Hayuning Ratri Hapsari | Sam Edy
Gambar Buku Menghardik Gerimis (Dokumen pribadi/Sam)
Sam Edy

Sapardi Djoko Damono adalah salah satu sastrawan senior yang tak diragukan lagi kualitas karyanya. Kisah perjalanan menulisnya telah dimulai sejak masih menjadi murid SMA. Saat itu ia telah menerjemahkan puisi, cerpen, novel, esai, dan drama yang beberapa di antaranya telah diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Sejumlah penghargaan bergengsi telah diterima oleh Sapardi Djoko Damono. Misalnya, penghargaan pencapaian seumur hidup di bidang kebudayaan dari FIB-UI (2017), The Habibie Center (2016), Masyarakat Sastera Asia Tenggara (Mastera, 2015), Akademi Jakarta (2012), dan Freedom Institute (2003).

Buku berjudul Menghardik Gerimis ini merupakan salah satu karya Sapardi yang berisi sekumpulan cerpen. Selain tema-temanya yang menarik, sebagian cerpen di buku ini juga lebih pendek dari cerpen-cerpen pada umumnya, dengan pemilihan diksi yang memikat. Cerpen berjudul Menghardik Gerimis misalnya, berkisah tentang seorang lelaki yang mencintai hujan tapi ia membenci gerimis:

Lelaki itu suka hujan, bahkan bisa dikatakan mencintai hujan, tetapi menghadapi gerimis ia sama sekali tidak pernah bisa menahan kemarahan. Sudah berulang kali istrinya mengingatkan perangai buruk itu, tetapi lakinya sama sekali tidak menggubris.

“Biar Masuk neraka jahanam gerimis itu!” ujarnya setiap kali mendengar suara rintik-rintik di pohonan dan genting.

Usut punya usut, ternyata lelaki itu membenci gerimis karena pernah terpeleset di lantai beranda yang basah terkena rintik gerimis. Akibatnya, ia harus menjalani operasi patah tulang. Meski kondisinya sudah baikan, tetapi dendamnya pada gerimis tak kunjung reda.

Cerpen berjudul Jendela karya Sapardi juga patut disimak. Berkisah tentang pasangan suami istri yang memutuskan untuk membuat jendela lagi meskipun sudah ada setidaknya jendela di empat dinding rumah. Sebenarnya, ide membuat jendela lagi bermula dari sang istri, dengan alasan agar tidak sumpek.

Kisah tentang jendela rumah tersebut menyisakan pesan berharga kepada kita tentang pentingnya jendela-jendela dalam setiap rumah. Jendela memang diperlukan agar penghuni rumah bisa memahami dengan tulus bahwa ada dunia yang terbentang di luar dan ada dunia yang tersekap di dalam. Jendela dengan sopan memberi kesempatan penghuninya untuk memilih, mau di dalam atau di luar saja.

Cerpen karya Sapardi berikutnya berjudul Polisi Patung. Berkisah tentang seorang perempuan yang sangat takut dengan polisi. Hal ini bisa dimaklumi sebab, orangtuanya terbiasa menakut-nakutinya sejak kecil. Saat perempuan itu sedang rewel misalnya, orangtuanya berkata: Awas ada polisi. Nanti dibawa polisi, lho. Tak pelak, sosok lelaki berpakaian seragam ketat, yang menyelipkan pistol di pinggangnya, yang kadang-kadang juga membawa tongkat pemukul itu sejak kecil merupakan teror baginya. Bahkan saat ia bertemu dengan polisi patung pun, ia merasa ketakutan.

Perempuan itu memiliki kisah hidup yang mengenaskan. Ia memiliki suami yang tidak pernah memberi nafkah secara teratur. Persoalan kian terasa rumit ketika anak lelaki satu-satunya yang sudah duduk di bangku SMA diringkus polisi karena keterlibatan obat-obatan terlarang.

Masih banyak cerpen-cerpen Sapardi Djoko Damono yang bisa dibaca secara langsung di buku ini. Di antaranya, cerpen berjudul Sungai yang bercerita tentang persahabatan manusia dan sungai, cerpen berjudul Daun yang mempertanyaan perihal warna hijau pada daun, dan lain sebagainya. Buku ini bisa dijadikan bacaan menghibur sekaligus sarana merenungi hidup di waktu senggang Anda.

Data Buku

Judul Buku: Menghardik Gerimis   

Penulis: Sapardi Djoko Damono

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 96 halaman

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2019

ISBN: 978-602-06-3184-4