Sekar Anindyah Lamase | Rie Kusuma
Ilustrasi AI gadis berlari ketakutan (Gemini AI/Nano Banana)
Rie Kusuma

"Ihh, bau!"

Alin menutup hidung begitu turun dari bus. Aroma menyengat yang mencegat lubang hidungnya nyaris membuat gadis itu pingsan. Ia lalu mengaduk isi tas, menarik dua lembar masker, lantas cepat-cepat memakainya sebelum aroma busuk tadi kembali terhirup. Tiba-tiba saja, ia teringat peristiwa yang terjadi siang tadi.

"Ngeliatin aja. Mau? Cicipin aja kalo kepo, nih.”

Alin menggeleng lalu mengalihkan pandangannya dari mangkuk Sekar yang ada di seberang meja. Tapi, Alin masih bisa mencium bau menyengat yang menguar dari kuah kecokelatan di mangkuk Sekar.

"Itu apa, sih?" tanya Alin akhirnya, sambil berusaha keras tak menutup hidung agar tak membuat Sekar tersinggung.

"Rawon sampah,” jawab Sekar singkat.

Alin tersentak kaget. Ia melihat Sekar menyantap hidangannya dengan lahap. Pertama-tama, Sekar menggigit potongan mirip ban dalam, disusul menyuap plastik yang digunting memanjang menyerupai kecambah.

Gadis berkacamata minus tersebut juga mencomot kaleng minuman yang potongannya mirip kerupuk. Alin bisa membaca merek sebuah minuman bersoda di salah satu kerupuk kaleng tersebut.

Alin masih terus mengawasi Sekar, yang mengaduk-aduk bubur kertas—lengket, seperti tekstur nasi, yang diletakkan di wadah terpisah. Teman kantornya itu dengan penuh semangat menuangkan sebagian kuah rawonnya ke piring berisi nasi jadi-jadian tadi, lantas menyuapkan sesendok penuh Rawon Sampah beraroma menyengat tersebut ke dalam mulutnya. Alin nyaris muntah.

"Aku ke toilet dulu!"

Alin melangkah tergesa meninggalkan Sekar. Temannya itu hanya mengangkat jempolnya sebelum kembali menikmati makan siangnya. Alin tak peduli, jika nanti Sekar sampai mencari-cari dirinya begitu tahu ia tak muncul kembali. Ya, Alin memang tak berniat balik ke kantin kantor tersebut. Pergi ke toilet hanya alasannya saja agar dapat menghirup udara segar banyak-banyak di luar. 

"Alin!"

Alin menghentikan langkahnya yang sudah menuju tangga kosan. Lamunannya sudah terbang entah ke mana bersama kehadiran Biyan, laki-laki bertubuh lentur penghuni kosan pria di lantai bawah, yang melangkah gemulai ke arahnya.

"Kamu, kok, bau Bantar Gebang, sih," sungut Alin sambil menutup hidung, demi mencium aroma tajam menusuk dari tubuh Biyan.

"Iissh, sembarangan aja lu, Nek! Ini parfum keluaran terbaru. Iklannya aja udah wara-wiri di mana-mana. Lu aja yang ketinggalan info.”

Biyan berdecak gemas, lalu dengan langkah gemulai ia berjalan menjauhi Alin menuju salah satu kursi di teras kosan. Alin bersyukur aroma menyengat tersebut jadi jauh berkurang.

"Aku, tuh, mau ajak kamu party nanti malam. Brand ambassador parfum yang kupakai ini kebetulan teman baikku. Mau ada acara gala dinner di Hotel Kusuma, sekalian promo parfum tersebut. Dia minta aku datang. Boleh ajak teman katanya. Ikut, yuk!"

Mendengar perkataan Biyan, Alin baru tersadar kalau lelaki gemulai itu berpakaian berbeda hari ini. Biasanya ia hanya akan memakai kaus V-neck dengan luaran kardigan berwarna mencolok. Namun, kali ini Biyan memakai kemeja pink lembut dan celana katun berwarna biru. Hal yang semula tidak diperhatikan Alin, karena pikiran gadis itu sudah dikacaukan oleh bau sampah sejak turun dari bus.

"Sori ya, Bi. Aku capek, baru pulang kerja. Kamu ngasih tahunya juga mendadak, sih.”

Alin kembali menaiki tangga di ujung teras depan, yang langsung menuju kosan khusus perempuan di lantai atas. Biyan, toh, tak masalah. Katanya, ia mau mengajak teman kos yang lain. Alin bersyukur, ia tak perlu ikut ke acara yang diyakininya hanya akan penuh dengan aroma sampah.

***

Sudah dua hari Alin tidak masuk kerja. Gadis dua puluh empat tahun itu tak yakin, ia akan sanggup bekerja dengan aroma sampah di mana-mana.

Ya, setelah kejadian bau busuk saat turun dari bus kota tempo hari, ditambah kedatangan Biyan dengan membawa aroma yang sama, mendadak di mana-mana bau menusuk itu selalu mengikuti Alin.

Di jalanan, bau busuk sampah menguar dari kios-kios dan warung makan yang berjajar di kiri kanan jalan. Di kantor, aroma busuk memang jauh berkurang, Alin tak harus mendobel maskernya sampai tiga rangkap. Namun, bukan berarti bau busuk itu tak ada. Alin bahkan tak berani ke kantin, sejak menu-menu baru beraroma sampah merajalela di depot-depot makanan, yang banyak berjajar di kantin. Tidak hanya di depot makanan milik Mang Tarjo dan Mpok Siti, seperti yang semula Alin tahu.

"Ternyata enak ya, rujak campurnya, Ceu Nenden. Nggak nyangka sisa-sisa sayuran sama buah busuk bisa dijadiin rujak yang rasanya maknyuusss …."

"Kamu sudah coba soto kalengnya, Bang Somad, belum? Itu lebih unik lagi rasanya. Kuahnya campuran plastik, karet, dan kaca yang diblender sampai halus terus ditumis. Rasanya juga endolita."

"Ah, iya, kemarin aku sudah coba. Jadi, tadi aku pesan menu lain yang ada di warung Pak Encep."

"Pesan apa?"

"Pecel ban mobil! Wahh, rasanya amaziingg!"

Alin bergidik mendengar percakapan teman-temannya seusai jam makan siang. Kepalanya berdenyut-denyut. Alin juga bolak-balik ke toilet karena rasa mual yang tak jua hilang, berujung gadis itu izin pulang ketika suhu badannya pun ikut meninggi.

Pulang dari kantor Alin mampir ke klinik, lalu ke minimarket di seberangnya. Ia memborong pewangi ruangan aneka jenis. Ada pengharum ruangan yang berbentuk spray, berbentuk padat dalam kemasan plastik, ada yang berupa cairan berupa minyak esensial dalam wadah kaca, bahkan yang berbentuk lilin aromaterapi. Tak lupa gadis itu pun membeli masker hingga berdus-dus.

"Lima ratus sembilan puluh ribu, Mbak."

Kasir menyebut total belanjaan Alin. Gadis itu mendesah panjang sebelum menyodorkan kartu debitnya.

Sampai di kosan, Alin menyalakan kipas angin, yang diarahkannya ke tembok kamar. Dua pengharum ruangan yang tergantung di sela-sela penutupnya beraroma lemon dan peppermint, serta-merta mendominasi ruangan 2x3 meter persegi tersebut. Setelah meminum obat, Alin terkapar di ranjangnya. Ia lalu bermimpi berada di tanah lapang luas yang beraroma buah-buahan.

***

Perut Alin berbunyi. Cacing-cacing dalam perutnya mulai protes karena sepagian hingga tengah hari ini, gadis itu belum mengganjal perutnya. Saat ke minimarket kemarin, ia tak ingat untuk menyelipkan barang sebungkus roti tawar ke keranjang belanjanya yang sesak.

Suhu badan Alin sudah kembali normal, tapi surat izin sakitnya untuk dua hari. Ia tak harus ke kantor hari ini. Niatnya untuk memesan makanan melalui aplikasi makanan cepat saji batal, begitu melihat menu-menu makanan yang ditawarkan di sana.

Foto-foto makanan yang tampak di layar telepon genggamnya cukup membuat mual, lengkap dengan judul-judul makanan berbau sampah, seperti: Sampah Krispi, Mendoan Plastik, Burger Kardus, Mie Koran Keriting, Krecek Paku Bekas Bongkaran Rumah, dan lain sebagainya, membuat Alin cepat-cepat menutup aplikasi tersebut.

Berbekal masker lima lapis, Alin memaksakan diri mencari makanan di luar. Ia memilih jalan memutar—tak melewati kios dan warung makan di sepanjang jalan menuju halte bus yang biasa ia tuju—agar tak perlu melihat banner-banner bergambar aneka sampah dalam menu kekinian, di setiap area tempat makan tersebut.

"Gila! Baru kali ini gue ngrasain makanan seenak tadi. Bikin nagih!"

"Makananku juga enak banget. Baru nyium baunya sudah bikin liur netes. Apalagi begitu dicicip sesendok. Waahh …, nggak pake lama buat habisin."

"Memang tadi lu kelihatan banget kemaruknya, Din. Sampai gue nyesel nggak nyobain menu yang sama."

Tiga orang anak muda berjalan menuju parkiran sebuah rumah makan. Alin yang melintas di depan mereka lalu berhenti, pura-pura mengetikkan sesuatu di telepon genggamnya, untuk mendengarkan obrolan mereka lebih jelas. Ia juga melirik ke arah rumah makan yang disebut-sebut mereka, merasa senang karena tak ada banner yang aneh-aneh di bagian depannya.

"Lalu tadi kamu pesan apa, ya? Kok, aku bisa lupa? Apa karena saking asyiknya sama makananku, ya?"

"Gue pesan jamur krispi. Enak, sih, tapi kurang menantang gitu. Kayak ada yang kurang."

"Kurang apanya, Ta?"

"Apa, ya? Bingung gue jelasinnya."

Alin masih mengutak-atik telepon genggamnya. Malah kali ini sengaja menempelkan gadget-nya tersebut ke telinga, berlagak gelisah tak bisa menghubungi seseorang di seberang telepon.

"Aku tahu!" Si Bando Pelangi tiba-tiba memekik. Kedua temannya yang disapa Din dan Ta menoleh berbarengan. Alin ikut menoleh, penasaran.

"Nggak ada aroma sampahnya, kan? Padahal itu yang bikin beda. Iya, kan?"

Lalu ketiga remaja tersebut bersorak riang, setelah berhasil memecahkan misteri jamur krispi yang rasanya kurang tersebut.

Perut Alin bergemuruh, tapi ia memutuskan tak akan masuk ke rumah makan tersebut. Saat berbalik itulah untuk pertama kalinya Alin melihat sampah bergunduk-gunduk di sepanjang jalan, di muka rumah-rumah, di warung-warung, di depan masjid, di rambut anak kecil yang melintasinya barusan. Di bulu anjing yang mengendus-endus rumput di pekarangan rumah. Di tubuh orang-orang yang dilihatnya sepanjang jalan.

Alin berlari sekencang-kencangnya penuh ketakutan. Dan, aroma sampah yang menyengat terus mengejarnya dari segala arah.