Sekar Anindyah Lamase | Miranda Nurislami Badarudin
Ilustrasi Hanum, Skripsi dan Anxiety-nya (ChatGPT)
Miranda Nurislami Badarudin

Hari semakin larut. Angin dingin menyelinap lewat celah kecil kamar asrama, membawa serta suara kokok ayam yang samar—aneh, mengingat headset masih menutup telinga Hanum. Ia terkejut saat melirik jam dinding: pukul tiga pagi. Layar laptop masih menyala di hadapannya, sementara wajahnya menyiratkan lelah yang tak sempat diberi jeda.

Kesal dan cemas berkelindan di kepalanya. Tangannya gemetar, perutnya melilit. Dengan gerakan terburu, ia meraih obat andalannya—seolah itu satu-satunya pegangan di tengah kacau yang tak terlihat.

“Hanum, kamu belum tidur?”

Hanum menoleh. Lena, teman sekamarnya, berdiri dengan rambut acak dan mata setengah terbuka. Hanum hanya tersenyum tipis sebelum kembali menatap layar.

“Besok aja dilanjutkan, Han,” kata Lena lembut.

Hanum menghela napas. Ia setuju—dalam hati. Tapi pikirannya terlalu bising untuk sekadar berhenti.

“Ibu Fitri juga nggak galak,” tambah Lena lagi.

Napasan berat kembali lolos. Rasanya semua masuk akal, tapi tubuhnya tetap menolak berhenti.

“Kamu nggak akan ngerti, Len.”

Lena terdiam. Ia tahu Hanum keras kepala, tapi lebih dari itu—ia tahu ada sesuatu yang tidak baik-baik saja. Setiap malam, tanpa suara, Hanum menangis. Matanya ingin terpejam, tapi pikirannya terus bekerja, merajut kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.

Dari luar, semua orang bisa menebak—tubuh dan pikirannya tak lagi berjalan seiring.

“Perfeksionis itu nggak salah,” ujar Lena pelan, “tapi kalau kamu dimakan sama kesempurnaan, itu yang jadi masalah. Gagal sekali nggak bikin hidupmu selesai... kecuali Allah yang menentukan. Jangan mendahului takdir dengan ambisi yang melelahkan. Mau tahajud?”

Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu dalam diri Hanum. Ia mengangguk kecil.

“Tapi sendiri-sendiri,” katanya.

Lena tersenyum, lalu mengajaknya berwudhu.

Keesokan sore, Lena pulang dengan tubuh lelah. Namun rasa lelah itu hilang seketika saat ia mendapati kamar mereka terasa kosong. Barang-barang Hanum hilang. Yang tersisa hanya selembar kertas di meja—sebuah perpisahan tanpa penjelasan panjang.

Hanum pindah ke kos sederhana. Murah, dekat kampus, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tempat itu sunyi—cukup untuk bernapas tanpa tekanan yang terasa terlalu dekat.

Sebenarnya, keinginan ini sudah lama ada. Ia hanya butuh keberanian untuk benar-benar pergi.

Bukan untuk lari, katanya pada diri sendiri. Ia hanya ingin ruang.

Namun, di dalam dirinya, sesuatu tetap tinggal.

Perasaan tidak pantas. Tidak cukup. Tidak sebanding.

Ia tetap melanjutkan kuliah—bukan karena yakin, tapi karena satu alasan: ekspektasi orang tua.

Hanum tidak menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri. Tubuh kurusnya, wajah lelahnya, penyakit yang datang silih berganti, serta kegagalan-kegagalan kecil—semuanya ia kumpulkan dalam satu kesimpulan: ia tidak cukup baik.

Padahal, orang lain percaya padanya.

Sayangnya, ada satu suara yang terus menolak percaya—dan itu berasal dari dirinya sendiri.

Hari-hari di kos berjalan pelan. Kadang tenang, kadang mendadak berisik. Kecemasan datang seperti sengatan listrik—mendadak, menyakitkan, membuatnya kehilangan kendali.

“Han, kita ke psikolog yuk. Aku antar, gratis. Kakakku psikolog,” kata Gina, teman barunya.

“Kamu nggak akan ngerti,” jawab Hanum cepat.

“Aku ngerti. Kamu udah lama nggak bimbingan, kan?”

Hanum langsung menatap tajam.

“Jangan asal ngomong!”

“Dospem kamu ke sini dua hari lalu,” lanjut Gina, tetap tenang. “Dia cerita banyak tentang kamu.”

Sunyi.

“Jangan lari dari kenyataan, Han.”

“Kamu nggak tahu apa-apa! Gadis yang berasal dari keluarga harmonis dan serba berkecukupan seperti kamu tidak layak untuk bicara bahwa kamu mengerti posisiku! Apa yang kamu paham, huh! Lagian untuk apa sih kamu ngekos di tempat murah ini, padahal keluargamu bisa membelikanmu rumah!” suara Hanum meninggi.

Gina terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Jika benar kamu tidak lari dari kenyataan, kenapa sampai detik ini kamu masih ada di sini? Dan kenapa Dospemmu sampai mencarimu? Sedangkan kamu sendiri hanya sibuk mencari identitas baru dengan bekerja, jika memang kamu ingin lari dari masa lalu, maka tinggalkan dan lepaskan, jangan pernah terikat lagi, tapi sebelah kakimu masih saja kamu biarkan terikat dengan tanggung jawab yang belum kamu selesaikan, Han”

Hanum membeku. Perlahan ia membuka laptop. File skripsinya berhenti di akhir Bab 3.

“Udah nggak ada progress sejak kamu pindah,” lanjut Gina. “Kamu juga nggak jaga diri. Kita ke psikolog, ya. Pelan-pelan aja.”

Kalimat itu runtuh bersama tangis Hanum yang akhirnya pecah.

Prosesnya tidak cepat. Terapi dijalani. Keluarga akhirnya tahu—dan perasaan mereka campur aduk antara sedih, marah, dan tak percaya.

Bagi Hanum, membuka diri jauh lebih sulit daripada bertahan diam.

Namun perlahan, ia mulai memahami—apa yang ia rasakan bukan sekadar “lelah biasa.”

Insomnia, kecemasan, gangguan fisik, pikiran yang tak berhenti—semuanya saling terhubung. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin ia benar-benar kehilangan arah sepenuhnya.

“Kondisimu mulai membaik,” ujar dokter suatu hari. “Jangan remehkan hal kecil yang mengganggu pikiranmu. Ceritakan, jangan dipendam. Dan... jangan takut menerima ketidaksempurnaan. Dan juga jangan lupa tetap rutin kontrol dan minum obatnya sesuai resep”

Hanum mengangguk.

“Tidak akan, Dok.”

Dokter tersenyum “kau akan wisudah kan?” Hanum tersenyum lalu mengangguk "iya, Dok"

“Selamat, ya.”

Ia melangkah keluar dari klinik. Angin sore menyambut, mengibaskan ujung jilbabnya dengan lembut—seperti tepuk tangan kecil dari semesta.

Perjalanannya belum selesai. Tapi kali ini, ia tidak lagi berlari dari dirinya sendiri.