"Kamu tahu, hujan itu punya orangtua.”
Dipta tertawa terbahak sampai tersedak asap rokoknya sendiri sebelum Mara melanjutkan ceritanya.
"Aku serius."
"Ayolah, cerita yang lain saja. Jangan dongeng lagi. Kau sudah menceritakan sejumlah dongeng. Apa saja tadi? Oh, asal mula langit jauh dari bumi. Lalu, kisah cinta hujan dan bumi. Kemudian tentang hujan yang dibunuh langit. Aku tak ingin kau menambahnya dengan dongeng baru tentang hujan yang mempunyai orangtua. Ceritakan saja tentang dirimu. Aku akan lebih senang mendengar cerita tentang orangtua Mara dibandingkan cerita tentang orangtua hujan."
Dipta kembali terkekeh. Ia menyulut rokok yang baru, memberikannya pada Mara, lantas menyulut satu lagi untuknya sendiri.
Mara mengembuskan rokok pemberian Dipta. Asap tebal langsung memudar digulung angin dingin yang datang bersama hujan malam ini. Dipta adalah salah satu dari sedikit orang yang mau mendengar cerita hasil imajinasinya. Ia tadi menjadi bersemangat berbagi cerita-cerita lain yang melintas di cangkang kepalanya.
Imajinasi Mara memang kadang berlebihan, yang bisa tiba-tiba muncul setelah gadis bermata besar sewarna lumpur itu mengamati sesuatu. Seperti malam ini ketika Dipta mengajaknya merokok di luar. Tiba-tiba saja Mara mendapat ilham tentang mengapa hujan sepanjang malam ini tak pergi-pergi.
"Aku tak terlalu suka bercerita tentang orangtuaku."
"Kenapa? Apa karena mereka memintamu menjadi pelacur?"
Beberapa jam bercakap-cakap dengan Dipta, Mara sudah dapat melihat kalau Dipta memang selalu bicara blak-blakan. Namun, mendengar pertanyaan tersebut tak urung seperti ada yang mencubit jantungnya dan tinggalkan sedikit rasa sakit di sana. Ya, sedikit.
Dua tahun ini ia sudah hampir kebal dengan setiap gunjingan, terutama dari lingkungan tempat tinggalnya. Mara tahu Dipta berbeda. Lelaki berpotongan rambut model wolf cut itu tak sedang mencemooh dirinya.
Hampir semua tetangganya tahu profesi Mara. Mereka mungkin juga bertanya-tanya, mengapa orangtuanya memilih diam. Mungkin juga mereka memiliki pemikiran serupa dengan Dipta. Bedanya, mereka tak sefrontal Dipta yang berani bertanya langsung padanya. Itu saja.
"Hei, aku hanya bertanya," jelas Dipta di antara tawanya melihat Mara yang mendadak membeku.
"Aku tahu." Mara mendesah. "Ceritanya akan sangat panjang."
"Aku bersedia mendengarkan."
***
“Kalau kamu nggak mau, ibumu yang diminta menggantikan. Apa kamu bisa tega sama perempuan yang sudah melahirkan kamu?!”
Di sofa usang ruang tamu Mara berpelukan dengan ibunya. Mereka bertangis-tangisan mendengar tuntutan dari lelaki yang seharusnya melindungi mereka.
“Bapak sudah kehabisan cara. Kalau bukan untuk menebus kakakmu biar dia tidak sampai dibui, Bapak tidak harus berutang sama Pak Mardika. Seratus juta bukan uang yang sedikit untuk menebus seorang bandar narkoba seperti kakakmu. Bahkan kalau rumah bobrok ini dijual, tidak akan mampu menutupi utang Bapak yang terus berbunga.”
“Tapi kenyataannya polisi-polisi itu cuma bohongin Bapak. Buktinya anak laki-laki kesayangan Bapak itu akhirnya dipenjara juga, kan?”
Mara meradang. Suaranya tersendat-sendat di antara isak tangis yang menderas dari matanya. Gadis itu mendengar sendiri ketika beberapa bulan lalu dua orang pria berseragam yang datang ke rumah mereka, memberikan iming-iming kebebasan bagi sang kakak.
“Kami akan atur supaya ancaman pidananya tidak terlalu berat. Status Badri akan kami ubah menjadi kurir atau bahkan pemakai saja. Hukumannya lebih ringan. Cuma kalau kalian mau dibantu, ya siap-siap saja ….”
Secercah cahaya yang semula membias di wajah Bapak melihat adanya harapan bagi anak lelakinya, kembali redup ketika mendengar jumlah uang yang disebutkan pria berseragam berperut buncit yang mendominasi percakapan.
Bapak mencoba menawar, tapi nominalnya tetap tak bergeser dari angka seratus juta. Si Perut Buncit berkata jika itu untuk biaya pengurusan, pengamanan, dan mengatur persidangan.
Bapak menyerah, apalagi ketika si Perut Buncit mengatakan jika anaknya bisa saja mati dalam penjara, akibat ulah para napi yang gemar memelonco anak baru. Belum lagi jika ada perkelahian antar geng.
Bapak lalu berutang pada Pak Mardika, orang terkaya di kampung mereka, dengan bunga tinggi. Namun, ternyata iming-iming pria berseragam berperut buncit itu hanya tipu daya belaka. Tak ada keringanan hukuman. Tak ada perubahan status Badri dari bandar kecil menjadi pemakai. Anak kesayangannya dihukum lima belas tahun penjara dan dua orang oknum polisi yang dulu menemuinya menghilang tanpa jejak.
“Pak Mardika setuju menghapus utang Bapak, asalkan kamu tinggal semalam di rumahnya. Setelah itu Bapak bebas. Uang Bapak tidak harus habis untuk bayar utang, bisa untuk nyekolahin kamu. Kamu masih mau kuliah, kan?”
Tak ada yang bisa Mara lakukan kemudian kecuali terpaksa menyetujui permintaan Bapak. Mara tahu, Pak Mardika sudah lama mengincar dirinya. Mara juga tak mungkin mengorbankan ibunda tercinta, untuk menjadi pelampiasan nafsu sang juragan licik.
Ya, licik. Mara tahu apa arti dari bermalam di kediaman Pak Mardika. Tapi, yang dikatakan Bapak jika Mara hanya harus tinggal semalam, pada kenyataannya menjadi seminggu penuh. Mimpi buruk yang tak pernah dibayangkan Mara akan dialaminya. Mimpi buruk yang kemudian menyeretnya ke kehidupan malam.
***
Keheningan merebak di antara Dipta dan Mara usai gadis berambut legam melewati bahu itu berhenti bercerita. Hanya suara hujan, kepul asap rokok, dan dinginnya malam yang mengisi kekosongan yang ada.
“Biar aku tebak kelanjutannya. Utang bapakmu ternyata juga tidak dianggap impas, meski kau sudah menukarnya dengan tubuhmu. Lalu kau terjerat dengan utang yang semakin berbunga, sampai kau terus menggadaikan tubuhmu.”
Dipta menatap dalam-dalam ke arah gadis yang tengah memandang kosong ke arah hujan, yang mulai merinai di luar balkon tempat mereka berada.
“Hampir tepat. Utang itu dianggap impas separuhnya. Selebihnya, terkaanmu sudah amat jitu.”
Dipta kembali membakar sebatang rokok, lalu menyodorkannya pada Mara yang langsung mengisapnya dalam-dalam. Lelaki tiga puluhan tahun itu tak turut menyulut rokok baru. Ia membiarkan Mara menikmati rokoknya sendirian, sampai gadis itu mematikan sisa rokok ke dasar asbak.
“Kita ke dalam? Ada utang bapakku yang harus aku cicil.”
Mara berseloroh tapi Dipta tak membalas candaannya. Sebaliknya, lelaki bermata tajam itu menatap Mara lekat-lekat.
“Ya, kita kembali ke dalam. Aku sudah mengantuk. Kamu boleh pakai ranjangnya. Aku tidur di sofa.”
“Tapi ….”
“Jangan tersinggung, tapi aku akan tetap membayarmu, Mara. Izinkanlah tubuhmu beristirahat malam ini.”
Mara terpaku sesaat, sebelum mengikuti langkah Dipta melewati pintu balkon kamar hotel mereka. Entahlah apa yang akan menanti dirinya esok, tapi untuk malam ini Mara merasa begitu dihargai dan dihormati oleh seseorang yang baru sekian jam dikenalnya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Merayakan Perempuan, FISTFEST Hadirkan Ruang Ekspresi Lewat Bunga dan Musik
-
Jadwal F1 GP China 2026: Apakah Kemenangan Mercedes Berlanjut ke Shanghai?
-
Dituding Plagiat, Tim The King's Warden Sebut Cerita Berdasar Fakta Sejarah
-
Kala Media Sosial sebagai Medan Perang Baru Propaganda Global
-
Perut Kenyang tapi Tas Kosong: Ketika Nasi Gratis Tak Bisa Gantikan Buku Tulis