 1978 hingga 2013. Cerita-cerita tersebut disusun secara kronologis berdasarkan tahun terbitnya, sehingga pembaca tidak hanya menikmati karya sastra, tetapi juga menyaksikan perkembangan cara berpikir dan teknik menulis Seno dari masa ke masa.

Isi Buku

Saat membaca buku ini, pembaca seperti sedang membuka kapsul waktu. Cerpen yang ditulis pada era 1980-an atau 1990-an ternyata masih terasa relevan dengan keadaan sosial hari ini. Kritik terhadap kekuasaan, absurditas birokrasi, kekerasan, ketimpangan sosial, hingga ironi kehidupan modern terasa begitu dekat dengan realitas sekarang.

Tulisan-tulisan Seno seolah menolak menjadi usang.

Cerpen pertama dalam buku ini, misalnya, menghadirkan seorang lurah yang terus-menerus mencuci tangan karena merasa tangannya selalu kotor. Premis sederhana itu berubah menjadi sindiran surealis tentang rasa bersalah, kekuasaan, dan kemunafikan manusia.

Lalu di cerpen lain, pembaca bisa tiba-tiba bertemu tokoh yang hendak berkelahi dengan tetua desa, zombie gondrong korban pembunuhan misterius, hingga dering telepon yang berlangsung selama seratus tahun.

Perpindahan tema yang sangat liar ini mungkin terasa mengejutkan, tetapi justru membuat pengalaman membaca menjadi hidup.

Karena cerpen disusun berdasarkan tahun terbit, bukan berdasarkan tema, pembaca seperti diajak berjalan dari satu dunia ke dunia lain tanpa aba-aba. Kadang absurd, kadang romantis, kadang lucu, lalu mendadak berubah menjadi sangat kelam.

Namun di balik semua keanehan dan imajinasi itu, hampir selalu ada kritik sosial yang tajam.

Salah satu kekuatan terbesar Seno Gumira Ajidarma memang terletak pada kemampuannya membungkus kritik politik dengan bahasa sastra yang puitis dan simbolik. Pada masa ketika kebebasan pers dibatasi, sastra menjadi ruang alternatif untuk berbicara.

Hal itu terasa kuat terutama dalam cerpen-cerpen tentang tragedi Dili dan kekerasan negara. Seno tidak menulis dengan gaya jurnalistik yang lugas, tetapi menggunakan metafora, surealisme, dan fragmen emosional yang justru membuat tragedi terasa lebih menyakitkan.

Cerpen seperti Sepotong Senja untuk Pacarku bahkan telah menjadi salah satu karya sastra Indonesia modern paling ikonik. Senja di tangan Seno bukan sekadar latar romantis, melainkan simbol kehilangan, kerinduan, dan harapan yang terus dicuri dari manusia.

Selain itu, buku ini juga memperlihatkan evolusi gaya menulis Seno. Pada karya-karya awal, ia lebih banyak menulis tema eksistensialisme dan absurditas hidup secara langsung. Namun memasuki tahun-tahun berikutnya, cerpennya semakin dipenuhi kritik sosial dengan pendekatan yang lebih eksperimental dan imajinatif.

Perubahan itu terasa jelas ketika membaca cerpen seperti Grhhh!, Dodolitdodolitdodolibret:), atau Aku, Pembunuh Munir. Imajinasi liar bertemu dengan realitas sosial-politik Indonesia yang brutal.

Kelebihan dan Kekurangan

Meski begitu, membaca Senja dan Cinta yang Berdarah bukan pengalaman yang selalu mudah. Ketebalannya saja sudah cukup mengintimidasi. Ditambah lagi, beberapa cerpen menggunakan gaya surealis dan simbolik yang membuat pembaca harus berhenti sejenak untuk mencerna maknanya.

Ada juga beberapa cerpen yang disunting ulang dan mengalami perubahan judul. Bagi pembaca lama Seno, hal ini mungkin terasa mengganggu karena nuansa asli cerpen terasa sedikit berubah.

Namun di luar itu, buku ini tetap menjadi salah satu kumpulan cerpen paling penting dalam sastra Indonesia modern.

Menariknya lagi, Seno mampu menulis cerita yang terasa sangat “Indonesia”, tetapi tetap universal. Kesepian, ketakutan, kekuasaan, cinta, kekerasan, dan absurditas hidup manusia terasa bisa dipahami siapa saja, lintas generasi.

Mungkin itulah alasan mengapa cerpen-cerpen lama dalam buku ini masih terasa relevan hari ini.

Buku ini adalah rekaman zaman, ruang perlawanan, sekaligus bukti bahwa sastra dapat berbicara jauh lebih lantang ketika kenyataan berusaha dibungkam.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Senja dan Cinta yang Berdarah
  • Penulis: Seno Gumira Ajidarma
  • Penerbit: Penerbit Buku Kompas
  • Tahun Terbit: 2014
  • Tebal: 842 Halaman
  • ISBN: 978-979-709-851-3
  • Kategori: Antologi Cerita Pendek, Fiksi