M. Reza Sulaiman | Fitri Rusandi
ilustrasi Dahdah yang Mengasuh Debu (Gemini AI)
Fitri Rusandi

Di beranda Madrasah Ma’arif yang kayunya mulai bersisik dan mengelupas, Dahdah duduk melipat kaki. Namanya hanya satu kata, seringkas tarikan napasnya saat mengamati mega mendung yang menggantung rendah di atas menara masjid. Ia bukan kiai bersorban, bukan pula guru tetap dengan deretan gelar di belakang nama. Ia adalah “penjaga sunyi”—lelaki yang mengabdikan sisa umurnya untuk menyisir debu-debu di sela ubin kelas, dan memastikan anak-anak tidak lupa bahwa di bawah kopiah mereka, ada martabat bangsa yang sedang bertunas.

Pagi itu, aroma tanah basah beradu dengan uap soto dari kantin Mbok Darmi. Dahdah memperhatikan Ganis, guru muda lulusan kota yang baru tiga bulan mengabdi. Ganis berdiri di depan kelas dengan ponsel di tangan, suaranya menggebu menjelaskan tentang kecerdasan buatan dan masa depan digital. Di hadapannya, anak-anak mendengarkan dengan jempol yang masih kasar karena sepulang sekolah harus mencangkul sawah atau memegang kunci inggris di bengkel Bapak mereka.

“Zaman sekarang, kalau tidak cepat, kita akan tergilas,” suara Ganis melenting hingga ke teras. “Dunia tidak butuh lagi cara-cara lama. Mengeja kitab secara tradisional itu lambat. Kita butuh efisiensi!”

Dahdah hanya tersenyum tipis. Ia menggerakkan sapu lidi di atas ubin dengan ritme yang terjaga. Bagi Dahdah, setiap gesekan lidi adalah zikir, dan setiap debu yang terkumpul adalah remah-remah sejarah yang harus diletakkan kembali pada tempatnya.

***

Saat jam istirahat, Ganis menghampiri Dahdah yang sedang menyesap kopi hitam tanpa gula di bawah pohon sawo. Ada nada ambisi yang belum padam dalam suaranya.

“Pak Dahdah,” sapa Ganis hormat, namun dahi yang berkerut itu tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. “Saya lihat anak-anak di sini terlalu lambat. Kurikulum Aswaja, cara mereka mengaji yang harus sorogan satu-satu... rasanya membuang waktu. Kenapa kita tidak pakai aplikasi saja? Lebih cepat, lebih presisi.”

Dahdah meletakkan gelasnya pelan. Matanya yang keruh namun tajam menatap Ganis. “Nak Ganis, kamu tahu kenapa pohon sawo ini berbuah manis?”

Ganis mengernyit, mencoba mencari jawaban logis. “Karena fotosintesis dan pemupukan yang tepat, Pak.”

“Mungkin,” jawab Dahdah lembut. “Tapi pohon ini butuh waktu bertahun-tahun untuk mencengkeram tanah. Ia tidak terburu-buru ingin tinggi. Pendidikan di sini bukan soal seberapa cepat anak-anak bisa menyentuh layar. Ini soal seberapa dalam akar mereka meresap ke dalam bumi keislaman dan kebangsaan. Makanan instan itu mengenyangkan, Nak, tapi jarang menyehatkan jiwa.”

Dahdah kemudian bercerita tentang filosofi tawadhu. Baginya, pendidikan bukan sekadar transfer data, melainkan transfer nur (cahaya). Cahaya itu tidak bisa dialirkan lewat kabel serat optik, melainkan lewat tatapan mata, jabatan tangan yang takzim, dan kesabaran menanti barokah.

“Tapi Pak, dunia di luar sana sudah berlari. Kalau kita tetap berjalan kaki, kita akan diinjak,” bantah Ganis, suaranya meninggi satu nada.

“Berlari boleh, Nak. Tapi pastikan kita tidak sedang berlari menjauhi diri sendiri,” pungkas Dahdah tenang.

***

Ketegangan itu memuncak ketika sebuah kabar bohong meledak di grup percakapan warga desa. Isu menyebutkan bahwa tanah madrasah akan digusur untuk proyek jalan tol dan ada keterlibatan tokoh agama setempat. Fitnah SARA mulai tersulut. Pemuda desa yang emosinya mudah terbakar—yang kesehariannya lebih banyak menelan layar gawai daripada nasihat kiai—mulai berkerumun di depan gerbang madrasah.

Ganis panik. Ia mencoba mengklarifikasi lewat media sosial, membalas komentar dengan data dan angka, namun suaranya tenggelam dalam algoritma kemarahan. Data ternyata tidak bisa memadamkan api yang dipicu oleh sentimen.

Di tengah kegaduhan itu, Dahdah keluar dengan sarung kotak-kotaknya yang warnanya sudah memudar. Ia berjalan tenang menuju kerumunan. Tanpa pengeras suara, ia menyapa nama mereka satu per satu.

“Zun, kenapa matamu merah begitu? Ingat tidak dulu waktu kecil kamu menangis di kelas ini karena tidak bisa mengeja huruf kha? Sekarang kamu sudah besar, bicaramu lantang, tapi bicaralah dengan hati yang dingin.”

Dahdah tidak berdebat soal sertifikat tanah atau proyek tol. Ia justru bicara tentang nilai-nilai tabayyun. Ia mengingatkan mereka tentang sejarah madrasah ini yang dibangun dari iuran beras dan keringat kakek-nenek mereka. Ia bicara tentang ukhuwah wathaniyah—bahwa sesama anak bangsa tak layak saling tikam karena kabar burung. Kehadiran Dahdah yang tenang meruntuhkan dinding amarah. Ia menunjukkan bahwa literasi digital paling tinggi bukanlah kemampuan mengoperasikan aplikasi, melainkan kemampuan membedakan kebenaran dan fitnah dengan nurani.

***

Malam harinya, Ganis menemukan Dahdah di perpustakaan kecil yang remang, sedang mengusap debu dari sebuah kitab tua karya kiai sepuh pendiri madrasah ini.

“Pak Dahdah, kenapa Bapak begitu telaten merawat benda lama ini? Bukankah semuanya sudah ada versi digitalnya?” tanya Ganis lirih.

Dahdah menoleh. “Nak Ganis, ada hal-hal yang tidak bisa dipindahkan ke dalam layar. Aroma kertas tua ini, bekas lipatan di sudut halaman, hingga catatan pinggir yang ditulis oleh tangan-tangan yang sudah tiada... itu adalah energi. Membaca kitab aslinya adalah cara kita bertamu ke alam pikiran penulisnya. Teknologi itu memindahkan teks, tapi sastra dan budaya itu memindahkan rasa.”

Ganis terdiam. Ia mulai menyadari bahwa selama ini ia hanya melihat pendidikan sebagai proses pengolahan data, sementara Dahdah melihatnya sebagai proses pengolahan jiwa.

***

Minggu depannya, Madrasah Ma’arif mengadakan pentas seni tahunan. Dahdah mengusulkan sebuah pementasan yang menggabungkan pembacaan puisi sufistik dengan iringan gamelan. Meski sempat diprotes wali murid yang kaku, Dahdah menjawab dengan senyum: “Islam yang masuk ke tanah Jawa ini tidak datang dengan pedang yang menghunus, Bapak-Bapak. Ia datang dengan selendang budaya. Sunan Kalijaga menggunakan wayang dan gamelan untuk membisikkan ayat-ayat Tuhan ke telinga rakyat. Kita tidak sedang bermain musik untuk hura-hura, kita sedang melatih rasa. Anak yang terbiasa mendengar harmoni gamelan akan sulit untuk berbuat kasar, karena hatinya sudah terlatih menangkap getaran kelembutan.”

Pementasan itu pun berjalan. Ganis terpana melihat bagaimana anak-anak yang biasanya ia marahi karena berisik, kini berubah menjadi pemain gamelan yang khusyuk. Di tengah pertunjukan, Dahdah naik ke panggung dan membacakan narasi tentang “Manusia Seimbang”.

“Pendidikan karakter,” suara Dahdah menggema, “adalah tentang bagaimana kita menjadi seratus persen hamba Tuhan dan seratus persen warga negara. Kita tidak perlu memilih menjadi saleh atau menjadi nasionalis. Di Ma’arif, keduanya adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Hubbul Wathan Minal Iman—mencintai tanah air adalah sebagian dari iman.”

***

Namun, tantangan sesungguhnya datang ketika seorang murid paling berbakat, Lazu, tertangkap basah mengikuti tren berbahaya di internet yang jauh dari kesantunan. Lazu tampak kehilangan arah di tengah banjir informasi. Ganis ingin menghukum Lazu dengan skorsing, namun Dahdah meminta waktu untuk berbicara dengan anak itu di bawah pohon sawo.

“Lazu,” panggil Dahdah lembut. “Air di sungai itu bebas, tapi sering kali keruh dan membawa sampah. Air di dalam gelas itu terbatas, tapi ia jernih dan menghidupkan. Kebebasan di duniamu yang baru itu seperti sungai yang menguap. Tanpa ‘gelas’ berupa etika dan akhlak, kebebasanmu hanya akan menenggelamkanmu sendiri.”

Dahdah memberi Lazu tugas: menuliskan sejarah hidup kakeknya yang seorang pejuang kemerdekaan namun hidup sederhana sebagai petani. Tugas itu memaksa Lazu untuk berhenti menatap layar dan mulai menatap kenyataan. Melalui sastra sejarah, Lazu menemukan kembali akarnya yang sempat tercabut oleh algoritma asing.

***

Malam harinya, Ganis duduk di samping Dahdah yang sedang memperbaiki rak buku perpustakaan yang reyot. “Maafkan saya, Pak Dahdah," ujar Ganis lirih. “Saya pikir teknologi adalah jawaban segala hal. Ternyata, tanpa karakter dan kedalaman spiritual, teknologi hanya menjadi senjata yang melukai penggunanya sendiri.”

Dahdah tersenyum, kali ini lebih lebar. “Jangan membenci teknologimu, Nak Ganis. Gunakan ia. Tapi jadikan ia sebagai hamba, bukan tuan. Biarkan ia menjadi kalam, tapi hatimu tetaplah yang menuliskan tintanya. Pendidikan di sini ibarat menanam jati. Lama, tapi kayunya akan kokoh sampai ratusan tahun. Jangan jadikan anak-anak kita seperti tauge, cepat tumbuh tapi mudah busuk saat diterpa hujan sedikit saja.”

Dahdah kemudian mengambil secarik kertas bekas bungkusan semen dan menuliskan sesuatu dengan jemari yang gemetar namun pasti:

Di rahim madrasah ini, kita tak sedang mencetak mesin.
Kita sedang menyemai embun pada pucuk-pucuk takdir.
Agar ketika matahari politik dan teknologi membakar bumi,
Anak-anak kita punya cukup kesejukan untuk berbagi.

***

Satu bulan kemudian, madrasah itu berubah. Ganis tetap memperkenalkan dunia digital, namun ia menyelipkan sesi “Refleksi Dahdah” di setiap akhir pelajaran. Anak-anak diminta meletakkan ponsel mereka sejenak, lalu keluar ke halaman untuk merasakan tekstur tanah, melihat cara semut bekerja sama, atau sekadar mendengarkan petuah tentang sejarah perjuangan para pahlawan santri.

Dahdah masih di sana menyapu debu. Baginya, setiap anak yang lewat dan mencium tangannya adalah sebuah puisi hidup yang jauh lebih indah dari rima mana pun. Ia membuktikan bahwa di tengah arus modernitas yang kering akan makna, nilai-nilai lokal, keislaman yang moderat (wasathiyah), dan kecintaan pada tanah air adalah jangkar yang menjaga kapal peradaban agar tidak karam.

Suatu sore, seorang jurnalis dari kota datang ke madrasah itu. Ia mendengar tentang “kedamaian” yang terpancar dari sebuah sekolah tua di pinggiran desa. Saat bertanya siapa kepala sekolahnya, Ganis menunjuk ke arah Dahdah yang sedang memunguti sampah daun kering.

“Beliau bukan kepala sekolah,” kata Ganis. “Beliau adalah akar. Dan kami hanyalah daun-daun yang mencoba belajar bagaimana caranya tetap hijau tanpa harus melupakan tanah.”

Dahdah tidak menoleh. Ia terus menyapu. Baginya, tugas manusia hanyalah satu: menjaga kebersihan hati agar Tuhan berkenan menitipkan ilmu di dalamnya. Ia adalah Dahdah, lelaki yang namanya tak akan pernah masuk dalam buku sejarah, namun jejak keikhlasannya tertulis abadi di atas ubin Madrasah Ma’arif yang ia asuh dengan cinta.

Selama masih ada orang yang mau menyapu debu keangkuhan, pendidikan kita tidak akan pernah mati. Ia akan terus hidup, berdenyut di antara bait-bait doa dan deru zaman yang kian cepat, mengingatkan kita bahwa sejauh mana pun kita terbang, kita tetaplah makhluk tanah yang akan kembali ke tanah.

***

Tahun ajaran berakhir. Ganis mendapatkan tawaran mengajar di sekolah internasional mewah di kota. Ia bimbang. Di sore yang jingga, ia menemui Dahdah yang sedang mengecat pagar sekolah.

“Pak, kota menawarkan kemajuan, tapi di sini saya menemukan kehidupan.”

Dahdah memandang Ganis. “Nak Ganis, cahaya tidak butuh tempat megah untuk bersinar. Kota punya ribuan, tapi mungkin mereka kekurangan rembulan. Pilihanmu bukan soal gaji, tapi soal di mana kamu ingin menanam pengabdiamu.”

Dahdah menyerahkan sebuah kunci kecil. “Ini kunci lemari tua di perpustakaan. Di dalamnya ada catatan-catatan kecilku selama empat puluh tahun menyapu di sini. Mungkin suatu saat nanti, kamu bisa mengubahnya menjadi narasi yang bisa dibaca dunia. Biar mereka tahu, di sudut desa ini, ada cinta yang sedang dirawat untuk Indonesia.”

Ganis memutuskan untuk tetap tinggal. Ia mulai menuliskan kisah-kisah Dahdah, tentang kearifan lokal yang tersembunyi di balik sapu lidi. Dahdah sendiri tetap menjadi figur yang samar. Namun bagi setiap santri, nama Dahdah adalah sinonim dari kejujuran.

***

Ketika malam benar-benar jatuh, Dahdah berdiri sendirian di tengah lapangan madrasah. Ia memandang langit yang kini bersih dari mendung. Ia bergumam pada dirinya sendiri.

“Gusti, biarlah aku menjadi debu yang menempel di alas kaki para pencari ilmu. Tak perlu namaku dikenal, cukup jadikan madrasah ini pelita bagi mereka yang tersesat dalam terang yang palsu. Biarkan anak-anak ini tetap menjadi santri, meski di tangan mereka ada dunia. Biarkan mereka tetap menjadi Indonesia, meski langkah mereka sampai ke cakrawala.”

Dahdah memadamkan lampu teras, mengunci gerbang kayu, dan berjalan pulang dengan langkah yang ringan. Di belakangnya, madrasah itu berdiri tegak, kokoh bukan karena semennya, melainkan karena nilai-nilai yang terus dirawat oleh mereka yang mengerti bahwa pendidikan adalah kerja sunyi menuju Ilahi. Sastra, budaya, dan Islam bagi Dahdah adalah tarikan napasnya—sebuah pengabdian tanpa henti untuk mengasuh masa depan bangsa dari sela-sela debu yang ia sapu setiap hari.