M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Terumbu Karang di Laut. (Sumber: iStockphptp/IBorisoff)
Fathorrozi 🖊️

Suara Bli Nyoman Nadiana terdengar tenang ketika kami jalani wawancara virtual pada Selasa (4/8/2026) lalu. Tidak ada kesan sedang membicarakan sebuah program besar dengan bahasa yang penuh jargon. Ia justru mengawali cerita dengan satu penegasan penting bahwa konservasi terumbu karang di Desa Les bukan cerita yang baru dimulai ketika Program Desa Sejahtera Astra hadir.

"Sebenarnya di Desa Les semua program sudah berjalan dari dulu, sebelum Astra ini ada, termasuk program konservasi terumbu karang ini," ujar Bli Nyoman dalam wawancara, Selasa (4/8/2026).

Pernyataan itu menjadi pintu masuk untuk memahami Desa Les secara lebih utuh. Sebab, di desa pesisir Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, konservasi bukan sekadar program yang datang dari luar, namun tumbuh dari pengalaman pahit masyarakat sendiri ketika laut yang menjadi sumber kehidupan justru perlahan mengalami kerusakan.

Bli Nyoman mengisahkan, nelayan setempat pernah menggunakan potasium sianida dalam menangkap ikan. Cara tersebut kemudian ditinggalkan karena kerusakannya terhadap terumbu karang dan habitat ikan semakin terasa. Nelayan beralih menggunakan jaring yang lebih ramah lingkungan.

Ia juga menegaskan, dahulu sebagian nelayan Desa Les harus mencari ikan hingga keluar Bali. Ada yang sampai Labuan Bajo, Sulawesi, dan wilayah lain. Di masa itu, penggunaan potasium sianida menjadi salah satu persoalan besar.

Namun laut tidak pernah benar-benar lupa. Ketika karang rusak, ikan menghilang. Ketika ikan berkurang, penghasilan nelayan ikut terancam. Kesadaran kemudian tumbuh dari pengalaman tersebut.

"Akibatnya mereka diedukasi mengenai larangan memakai sianida karena berbahaya kepada terumbu karang dan lain sebagainya. Nah, akhirnya mereka beralih dengan penangkapan yang ramah lingkungan, yaitu pakai jaring," tutur Bli Nyoman.

Sejarah konservasi Desa Les memang menunjukkan proses panjang. Penggunaan sianida mulai ditinggalkan sejak sekitar tahun 2001 dan nelayan kembali menggunakan jaring tradisional yang lebih ramah terhadap karang. Upaya rehabilitasi terumbu karang kemudian berjalan bersama pembentukan kelompok nelayan ikan hias dan penerapan standar penangkapan ramah lingkungan.

Dengan demikian, apa yang terlihat hari ini bukan hasil dari sebuah kegiatan sesaat, namun terdapat proses penyadaran yang panjang, seperti nelayan yang harus mengubah cara mencari nafkah, dan penyadaran masyarakat bahwa menyelamatkan laut juga berarti menyelamatkan kehidupan mereka sendiri.

Bli Nyoman Nadiana dan Program Desa Sejahtera Astra

Nyoman Nadiana Penggerak Program Desa Sejahtera Astra Desa Les Buleleng Bali (Instagram/don_rare)

Di titik inilah Program Desa Sejahtera Astra menemukan ruangnya. Bli Nyoman tidak melihat kehadiran Astra sebagai pihak yang datang untuk memulai semuanya dari nol. Namun, program tersebut memperkuat berbagai inisiatif yang telah lebih dulu hidup di tengah masyarakat.

"Dengan hadirnya Astra, program yang sudah berlangsung ini menjadi tambah bagus," katanya.

Pandangan itu penting. Pembangunan desa yang berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Kadang yang jauh lebih penting adalah menemukan potensi yang sudah dimiliki masyarakat, kemudian membantu agar potensi tersebut tumbuh lebih kuat.

Di Desa Les, laut adalah salah satu potensi sekaligus ruang hidup yang harus dijaga. Program lingkungan pun tidak berhenti di bawah permukaan laut. Bli Nyoman menegaskan bahwa persoalan darat dan laut memiliki hubungan erat.

"Kebersihan di darat itu sangat berpengaruh terhadap kebersihan di laut. Itu ada kaitannya," ujarnya.

Statement sederhana itu sebenarnya menyimpan pesan ekologis yang besar. Laut bukan tempat pembuangan terakhir dari persoalan di darat. Sampah, limbah, dan kebiasaan buruk manusia di daratan pada akhirnya dapat menemukan jalannya menuju laut.

Oleh karena itu, konservasi terumbu karang harus dibaca sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas. Pengolahan kompos, kebersihan lingkungan, pengelolaan pesisir, hingga wisata berkelanjutan memiliki hubungan yang saling menguatkan.

Transplantasi Karang: Mengembalikan Rumah yang Pernah Hilang

Terumbu karang bukan sekadar pemandangan cantik bagi wisatawan yang datang untuk snorkeling atau menyelam. Ia adalah rumah bagi berbagai biota laut sekaligus pelindung ekosistem pesisir.

Ketika terumbu karang rusak, yang hilang bukan hanya warna-warni bawah laut. Yang ikut terancam adalah rantai kehidupan yang selama ini menopang masyarakat pesisir.

Desa Les pernah merasakan akibatnya. Pemerintah Desa Les mencatat bahwa kerusakan terumbu karang akibat penggunaan potasium membuat ikan berkurang. Karena kehidupan ekonomi nelayan bergantung pada hasil laut, kerusakan ekosistem akhirnya berubah menjadi persoalan ekonomi. Dari itulah transplantasi karang menjadi salah satu jalan pemulihan.

Upaya tersebut telah dilakukan masyarakat Desa Les bersama berbagai pihak. Hasilnya perlahan mulai terlihat. Terumbu karang yang sebelumnya rusak mulai kembali menjadi habitat bagi ikan, sekaligus membuka peluang berkembangnya wisata bahari.

Tetapi transplantasi karang bukan pekerjaan sekali selesai. Ia membutuhkan ketelatenan. Bibit harus ditanam, dipantau, dirawat, dibersihkan dari ancaman sampah, kemudian diberi waktu untuk tumbuh.

Di sinilah sosok-sosok lokal seperti Wayan Merta, atau yang lebih dikenal sebagai Pak Eka, memainkan peranan penting.

"Eka Dempul": Kesalahan Masa Lalu Dibayar dengan Perawatan

Kisah Pak Eka memberikan warna tersendiri dalam perjalanan konservasi Desa Les. Wayan Merta telah dikenal sebagai penyelam dan nelayan ikan hias. Ia pernah berada dalam ekosistem penangkapan ikan yang menggunakan potasium. Namun kesadaran terhadap dampak kerusakan laut kemudian membawanya ke arah yang berbeda.

Sejak 2001, ia mulai terlibat dalam upaya pelestarian, pengembangan, dan perawatan terumbu karang. Sejak 2003, gerakan transplantasi karang di pesisir Desa Les juga mulai ia lakukan bersama kelompok dan komunitas.

Terdapat satu inovasi yang membuat namanya semakin lekat dengan upaya rehabilitasi terumbu karang, yakni "Eka Dempul". Metode tersebut menggunakan campuran semen dan lem khusus untuk menempelkan bibit karang pada media tumbuh di dasar laut. Gagasannya lahir dari eksperimen sederhana untuk menemukan cara yang cepat, murah, dan cukup kuat agar bibit karang tidak mudah terlepas.

Pak Eka bukan seorang akademisi kelautan. Namun pengalaman panjang menyelam dan kesadaran atas kerusakan yang pernah terjadi membuatnya memilih jalan pengabdian. Ia bahkan rutin turun ke laut untuk mengecek dan membersihkan terumbu karang dari sampah plastik.

Di tangan orang-orang seperti Pak Eka, konservasi tidak berhenti sebagai teori. Ia menjadi pekerjaan yang dilakukan dengan tangan, kaki, napas, dan keberanian untuk kembali menyelam ke laut.

Bli Nyoman, Local Hero yang Merawat Konektivitas Desa

Jika Pak Eka banyak berkutat dengan dunia bawah laut, Bli Nyoman hadir dalam ruang yang lebih luas sebagai penggerak dan penghubung berbagai potensi Desa Les. Ia bukan sekadar sosok yang berbicara tentang desa. Ia berjalan, bercerita, mendampingi, dan mengenalkan berbagai potensi Desa Les kepada lebih banyak orang.

Bli Nyoman dikenal sebagai sosok yang mampu memainkan banyak peran, mulai dari pemandu wisata, pedagang, hingga pencerita. Perannya sebagai agen perubahan membuat berbagai potensi desa dapat diterjemahkan menjadi cerita yang bisa dipahami orang luar.

Dalam konteks Desa Sejahtera Astra, peran local hero menjadi penting karena program tidak akan berarti banyak jika tidak memiliki orang-orang yang memahami karakter masyarakat dan potensi lokal.

Kolaborasi antara local hero, masyarakat, pemerintah desa, BUMDes, dan pendampingan Astra disebut telah memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi Desa Les. Program yang berjalan telah menjangkau lebih dari 800 warga dan mendorong peningkatan pendapatan masyarakat hingga 25 persen.

Namun bagi Bli Nyoman, ukuran keberhasilan desa tampaknya tidak cukup hanya dihitung dengan angka. Terdapat laut yang harus tetap hidup, masyarakat yang harus tetap sejahtera, dan anak-anak muda yang perlu melihat desa bukan sebagai tempat yang harus ditinggalkan, melainkan ruang yang bisa dikembangkan.

Maka dari itu, ketika ditanya tentang harapan ke depan setelah berbagai program lingkungan seperti konservasi terumbu karang berjalan, jawabannya kembali pada satu kata penting, yaitu keberlanjutan.

"Dengan kita melakukan kegiatan-kegiatan wisata yang berkelanjutan, bukan hanya pesisir, tapi kita punya bukit juga, tentunya harapannya agar konektivitas keberlangsungan antarmasyarakat pesisir ini tetap lestari," tegas Bli Nyoman.

Dari Daratan ke Laut, dari Laut Kembali ke Manusia

Barangkali inilah pelajaran paling penting dari Desa Les. Konservasi tidak bisa berdiri sendiri. Ia tidak bisa hanya berbicara tentang menanam karang di laut sementara daratan dibiarkan kotor. Tidak cukup pula membicarakan pariwisata tanpa memastikan ekosistem yang menjadi daya tariknya tetap hidup.

Desa Les memperlihatkan bahwa alam dan kesejahteraan masyarakat sebenarnya berada di satu garis yang sama. Ketika karang sehat, ikan memiliki rumah. Ketika ikan kembali, nelayan mendapatkan sumber penghidupan. Ketika laut indah, wisata bahari tumbuh. Ketika wisata berkembang secara berkelanjutan, masyarakat memperoleh peluang ekonomi baru. Tetapi semua itu membutuhkan manusia yang mau menjaga.

Bli Nyoman menjadi salah satu simpul dari perjalanan tersebut. Pak Eka dan kawan-kawan menjadi bagian lain dari perjuangan di bawah laut. Nelayan, masyarakat, pemerintah desa, generasi muda, dan berbagai pihak kemudian membentuk mata rantai yang saling menguatkan.

Desa Sejahtera Astra dalam konteks ini bukan sekadar cerita tentang bantuan atau program perusahaan. Ia menjadi bagian dari perjalanan masyarakat yang telah lebih dahulu belajar dari kesalahan masa lalu dan berusaha memperbaiki masa depan.

Di Desa Les, terumbu karang yang ditanam kembali sesungguhnya bukan hanya bibit karang. Di sana ada harapan. Harapan agar ikan kembali. Harapan agar laut tetap menjadi rumah. Harapan agar anak-anak muda masih memiliki alasan untuk mencintai kampung halamannya. Serta yang paling penting, harapan agar kesejahteraan tidak harus dibayar dengan kerusakan alam. Desa Les sedang membuktikan satu hal sederhana tetapi mendalam, bahwa merawat laut berarti merawat kehidupan.