M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
Ilustrasi perempuan di padang rumput (Unsplash/Oliver Pacas)
Tika Maya Sari

“Tanah ini dulunya adalah tanah kerajaan lama,” ucap Lek Salim di suatu hari. “Aku saja pernah menemukan beberapa mustika dan batu akik merah delima.”

“Kerajaan apa, Lek? Majapahit?” tanya Firda sambil lalu. “Atau negeri Ngamarta dan Ngastina?”

Lek Salim berdecak malas. “Bukan. Tapi kerajaan kuno. Tanah ini, yang mana merupakan pekarangan rumahku, pekarangan rumahmu, sampai ke utara sana milik pak polisi Hernawan itu dulu kan menyatu. Ya itu lokasinya.”

“Berarti, tanah milik Mbah Rumanto dulu itu?”

“Iya, atau malah lebih luas lagi.”

Firda hanya mengangguk-angguk tanpa memikirkannya secara dalam. Toh, Lek Salim sendiri memang tertarik pada hal-hal metafisika, dan hobi mengoleksi keris, hingga cincin batu akik. Tipe manusia kuno dan kolot, yang menyukai hal-hal supranatural.

Namun, agaknya ada yang tersembunyikan dari kenyataan duniawi.

Sinar matahari menembus kisi-kisi dedaunan pohon sengon buto, dan angin berembus kencang, menjadikan kapuk-kapuk tua dari pohon randu beterbangan. Di sebalik pohon sengon buto berdiameter sekitar 50 sentian itulah, Firda melihat seorang perempuan jelita.

“Bagaimana kabarmu, Manusia?” tanyanya ramah.

Firda tersenyum canggung. Dia bingung hendak menjawab bagaimana, mengingat dia belum pernah melihat perempuan ini.

“Halo, Bocah Kecil,” sapa perempuan itu kepada Erick, anak bungsunya yang berusia satu tahun.

Firda sendiri tengah menggendong Erick kecil, dan dia berada di daratan di mana tumbuh pepohonan kayu seperti: sengon, waru, melinjo, randu, lamtoro, nangka, hingga mahoni yang tampak dari kejauhan. Tidak hanya bersama Erick, melainkan bersama Enrico—anak kedua—dan Friska—si sulung.

“Kau pasti terkejut saat bertemu denganku. Aku Rambah Cempaka.”

Firda mengangguk, masih dilanda kebingungan. Dia kemudian mengamati sosok perempuan di depannya yang tampak anggun, kalem, dan menguarkan aura bangsawan sejati. Perempuan itu terlihat mengenakan kemben berwarna merah tua, dengan bordiran benang emas berbentuk sulur-sulur tanaman. Juga mengenakan jarik batik bermotif parang, dan sepasang selop keemasan yang senada dengan tusuk konde pada sanggulan rambut hitamnya. Entah mengapa, hal tersebut terlihat menawan berpadu dengan kulit kuning langsatnya yang terawat.

“Anda… tinggal di sini?” tanya Firda kemudian.

Rambah Cempaka mengangguk pelan. “Aku sudah tinggal di tanah ini semenjak lama.”

Firda lantas melirik keberadaan pohon sengon buto yang terasa familiar. Pun keberadaan satu sumur timba di mana ada seorang lelaki yang sedang mengambil air.

“Tinggal di tanah ini?”

“Benar.” Rambah Cempaka kemudian memetik tiga tangkai bunga songgolangit dari semak-semak belukar. “Aku sudah lama berdiam di sini.”

“Sendirian?”

Rambah Cempaka lantas memberikan ketiga tangkai bunga songgolangit tersebut pada anak-anak Firda. Senyumnya sangat menawan, dan melekat di hati. “Bersama para hulubalang pengawal.”

Firda kemudian menyadari bahwa ada beberapa lelaki bertubuh tinggi tegap, berkulit sawo matang gelap, yang mengenakan celana kain hitam tanpa atasan. Mereka juga membawa tombak besi runcing dan perisai berbentuk bulat lebar. Eksistensinya sudah seperti prajurit keraton masa kuno.

“Di negeri manakah Anda mengabdi?” tanya Firda penasaran. “Negeri Jayabaya? Negeri Syailendra? Atau Negeri Hayam Wuruk?”

Rambah Cempaka hanya terdiam, dengan sudut bibir tertarik sedikit.

“Lantas, di manakah Anda bersemayam?” tanya Firda memberanikan diri. “Tidak ada istana atau kerajaan yang tersisa di tanah ini.”

“Memang tidak ada lagi.” Rambah Cempaka kemudian menepuk-nepuk kain jariknya yang terkena kapuk-kapuk beterbangan. “Mungkin hanya aku yang tersisa dari semuanya.”

“Bila saya meminta Anda untuk pergi, bagaimana?” Firda betul-betul tidak asing dengan keberadaan sengon buto di sana. “Mengingat, suami saya adalah pemilik tanah pekarangan ini sekarang.”

Rambah Cempaka terkekeh. “Aku hanya menempati satu titik di sini. Batu Lumpang. Aku menumpang di situ.”

Firda kemudian mengerti, bahwasanya perempuan di depannya adalah entitas lain. Bukan manusia, bukan pula khayalan. Melainkan suatu energi yang turut hidup dalam dunia manusia, salah satu entitas dalam negeri Mayapada.

“Bila kau ingin, aku bisa menorehkan titik nyala pada dirimu. Nyala yang mampu membuat manusia lain terperangah dan terpesona.”

Firda tersenyum sopan. “Saya tidak menginginkannya.”

“Kau akan memiliki kharisma, dan kuasa untuk mengendalikan kesadaran manusia lainnya.” Rambah Cempaka menjentikkan jari, dan muncullah satu berlian besar berwarna saga. “Kau mampu membuat para musuh tunduk di bawah kakimu tanpa diduga.”

Rambah Cempaka menunjukkan betapa berlian saga itu berkilauan cantik. Begitu gemerlap diterpa sinar matahari yang hangat, sehangat eksistensinya. Namun, tiba-tiba berlian itu jatuh ke tanah dan mendadak menghitam bak arang. Sehingga gemerlapnya yang menghipnotis lenyap tanpa sisa.

“Enyahlah kau dari tanah ini,” ucap seorang lelaki bertubuh tinggi tegap, dan mengenakan setelan hitam dan mantel musim dingin panjang. “Bawa serta segala keserakahan dan tipu dayamu.”

Wajah Rambah Cempaka ketakutan, dengan teror di kedua matanya. Dia bahkan mundur beberapa langkah, dan para hulubalang mulai bersiap siaga melindungi. Namun, lelaki itu hanya menyilangkan kedua tangannya santai, seolah tidak terpengaruh sedikit pun.

“Ras Samudera? Bagaimana engkau bisa berada di sini?”

“Terbang.”

“Mustahil!!”

“Kau lihat aku berdiri di depanmu.” Lelaki tadi justru mengorek telinganya dengan cuek. “Lekaslah pergi. Jangan membawa manusia pada kehancuran karena tipu dayamu.”

Dengan ekspresi wajah kalut, Rambah Cempaka memungut kembali berliannya yang kini mirip batu kali. Dia kemudian berbalik badan dan melangkah pergi diikuti oleh para pengawal dan hulubalang. Menyisakan lelaki tadi yang meminta tiga tangkai bunga songgolangit dari anak-anak Firda. Tanpa sepatah kata, tanpa sapaan. Hanya sekadar ekspresi wajah yang tertutup bayang-bayang dahan pohon sengon buto.

Sebelum semuanya lenyap, dan kesadaran membangkitkan Firda dari bunga tidur yang aneh.

Keesokan harinya, dia lantas meminta sang suami untuk mengubur lumpang batu yang posisinya terbalik di dekat pohon sengon buto. Konon, lumpang itu sudah ada sejak dahulu kala. Entah siapa pemiliknya, tetapi Firda tidak ingin melihat benda itu lagi.