M. Reza Sulaiman | Dimas Rahmat Naufal Wardhana
Ilustrasi AI gadis murung melihat desa nya berserakan sampah (Gemini AI/Nano Banana)
Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Dulu, saat Arum masih kecil, sungai di timur Desa Tambakromo adalah taman bermainnya. Ia ingat betul bagaimana airnya jernih, bagaimana ikan-ikan kecil melompat saat ia mencelupkan kaki. Neneknya sering berkata, “Sungai ini ibu kita. Jaga dia, dia jaga kita.”

Tapi itu lima tahun lalu.

Kini, Arum yang berusia 16 tahun berdiri di jembatan yang sama. Alih-alih ikan, yang ia lihat adalah tumpukan plastik, popok, dan bangkai ayam. Bau menyengat menusuk hidung. Setiap sepulang sekolah, Arum melewati tempat ini. Dan setiap kali, hatinya perih.

Kamis sore, Arum melihat neneknya sendiri membuang kantong hitam ke bibir sungai.

“Nek, jangan di situ!” seru Arum. Neneknya berbalik biasa saja. “Lah, mau dibuang ke mana? Mobil sampah sebulan sekali lewat.” “Tapi sungai jadi kotor, Nek. Nanti banjir.” “Biar jadi urusan lurah,” sahut nenek sambil pergi.

Arum menggigit bibir. Ia sadar; masalahnya bukan sekadar sampah, tapi budaya Desa Tambakromo yang sudah jauh berbeda.

***

Hari Sabtunya, Arum memutuskan bergerak. Pertama, ia ajak lima teman sekelas membersihkan jembatan. Mereka datang dengan sarung tangan dan karung. Namun keesokan harinya, sampah kembali menumpuk. Bahkan ada yang lebih banyak.

“Orang-orang masih buang di sini,” keluh Rini, teman Arum.

Arum tak menyerah. Ia buat poster bertuliskan “Sungai Bersih, Desa Sehat” lalu menempelnya di setiap gang. Tapi satu per satu poster itu hilang. Ada yang robek, ada yang dicoret kata-kata kasar.

“Kampanye sampah?” celetuk seorang bapak-bapak. “Mending cari duit, Nak!”

Arum mulai merasa sendiri.

***

Malam Senin, Arum nekat menemui Pak Lurah Bambang. Laki-laki paruh baya itu sedang duduk di teras.

“Pak, saya usul bank sampah dan larangan plastik sekali pakai,” kata Arum. Pak Lurah menghela napas. “Ide bagus. Tapi warga sudah nyaman. Apalagi Bandi, dia untung besar dari jualan plastik.” “Tapi kalau sungai terus tercemar, desa wisata kita sepi, Pak.” “Nanti saya pikirkan,” jawabnya ragu.

Arum kecewa. Namun, ia dengar bisik-bisik di sekitarnya bahwa Bandi sedang kesulitan bayar utang ke tengkulak. Itulah mengapa ia mati-matian mempertahankan plastik; karena untungnya tipis tapi cepat. Bandi sebenarnya tahu plastik itu jahat, tapi urusan perut lebih mendesak daripada lingkungan desa.

***

Senin sore, Arum menemui Bandi langsung di tokonya.

“Pak Bandi, tolong kurangi plastik. Ganti tas anyaman.” Bandi tertawa keras. “Kamu mau toko saya bangkrut? Plastik itu murah, mudah, dan sudah budaya kita!” “Tapi sampah plastik butuh ratusan tahun terurai, Pak. Sungai kita tersumbat.” “Urusan sungai urusan pemerintah. Urusan toko urusan saya!” lantang suara Pak Bandi.

Bandi membalikkan badan, tapi tangannya gemetar. Arum tidak tahu bahwa malam sebelumnya Bandi bermimpi rumahnya terendam air hitam. Ia takut, tapi rasa takut itu ia kubur dalam tawa keras.

***

Hari-hari berlalu. Arum mulai berkecil hati. Namun tiga hari kemudian di pagi hari, ia melihat langit mendung di musim kemarau. Suasana tampak aneh. Lalu ia ingat pesan almarhum ayahnya, “Kalau hujan turun di puncak bukit, air akan membawa semua sampah ke desa.”

Arum berteriak, “Warga, bersihkan sungai! Hujan besar akan datang!” Tidak ada yang menggubris. Bandi malah tertawa, “Hoax, kali!”

Setelah Bandi bilang seperti itu, hujan deras mengguyur Tambakromo selama 12 jam tanpa henti. Sungai yang tersumbat sampah meluap. Air hitam bercampur plastik dan lumpur masuk ke rumah-rumah. Rumah Bandi yang berada tepat di bantaran menjadi yang pertama kebanjiran. Tokonya terendam setinggi lutut. Beras, gula, dan mi instan rusak.

Di tengah hujan, Bandi berteriak-teriak menyelamatkan anaknya yang hampir hanyut tersangkut tirai plastik. Ia menangis dan merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan, menyadari nyawa anaknya hampir tidak selamat.

***

Keesokan paginya, warga mulai membersihkan lumpur. Arum melihat Pak Bandi duduk di teras dengan muka pucat. Di sampingnya, tumpukan sampah plastik tersangkut di pagar rumahnya sendiri. Pak Bandi menatap Arum; matanya sembab.

“Rum… maafkan saya,” bisiknya. “Sampah yang saya jual… pulang ke rumah saya sendiri.” Arum mendekat. “Masih bisa diperbaiki, Pak.” “Tapi tokoku hancur,” isak Bandi. “Kita bantu gotong royong,” kata Arum. “Asal Bapak berhenti jual plastik.” Bandi mengangguk pelan. “Saya janji.”

***

Malamnya, Pak Lurah mengumpulkan warga. Dengan suara tegas, ia umumkan larangan plastik sekali pakai dan kewajiban memilah sampah.

Bandi berdiri. “Saya akan jual tas lipat dan botol isi ulang. Saya juga donasi untuk bank sampah.” Warga bertepuk tangan. Tapi tidak semua senang. Beberapa ibu-ibu masih berbisik, “Repot ah, harus bawa tas sendiri.”

Arum sadar perubahan tak semudah membalik telapak tangan. Ia bersama teman-temannya mendirikan Bank Sampah Remaja. Setiap Sabtu, mereka tukar plastik dengan beras. Pak Lurah pun membantu koordinasi dengan TPS3R terdekat supaya truk sampah datang mengangkut sehari sekali.

Namun di minggu ketiga, hanya separuh warga yang datang. Sebagian masih diam-diam buang sampah ke tebing belakang desa. Arum tersenyum getir, tapi ia tak menyerah. Sungai mulai jernih di beberapa bagian. Ikan kecil mulai muncul. Itu cukup baginya.

Desa Tambakromo masih menyimpan tumpukan "sampah" di balik senyumnya. Tapi kini senyum itu mulai tulus—sedikit demi sedikit. Sebab Arum percaya; budaya menjaga tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari kegagalan yang tak pernah berhenti dilawan.

Baca Juga