Hayuning Ratri Hapsari | Dimas Rahmat Naufal Wardhana
Ilustrasi Gambut (commons.wikimedia.org/Taufan Kharis)
Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Gambut bukan sekadar lahan basah, tetapi penyangga ekosistem hutan di tengah situasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih membayangi Indonesia, terutama ketika musim kemarau mencapai periode kritis. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi ekosistem gambut karena kebakaran tidak hanya menghanguskan vegetasi di atas permukaan tanah, tetapi juga dapat merusak lapisan gambut yang terbentuk selama waktu yang sangat panjang.

BMKG menyatakan September masih menjadi salah satu fase yang perlu diwaspadai terhadap karhutla akibat cuaca kering, pengaruh El Niño, dan tingginya titik panas. Pada 2 September lalu, Kalimantan tercatat memiliki 463 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, sedangkan Sumatera mencapai 264 titik. Asap juga masih terpantau di sejumlah wilayah.

Kementerian Kehutanan melaporkan jumlah titik panas (hotspot) secara nasional kembali meningkat menjadi 1.437 titik dari sebelumnya 592 titik di tengah periode musim kemarau. Karhutla di Sumatera, Kalimantan, dan Papua memiliki karakteristik yang tidak selalu sama. Namun, ketika api masuk ke ekosistem gambut, persoalannya dapat menjadi lebih panjang karena gambut menyimpan air, karbon, dan menjadi bagian penting dari habitat berbagai jenis flora dan fauna.

BMKG pada akhir Agustus juga mencatat peningkatan titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan. Kalimantan Tengah, misalnya, mengalami kenaikan titik panas berkepercayaan tinggi dari 113 menjadi 352 titik pada 25 Agustus.

Di Sumatera Selatan, jumlah titik panas sempat turun dari 298 menjadi 63 titik. Namun, kondisi kering tetap membuat ancaman kebakaran perlu diwaspadai. Sementara itu, sebaran asap juga terdeteksi hingga sejumlah wilayah Papua.

Di Papua, ancaman karhutla juga perlu mendapat perhatian karena sebagian kawasan memiliki ekosistem rawa dan gambut yang menyimpan karbon sekaligus menjadi habitat berbagai spesies.

Gambut menjadi penyangga lingkungan hutan tanpa kita sadari selama ini, lahan gambut terkadang hanya dipandang sebagai kawasan basah yang sulit dimanfaatkan. Padahal, cara pandang tersebut terlalu sederhana. Gambut merupakan ekosistem yang memiliki fungsi ekologis penting bagi hutan, manusia, satwa, tumbuhan, dan iklim.

Indonesia memiliki salah satu kawasan gambut tropis terbesar di dunia. Ekosistem ini menyimpan karbon dalam jumlah besar sekaligus menyediakan habitat bagi berbagai jenis keanekaragaman hayati.

Salah satu manfaat gambut yang paling penting adalah kemampuannya menyimpan air. Gambut dapat bekerja seperti spons raksasa yang menahan air ketika musim hujan dan melepaskannya secara perlahan ketika kondisi mulai kering.

Fungsi tersebut membuat ekosistem gambut berperan dalam menjaga tata air, mengurangi risiko banjir, mempertahankan ketersediaan air, sekaligus membantu mengurangi dampak kekeringan.

Ketika gambut tetap basah, ekosistem hutan di atasnya juga memiliki kondisi yang lebih sesuai untuk mempertahankan kehidupan. Sebaliknya, ketika gambut dikeringkan, keseimbangan ekosistem mulai terganggu dan risiko kebakaran meningkat.

Ketika gambut terbakar, hutan akan kehilangan perlindungannya, kebakaran pada lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dari kebakaran vegetasi biasa. Api dapat menjalar di bawah permukaan dan membakar lapisan bahan organik yang tidak selalu terlihat dari atas. Maka dari itu, pemadaman api di gambut tidak cukup hanya dengan menghilangkan kobaran yang terlihat. Lapisan gambut yang masih membara dapat menjadi sumber api baru apabila kondisi kembali kering.

Dampaknya juga dirasakan manusia. Asap karhutla dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, perjalanan, sekolah, pekerjaan, hingga kesehatan masyarakat. Partikulat dari asap kebakaran dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan.

Dampak ekonominya pun tidak hanya berasal dari lahan yang terbakar. Ketika kualitas udara memburuk, transportasi, perdagangan, pertanian, pendidikan, dan produktivitas masyarakat dapat ikut terganggu.

Artinya, kerugian akibat karhutla Sumatera dan Kalimantan tidak seharusnya hanya dihitung berdasarkan luas kawasan yang terbakar. Waktu belajar anak yang hilang, biaya kesehatan keluarga, produktivitas pekerja, sumber pangan, serta mata pencaharian masyarakat juga menjadi bagian dari dampaknya.

Gambut bisa menjadi rumah bagi hewan dan tumbuhan, kita bisa melihat manfaat gambut untuk lingkungan hutan juga terlihat dari keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya. Hutan gambut menjadi habitat berbagai jenis burung, ikan, mamalia, dan tumbuhan yang telah beradaptasi dengan lingkungan basah. Ekosistem tersebut membentuk jaringan kehidupan yang saling bergantung.

Ketika kebakaran terjadi, satwa kehilangan tempat mencari makan, berlindung, dan berkembang biak. Tumbuhan juga menghadapi ancaman serupa. Kebakaran berulang dapat mengubah struktur vegetasi dan menghambat regenerasi alami hutan.

Hutan kehilangan vegetasi akibat karhutla, satwa kehilangan habitat. Ketika tumbuhan berkurang, rantai makanan ikut terganggu. Karena itu, dampak karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Kerusakan ekologisnya dapat berlangsung jauh lebih lama.

Ekosistem gambut bisa menyimpan karbon untuk iklim dunia. Ada alasan lain mengapa gambut Indonesia memiliki arti penting, yaitu kemampuannya menyimpan karbon. Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik yang berlangsung sangat lama dalam kondisi tergenang. Ketika ekosistemnya terjaga, karbon tersimpan di dalam lapisan gambut. Namun, ketika gambut dikeringkan dan terbakar, karbon yang tersimpan dapat dilepaskan ke atmosfer.

Penting untuk kita menjaga gambut Indonesia memiliki hubungan erat dengan upaya menghadapi perubahan iklim. Gambut yang sehat bukan hanya bermanfaat bagi kawasan tempatnya berada, tetapi juga memiliki fungsi dalam menjaga keseimbangan lingkungan yang lebih luas.

Ironisnya, ketika musim kemarau semakin kering, gambut justru membutuhkan perlindungan lebih kuat. BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli–September dan memperingatkan pengaruh El Niño terhadap risiko kekeringan serta karhutla yang terjadi oleh orang yang sengaja membakarnya.

Berbagai upaya penanganan pun dilakukan, termasuk operasi modifikasi cuaca untuk membantu pembasahan gambut dan mendukung penanganan karhutla di sejumlah wilayah seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Riau.

Pemadaman kebakaran memang penting, tetapi perlindungan gambut tidak seharusnya berhenti setelah api padam. Pencegahan, pengelolaan tata air, pemulihan ekosistem, dan pengawasan kawasan gambut juga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

Sudah saatnya lahan gambut Indonesia dipandang sebagai aset ekologis, bukan lahan kosong. Gambut memiliki manfaat yang saling terhubung, mulai dari menyimpan air, menjadi habitat hewan, mendukung pertumbuhan tanaman dan hutan, hingga menyimpan karbon.

Karhutla Sumatera, Kalimantan, dan Papua menjadi pengingat bahwa api yang terlihat di permukaan dapat menjadi tanda dari persoalan ekologis yang jauh lebih besar.

Ketika gambut terbakar, yang hilang bukan hanya pohon. Habitat satwa rusak, tumbuhan kehilangan ruang hidup, kualitas udara memburuk, masyarakat terdampak, dan karbon yang tersimpan dalam waktu sangat lama dapat terlepas. Menjaga ekosistem gambut bukan sekadar mencegah tanah terbakar.

Menjaga gambut berarti menjaga fungsi hutan, melindungi keanekaragaman hayati, mempertahankan tata air, dan ikut menjaga keseimbangan iklim. Gambut yang tetap hidup adalah bagian dari hutan yang tetap mampu melindungi kehidupan.