M. Reza Sulaiman | Athar Farha
Ilustrasi sepasang kekasih (Nano Banana/Gemini AI)
Athar Farha

Di atas ranjang empuk pasutri, bulu mata lentik bagai tirai langit itu lagi dipandangi sang suami dengan sabar. Malu ditatap terlalu lama, dia melengos, kemudian mengatupkan kelopak mata. Sedetik kemudian, sentuhan kasar tapi hangat dari pria berewok tebal berkulit cokelat itu mendarat di punggung telapak tangannya, lalu menggenggamnya dengan lembut.

Dia yang tadinya duduk bersila di atas kasur, kini perlahan-lahan berbaring. Matanya masih terpejam. Kini dia pasrah setengah menahan bidang dada sang suami, yang telah memosisikan diri siap menerkam dengan cinta legit sampai-sampai siap mengacak-acak kasur berseprai tebal bermotif mawar hitam.

“Malam pertama pernikahan ini aku ingin kamu berjanji, Kang!” tuntutnya ketika membuka mata dengan masih terbaring. Jemarinya menjalari tengkuk sang suami. 

“Janji apa, Elis? Untuk istri tercinta, apa saja bakal saya turuti.”

“Tetaplah cintai aku. Selamanya, Kang!” Jauh di dalam lubuk hati dan pupil Elis yang melebar karena terpukau dengan kegagahan Kang Arjun, tersimpan noktah kekhawatiran mendalam.

“Tentu, Sayang ....” Kang Arjun mengecup keningnya. 

Mata Elis mengembun. 

“Kok, malah mau nangis? Cantikmu nanti luntur, lho,” ujar Kang Arjun. 

Kang Arjun asyik menindih tubuh mungil Elis. Elis menatap lekat wajah Kang Arjun yang sekarang berjarak sekian sentimeter dari wajahnya. Dari mata kekasihnya, Elis melihat momen antara dia dan Kang Arjun di masa lalu. 

***

Di tepian jalan kota tengah malam, mereka melangkah—sejajar—saling menautkan jemari. Seperti dunia telah kehilangan penghuninya. Bagaikan langit menghujani bunga-bunga. Keduanya begitu intim membicarakan banyak hal di bawah cahaya kuning sulfur dari lampu jalan.

Itu hari keseribu lebih mereka menjalin kasih. Kang Arjun begitu cinta. Saking jatuh hati, dia mengabaikan status yang dipermasalahkan oleh kedua orangtuanya. Mereka mempermasalahkan nasib Elis yang sebatang kara. Namun, kekhawatiran itu diabaikan begitu saja. Tak menaruh rasa curiga sedikit pun. 

“Aku ingin mengatakan sesuatu, Kang,” ucapnya agak ragu. 

Mereka saling berhadapan di bawah cahaya lampu jalan. Sepi. 

Kedua telapak tangan Kang Arjun meremas pundak Elis. “Kamu mau bilang apa? Kurang yakinkah dengan perasaanku?” 

“Bagaimana ....” Elis berhenti berucap. 

Kang Arjun tersenyum lalu berkata, “Mencintaimu itu anugerah. Hilangkan keraguanmu perihal kasih sayang yang dapat tergerus waktu. Selamanya hati ini untukmu.”

Elis tertunduk dengan hati berbunga-bunga. Kang Arjun teramat baik. Meski menjalin kasih, tidak pernah sekalipun meminta berhubungan ranjang apalagi meminta cium sebelum halal. Ketika Kang Arjun menyentuh pipinya. Bayangan masa lalu buyar. Pikiran Elis kembali tertuju pada Kang Arjun yang sekarang hendak menanggalkan pakaiannya di kamar pasutri. 

***

Elis sejenak menepis lembut. Jantungnya berdegup kencang. Sesuatu yang disembunyikan selama ini takut tersingkap. 

Merasa heran, Kang Arjun mendecap-decap. 

Sekarang mereka duduk sejajar di tepian tempat tidur dengan kedua kaki terjulur ke lantai. Kang Arjun geleng-geleng. Kecewa. 

“Jangan pernah lupakan perjuangan kita, Elis!”

Elis menggeleng. “Tidak. Sungguh aku tak akan pernah melupakan itu.”

Sungguh perkataan Elis memang benar. Hati dan jiwa telah tertambat padanya. Tidak ada alasan untuk melupakan perjuangan paling ngilu seumur hidup mereka. 

Masih jelas ingatan Kang Arjun ketika orangtuanya tidak merestui. Sebatang kara bukan berarti tidak memiliki saudara. Begitulah Ayah dan Ibu Kang Arjun menginginkan kejelasan silsilah keluarga Elis. Namun, Kang Arjun tetap kekeuh dengan pengakuan ‘sebatang kara itu’. Sebatang kara yang tidak memiliki satu pun keluarga. Kang Arjun teramat percaya. Saking yakin ketulusan Elis, dia minggat dan membawa Elis ke suatu tempat. 

Bancuh. Hati Elis merasakan demikian. Gara-gara dirinya, sosok paling dicintai telah memutus ikatan keluarga. Namun, rasa bersalah itu langsung lenyap tatkala dia dibawa ke aula gedung. Matanya melebar tatkala melihat di tengah aula terdapat panggung persegi dengan empat tiang berkanopi dipenuhi bunga hiasan berwarna putih, yang selaras dengan warna cat dinding aula. 

Belum mengungkapkan kebahagiaannya, Elis ditarik oleh dua perempuan menuju ruang rias. 

Di ruang rias. Elis duduk menghadap cermin lebar—bergeming—membiarkan dua perias itu memoles wajahnya. Semerbak mawar terhidu kala tubuhnya disemprot parfum. Tatkala bibirnya sedang diwarnai lipstik merah, pikirannya melayang jauh pada momen operasi plastik sekian tahun yang dirinya jalani. 

Bersamaan dengan dirinya dirias, air mata Elis mengalir ketika momen lehernya diperban mencuat di dalam pikirannya. Salah satu perias itu menepuk punggung Elis. Ketika melihat raut kesal perias, Dia pun paham maksud tepukan itu, kemudian meminta maaf seraya mengusap air mata. Wajahnya dipoles lagi. Para perias agak menggerutu.

Siap. Elis meyakinkan diri ketika telah mengenakan gaun pengantin perpaduan bahan satin melekat di sekitar punggung sehingga tampak lekuk tubuh belakangnya. Elis melangkah keluar dengan gugup. 

Kang Arjun jodohku. Buktinya Allah membiarkan ini. Jadi untuk apa aku merasa bersalah? Elis membatin begitu. 

Di tengah aula. Elis melangkah mendekati Kang Arjun yang berdiri menantinya. Elis tersenyum melihat kegagahan pria berjas serba hitam dengan salur hitam putih pada bagian dalam, yang terlihat dari kerah.

Elis tersipu kala dipuji kecantikannya saat berhenti di hadapan Kang Arjun. Keduanya melangkah menuju panggung pernikahan. 

Sungguh, batin Elis menangis dalam senyum. Ketika pernikahan terjadi tidak ada satu orang pun diundang kecuali penghulu dan dua saksi laki-laki dari kawan dekat Kang Arjun. Pernikahan siri itu tampak mewah, dan itu adalah pembuktian janji Kang Arjun: Tidak peduli dunia tak memberi restu, pernikahan sekali seumur hidup harus membekas selamanya. 

Sah. Satu kata itu mengembalikan ingatan masa lalu pada keduanya yang kini masih mematung di tubir ranjang tidur kamar pasutri 

***

“Kang ...,” ucap Elis pelan.

Arjun yang sejak tadi duduk di tepian ranjang menoleh. Wajahnya masih menyimpan sisa senyum yang beberapa menit lalu membuat Elis yakin malam itu akan menjadi malam paling bahagia dalam hidupnya.

Elis menelan ludah. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan. “Sebenarnya aku ini ....”

Bisikan itu berhenti di telinga Arjun. Senyum di wajah lelaki itu lenyap. Dia tidak langsung bertanya. Hanya menatap Elis lama sekali, seakan-akan menunggu perempuan di hadapannya tertawa dan mengatakan semua itu lelucon. Namun, Elis tetap menunduk dengan bahu bergetar.

“Kamu ulangi! Apa maksudnya barusan?”

Elis mengangkat wajah. Air matanya sudah memenuhi pelupuk.

“Aku minta maaf, Kang.”

“Ulangi.”

“Aku takut kamu meninggalkan aku.”

Arjun berdiri. Kasur berderit pelan di belakangnya. 

Elis ikut berdiri, tapi lututnya lemas. “Aku mencintaimu,” katanya. “Dari dulu sampai sekarang. Aku tak pernah pura-pura soal itu.”

“Gila!”

“Aku tahu aku salah karena tak jujur.”

“Jangan bicara lagi!”

“Tapi aku tetap Elis yang kamu kenal.”

Arjun tertawa kecil. Kepalanya menggeleng berkali-kali. “Yang kukenal?”

Elis mengangguk.

“Jadi tiga tahun ini apa?” Arjun geram. 

Elis membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. 

Arjun berjalan ke depan cermin. “Aku meninggalkan orang tuaku,” ujar Arjun lirih. “Aku bawa kamu ke sini. Dan ternyata yang kucintai dan nikahi adalah lelaki cantik.” Lekas dirinya berjalan menuju pintu.

Elis mengejarnya. “Kang, jangan pergi!”

Arjun terus melangkah.

“Aku tak punya siapa-siapa.”

Langkah Arjun terhenti.

Elis berdiri beberapa meter di belakangnya. “Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu merasa semuanya bohong.”

Arjun menunduk.

Pelan-pelan Elis menyentuh punggung tangannya. Arjun menoleh. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang.

Elis tersenyum. Tipis sekali. “Maaf.”

Tangan Arjun bergerak.

Elis sempat mengira lelaki itu hendak memeluknya. Dia bahkan sudah memejamkan mata. Namun detik berikutnya tubuhnya terdorong keras. Punggungnya membentur sisi ranjang. Sebuah vas di meja bergoyang sebelum jatuh ke lantai. Pecahannya berhamburan.

“Kang ....” Suara Elis tenggelam dalam suara benda-benda yang lagi dibanting-banting Arjun.