Mak Rusidah mengerutkan kening sambil memandang Sindi lekat-lekat. Di hadapannya, perempuan dengan kaos yang basah di bagian leher oleh keringat, masih mengangsurkan nasi kotak kepadanya.
“Mak, ini punjungan dari Mbak Yuli. Sabtu besok nyepiti anaknya, ya,” katanya sekali lagi. Dalam hati ia mengeluhkan respons Mak Rusidah yang bikin pekerjaannya makin lama.
“Anak yang nomer berapa, Sin?” sahut Mak Rusidah agak senewen. Akhirnya ia menerima juga kotak tersebut.
“Yang nomor dua,” jawab Sindi cepat. “Permisi, ya, Mak. Masih mau nganter punjungan lagi.” Ia lekas-lekas balik badan, sambil menyangking tas kresek besar berisi belasan nasi kotak.
Masih cemberut, Mak Rusidah membuka tutup kotak, hendak membaca nama empunya hajat yang tercetak pada selembar undangan fotokopian. Tepat di saat itu anaknya muncul dari kamar.
“Siapa lagi, Mak?” tanyanya mendekat. Emaknya memonyongkan bibir.
“Nih, baca sendiri,” Mak Rusidah menyorongkan kertas undangan itu ke muka anaknya. “Nasinya Mak taruh di meja. Kondangan lagi, kondangan lagi. Pada nggak kira-kira yang punya hajat, mbrudul semua kayak jamur musim ujan….”
Agus menerima kertas itu. Ia mengelus dada mendengar omelan emaknya. Setelah wanita paruh baya tersebut berlalu ke meja makan barulah pemuda berambut keriting ini membaca undangan. Matanya menelusuri nama si empunya hajat. Tertera nama seorang anak laki-laki bernama Fandi, yang bakal dirayakan khitanannya. Mulut Agus membulat ketika membaca nama ibu si Fandi.
“Yulia Prabasari?” desisnya.
Nama itu membangkitkan kenangan putih abu-abu puluhan tahun silam. Mereka dulu pernah jadi pasangan kekasih yang cukup tenar. Agus si keriwil, dan Yulia anak OSIS. Suatu kombinasi ajaib, mengingat reputasinya sebagai biang onar yang senang memanjat gunung. Namun barangkali itulah daya tariknya di mata Yulia yang berpembawaan serius.
Bibir lelaki pertengahan tiga puluh tahun ini tersungging miring. Dan kini kekasih SMA-nya itu mengirimkan punjungan walimatul khitan anaknya. Sementara ia sendiri masih melajang hingga kini. Agus menghempaskan pantatnya ke kursi ruang tamu. Refleks, ia mengipasi wajahnya dengan kertas tersebut.
Ia baru tahu jika Yulia kini tinggal tak jauh dari rumahnya. Mungkin karena selama ini mereka tak pernah berpapasan di jalan. Atau bisa jadi perubahan fisik masing-masing sama-sama membuat pangling, andaipun bertemu di luar. Yang jelas, ia bersyukur Emak tak mengetahui fakta ini. Bisa berabe nanti.
“Aguuuus!” Panggilan dari arah dapur membuat Agus tersentak dari kembara pikiran. Ia tergopoh-gopoh mendekat. Ada apa lagi, nih?
Mak Rusidah rupanya tengah berusaha memasang tabung gas. “Pasangin, gih! Kesel emak. Sampe gas juga janjian bikin jengkel. Hih!”
“Waduh, Mak!” Agus terlonjak akibat kakinya terkena lemparan obeng. Emaknya betul-betul murka.
**
Bulan besar alias bulan haji memang musim orang hajatan. Entah siapa yang memulai tradisi ini. Yang jelas, sejak hari pertama lebaran kemarin undangan berturut-turut datang. Agus paham sumber kerisauan emaknya. Satu kali kondangan sama dengan amplop berisi uang dua puluh lima ribu, jumlah paling minim yang masih dianggap patut oleh masyarakat. Nah, kalikan saja dengan sepuluh undangan. Sementara pendapatan emaknya, sebagai penjual sayur matang dan gorengan, itu fluktuatif.
Padahal Agus berulangkali sudah menghibur emaknya. Ia siap menanggung amplop kondangan. Karena penghasilannya sebagai pegawai kantor swasta yang masih lajang, terhitung lebih dari cukup untuk menyelesaikan pengeluaran tak terduga seperti itu. Jadi seharusnya masalah amplop begini tidak perlu Emak besar-besarkan.
Kecuali, ada penyebab lain yang bikin Emak uring-uringan, batin Agus.
“Gus, jangan lupa mulai minggu depan jam empat sore. Anak-anak udah pada nagih diajar sama kamu,” ucap Sugeng, memutus lamunan.
Lelaki itu berkesip-kesip. Sejenak ia lupa saat ini sedang berada di rumah Sugeng, sahabat sejak zaman kuliah. Mereka tengah membahas kegiatan mendongeng untuk mengisi waktu liburan anak sekolah, di musala lingkungan. Kegiatan sosial berbasis pendidikan semacam itu adalah panggilan jiwa keduanya yang terus berlanjut hingga kini, walaupun Sugeng telah berkeluarga.
“Oh, eh, siap. Udah banyak yang daftar, ya?”
Sugeng menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lelaki berkumis tipis ini bisa mengira-ira ada keruwetan di kepala Agus. Namun ia tak ingin bertanya lebih jauh.
“Ya, gimana, sih? Kan, udah kukasih tahu sejak tadi,” tegurnya pelan.
Agus meringis, merasa bersalah. Ia memang sedang tak fokus. Tiba-tiba Shayna datang menghambur ke pangkuan Sugeng. Balita itu minta perhatian ayahnya yang tak kuasa menolak. Sugeng segera berdiri dan mengayun-ayun tubuh putrinya. Shayna tergelak-gelak riang. Agus hanya tersenyum simpul menyaksikan pameran kasih sayang tersebut.
“Ayo, Shayna, ikut ibu. Jangan ganggu ayah dan Om Agus, Nak,” suara lembut Dasih memanggil putrinya. Istri Sugeng itu mengangguk sopan kepada Agus. Shayna menurut setelah dibujuk jalan-jalan ke musala, melihat anak-anak mengaji.
Setelah mereka beranjak pergi, Sugeng menoleh, dan terkekeh kecil melihat tampang temannya. “Kenapa, Gus? Jadi kepingin berkeluarga?”
Agus tersenyum kecut. “Aelah, ntar juga kalo udah masanya tiba, ya, aku juga berkeluarga. Sekarang biarin jadi jomlo happy,” tangkisnya.
“Aamiin. Tapi jangan kelamaan, ya?” balas Sugeng.
Lawan bicaranya hanya cengar-cengir tak jelas. Tak lama obrolan mereka kembali ke topik semula.
**
Malam belum terlalu larut. Mak Rusidah sudah mengambil posisi favoritnya, duduk selonjor di dipan depan televisi sembari bersandar pada bantal yang ditumpuk tinggi. Layar kaca menayangkan sinetron kesukaannya. Namun, pikiran perempuan lima puluh delapan tersebut sedang menjelajah ke tempat lain. Sesekali ia menghela napas, masygul. Agus mendekat perlahan, lalu duduk di lantai dekat kaki emaknya.
“Mak, capek, ya? Agus pijat biar enakan, ya?” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung memijat bagian betis hingga telapak kaki. Ia sayang pada emaknya, satu-satunya orang tua semenjak bapak meninggal saat Agus kelas dua SMA. Mereka saling mendukung selama itu.
Ia mengamati garis-garis halus yang telah muncul di wajah sang emak. “Mak, kenapa, sih, marah-marah saban terima undangan? Emang uangnya kurang, ya?” Agus membuka percakapan dengan hati-hati.
Mak Rusidah menjawab pelan. “Emak sedih, Gus, jadi merasa diingatkan soal kamu yang masih membujang,” suara emaknya sedikit bergetar.
Hmm, sudah kuduga ini penyebabnya, batin Agus.
“Apalagi omongan si Sawi, si Minah, bikin emak sakit hati. Masa kamu dikira homo?” sentak Mak Rusidah dengan suara meninggi.
Agus tertegun. Pantas saja Emak uring-uringan begini. Tajam amat lidah tetangga sini!
“Mak, Mak percaya, kan, kalo semua sudah diatur sama Gusti Allah?” sahutnya pelan. Emak tak menjawab.
“Mungkin sampe sekarang Agus masih jomlo biar bisa puas-puasin berbakti ke Emak. Mungkin akan lain ceritanya umpama Agus dah punya istri, apalagi anak,” tambahnya. Mak Rusidah menatapnya berkaca-kaca.
Agus bangkit dan ikut duduk di sebelah Emak. Diraih dan diciumnya punggung tangan kanan Mak Rusidah.
“Yang penting, Mak, Agus hepi dan normal. Soal jodoh, doakan anakmu ini biar dapat yang nggak cuma baik dan sayang ke Agus, tapi juga ke Emak,” tuturnya lembut.
Mak Rusidah tertawa kecil. Dalam hatinya muncul setitik kelegaan, dan harapan yang kembali menyala. Hampir saja ia lupa menitipkan keresahannya kepada Yang Maha Kuasa.
Cilacap, 290526
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Astra TV Awards 2026 Resmi Umumkan Lima Nominasi untuk Best Anime Series
-
Vivo X300 FE Hadir Global: Desain Mirip iPhone, Kamera Kelas Profesional
-
Samsung dan Google Luncurkan Kacamata Pintar AI: Era Baru Wearable Technology Dimulai
-
Ulasan Film 172 Days: Kisah Romansa Hijrah yang Menyentuh Hati dan Iman
-
V8 Resmi Debut! Unit Vernon dan The8 SEVENTEEN Siap Rilis Album pada Juni