Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan Gunung Ciremai ketika langkah-langkah para pendaki mulai memenuhi jalur pagi itu. Udara dingin menusuk kulit, sementara aroma tanah basah bercampur dedaunan menjadi parfum alami yang selalu dirindukan para pencinta gunung.
Di sebuah tanjakan yang cukup terjal, seorang perempuan berhenti sejenak. Ia mengatur napas sambil menyesap air dari botol minumnya. Wajahnya sedikit pucat karena kelelahan.
"Gapapa?" suara seorang laki-laki terdengar dari belakang.
Perempuan itu menoleh. Seorang pria dengan carrier besar berdiri sambil tersenyum ramah.
"Aman. Cuma butuh istirahat sebentar."
Pria itu mengangguk.
"Kalau begitu, istirahatnya bareng. Kebetulan aku juga mulai nyerah sama tanjakan ini."
Perempuan itu tertawa kecil.
Hari itu menjadi awal dari sebuah cerita yang tidak pernah mereka rencanakan.
Namanya Hema.
Dan perempuan itu bernama Lia.
Mereka melanjutkan perjalanan bersama hingga pos berikutnya. Obrolan yang awalnya hanya tentang jalur pendakian berubah menjadi percakapan yang panjang.
"Aku suka gunung karena di sini semuanya jujur," kata Lia sambil memandang hutan yang membentang.
"Maksudnya?"
"Kalau capek ya capek. Kalau hujan ya hujan. Alam nggak pernah berpura-pura."
Hema tersenyum.
"Aku juga."
Lia menatapnya.
"Aku lebih suka tempat yang tenang daripada keramaian. Duduk di pinggir tebing sambil lihat matahari terbit itu rasanya lebih menyenangkan daripada nongkrong di kota."
Hema mengangguk cepat.
"Ditambah secangkir kopi."
Lia tertawa.
"Nah! Berarti kita sepemikiran."
"Arabika?"
"Tergantung suasana."
"Kalau aku robusta."
"Berarti nanti kita bisa saling mencicipi."
Percakapan sederhana itu menjadi awal dari banyak kesamaan yang mereka temukan.
Mereka sama-sama menikmati hujan.
Sama-sama lebih memilih membaca buku dibanding pergi ke pusat perbelanjaan.
Sama-sama menyukai keheningan.
Dan sama-sama percaya bahwa setiap gunung memiliki cara unik untuk mengajarkan kehidupan.
Selepas pendakian Ciremai, mereka tetap saling berkabar.
Awalnya hanya bertukar foto matahari terbit.
Lalu berbagi rekomendasi jalur pendakian.
Kemudian saling mengirim foto secangkir kopi setiap pagi.
Tanpa terasa, kebiasaan kecil itu menjadi bagian dari hari-hari mereka.
Setiap gunung yang didaki selalu menyisakan cerita baru.
Merbabu mengajarkan mereka tentang kesabaran.
Prau menghadiahkan lautan awan yang tak terlupakan.
Sindoro memperlihatkan langit malam penuh bintang.
Mereka tetap menyebut hubungan itu sebagai persahabatan.
Padahal, semua orang di sekitar mereka sudah lebih dulu mengetahui bahwa ada sesuatu yang tumbuh diam-diam.
Kecuali Lia.
Atau mungkin... ia sengaja tidak ingin mengakuinya.
Beberapa kali Hema mencoba membaca isi hati Lia.
Namun setiap kali pembicaraan mulai mengarah pada perasaan, Lia selalu mengubah topik.
Kadang ia tersenyum.
Kadang ia memilih diam.
Ada sesuatu yang disembunyikannya.
Hema tidak pernah memaksa.
Ia percaya, setiap orang memiliki luka yang belum selesai.
Hingga suatu hari mereka memutuskan mendaki Mahameru.
Perjalanan panjang melewati Ranu Kumbolo, Kalimati, hingga Arcopodo menjadi perjalanan paling melelahkan sekaligus paling bermakna.
Malam sebelum summit attack, Hema hampir tidak bisa tidur.
Di dalam saku jaketnya, tersimpan sebuah cincin sederhana.
Bukan cincin pertunangan.
Hanya simbol keberanian.
Keberanian untuk mengungkapkan apa yang selama ini dipendam.
Matahari mulai muncul ketika mereka akhirnya tiba di puncak Mahameru.
Langit perlahan berubah keemasan.
Awan membentang sejauh mata memandang.
Semesta seperti berhenti sejenak.
Hema berdiri di samping Lia.
"Lia."
Perempuan itu menoleh.
"Terima kasih sudah menjadi teman pendakian terbaik."
Lia tersenyum.
"Aku juga."
"Tapi..."
Hema menarik napas panjang.
"Aku rasa aku nggak bisa lagi menganggapmu hanya teman."
Lia terdiam.
Hema mengeluarkan cincin kecil dari sakunya.
"Aku jatuh cinta sama kamu."
Keheningan menyelimuti puncak tertinggi Pulau Jawa itu.
Hanya suara angin yang terdengar.
Lia menatap mata Hema cukup lama.
Kemudian perlahan, air matanya jatuh.
"Hema..."
"Aku tahu mungkin ini terlalu cepat."
"Bukan itu."
"Lalu?"
Lia memejamkan mata.
"Aku takut."
Mereka turun gunung tanpa banyak bicara.
Beberapa hari kemudian, Lia akhirnya menceritakan semuanya.
Beberapa tahun sebelumnya, ia pernah mencintai seseorang.
Mereka juga bertemu di gunung.
Mereka memiliki mimpi yang sama.
Namun hubungan itu berakhir dengan luka yang begitu dalam.
Sejak saat itu, setiap kali ada seseorang yang mulai mendekatinya, Lia selalu mundur.
Bukan karena tidak ingin mencintai lagi.
Melainkan karena takut kehilangan untuk kedua kalinya.
"Aku masih sering mengingat semuanya," ucap Lia pelan.
"Aku tahu kenangan itu seharusnya selesai."
"Tapi ternyata belum."
Hema tidak marah. Tidak kecewa. Ia hanya berkata,
"Aku nggak akan melawan masa lalumu."
Lia menatapnya.
"Aku cuma akan berjalan di sampingmu sampai suatu hari kamu nggak lagi melihat ke belakang."
Kalimat itu membuat Lia menangis.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena baru kali itu ada seseorang yang tidak memaksanya untuk segera melupakan. Hari-hari berikutnya bukanlah kisah cinta yang indah seperti di novel.
Ada saat-saat ketika Lia tiba-tiba menghilang beberapa hari.
Ada malam ketika ia menangis tanpa sebab yang jelas.
Ada waktu ketika kenangan lama kembali menghantuinya.
Namun Hema tetap ada.
Kadang hanya mengirim foto secangkir kopi.
Kadang mengirim foto jalur pendakian.
Kadang hanya menulis,
"Semoga harimu tenang."
Tanpa menuntut balasan.
Beberapa bulan kemudian, mereka kembali mendaki Ciremai.
Gunung yang pertama kali mempertemukan mereka.
Di tanjakan yang sama, Lia berhenti.
Lalu tersenyum.
"Ingat?"
"Ingat."
"Dulu kita ketemu di sini."
Hema mengangguk.
Lia kemudian menggenggam tangan Hema untuk pertama kalinya.
"Aku mungkin belum sepenuhnya selesai dengan masa laluku."
Hema diam mendengarkan.
"Tapi sekarang aku tahu... kenangan tidak harus dilupakan agar seseorang bisa mencintai lagi."
Hema tersenyum.
"Karena?"
Lia menatap hamparan hutan yang hijau.
"Karena cinta bukan tentang menghapus jejak yang lama."
Ia menggenggam tangan Hema lebih erat.
"Tapi tentang menemukan seseorang yang bersedia berjalan bersamamu, meski jalan itu masih dipenuhi bekas langkah."
Angin gunung kembali berembus pelan.
Burung-burung melintas di atas langit Ciremai.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Lia merasa damai.
Mungkin benar.
Tidak semua kisah cinta dimulai dengan tatapan pertama.
Ada yang dimulai dari satu jalur pendakian, secangkir kopi hangat, dan dua orang asing yang sama-sama mencintai sunyi.
Sebab pada akhirnya, gunung tidak hanya mempertemukan manusia dengan puncaknya.
Kadang, gunung juga mempertemukan seseorang dengan rumah yang selama ini ia cari—di hati orang lain.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Ramalan Cinta Zodiak 3 Agustus 2026, Bagaimana Peruntungan Asmaramu Hari Ini?
-
Rilis Final Trailer Film "Dan Bandung", Kisah Perjuangan Cinta Yang Siap Mengaduk Emosi Penonton
-
Memaknai Lagu Selesai: Saat Cinta dalam Diam Harus Belajar Melepaskan
-
Surat untuk Jenaka: Antara Cinta, Mesin Waktu, Hukum, dan Misteri Tahun 1923
-
Review Voicemails for Isabelle: Sebuah Arti Ketulusan Cinta yang Sejati
Cerita-fiksi
Terkini
-
Mengenal Kimpul, Umbi Lokal Pengganti Nasi yang Sedang Viral Jadi Seblak hingga Tteokbokki
-
Awas Boncos! Ini 8 Biaya Tersembunyi Pesta Pernikahan yang Sering Luput dari Anggaran
-
4 Inspirasi Daily OOTD ala Minnie i-dle, Youthful dan Modis!
-
5 Rekomendasi Drama China Tayang Agustus 2026: Dari Romansa Modern hingga Costume Drama
-
Fenomena 'Ghosting' Rekrutmen: Ketika Perusahaan Menuntut Profesionalisme tapi Lupa Etika Dasar