M. Reza Sulaiman | Reza Agustin
ilustrasi kemerdekaan. (Gambar oleh u_ixp0yteeh3 dari Pixabay)
Reza Agustin

Minggu depan ada pawai menyambut bulan kemerdekaan di sekolah adikku. Wali kelasnya telah mewanti-wanti untuk menyiapkan baju adat dan bendera merah putih kecil. Ibu begitu mendengar kabar tersebut segera mengomel. "Dikiranya uang buat sewa baju adat tuh murah!"

Belakangan ini dagangan Ibu sepi, ia jadi lebih mudah terbawa emosi. Marah-marah begini caranya melampiaskan emosi tersebut. Bapak pun sudah beberapa hari ini tak menarik angkot karena sakit asam uratnya kambuh. Beberapa hari ini dihabiskan duduk-duduk di rumah. Namun, karena sudah lelah mendengarkan Ibu mengomel, akhirnya Bapak memilih bergabung dengan pemuda karang taruna dan bapak-bapak lain untuk memeriahkan bulan kemerdekaan.

Setidaknya di sana ada rokok dan camilan yang diambil dari dana desa. Kadang juga Bapak diajak memancing dan pulang membawa satu atau dua ikan kecil untuk makan malam. Bersosialisasi dengan orang-orang rupanya sedikit mengobati sakit asam urat Bapak. Sayangnya, ia juga belum menarik angkot karena belum ada modal untuk beli solar. 

Aku sendiri sudah dua hari ini dirumahkan. Toko kelontong tempatku kerja memang sepi belakangan ini. Konon, bisnis retail sedang tidak baik-baik saja. Itulah mengapa bosku memilih untuk merumahkan beberapa karyawan. Termasuk aku. Ia akan memanggilku lagi jika membutuhkan tenaga tambahan. Selama dua hari ini, yang kulakukan hanya membantu menyiapkan dagangan nasi kuning ibu dan beres-beres rumah. Sesekali aku bertanya-tanya tentang lowongan kerja di grup-grup Facebook atau ke teman-teman yang sedang bekerja. Namun, belum ada lowongan kerja lain untuk saat ini. 

Menjelang siang, Ibu pulang berjualan, Bapak pulang membawa ikan, dan adikku pulang sekolah dengan wajah kusut. Saat itulah satu per satu dari mereka mulai mengeluhkan hari masing-masing. 

"Bu, lusa udah harus laporan soal baju adat yang mau dipakai," lapor adikku. Dan itu cukup membuat kepala Ibu pening. Pasalnya, pemasukan Ibu yang sudah sangat sedikit itu ternyata masih ditagih oleh beberapa pemuda yang menyebut mereka sebagai bagian dari "keamanan". Padahal selama bertahun-tahun berjualan di sana, tak pernah ada orang-orang yang menarik pungutan liar seperti ini. Ibu sempat berargumen dengan mereka, berharap setidaknya diloloskan hari ini saja. Argumen yang cukup ulet dan berakhir dengan Ibu yang tetap memberikan setoran. Sudah pendapatan hari ini sedikit, masih berkurang untuk jatah preman.

Sementara Ibu mengomel perkara jatah preman itu, Bapak tampak gelisah. Seolah ia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Ketika membantu Bapak membersihkan ikan, Bapak akhirnya buka suara, "Sebenarnya ada tarikan iuran buat acara tujuh belasan, Nak. Tapi kamu tahu sendiri kalau cuma ibumu yang cari uang sekarang. Dia pasti makin banyak mengomel kalau tahu ada iuran. Nanti Bapak usahakan cari pinjaman uang buat narik angkot."

Aku mencegah Bapak melakukannya. Kuberikan ia uang dari tabungan yang kusisihkan untuk melamar kerja. Aku juga memberikan uang sejumlah iuran yang disebutkan Bapak tadi. Walaupun sempat merasa bersalah, Bapak berjanji akan mengganti uang yang kuberikan tadi. Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Bapak seharusnya tidak perlu sampai seperti ini. Padahal untuk jalan saja masih agak kesusahan, tetapi semangat untuk tetap membawa makanan ke meja tak pernah padam.

Setelah Bapak pergi menyetorkan iuran, aku yang menggantikan Bapak membersihkan ikan. Ibu akan memasak ikan tersebut menjadi makan malam kami dan sebagian dibuat pepes untuk dijual bersama nasi uduknya besok. Ibu menyuruhku mengambil daun pisang di halaman samping. Ketika mengambil daun pisang itu, aku tak tahan ingin melihat ke sekeliling. Bendera merah putih dan umbul-umbul berkibar di setiap sudut kompleks, orang-orang dengan wajah semringah mengecat ulang rumah, tugu, dan jalan dengan warna dominan merah putih.

Orang-orang begitu bersemangat menyambut bulan kemerdekaan ini. Namun, di balik euforia tersebut masih ada pedagang kecil yang dipalak, orang-orang sakit yang tak mampu membayar biaya pengobatan, dan banyak orang yang belum betul-betul merasakan kemerdekaan itu sendiri. Aku masih mempertanyakan, apakah kami benar-benar merayakan kemerdekaan atau sebenarnya sedang tidak merayakan apa pun?

*** 

Malam itu, kami makan dengan nasi kuning sisa dagangan Ibu dan ikan yang dimasak dengan bumbu kuning. Bapak belum kembali sejak ia pamit padaku untuk membayar iuran. Aku membantu Ibu menjahit sarung lama Bapak, yang nantinya akan dipakai adikku sebagai baju adat ala-ala. Saat itulah sebuah suara mesin sepeda motor terdengar dari halaman depan. Suara motor itu bergerak menjauh setelah menurunkan sesuatu. Rupanya Bapak. Dengan wajah semringah pulang membawa tas berisi sembako dan amplop.

"Tadi Bapak diminta bantu-bantu belanja buat kebutuhan pawai. Alhamdulillah dapat sembako juga sebagai upah bantu-bantu," katanya. Ia lantas membuka amplop tersebut dan mengeluarkan sejumlah uang dari sana. "Alhamdulillah juga, angkot Bapak nanti bakal disewa buat angkut bapak-bapak sama ibu-ibu buat pawai. Ini udah dikasih DP sama Pak RT. Bapak balikin uang yang tadi kamu kasih."

Ada seutas senyum di wajah masing-masing dari kami malam itu. Bahkan di tengah pesimisme ini, setidaknya kami masih memiliki sedikit harapan.