Sekar Anindyah Lamase | Tika Maya Sari
Ilustrasi cerpen False Awakening (Unsplash/Joe Shields)
Tika Maya Sari

"Kok libur, Mbak?” 

Aku tersenyum kecut saat membalas chat Ko Liam pagi itu. Padahal, aku sudah menyampaikan alasanku mengambil cuti hari ini, baik pada Ko Liam maupun Cik Zhao Fei sendiri.

“Gregesi, Mas. Izin rehat sehari ini saja deh. Besok bakal masuk lagi kayak biasanya.”

“Oke, Mbak.”

Aku tidak berbohong saat menyampaikan alasan bahwa aku gregesi, alias meriang. Sejak kemarin seusai pulang lembur dari toko, badanku sakit-sakit. Dengan kepala yang pusing berputar, dan rasanya nggak nyaman sama sekali yang berlangsung hingga hari ini.

“Apa karena aku nyetop kopi, ya?” gumamku.

Tiga harian ini, aku memang berusaha menyetop konsumsi kafein yang menjadi rutinitas tiap pagi. Bukan tanpa sebab, melainkan karena tubuh sudah memberikan peringatan berupa tremor setelah mengonsumsi kopi. Alhasil, puasa kopi menjadi jalan satu-satunya.

“Mau kue cucur? Atau cakue?” tawar Ibu sepulang belanja di warung.

“Cucur aja, Buk,” kataku kemudian mencomot kue cucur sebelum melahapnya.

Ibu mengawasiku yang mungkin terlihat ogah-ogahan, atau malah mirip kukang yang kelaparan. Karena memang badanku serasa berat, dengan pusing yang masih melingkupi.

Mau mengambil paracetamol di atas laci kamar saja malasnya minta ampun. Alhasil, aku tertidur di atas kursi kayu di dekat dapur. Walau aku sadar bahwa ini masih pagi sekitar jam sembilan, tapi mataku sudah menutup rapat. Haha.

“Ah, kamu sudah bangun? Ayo bermain denganku.”

Aku mendengar suara anak laki-laki yang membuatku membuka mata. Atau... tunggu dulu. Aku sudah membuka mata, tapi kenapa aku justru melihat tubuhku terbaring meringkuk di atas kursi kayu?

“Hei, mereka sudah menunggu kita!” Seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahunan meraih tanganku dan membawaku berlari. “Ayo main petak umpet!”

“Nduk, jangan lari-lari ya, nanti jatuh!” teriak Ibu di dekat kursi kayu, dimana tadi tubuhku terbaring disana. Namun, tubuhku sudah tidak ada disana lagi.

Kuamati anak laki-laki yang memegang tanganku itu. Dia tampak ceria, berbusana nyentrik dengan pakaian berbahan mirip satin berwarna merah dan hijau. Dia juga mengenakan topi gendut berwarna oranye, serta sepatu berwarna keemasan mengkilap dengan ujung runcing yang melingkar.

“Ayo main petak umpet, Mbak!” pekik anak laki-laki lain, yang penampilannya mirip dengan yang memegang tanganku. Tapi, busananya berwarna biru dan abu-abu.

Total ada lima orang anak laki-laki yang membentuk lingkaran dan kami berputar sambil bernyanyi. Nyanyian riang, mirip seperti melodi permainan jadul. Hingga empat diantaranya berlarian ke sudut-sudut kebun, bersembunyi di balik pohon, atau justru memanjat dahan-dahan mahoni yang kokoh. Menyisakan aku dengan anak lelaki berbaju hijau merah disini.

“Ini kita ngapain?” tanyaku bingung. “Kalau petak umpet, kok mereka nggak bersembunyi?”

Anak itu tertawa. Kemudian berlari. Menyisakan aku yang terbangun di atas kursi kayu dekat dapur, sambil mendapati tubuhku masih meringkuk.

“Wah, ini gila!” bisikku.

Kucoba membuka mata, dan menyadarkan diri saat tahu bahwa aku terjebak di alam mimpi yang tidak pasti. Namun, sekuat apapun caraku, tidak ada hasilnya.

Aku memang terbangun sambil terkantuk-kantuk, tetapi pemandangan tubuhku yang tetap berbaring meringkuk di atas kursi kayu tetap ada.

“Belum saatnya bangun. Ayo main lagi.”

Kulihat anak berbaju merah dan hijau tadi menyilangkan tangan dan bersandar di tembok. Senyumnya jahil, dan memberikan isyarat agar aku mengikutinya.

“Kamu tahu aku masih tidur?” tanyaku.

“Iya. Tubuhmu masih tertidur di kursi kayu itu,” jawabnya sambil lalu. “Manusia memang tidak pernah mengambil pelajaran.”

“Mulutmu!” geramku. “Kita mau ngapain sekarang?”

“Ayo kejar aku!”

Dan aku pun mengejarnya seperti permainan kejar-kejaran. Di kebun ini, ada kami dan beberapa anak lain yang juga bermain. Ada yang bermain kelereng, lompat tali, dan sebagainya. Yang lebih aneh, nyaris semua anak adalah laki-laki dengan pakaian serupa seperti anak yang kukejar, meski berbeda warna.

“Lagi?!” umpatku kesal saat aku masih bangun dan mendapati tubuhku tetap meringkuk. “Aku kenapa sih?!”

Anak laki-laki berbaju merah dan hijau tertawa di bawah pohon sengon. Aku bahkan melemparinya dengan sandal, tapi dia sukses menghindar.

“Kamu siapa sih sebenarnya?! Dan kenapa aku merasa bangun tapi tubuhku masih tidur disini?!”

Kali ini dia memakan rambutan entah darimana. “Kamu terlalu stress dengan duniamu. Kenapa tidak coba memaafkan diri dan segalanya?”

“Ah, masa bodoh! Kamu sebetulnya siapa?!”

“Eksistensi yang tidak nyata.”

“Anak ini gila. Anak ini manusia atau bukan sih?”

Dia terpingkal-pingkal lagi. “Kamu tidak pernah mengambil pelajaran dari apa yang terjadi. Selalu menuruti hawa nafsu untuk emosi.”

“Maksudmu?!”

“Kamu cenderung memendam amarah, dan menimbun stress yang mampu membuatmu gila.”

Kini ganti aku yang terkekeh. “Stress kan manusiawi karena aku manusia. Kamu sendiri apa?”

Tawa anak laki-laki itu lenyap. Sebelum berganti senyum simpul dan lambaian tangan.

Kali ini, aku mendengar suara ibu mengulek entah sambal atau bumbu, dan rintik hujan di atas genting. Lalu tercium aroma ikan goreng yang wangi nan sedap, serta aroma petrikor yang mantap. Mataku pun terbuka. Dan aku sadar bahwa tubuhku ikutan bangun kali ini.

“Nggak lagi deh aku tidur di kursi kayu ini.”