Malam itu, Tom yang berusia sepuluh tahun tertidur sambil memeluk bantal cumi-cumi lusuh. Dalam mimpi, ia terbangun di dasar laut yang gelap keunguan. Air tidak basah. Napasnya ringan. Di depannya, sebuah gua karang raksasa berdenyut seperti jantung.
Seekor gurita raksasa muncul. Bukan monster biasa. Tubuhnya transparan, tentakelnya bercahaya biru neon, dan matanya—ada delapan—berputar seperti galaksi kecil. Namanya Gurita, katanya dengan suara gelembung yang lembut.
“Kau datang melawat, Tom?” Tom mengangguk. Ia selalu ingin melihat sesuatu yang tak pernah dilihat orang lain. Gurita mengulurkan satu tentakel. Tom naik, dan mereka meluncur melintasi samudra mimpi.
Bukan sekadar laut. Mereka melewati kota-kota ikan yang membangun rumah dari gelembung sabun, hutan rumput laut yang menyanyikan lagu lama, dan gunung es terapung yang di dalamnya tersimpan kenangan orang-orang yang lupa bermimpi.
Gurita berhenti di sebuah lembah dalam. Di sana, ribuan gurita kecil bermain dengan bola-bola cahaya. “Ini kenangan yang hilang,” kata Gurita. “Setiap manusia kehilangan satu kenangan setiap kali takut bermimpi besar.”
Tom melihat salah satu bola cahaya. Di dalamnya ada dirinya saat kecil, tertawa ketika ayahnya mengajarinya berenang. Kenangan yang ia lupakan karena takut pada air yang dalam.
“Kenapa kau ajak aku ke sini?” tanya Tom. Gurita mengedipkan delapan matanya bergantian. “Karena kau satu-satunya yang pernah memanggilku dengan benar. Bukan monster. Bukan hantu. Hanya gurita raksasa yang pasti keren.”
Mereka terus melaju. Gurita menunjukkan rahasia: bagaimana cumi-cumi menulis puisi dengan tinta, bagaimana ubur-ubur menyimpan musik hujan di payungnya, dan bagaimana paus biru menyanyi untuk menenangkan badai di dunia atas.
Tiba-tiba, air menjadi berat. Sebuah bayangan hitam mendekat—seekor gurita lain, lebih besar, tubuhnya penuh duri dan bermata merah. “Ini Gurita Penakut,” bisik Gurita. “Dia memakan mimpi anak-anak yang berhenti bertanya.”
Pertarungan pun terjadi. Bukan dengan gigitan, tapi dengan warna dan ingatan. Gurita Tom melemparkan cahaya kenangan indah. Gurita Penakut membalas dengan kegelapan lupa. Tom, dari punggung Gurita, berteriak, “Aku tidak takut! Aku mau melihat semuanya!”
Saat itu, tentakel Gurita Tom berubah menjadi emas. Satu sentuhan pada Gurita Penakut membuat duri-durinya luruh. Gurita Penakut mengecil, lalu berubah menjadi gurita kecil yang malu-malu.
“Terima kasih,” katanya pelan sebelum berenang pergi. Gurita tersenyum pada Tom. “Kau baru saja menyelamatkan satu mimpi.”
Langit laut mulai terang. Gurita membawa Tom kembali ke gua karang. Sebelum Tom terbangun, Gurita memberikan satu tentakel kecil yang bisa menyala di telapak tangan. “Simpan ini. Kalau dunia terasa biasa, pegang dan ingat: selalu ada yang lebih aneh dan indah di bawah.”
Tom terbangun di kamarnya. Di tangannya hanya ada cumi-cumi mainan biasa. Tapi matanya berkilau biru sebentar. Ia tersenyum, bangun, dan untuk pertama kalinya, tidak takut mencoba hal baru hari itu.
Pagi harinya, Tom membawa tentakel cahaya kecil itu ke sekolah. Saat pelajaran matematika terasa membosankan, ia meremasnya pelan. Cahaya biru neon menyala samar di bawah meja. Tiba-tiba, angka-angka di papan tulis berubah menjadi ikan-ikan kecil yang berenang membentuk rumus. Tom tersenyum. Gurita belum pergi.
Sore itu, ia pergi ke pantai dekat Surabaya. Air laut keruh, sampah plastik mengapung. Tom duduk di batu karang dan memanggil pelan, “Gurita…”
Laut beriak. Gurita muncul, tubuh transparannya kini pudar, tentakelnya lemah. “Dunia atasmu sakit, Tom. Aku kehilangan cahaya.” Tom melihat gurita kecil yang dulu diselamatkannya ikut muncul, tubuhnya penuh noda hitam. “Gurita Penakut kembali lebih kuat. Ia memakan mimpi anak-anak kota ini.”
Malam itu, Tom tidur dengan tentakel di tangan. Mimpi membawanya lagi ke dasar laut. Kali ini, laut penuh plastik dan kegelapan. Gurita Penakut kini raksasa, tentakelnya seperti kabel listrik rusak. “Manusia lupa caranya bermimpi,” katanya sambil tertawa.
Tom naik ke punggung Gurita. Mereka bertarung lagi. Bukan dengan kekuatan, tapi dengan ingatan. Tom menceritakan mimpi-mimpinya: ingin terbang dengan pesawat dari karang, menyelam tanpa takut, hingga membuat kota ikan di pantai Surabaya.
Setiap cerita membuat tentakel Gurita semakin terang. Akhirnya, Tom menyentuh kepala Gurita Penakut dengan tentakel cahayanya. “Kau juga boleh bermimpi.” Gurita Penakut bergetar. Duri-durinya luruh kembali, matanya berubah biru lembut. Ia mengecil menjadi gurita biasa yang berenang malu-malu.
Gurita tersenyum lemah. “Kau menyelamatkan kami lagi, Tom. Tapi cahayaku hampir habis.” Tom menggenggam tentakel kecil itu erat. “Kalau begitu, ambil cahayaku.”
Cahaya dari telapak tangan Tom mengalir ke tubuh Gurita. Gurita menjadi terang kembali. Sebelum Tom terbangun, Gurita berbisik, “Sekarang giliranmu menjaga mimpi.”
Saat pagi berikutnya, Tom bangun dengan telapak tangan kosong. Tapi di dadanya ada denyut hangat. Ia berlari ke pantai, mengambil sampah plastik satu per satu.
Dan laut terasa sedikit lebih biru hari itu.
Baca Juga
-
Little Aresha: Saat Bisnis Penitipan Anak Berubah Jadi Neraka Bagi Balita
-
Ulasan Film Ikatan Darah: Pertaruhan Nyawa Demi Sebuah Kehormatan Terakhir!
-
Review Film Apex: Metafora Duka dalam Pertarungan Brutal di Alam Terbuka
-
Aftersun: Sebuah Potret Pedih Hubungan Ayah dan Anak yang Menyayat Perasaan
-
Review Film The Devil Wears Prada 2: Balas Dendam Emily di Panggung Fashion
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Sinopsis Straight to Hell, Drama Jepang Terbaru Erika Toda di Netflix
-
Pekerja Perempuan di Tengah Kenaikan Harga: Bertahan atau Tumbang?
-
Manga Spin-Off Jujutsu Kaisen Modulo Tutup Seri, MAPPA Rilis PV Animasi
-
5 Krim Malam Mengandung Peptide untuk Wajah Lebih Kencang dan Bebas Kerutan
-
Hari Buruh 2026: Saat Harapan Berjalan Berdampingan dengan Kekhawatiran