Mereka menanyakan nama ibuku. Berulang kali. Begitu terus. Begitu terus. Aku sudah menyebutkannya hingga lidahku pegal, tapi mereka tetap tidak percaya. Alhasil, mereka lemparkan pertanyaan itu kepada orang lain. Dan orang lain tersebut—pada akhirnya—tetap kembali kepadaku lagi, meluncurkan secarik pertanyaan itu, “Dek.” Mereka menatap wajahku begitu dekat, begitu dalam. Mataku sedikit silau dengan sorot penasaran yang sangat terpancar dari kedua bola mata mereka. “Siapa nama ibumu?”
Terkadang, aku hanya diam. Membalikkan badan. Pergi. Akan tetapi, mereka terus menarik lenganku seolah-olah aku adalah penjahat kelas kakap. Setara dengan preman pasar yang sudah merampok ribuan lembar uang. Terpaksa, aku harus menyebutkan namanya lagi. Nama ibuku. Berulang kali. Berulang kali. Begitu terus. Begitu terus.
Setiap kali nama itu dirapalkan, luka di balik dadaku kian membesar.
“Namanya,” aku menghela napas, “Ramadan.”
“Ramadan?”
Aku mengangguk. Lekas, mereka membalas anggukanku dengan keheningan yang begitu mendengung. Sudah kubilang, bukan? Mereka pasti tidak mempercayaiku. Sama halnya dengan hari kemarin ketika ibu masih mampu menginjakkan kaki di tanah ini, di bawah bintang-bintang malam—menyusuri gang kecil bersamaku yang menggenggam tangannya erat, takut diculik setan. Tapi, kata ibu, “Semua setan dibelenggu saat bulan Ramadan.” Dan aku baru sadar selama ini—penderitaanku—tidak semuanya serta-merta ulah dari tabiat setan.
Mereka mengabaikanku. Matanya bahkan tidak menatapku atau daun telinganya sama sekali tidak bergerak ketika aku menangkupkan tangan: memohon. Menunduk-nunduk. Bersujud-sujud. Lalu, diusir oleh pemilik warung. Kali ini, air muka mereka masih sama. Bedanya, mereka membalas perkataanku. Melihatku. Mendengarkanku. Namun, dengan binar mata yang terpancar terik ketidakpercayaan. Ujung-ujungnya pasti begini:
“Bisakah saya lihat kartu identitas ibumu?”
Kartu identitas? Untuk apa? Dulu, kata ibu, kartu identitas hanyalah untuk orang-orang yang bekerja di gedung-gedung besar—tempat kesukaan kami untuk beristirahat sejenak di bawah kanopinya yang begitu menyejukkan. Karena orang-orang itu bekerja di gedung-gedung besar, nama dan kekayaan mereka pun sama besarnya, jadilah butuh kartu identitas tersebab banyak orang yang mencari namanya. Layaknya melihat sebuah situs patung besar dan megah, pasti kau akan bertanya tentang namanya, bukan? Begitulah. Orang-orang lumpur macam kami, mana perlu kartu identitas? Di antara gedung-gedung besar ini, orang-orang besar ini, dan kendaraan-kendaraan besar ini: kami hanyalah batu-batu kerikil dalam kubangan yang mesti dibuang, mesti dibersihkan.
Untungnya, aku dan ibu adalah dua kerikil yang bisa berjalan. Melarikan diri.
“Bu,” tengah malam, aku membangunkan ibu yang berbantalkan tangan. “Aku mau puasa,” kataku. “Jam berapa kita akan sahur?”
Ibu mengucek-ngucek kedua matanya yang bengkak, kemudian duduk. Menggaruk-garuk sebentar wajahnya yang kian berkoreng. Aku mampu mencium seberkas aroma anyir dan amis menguar dari tiap-tiap guratan bernanah di sekujur parasnya. “Kau tidak usah puasa,” balas ibu dan kembali merebahkan diri. Tidur. “Biar ibu saja yang esok berpuasa.”
“Tapi,” aku kembali menggoyangkan tubuhnya yang sekering ranting. “Aku tidak pernah berpuasa, Bu. Anak-anak seusiaku sudah mulai berpuasa.”
“Kau belum balig, Arman. Tidak apa-apa.”
Aku berhenti menggoyangkan tubuhnya. Termenung sejenak. “Bu,” aku meneruskan pembicaraanku. “Apakah salah jika aku mau mencoba untuk berpuasa?”
Lengang. Seekor kecoak melintasi rumah kardus kami. Daun telingaku menangkap bunyi kaki-kakinya yang bergerigi di atas sebentang kardus yang sudah lapuk ini. “Tidak salah,” lirih ibu. “Tapi biar ibu saja yang esok berpuasa.”
Pagi datang, ibu benar-benar melaksanakan perkataannya, sama seperti yang ia lakukan saat hari-hari biasa, tidak hanya bulan Ramadan. Ibu menyodorkanku sebungkus nasi kucing yang entah tangannya dapat dari mana. Lalu, aku buka bungkusan itu. Melahapnya. Menghabiskannya. Sesekali aku menyodorkannya balik ke sosok ibu yang tengah menggaruk-garuk luka kulitnya, tapi kepalanya yang setengah botak menggeleng. Memberikan raut muka menolak. “Ibu puasa.” Tapi, aku paham betul ibu tidak berpuasa atau tidak melakukannya dengan benar: sebab malam itu, ibu tidak pernah sahur. Begitu pula malam-malam berikutnya.
Terkadang, ketika waktu buka dan kami pergi ke salah satu masjid yang suka memberi takjil gratis—aku mengunyah makanan-makanan itu sembari menatap langit malam yang dibalut suara azan Magrib. Lembayung yang perlahan-lahan memudar. Awan-awan membentuk pola indah yang begitu teratur. Lekas, usai menatap langit itu, aku melihat wajah ibu. Pasti, di balik permukaan kulitnya yang memerah dan mengeluarkan cairan kuning, ada kerlap-kerlip bintang yang tersembunyi. Aku tahu paras ibu mirip dengan langit itu—langit ketika bulan Ramadan datang. Jelita. Cantik. Layaknya sekuntum anggrek putih.
Sebab, selain menatap langit yang dibalut suara azan Magrib, aku pula acap kali menatap langit tatkala gema ibadah tarawih menjelma gumpalan-gumpalan udara. Menggantikan awan-awan. Ketika hampir terlelap, mataku spontan melirik ke arah utara, ke arah sosok ibu yang telah memejamkan mata di atas tanah yang masih basah, di sebelah kubangan air yang suara kutu-kutu airnya begitu renyah. Kala itu, kardus yang menjadi tempat tidur ibu diambil seseorang. Mungkin, oleh gelandangan lain yang sama seperti kami. Namun, baik tanpa kardus atau tidak, ibu masih bisa terlelap. Paras wajahnya seperti hendak bersinar, tapi dihalangi oleh luka-luka itu yang semakin menjamur. Menggerogoti usianya.
“Kau mau ibumu sembuh?” Anto serta-merta mendatangiku di tepi jalan raya dan menawariku sesuatu.
“Tentu. Memangnya kenapa?”
Biasanya, Anto mendatangi diriku hanya untuk mengambil koin-koin yang telah kudapatkan dengan banjir peluh dan gigil kedinginan. Atau ia merengek-rengek meminta kardus yang ingin kubawa pulang sebagai pelengkap rumahku dengan ibu. Tapi, hari itu berbeda. Tumben-tumbenan ia mau membantuku. “Tanda balas budi,” katanya. Lekas, kami menuju pasar kota. Menyusuri gang-gang sempit. Di sana, katanya terdapat toko yang menjual barang-barang magis. “Salah satunya bisa menyembuhkan penyakit ibumu,” jelasnya.
Kami sampai di toko itu ketika ibadah tarawih sebentar lagi bubar. Anto berkata, tugasku hanya mengangguk-angguk. Jangan lebih dari tiga kali. Di depan toko itu, aku melihat sebuah spanduk. Namun, aku tidak bisa membacanya. Bukan karena aku tidak bersekolah dan kurang fasih dalam mengeja, tapi karena tulisan itu semuanya berbahasa China. “Betul, Koh,” kulihat Anto mendadak berderai air mata. “Ibunya sakit kulit. Wajahnya dipenuhi oleh kudis dan luka-luka mengerikan lainnya. Betul, Man?”
Anto mencubit belakang pinggangku. Aku terkejut, tapi kepalaku sontak mengangguk.
“Baik,” lelaki itu melihatku sebentar kemudian membalikkan badan. Tampak ingin mengambil sesuatu. Sayang, aku tidak mendengar perbincangan mereka sebelumnya tersebab pandanganku pangling terhadap pelbagai perhiasan yang berjejer-jejer macam ikan teri di dalam kaca-kaca milik mereka. “Tunggu di sini,” katanya.
Pintu dibuka. Langkah kaki semakin terdengar jauh dari saluran pendengaran kami. Namun, entah kenapa Anto malah masuk. Menghampiri perhiasan-perhiasan itu. Mengambilnya satu per satu.
“Apa yang kau lakukan?”
Anto tersenyum.
Setiap kali kami lewat, entah itu di depan gedung-gedung besar atau gedung-gedung kecil, orang-orang besar atau orang-orang kecil, mereka semua menyebut satu nama itu: Manunggulo. Dan, aku begitu benci mendengarnya.
“Dengar-dengar ia menyuruh mereka berdua untuk menjadi penipu.”
“Pencuri!”
“Sudah sakit kulit, tapi tidak mau introspeksi diri, ya?”
“Azab!”
“Gelandangan itu mempunyai dua anak? Aku baru tahu.”
“Ya.” Biasanya ketika kalimat-kalimat itu menghujani tubuh kami berdua seperti batu besar, aku gegas menarik tubuh ibu yang tertatih-tatih untuk berjalan lebih cepat. “Dan orang pesakitan itu masih bisa-bisanya untuk memanfaatkan mereka. Menjadi seorang pencuri perhiasan emas di toko China!”
Aku berusaha membikin ibu berjalan lebih cepat, tapi tidak bisa. Akhir-akhir ini, langkahnya semakin tertatih-tatih. Kadang, aku harus menuntunnya agar tidak tersandung batu kecil. Luka-luka di wajahnya pun semakin bertambah parah. Aku tidak mampu menjelaskannya secara rinci tersebab melihatnya saja lautan di perutku sudah bergelombang. Beriak. Berombak-ombak. Makanan yang kutelan lantas terombang-ambing. Ingin gegas keluar dari mulutku. Tapi, kupikir perut ibu tidak melakukan hal itu. Lebih dari tiga hari dirinya terus berpuasa. Tanpa sahur.
Tidak ada lagi yang memberi kami makanan di tepi jalan. Apalagi, ketika kami datang, orang-orang itu sudah mengusir kami terlebih dahulu. Mereka masih tetap menyebut-nyebut nama itu: Manunggulo. Aku baru tahu nama asli ibu. Kendati demikian, aku begitu benci mendengarnya. Sebab, setiap kali nama itu disebutkan: hatiku merasa pedih dan nyeri dalam satu waktu. Seolah-olah mereka melekatkan nama itu dengan pelbagai luka borok yang telah menjadi penghuni tetap di sekujur paras ibu.
“Bu,” aku mendorong tangannya yang—entah dari mana—masih mendapatkan sebungkus nasi kucing. “Biar hari ini aku yang berpuasa. Ibu jangan. Aku dengar dari pengajian di masjid lewat speaker, orang-orang sakit tidak boleh berpuasa. Maka dari itu, ibu tidak boleh berpuasa!”
Ibu diam saja ketika mendengar penolakanku. Lekas, ditaruhnya bungkusan nasi kucing itu. Di antara kedua tubuh kami yang saling menatap canggung. Beberapa menit berlalu, ibu menggaruk-garuk wajahnya. Merebahkan diri. Tertidur. Bungkusan nasi kucing itu masih dalam posisi sediakala: menghadap ke arah utara. Terbungkus dua buah karet berwarna merah muda.
Dalam mataku yang terpejam, terdapat terik kebingungan yang berusaha menembus celah-celah kelopak mataku. Aku betul-betul heran. Kenapa ibu tidak pernah mau membiarkanku berpuasa? Baik di bulan Ramadan atau bulan-bulan seterusnya. Kenapa ibu tidak membiarkanku untuk beribadah? Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku berpuasa. Atau kapan terakhir kali aku memperingati hari ray–
Sebentar. Aku mendengar rintihan ibu. Ibuku merintih. Bibir keriputnya merintih! Gegas, tubuhku terangkat. Tanganku mengambang di udara, memegang keningnya yang ternyata begitu panas, serupa air mendidih. Jantungku berdebar. Permukaan kulitku bergetar. Aku berdiri. Menengok kanan dan kiri: aku bingung harus melakukan apa. Tapi, aku tahu aku harus meminta pertolongan. Segera, telapak kakiku bergerak. Berlari sejauh-jauhnya. Berhenti ketika melihat satu manusia yang tengah berjalan atau melakukan apa pun. Yang terpenting: manusia.
Namun, aku agak meragukan malam itu, apakah aku betul-betul bertemu dengan para manusia.
“Jangan. Dia anaknya Manunggulo. Kau tahu? Gelandangan yang berwajah seram itu…”
“Aduh! Jauh-jauh, deh!”
“Mau berbuat tipu lagi kau? Mau mencuri lagi? Mana kakakmu?”
Mereka tidak mempercayaiku. Mereka pasti tidak akan mempercayaiku. Dengan demikian, biarlah sorot rembulan, gema ibadah tarawih, dan kerlap-kerlip bintang di bulan Ramadan yang mempercayaiku—yang dengan rela menyinari rumah kardus kami saat itu—bahwa tubuh ibu betul-betul begitu panas, begitu mendidih. Lalu, aku merengkuh kedua bahunya yang ringkih. Memeluknya erat. Membikin bungkusan nasi kucing itu menjadi satu dari sekian saksi yang melihat wajah ibu perlahan berubah. Menyatu dengan rembulan. Menyatu dengan kerlap-kerlip bintang. Menyatu dengan gema ibadah dari bibir-bibir para pejuang.
Maka, setiap kali mereka bertanya tentang nama ibuku—orang-orang kota itu atau polisi-polisi itu—aku tentu tidak akan menyebutnya dengan kata ‘Manunggulo’. Sebab, malam itu—lebih dari wujud ‘Manunggulo’ yang mereka sering kali sebut—aku betul-betul melihat dan menyadari bahwa selama ini ibuku berparas cantik. Secantik lantunan ayat suci yang terus mengawang-ngawang di langit bulan Ramadan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Solidaritas Mokel Berjamaah, Mengapa Jadi Tren?
-
ShopeeFood Temani Momen Ramadan dengan Diskon Kuliner dan Promo Seru Setiap Hari
-
Mandi Wajib Setelah Subuh Bikin Puasa Tidak Sah? Ternyata Begini Faktanya
-
Cara Daftar Mudik Gratis Pos Indonesia 2026, Cek Syarat dan Rute Perjalanan
-
Takjil dari Masa Depan
Cerita-fiksi
Terkini
-
Satu Universe Dua Judul: Lee Jong Suk dan Lee Jun Hyuk Siap Bikin Pusing Silsilah TK Group
-
WNA Rasis di Medsos: Bisa Nggak Sih Dijerat Hukum Indonesia?
-
Paramount Tawar Tinggi, Netflix Pilih Mundur dari Akuisisi Warner Bros
-
Solidaritas Mokel Berjamaah, Mengapa Jadi Tren?
-
3 Pilihan Cream Blush Murah untuk Pemula: Mudah Dibaurkan dan Tahan Lama!