Gemuruh suara ombak dan deburan airnya membentur karang terjal di tepian. Pasir putih pantai tampak bercahaya, berpadu apik dengan kebiruannya air lautan.
“Kau lihat daratan yang di sana itu?”
“Ya?”
“Itu Singapura.”
Aku menoleh pada sosok lelaki di sampingku. Sosok yang tampak modis dengan jaket dan celana hitam, serta sepasang sepatu olahraga berwarna senada. Angin meniup rambutnya, dan bayangan nyiur menutupi wajahnya.
Lagi-lagi aku tidak bisa melihat wajah lelaki ini.
“Singapura yang itu? Yang memiliki patung Merlion?” tanyaku memastikan. Yah, siapa tahu ada banyak lokasi bernama Singapura, kan?
Lelaki itu tertawa. “Iya. Singapura yang memiliki patung Merlion.”
“Kalau begitu, di mana kita berada sekarang?”
Lelaki itu hanya melempar senyum samar sebelum kembali mengamati lautan yang terbentang dan kapal-kapal yang berlalu lalang.
Kucoba mencubit pipi atau tangan, memastikan bahwa ini mimpi atau sekadar khayalan. Ayolah, dari lahir sampai dewasa, aku berada di tanah Jawa. Sedangkan, jarak terdekat melihat Singapura ya dari tanah Batam. Apa-apaan ini?!
“Ini… bukan Jawa ya?”
Lelaki itu masih fokus mengamati kapal-kapal. Dia juga masih berdiri di dermaga bersamaku. “Menurutmu?”
Aku meneguk ludah payah. Apa aku korban penculikan ya? Mengingat tadi aku tidur pulas sekali sepulang kerja. Sialanlah Ko Liam, ada saja gebrakannya untuk mengacaukan audit barang toko.
“Daratan itu adalah Singapura. Dan lautan di depan kita adalah Selat Melaka.” Lelaki itu kembali tertawa. “Nilai geografimu pasti buruk kalau berpikir tempatmu berdiri sekarang ada di Jawa.”
Aku meringis. “Masuk akal. Tapi kenapa aku bisa ada di sini?!”
Tanpa jawaban, lelaki itu justru menarik lenganku dan mengajakku berlari mendekati pelabuhan. Berulang kali kutepis tangannya, sebab kami sekarang tampak konyol.
Dia terlihat begitu antusias dan bersemangat. Beberapa kali dia melakukan tos dengan orang-orang di pelabuhan, dan bertukar sapa dengan mereka. Anehnya, orang-orang tersebut memiliki perawakan dan busana yang mirip dengan lelaki ini.
“Kita mau ke mana?!” tanyaku panik saat dia menyeretku ke dalam kapal yang bersandar. “Jangan aneh-aneh!”
“Ayo ke Singapura!”
“Mulutmu!”
Sekuat tenaga kulepaskan diri dari cengkeramannya. Namun, dia lebih kuat. Lelaki itu tampak santai saja menyeret lenganku masuk ke dalam kapal. Kami lantas menuju buritan, dan tampaklah fakta bahwa kapal yang kami tumpangi telah menjauhi pelabuhan. Dermaga di mana tempatku berdiri tadi, kini terlihat mengecil nyaris menghilang.
“Ini penculikan!” pekikku marah. “Kembalikan aku ke Jawa! Bawa aku pulang!”
Lelaki itu terbahak seakan terhibur. Dia kini justru menengadah dan menikmati embusan angin laut yang kuat. “Silakan ceburkan dirimu ke laut dan berenanglah menuju Jawa.”
Aku tantrum. Yah, kulakukan apa saja supaya lelaki ini membawaku kembali ke tanah Jawa. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa berada di dermaga yang tadi.
“Bawa aku pulang. Atau kulaporkan kamu ke polisi!” ancamku sambil menunjuk wajahnya. “Aku ada kenalan polda di sana!”
“Silakan melapor. Toh kau berada di Selat Melaka sekarang.”
Aku menangis terisak-isak. Kalau di situasi legal, aku mungkin bakal senang saat mengunjungi Singapura. Negeri kecil yang memiliki teknologi maju dan memiliki ikon patung Merlion itu. Namun masalahnya, statusku sekarang abal-abal. Tidak ada visa, paspor, bahkan tiket kapal.
Mungkin lelaki itu terganggu dengan suara berisikku. Jadilah dia membawaku masuk ke area dalam kapal, dan menuju suatu ruangan yang dipenuhi aneka snack. Ciki-ciki, roti-rotian, sampai aneka jenis keripik dan minuman tersaji di sana.
“Makan dan diamlah. Jangan tantrum, kupingku pekak,” ucapnya santai.
Oh, dia mau menyogokku?!
“Nggak mau! Bawa aku kembali ke Jawa! Ini penculikan!”
Selama beberapa saat, dia hanya terdiam sambil menatapku yang tantrum seperti ODGJ mengamuk. Biarlah. Toh aku tidak mengenalnya, dan dia sudah berani membawaku kabur ke Singapura!
Lelaki itu akhirnya mengembuskan napas lelah, kemudian mengajakku menemui nakhoda kapal. Dengan ringan, dia meminta supaya kapal berputar balik ke pelabuhan supaya aku bisa turun. Anehnya, nakhoda setuju, walau kapal nyaris mencapai daratan Singapura.
Setelah kami berdua turun, kapal kembali berlayar seakan tanpa komplain dari penumpang lain, menyisakan aku yang masih terisak-isak.
“Aku bahkan nggak mengerti kenapa aku bisa ada di sini. Dan kamu mau membawaku ke Singapura?! Ini penculikan!!”
“Padahal, aku hanya ingin membawamu berlibur ke Singapura sejenak. Kau terlalu stres dengan kehidupanmu.” Kudengar tawa tertahan lelaki itu. “Kau bisa gila betulan kalau terlalu memendam amarah. Toh, tidak ada manusia yang bisa mengontrol mulut manusia lainnya.”
Aku menunduk, masih menangis. Bukan karena petuturnya yang lembut, melainkan sadar bahwa aku hampir jadi korban penculikan. Bagaimana kalau lelaki ini berniat menjualku ke Singapura?
“Friska, kau harus bisa lebih tabah dan legowo. Dunia memang tidak adil, tetapi pasti selalu ada jalan.” Kini, kurasakan satu tangan lelaki itu menutupi mataku yang basah. “Pulanglah ke Jawa, dan berjuanglah untuk hidupmu….”
Hal yang kulihat pertama selepas membuka mata adalah langit-langit kamarku.
Baca Juga
-
Pocong yang Membesar sambil Menyeringai Gila di Kebun Pisang
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Teror Kepala Babi hingga Air Keras: Harga Mahal yang Dibayar Jurnalis Demi Kebenaran
-
4 Mei Hari Pemadam Kebakaran Internasional: Kisah Tragis di Balik Seragam yang Pantang Menyerah
-
Perempuan Bergaun Kuning yang Duduk di Atap Rumah Lek Salim
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
5 Rekomendasi HP RAM 12 GB Murah 2026, Performa Ngebut untuk Jangka Panjang
-
Secangkir Kopi: Antara Jeda, Ambisi Anak Muda, dan Dompet yang Kritis
-
BabyMonster Ekspresikan Kebebasan Diri Tanpa Batas di Lagu Terbaru, Choom
-
Anti-Apek! 4 Parfum Lokal Citrus Cocok untuk Aktivitas Outdoor Akhir Pekan
-
Nyesek, Jorge Martin Bisa Tinggalkan Aprilia Walau Raih Gelar Juara Dunia?